"Jadi, aku harus apa?" tanya Namgil pada kedua sahabatnya yang mendadak jadi konsultan hubungan asmara untuknya. "Apa aku harus pura-pura suka dengannya? Apa aku harus menunjukannya setiap hari?" tanya Namgil lagi. "Jangan bertanya padaku! Tanyakan saja pada playboy itu!" sahut Jiwon seraya menunjuk Daehyun, sang cassanova di sekolah saat ini yang harusnya mewariskan ilmunya pada Namgil. Daehyun pun mengajari Namgil bagaimana dia harus berpura-pura bersikap manis di depanku dan menyusun rencana bagaimana dia harus memutuskan hubungannya denganku nanti. Dan sejak hari pertama jadian pun, Namgil sudah melancarkan aksinya sesuai arahan adik sepupu nakalnya itu.
Setiap pagi, Namgil selalu menungguku datang dan mengantarku sampai ke kelas. Saat jam istirahat, Namgil menjemputku di kelas untuk pergi ke kantin bersama. Saat jam pulang, dia menemaniku sampai supirku datang menjemput. Hanya itu! Selebihnya tidak ada percakapan berarti, tidak ada skinship, tidak ada keakraban sama sekali. Bahkan kami tidak pernah saling menghubungi lewat ponsel. Semua terasa aneh bagiku, tapi aku hanya mencoba berpikir positif, "mungkin karena masih sama-sama canggung karena baru jadian!" Ternyata, bukan hanya aku sendiri, tapi satu sekolah pun merasa hal yang sama denganku. "Bukankah hubungan mereka terlihat aneh!" nilai beberapa siswa. "Apa rumor itu benar, mereka berdua hanya tunangan yang dijodohkan keluarga mereka?" tanya siswa lainnya.
Sejak kejadian di kantin itu, rumor tentang pertunanganku dan Namgil mencuat setelah identitasku terbongkar oleh Daehyun setelah ia dengan rasa penasaran tinggi mencari tahu ke ruang data siswa dan sampai menanyakan langsung kebenarannya pada kepala sekolah untuk memastikan. "Daebak! Putra bungsu presiden dari keluarga terkaya no. 4 dan putri tunggal keluarga terkaya no. 3 pacaran! Apakah ini yang dinamakan perjodohan politik keluarga konglomerat?" oceh Jiwon di depan Namgil yang langsung memicu rumor tidak benar itu. Tapi setidaknya, sejak rumor itu beredar, tidak ada yang berani menggangguku lagi, termasuk Sooyun yang hanya melayangkan tatapan bencinya padaku dari kejauhan. Sedangkan Namgil hanya berpikir, "padahal aku asal menunjuknya, tapi aku juga tidak peduli siapa dia. Lagipula, ini hanya pura-pura sampai aku memutuskannya hari minggu ini!"
***
Hari Sabtu telah tiba, artinya sudah hampir satu minggu aku menjadi pacar Namgil. Seperti biasa, Namgil menemaniku di depan gerbang sekolah saat menunggu jemputan. "Apa besok kita bisa keluar?" tanya Namgil memecah keheningan di antara kami. Aku tersentak, "apa maksudmu kencan?" tanyaku pelan, malu-malu. Namgil menggaruk tengkuknya, "iya," jawabnya juga dengan pelan. Belum sempat, aku melanjutkan obrolan, sebuah mobil berhenti di depan kami. Namgil pun membukakan pintu mobil itu untukku, "pulanglah. Aku akan memberitahumu, tempat dan waktunya di chat," ucapnya datar seperti biasa dan aku pun hanya mengangguk pelan dan menurutinya.
Sejak masuk ke mobil, aku memperhatikan layar ponselku, menunggu chat dari Namgil, tapi yang aku dapati malah chat dari Yongju yang menanyakan kabarku. Sesaat aku berniat untuk memberitahu Yongju tentang hubunganku, tapi saat aku ingin membalas chat-nya, chat dari Namgil masuk dan itu membuatku melupakan chat dari Yongju. "Besok malam, aku menunggumu di Dongjag Red Sky Cafe," isi chat Namgil. Singkat, namun membuatku berdebar karena membayangkannya, terlebih aku baru sadar kalau besok adalah hari Valentine. "Akan semanis apa kencan pertamaku dengannya?" pikirku dengan hati yang terus berdebar seperti anak kecil yang akan pergi jalan-jalan untuk yang pertama kalinya.
***
Sesampainya di rumah, aku langsung browsing segala hal tentang hari Valentine beserta hadiah yang harus aku berikan, tentang kencan, bagaimana penampilan yang manis saat kencan pertama dan apa yang harus aku lakukan saat kencan. Semua hal itu langsung memenuhi kepalaku, bahkan membuatku lupa waktu dan tidur terlalu malam dan saat sudah terlelap dalam tidur pun, aku sering terbangun sepanjang malam. "Kapan matahari terbit? Kenapa besok terasa sangat lama?" gumamku seraya menatap tajam jarum jam dinding yang terasa begitu lambat berputar, bahkan alunan lagu Yongju yang biasa menidurkanku pun tidak berguna malam ini.
***
Pagi harinya, aku sibuk menentukan baju yang akan aku pakai malam ini. Sudah satu jam lebih aku mengacak-acak isi lemariku, tapi tak ada satu pun baju berwarna pink yang kuinginkan. Aku baru tersadar, semua isi lemariku di dominasi oleh warna monokrom. Aku pun memutuskan pergi berbelanja baju baru, "mungkin aku juga perlu membeli beberapa item!" pikirku. Aku begitu bersemangat menjelajah seisi mall untuk kencan pertama yang aku tunggu-tunggu ini, sampai-sampai aku tidak sadar kedua tanganku sudah terisi penuh dengan tas belanjaan. Sepanjang hari, aku hanya tersenyum-senyum sendiri setiap kali memikirkan kencanku nanti malam. Aku merasa, hari ini akan menjadi hari yang spesial untukku.
Puas berbelanja, aku langsung kembali ke rumah dan langsung bersiap-siap karena terlalu asyik berbelanja, sampai tanpa aku sadari waktu sudah semakin sore. Masih dengan gaya casual andalanku, aku memilih memakai oversized sweater berwarna dusty pink sebagai atasan. Untuk kesan lebih feminim, aku memasukan ujung sweater-nya ke dalam mini skirt pants berwarna putih polos. Sebagai pelengkap penampilanku, aku memadukannya dengan white sneakers dan mini sling bag berwarna senada. Aku kembali memandang hasilnya di cermin. Mulai dari yang aku pakai dari ujung kepala sampai ujung kaki serta hadiah, untuk kencan pertamaku, aku sudah sangat merencanakan semuanya, bahkan saking tidak sabarannya, jika waktu adalah saham bernama kencan pertama, aku akan berinvestasi agar bisa aku percepat.
Tidak lupa hadiah yang sudah aku siapkan, itu pun setelah tadi malam aku merengek pada eomma untuk menolongku memintanya dari Yongju, tanpa mengatakan untuk apa aku memintanya. Aku ingin memberikan album terbaru Yongju yang sudah dibubuhi tanda tangannya langsung, sejak aku tahu kalau Namgil juga salah satu penggemar Yongju. Selanjutnya, aku bergegas pergi ke salon langganan eomma, setelah tadi malam aku kembali merengek pada eomma untuk dibantu reservasi di salon itu juga.
Aku ingin sedikit merubah penampilan rambut pendekku dan setelah berdiskusi panjang lebar dengan sang hairstylist, akhirnya rambut pendekku diberi sedikit sentuhan curly. Ditambah sedikit polesan tipis yang dipermanis pulasan coral lipstik, aku pun selesai berdandan. Aku kembali melakukannya, terus menatap kaca. Melihat pantulan diriku sendiri yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Untuk pertama kalinya, aku berdandan dan hasilnya sungguh tidak aku percaya. Aku bahkan untuk pertama kalinya memasang earring simpel di telingaku, bahkan lubang tindikan yang baru aku buat tadi siang, masih terasa sedikit perih. Hari spesial yang benar-benar aku persiapkan sampai rela melakukan perubahan pada penampilanku dan aku tersenyum puas dengan hasilnya.
Jika aku sibuk mempersiapkan penampilanku, lain halnya dengan Namgil, ia sibuk berkonsultasi dengan dua sahabatnya itu di chat. "Aku akan melakukannya malam ini. Apa yang harus aku katakan nanti? Ada saran?" tanyanya. "Katakan saja, Hyung merasa tidak cocok dengannya setelah saling kenal dan juga tidak menyukai penampilannya yang tomboi," balas Daehyun cepat. "Oke, memang itu alasanku," balas Namgil. "Walaupun hari ini Hyung memutuskannya, Hyung harus tetap bisa bersikap gentleman. Kalau bisa, putuskan dia tanpa membuatnya menangis," saran Jiwon yang memang berhati lembut.
"Apakah bisa? Bagaimana caranya?" tanya Daehyun tidak percaya, "semua gadis yang aku putuskan, pasti menangis," lanjutnya. Sang cassanova itu terkekeh membaca balasan Jiwon yang dianggapnya lucu. "Ya, kau memang bajing** yang suka membuat anak gadis orang menangis!" balas Jiwon dengan emoticon evil. "Apa kau sedang bercermin sekarang?" balas Daehyun pada Jiwon dengan emoticon terkejut. "Sudahlah. Kenapa malah jadi membicarakan kalian? Kalian selalu ribut di sini. Biar aku pikirkan sendiri caranya," balas Namgil pada akhirnya.
***
Sesampainya di cafe yang dimaksud Namgil, aku menaiki satu persatu anak tangga menuju rooftop cafe ini. Aku mengedarkan pandangan mencari sosok Namgil yang katanya, lebih dulu tiba. Sebuah tempat makan mewah dengan pemandangan luar biasa dari Sungai Han dan jembatan yang membelahnya, ditambah dekorasi cafe yang tampak menyesuaikan tema hari ini. "Bahkan malam ini, bulan dan bintang tampak sangat cantik, seolah bersinar padaku dan dunia sepertinya dibuat untukku tanpa hari esok," pikirku dengan senang, saat menengadah ke arah langit. Hatiku dipenuhi dengan suara berisik dari jantungku yang terus berdebar.
Sedangkan, dari kejauhan aku melihat Namgil yang tampak bersenandung kecil dengan santai. Namgil tampak sudah menungguku di meja yang terletak di sisi pojok cafe ini dan tidak menyadari kedatanganku yang semakin dekat berjalan menghampirinya. "Maaf, aku terlambat," ucapku seraya langsung duduk di depannya. Karena tidak ada sahutan, aku pun menatap Namgil sambil menyampirkan rambutku ke telinga. "Hana?" ucap Namgil tidak percaya. "Iya, ini aku, Hana," jawabku bingung, lalu setelah menyadari ekspresi bingung di wajah Namgil, aku bertanya dengan ragu, "apa penampilanku salah?".
Melihat ekspresi Namgil itu, aku mendadak menjadi kurang percaya diri, padahal tadi aku sudah mengumpulkan keberanian untuk sampai di tempat ini. "Tidak," jawab Namgil cepat. "Malam ini kau... kau... kau cantik!" jawabnya dengan malu-malu dan membuatku salah tingkah mendengarnya dengan hati yang berbunga-bunga. "Terima kasih," balasku dengan wajah memerah dan tersenyum malu-malu yang tampak sangat imut di mata Namgil. Aku sungguh senang mendengarnya memuji usahaku.
Deg... Deg... Deg... Namgil terdiam dengan jantung berdebar. "Oh, apa ini adegan seperti di drama romansa, saat pemeran utama jatuh cinta?" ucap Namgil dalam hati dengan tatapan terpana kecantikanku saat aku tersenyum padanya. "Apa yang harus aku katakan sekarang? Semua yang sudah aku hafalkan, mendadak hilang dari kepalaku. Kenapa hatiku tetap berpacu seperti ini? Haruskah aku katakan putus sekarang? Tapi kalau dia secantik ini, aku jadi tidak mau mengatakannya lagi," pikirnya, bimbang.
Kecanggungan kembali terjadi, tapi kali ini kecanggungan itu terasa sangat manis. Sesekali kami saling melempar senyum tanpa tahu harus bicara apa, sampai aku teringat sesuatu. "Ah, aku lupa!" ucapku membuat Namgil bertanya, "ada apa?" Aku memberikan hadiah yang sudah aku persiapkan pada Namgil. "Apa ini?" tanya Namgil setelah berpikir sejenak. "Hadiah untukmu," jawabku malu-malu. "Hadiah untukku? Kenapa?" tanya Namgil bingung. "Karena aku pacarmu! Happy valentine!" jawabku seraya tersenyum cantik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments