Aku menarik nafas dalam-dalam berulang kali untuk mencoba menenangkan diriku. Siang ini, aku akan mengakhiri hubunganku dengan Namgil, seperti permintaan Yongju kemarin. "Maaf, aku terlambat," ucap Namgil yang baru saja tiba di kelasku. Mendengar suaranya saja sudah membuatku tidak karuan, "bagaimana ini? Apa aku bisa melakukannya?" pikirku. Namgil berjalan menghampiriku. "Apa kau tahu, semalaman aku gelisah menunggu kabar darimu. Apa kau baik-baik saja?" tanya Namgil dengan nada bicara yang lembut. Namun, keningnya mengernyit saat menangkap gelagat ragu dariku.
"Katakan padaku, kalau kau tidak marah padaku karena kesalahanku semalam," ucapnya seraya menyampirkan rambutku ke telinga. Aku memandang wajahnya yang tersenyum lembut sambil berkata, "Sayang, katakan padaku, kalau kau sudah memaafkanku," dan hal itu membuat lidahku semakin terasa kelu. "Katakan padaku, kalau semua baik-baik saja dan jangan katakan, apa yang aku pikirkan!" lirihnya sambil menatap lekat dua bola mataku, seolah-olah ia dapat membaca pikiranku. "Tapi oppa... maaf... aku..." ucapku terpotong karena Namgil langsung menyambar bibirku untuk membungkam diriku. Bukan hanya aku yang shock, tapi juga Daehyun dan Jiwon yang kebetulan lewat di depan kelasku saat mencari Namgil, pun ikut tercengang.
"Astaga! Dia benar-benar berhasil melakukannya!" ucap Jiwon ternganga. Sedangkan Daehyun terdiam dengan tatapan tajam saat mataku yang bergetar bertemu dengan mata indahnya. "Dia memaksanya!" ucap Daehyun yang tiba-tiba merasa kesal sebelum pergi meninggalkan Jiwon yang masih menonton pertunjukan gratis itu dengan sesekali tersenyum. "Apa kita meninggalkannya?" tanya Jiwon seraya menyusul Daehyun. "Terserah jika kau ingin tetap menonton!" sahut Daehyun ketus. "Kenapa jadi marah? Aku hanya bertanya," sahut Jiwon bingung. "Katakan, siapa yang bodoh di sini? Namgil yang tidak berpengalaman? Hana yang polos? Atau aku yang mulai tertarik dengan kekasih sepupu dan sahabatku sendiri?" pikir Daehyun, "ah, sial! Apa menariknya gadis tomboi itu?" umpatnya dalam hati seraya mempercepat langkahnya sampai Jiwon yang mengikutinya, semakin bingung dibuatnya.
***
"Maaf karena aku melakukannya tanpa meminta izin terlebih dulu," ucap Namgil sesaat setelah kami keluar dari sekolah dan menunggu jemputanku di depan gerbang sekolah. Aku hanya diam sedari tadi, tak menjawabnya karena bingung harus bicara apa setelah Namgil menciumku tadi, lalu melihatku menangis karenanya dan terlihat begitu menyesali perbuatannya. "Baiklah, jika kau memang ingin putus, tapi setidaknya sampai hari ulang tahunku minggu ini. Aku ingin merayakannya bersamamu, jika kau mau mengabulkannya," ucap Namgil dengan begitu pasrah.
Sejak mendengar permintaannya yang tulus itu, aku jadi tidak tega menolaknya. Terlebih, Namgil tidak mau melepaskan genggamannya di tanganku sama sekali, bahkan sampai mobil Yongju berhenti di depan kami. Aku menegang melihatnya. "Astaga, aku lupa kalau yang menjemputku hari ini, oppa!" ucapku dan Namgil yang mendengarnya malah mendekati mobil Yongju sambil masih menggenggam tanganku. Tentu saja, Yongju keluar dari mobilnya, "Lee Hana, bukankah sudah oppa katakan, tidak ada cinta di sekolah!" katanya yang sontak membuat langkah Namgil terhenti seketika.
"Sepertinya, aku benar-benar sudah membuat oppa-nya tidak suka padaku!" pikir Namgil mulai gugup dan malah semakin menggenggam tanganku. "Apa kau gila, hah!" bentak Yongju pada Namgil saat matanya menemukan genggaman tangan itu. Bahkan para guru dan murid yang masih ada di depan gerbang, menatap ke arah Yongju karena terkejut. "Lepaskan tangannya!" perintah Yongju seraya melepaskan maskernya dan Namgil yang melihatnya langsung melepaskan tangannya dari tanganku. "Min Yongju?" ucap Namgil tidak percaya. "Oppa-mu, Min Yongju?" tanya Namgil padaku yang sudah panik melihat reaksi orang-orang di sana yang juga melihat wajah Yongju.
Tanpa memperdulikan pertanyaan Namgil itu, dengan terburu-buru aku menarik Yongju, "Oppa, ayo pulang. Cepat!" pintaku seraya membukakan pintu mobil untuknya. Setelah memastikan Yongju sudah duduk di depan kemudi, aku berlari masuk ke dalam mobil. "Oppa, cepatlah!" rengekku lagi dan Yongju balas menatapku tajam, "Kau berhutang penjelasan pada oppa, Lee Hana!" ucapnya seraya menghidupkan mesin mobil dan aku pun menjelaskan permintaan Namgil tadi. Tentu saja, tanpa menceritakan bagian Namgil yang menciumku.
"Memangnya, dia akan mati tahun ini kalau tidak merayakan ulang tahun bersamamu, hah? Jangan pergi! Semua ini pasti hanya akal-akalannya saja! Gila dia!" ucap Yongju kesal. "Oppa yang gila, membuka masker di tempat umum seperti itu!" sahutku. "Apa kau baru saja mengatai oppa gila?" tanya Yongju tidak terima. "Iya, oppa gila!" sahutku lantang. "Apa oppa mau aku mati terbunuh karena respon dan komentar para penggemar oppa, hah?" bentakku. "Astaga! Aku jadi takut membuka ponselku. Semua ini gara-gara oppa!" ucapku kesal.
"Itu gara-gara tangannya yang menempel seperti permen karet! Apa-apaan anak sialan itu! Berani-beraninya! Kemarin saja, dia hampir menciummu!" sahut Yongju menggerutu. Uhuk... Uhuk... Aku tersedak mendengar kata terakhir yang diucapkan Yongju. "Kenapa?" tanyanya seraya menarik rem tangan mobilnya karena ternyata kami sudah sampai di depan rumahku. "Tidak. Namgil tidak menciumku," kataku tiba-tiba panik. Yongju yang sudah hafal semua kebiasaanku pun mulai curiga dengan tingkahku. "Katakan, apa anak sialan itu tadi menciummu?" tanyanya.
Gulp! Terdengar suara saat aku menelan air liurku dan Yongju menangkapnya. "Katakan, di mana?" tanyanya dan aku semakin salah tingkah menerima tatapan tajamnya. "Katakan, di mana?" ulangnya seraya membelai lembut wajahku dengan tangan kanannya, "apa di sini?" tanyanya seraya membelai lembut bibirku. Nafasku semakin terasa berat saat, Yongju melakukannya dan benar seperti yang aku pikirkan, ia kembali menciumku. Bahkan sampai menarik tengkukku dengan tangan kanannya.
Sesudahnya, Yongju menjilat bibir kecilku yang basah akibat ulahnya dengan lidahnya yang tampak berkilauan dengan air liur kami berdua sambil tersenyum nakal. Ia kembali mendekatkan wajahnya, tapi aku menggelengkan kepalaku pelan. "Tidak mau?" tanyanya dan aku kembali menggeleng. "Yakin?" tanyanya dan aku mengangguk. "Oppa, ini di rumah," ucapku beralasan. Yongju semakin menatapku yang gelagapan. "Apa perlu kita ke apartemen oppa? Tidak ada orang di sana. Hanya kau dan oppa," ucapnya sengaja semakin menggodaku.
Aku melayangkan tatapan tajamku saat mendengarnya, "oppa!" bentakku. Yongju tertawa melihatku yang marah. "Oppa hanya bercanda. Habisnya kau sangat menggemaskan dengan wajah memerah seperti itu," katanya. Blush! Wajahku semakin memerah karena kelakuan nakalnya itu. Saking malunya, aku sampai buru-buru keluar dari mobilnya dan dengan santainya Yongju berkata, "Annyeong, oppa kembali ke apartemen dulu atau kau mau ikut?" Yongju pun melajukan mobilnya dengan tersenyum. "Jika perasaan kita sudah saling tercapai seperti ini, apa kau akan memilihku? Tapi jika tidak dan kau hanya mempermainkan perasaanku, apa hubungan kita akan kembali seperti semula?" pikirnya tiba-tiba.
***
"Apa ini?" tanya Namgil saat Daehyun datang ke rumahnya dan melemparkan kunci mobil Fer**ri miliknya pada Namgil. "Sesuai janjiku!" jawab Daehyun yang masih terlihat kesal. "Jadi, kalian melihatnya?" tanya Namgil. Jiwon tertawa dan berkata, "seharusnya, tadi aku merekamnya sebagai kenang-kenangan ciuman pertamamu, hyung," ledeknya. "Tapi, kau memaksanya!" ucap Daehyun tiba-tiba. "Hei, apa yang kau katakan? Apa kau tidak terima dengan kekalahanmu. Ayolah, sekali-kali kalah itu tidak masalah. Lagipula, itu hanya satu dari mobilmu yang banyak," sahut Jiwon. "Bukan itu masalahnya, bodoh!" balas Daehyun semakin kesal.
"Sudahlah, jangan bertengkar. Daehyun, ambil saja mobilnya. Aku tidak menginginkannya," sahut Namgil lemas. Daehyun dan Jiwon yang semula ingin bergulat, saling melempar pandang dan menatap heran Namgil. "Apa ada masalah?" tanya Jiwon. "Tidak seperti kau yang biasanya!" sahut Daehyun juga. "Sepertinya, Hana ingin putus karena oppa-nya tidak menyukaiku," jawab Namgil seraya menyandarkan kepalanya di kursi. "Apa? Kenapa?" tanya Jiwon, "apa karena dia melihat kejadian waktu itu?" tanyanya lagi. "Sepertinya begitu," jawab Namgil, "tadi aku bertemu dengan oppa-nya dan dia membentakku di depan Hana," lanjutnya, sendu. Daehyun hanya diam mendengarkan, tanpa Namgil dan Jiwon tahu, sebuah senyum kecil terukir di wajah tampannya dengan kedua alisnya yang terangkat.
"Oh, iya! Apa kalian tahu, siapa oppa-nya?" tanya Namgil tiba-tiba bersemangat, "Yongju! Min Yongju!" lanjutnya. "Apa?" ucap Daehyun dan Jiwon bersamaan. "Kau yakin? Bagaimana bisa Min Yongju menjadi oppa-nya? Bukankah marga mereka berbeda?" tanya Daehyun dengan wajah bingung. "Entahlah, mungkin sepupunya," sahut Namgil. "Marganya Min?" ucap Daehyun. "Ada apa? Apa kau mencurigai sesuatu lagi?" tanya Jiwon menghela nafasnya karena hafal dengan kebiasaan Daehyun yang selalu tidak mau kalah dengan rasa penasarannya.
"Kalau aku tidak salah ingat, saat aku bertanya pada eomma-ku, Nyonya Lee, eomma Hana, juga bermarga Min sebelum menikah," jawab Namgil yang membuat Daehyun menoleh padanya dengan slow motion. "Siapa?" tanya Daehyun pelan. "Min Miyoung, kata eomma-ku, eomma Hana itu mantan artis terkenal. Bukankah eomma Hana bekerja di agensi milik eomma-mu, Daehyun? Setahuku, eomma kita bersahabat dengan Nyonya Lee dari dulu, bukan?" jawab Namgil. Daehyun tersenyum mendengarnya, "Anak bibi Miyoung? Jadi, itu kau rupanya!" gumamnya. "Memangnya kenapa, Daehyun?" tanya Jiwon yang tidak mengerti, tapi Daehyun malah buru-buru mengajaknya pulang.
"Apa kalian mau pulang sekarang? Bagaimana dengan mobilmu?" tanya Namgil seraya mengambil kunci mobil yang Daehyun lemparkan tadi. "Ambil saja untukmu!" sahut Daehyun dengan tersenyum bahagia. "Ada apa denganmu?" tanya Jiwon semakin bingung dengan tingkah abnormal sahabatnya itu. "Akhirnya, aku sudah menemukannya, bibi Miyoung!" jawab Daehyun ceria. Beberapa kali, pemuda sombong itu mengulas senyum tampannya. "Menemukannya? Apanya?" tanya Jiwon semakin bingung, tapi sesaat kemudian, ia menutup mulutnya setelah berkata, "jangan-jangan, maksudmu? Bibi Miyoung? Nyonya Lee? Lee Hana?" Daehyun pun mengangguk seraya menunjukan smirk tampannya. "Kau yakin kali ini benar?" tanya Jiwon. "Mau taruhan?" tantang Daehyun. Jiwon hanya menggeleng, "Memangnya, apa yang bisa aku jadikan taruhkan jika hidup saja, aku bergantung padamu," ucapnya tersenyum kecil.
***
"Jadi, taruhan itu berakhir seperti ini?" gumam Namgil seorang diri di kamarnya seraya memainkan kunci mobil yang Daehyun berikan, lalu meraih ponselnya. "Sayang, apa oppa-mu masih marah?" ketik Namgil pada chat yang ia kirimkan untukku. Drrt... Namgil langsung menyambar kembali ponsel yang sempat ia letakan di atas meja karena aku langsung membalas chat darinya itu. "Maaf, oppa-ku sudah membentakmu," balasku. "Tidak apa-apa. Aku juga seorang pria, jadi aku mengerti kalau oppa-mu ingin melindungi adiknya," balasnya, ingin terlihat keren dengan pengertiannya.
Aku menghela nafasku saat membacanya. "IQ-nya saja yang tinggi, sepertinya dia benar-benar bodoh seperti yang sering dikatakan Daehyun," ucapku tanpa sadar. Sekilas wajah tampan Daehyun terlintas di kepalaku, terlebih tatapan tajam dari sepasang bola mata hitam indahnya tadi siang. Deg! "Kenapa aku mengingatnya!" pikirku. Sementara di dalam mobilnya, Daehyun tiba-tiba menyeringai saat mengingat kejadian yang sama denganku itu. "Hei, gadis manis! Jangan menangis karena ada aku yang akan mengajarimu nanti!" ucapnya dalam hati.
***
Keesokan harinya, aku bersekolah seperti biasa, tapi aku berusaha menghindari Namgil sebisa mungkin. Kalau pun tanpa sengaja bertemu, aku tetap bersikap ramah, meski dengan kepala tertunduk. Seperti saat ini, saat aku menuju ke kantin dan berpapasan dengan Namgil. Seperti biasa, Namgil menemaniku, tapi aku hanya berjalan di sampingnya sambil menyembunyikan tanganku ke dalam kantung hoodie-ku yang kembali kupakai, agar tak ia genggam. Tidak ada percakapan dariku. Jika Namgil bertanya, aku hanya menjawab sekedarnya dan sepertinya Namgil mengerti perubahan sikapku ini karena ia juga lebih banyak diam hari ini.
Setelah mengambil makan siang kami, aku mengedarkan mataku ke sekeliling kantin untuk mencari tempat duduk dan Jiwon melambaikan tangannya, memanggil kami dari tempat duduknya. Namgil pun mengajakku untuk bergabung dengan dua sahabatnya itu dan aku pun menurutinya. Aku duduk tepat berhadapan dengan Daehyun. Biasanya, Daehyun akan bersikap cuek dan jarang bicara padaku. "Kali ini pun dia hanya diam saja, tapi kenapa dari tadi dia menatapku terus?" pikirku yang merasa kurang nyaman berhadapan dengan Daehyun.
Daehyung memang memperhatikanku sejak aku duduk di depannya. Bahkan ia terang-terangan menatapku di depan Namgil dan Jiwon. "Hei, kenapa kau menatap pacarku seperti itu?" tanya Namgil. Ternyata bukan hanya lamunanku yang buyar oleh pertanyaan Namgil itu, tapi Daehyun juga karena kami berdua menoleh pada Namgil secara bersamaan. Namgil pun menatap aku dan Daehyung bergantian. Dengan santainya, Daehyun melanjutkan lagi makannya tanpa mengatakan apa-apa dan aku pun melakukan hal yang sama dengannya. Melihat itu, Daehyun tertawa kecil di depanku. Sedangkan, Namgil semakin menatap curiga pada Daehyun. Dan Jiwon hanya menghela nafasnya panjang, "Daehyun, aku harap, kau bisa bersabar demi sahabat dan sepupumu sendiri," katanya dalam hati.
***
Flashback setelah Daehyun meninggalkan kediaman pamannya itu. Di perjalanan setelah mengantar Jiwon pulang ke rumahnya, Daehyun menghubungi ibunya dan saat ibunya mengatakan ia sedang makan malam bersama sahabat dekatnya, Daehyun pun memutuskan menyusul ibunya. Sesampainya di sebuah restoran mewah, Daehyun masuk dan menyapa dua wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu, ibunya dan sahabat dekatnya, wanita yang selalu Daehyun panggil dengan sebutan Bibi Miyoung, yang Daehyun yakini adalah ibuku.
"Apa ini Daehyun kita?" tanya ibuku pada Kim Eunha, ibunya Daehyun yang tersenyum bangga, "Ya Tuhan, baru berapa tahun bibi tidak bertemu denganmu, kau sudah tumbuh setampan ini!" lanjutnya. Daehyun tersenyum tampan mendengarnya. "Astaga! Semakin besar, Daehyun semakin mirip dengan appa-nya, ya!" kata ibuku yang dilanjutkan dengan tawa kedua wanita itu. "Bukankah putrimu juga sama persis saat kau muda?" balas Nyonya Kim. "Ah, anak itu masih belum membuat kemajuan. Dia masih saja tomboi seperti dulu," jawab ibuku. "Kau terlalu memikirkannya. Dia akan berubah dengan sendirinya kalau waktunya sudah tiba," kata Nyonya Kim menghibur, "dan walaupun tomboi, putrimu tetap saja cantik sepertimu, bukan?" lanjutnya.
Daehyun yang menikmati makan malamnya sambil mendengarkan obrolan itu pun tersenyum, "aku semakin yakin kalau itu Hana," pikirnya seraya kembali tersenyum. "Siapa namanya?" tanya Daehyun tiba-tiba setelah ia menghabiskan makan malamnya dan menghentikan gelak tawa kedua wanita itu. "Maksudku, nama putri bibi yang cantik itu," lanjut Daehyun seraya melirik manja pada ibunya. Ibunya tiba-tiba melotot ke arah Daehyun. "Namanya Lee..." jawab ibuku terpotong karena ucapan Nyonya Kim, "Daehyun, lebih baik kau pulang sekarang. Ini sudah terlalu larut untukmu." Daehyun tersenyum mendengarnya dan menuruti perintah ibunya. Tapi saat berjalan keluar, Daehyun teringat ucapan ibuku tadi, "Namanya Lee... Hana!" ucapnya menyeringai.
***
"Daehyun, tolong hargai persahabatan kita," ucap Jiwon saat di perjalanan sepulang sekolah. Jiwon menatap Daehyun yang duduk di sampingnya. Daehyun hanya diam tidak meresponnya. "Aku hanya bisa berdoa persahabatan kita akan baik-baik saja," ucap Jiwon lagi. "Kau terlalu banyak pikiran! Apa yang kau takutkan? Perasaanku padanya?" sahut Daehyun pada akhirnya. Jiwon diam tanpa berani membantah Daehyun yang sudah seperti tuannya. Namun, tiba-tiba Daehyun menatap curiga Jiwon untuk pertama kalinya, "apa kau juga menyukainya?" tanyanya tidak percaya. "Apa? Aku? Tidak! Kata siapa, aku menyukainya?" jawab Jiwon, "aku hanya tidak ingin kita bertengkar hanya karena masalah perempuan," lanjutnya, menegaskan. "Iya, baiklah! Aku akan menunggu mereka benar-benar putus baru aku mengatakan yang sebenarnya. Puas? Bukankah itu yang kau inginkan?" sahut Daehyun yang membuat Jiwon tersenyum lega.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments