Aku Kesepian, Tapi Hari Ini Aku Bahagia

"Di tengah luasnya samudera, seekor ikan paus berbicara dengan lirih dan sunyi. Kenyataanya, tak peduli seberapa banyak ia menjerit, jeritan itu tak sampai pada siapa pun, membuatnya semakin kesepian hingga ia menutup mulutnya tanpa suara. Apa oppa ingat dongeng yang sering oppa bacakan untukku itu?" ucapku, Lee Hana yang saat itu masih berusia 14 tahun pada kakak sepupuku, Min Yongju yang berusia 18 tahun. "Bukankah aku sama seperti ikan paus itu, oppa? Tak peduli seberapa banyak aku mengatakan aku menyukaimu, oppa tetap tidak peduli sama sekali padaku dan malah semakin membuatku kesepian dengan berniat pergi meninggalkanku sendirian!" lanjutku seraya langsung menutup mulutku dengan cemberut karena tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Karena malu, aku pun berbalik dan meninggalkan Yongju yang masih kelihatan shock dengan pernyataan cintaku yang konyol tadi. "Sebenarnya, aku hanya ingin tahu, siapa aku untuk oppa dan bagaimana perasaan oppa padaku?" tanyaku, beberapa detik sebelum aku mengingatkannya tentang dongeng favoritku itu.

Ya, aku baru saja menyatakan cinta pada kakak sepupuku sendiri. Kakak sepupu yang selalu bersikap cuek, tapi diam-diam sangat perhatian. Jarang bicara, tapi sekali bicara terlalu jujur apa adanya sampai kadang menyakitkan. "Dasar tsundere!" teriakku setiap kali aku kesal padanya. Yongju juga sangat malas bergerak, tapi ujung-ujungnya selalu menuruti apa pun kemauanku. Kakak yang galak, tapi tetap saja aku selalu mengekor dengan manjanya sejak kedatangannya di rumah ini. Yongju datang ke rumah ini sebagai sepupu dari pihak ibuku. Yongju tinggal di rumahku sejak ibunya, Min Mirae yang merupakan kakak kandung ibuku, meninggal dunia membawa serta rahasia siapa ayah kandung Yongju. Ayahku yang seorang wakil direktur Jeon Group, salah satu perusahaan terbesar dunia dan ibuku yang seorang direktur pemasaran di sebuah agensi entertainment ternama di Korea, K entertainment, selalu sibuk dengan dunianya. Jadi, aku yang kesepian pun membuat duniaku bersama Yongju, hingga rasa nyaman itu berubah menjadi rasa suka yang seharusnya tidak pernah ada.

"Tentu saja, kau adikku! Jadi, aku mohon setelah ini, jangan menanyakan pertanyaan konyol seperti itu lagi!" ucap Yongju seraya mengepalkan kedua tangannya dengan ekspresi wajahnya yang dingin. "Karena itu juga pertanyaan yang kumiliki dan aku tidak ingin mengetahui jawabannya," lirihnya saat itu yang masih dapat telingaku tangkap meski nyaris tidak terdengar. Aku menangis sambil berlari ke kamarku. Sejak saat itu, tercipta jarak di antara kami. Dan Yongju membuat jarak itu semakin jauh dengan memutuskan keluar dari rumah dan tinggal di dorm sebagai salah satu trainee di agensi tempat eomma bekerja. "Oppa jahat! Aku benci oppa!" teriakku saat Yongju menarik kopernya tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Brakkk! Aku membanting pintu kamarku sekuat tenaga. "Baiklah, sekarang aku tidak akan peduli lagi pada oppa!" ucapku sambil terisak ketika satu-satunya hal yang disebut kesepian tertinggal di sisiku. "Aku sudah benar-benar menjadi kesepian seperti ikan paus itu..." lirihku seraya meringkuk seperti udang di atas tempat tidurku dengan memeluk lututku.

***

Waktu berlalu tanpa permisi. Tidak terasa dua tahun telah berlalu tanpa Yongju di sampingku. Aku yang besar tanpa perhatian orang tua, membuatku terbiasa dengan kesendirian dan berperilaku introvert. Semua kemewahan yang diberikan orang tuaku, membuatku tidak membutuhkan teman seorang pun. Selain itu, karena selama ini, aku tumbuh hanya bersama Yongju, aku tidak tahu bagaimana berpenampilan seperti anak perempuan biasanya. Ya, aku tumbuh dengan tomboi. Rambut pendek hitam lurus sebahu, sepatu, celana panjang, kaos oversize dan jaket hoodie yang oversize pula, adalah hal yang tidak bisa lepas dari keseharianku. Serta topi yang selalu menutupi wajah cantikku yang selama ini tidak pernah tersentuh oleh make up. Juga sebuah headphone yang selalu bertengger di kedua telingaku.

"Brengsek, sekarang kau benar-benar sudah jadi idola!" umpatku dalam hati seraya tersenyum di balik hoodie-ku saat melihat sebuah berita di layar ponselku. Drrt... Drrt... Sebuah pesan masuk, lalu aku pun membukanya. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Yongju di seberang sana. "Aku baik-baik saja," balasku singkat dan sedikit acuh. Selain jarak yang kami buat dengan cara kami masing-masing, obrolan yang mengalir seperti biasa ini juga menjadi sebuah dinding di antara kami, bahwa hubungan kami hanyalah kakak beradik yang saling bertukar kabar dari jauh. Senyumku kembali terulas saat membaca, "Jaga dirimu," balas Yongju tak kalah singkat. "Seperti biasa!" gumamku, lalu kembali memasukan ponselku ke saku jaketku.

Aku kembali menyusuri jalan sambil mendengarkan musik di telingaku seraya menatap diam pemandangan di luar dari balik jendela mobil yang membawaku pulang ke rumah. Masih seperti dulu, aku menyukai semua hal tentang kakak sepupuku itu, termasuk lagu-lagunya yang selalu menemani hari-hariku lewat headphone kesayanganku, hadiah darinya. Ya, mungkin hanya diriku yang terpenjara dalam perasaan suka ini. Entah bagaimana dengan Yongju, aku tidak pernah tahu perasaannya yang sebenarnya padaku.

Menyukai seorang diri seperti ini, sangat menyedihkan, bahkan jika perasaanku berbalas, bisakah hubungan terlarang ini terwujud? Tentu saja, tidak! Beginilah aku menahan diri untuk perasaanku sendiri, hingga perasaan yang tidak mendapat respon ini, bisa berubah suatu hari nanti dan menghilang tanpa aku sadari, harapanku. Aku berharap, suatu hari nanti ada seseorang yang mengubah hatiku ini karena aku yakin, bagaimanapun wujud diriku ini, bahkan seseorang yang buta sekalipun pasti ada satu orang yang akan melihatku sebagai wanita. Bukankah kisahku, kekasihku, cintaku dan jodohku akan datang pada waktunya?

Mobil yang membawaku sampai di sebuah rumah besar nan mewah yang selalu terasa seperti neraka bagiku. "Kau sudah pulang?" tanya eomma. Aku mengerutkan dahi melihatnya, sebuah pemandangan yang jarang terjadi, "eomma ada di rumah saat jam makan siang seperti ini?" pikirku. Namun, tak ingin ambil pusing, aku menyerahkan ijazah dan raport-ku yang baru saja aku ambil bersama kepala pelayan di rumah ini pada eomma, sambil menghela nafas kecewa. "Kalau ada waktu pulang ke rumah, kenapa tidak ada waktu untuk ke sekolah?" pikirku lagi sambil menatap wanita 45 tahun yang masih terlihat cantik dan awet muda di depanku ini, tanpa berani bertanya langsung.

Eomma menyambutnya, "kau sudah mengambilnya? Maaf, eomma tidak sempat ke sana," ucapnya seraya mengelus pucuk kepalaku, lalu mengembalikannya padaku, bahkan tanpa melihat isinya terlebih dulu. "Lagi?" pikirku sambil tersenyum getir menyambutnya. Entah karena sudah yakin nilai putri satu-satunya ini yang selalu membanggakan atau karena memang tidak peduli dengan jerih payahku belajar. Padahal itu satu-satunya usahaku untuk menarik perhatian kedua orangtuaku sejak dulu, tapi aku selalu gagal, bahkan tanpa ada ucapan selamat atau perayaan kelulusan yang kudapat.

Saat di sekolah tadi pun, aku tidak lagi merasa iri pada teman-teman sekolahku yang datang dan pergi bersama orang tuanya, seperti saat aku masih duduk di bangku sekolah pertama. Bagiku, sudah biasa jika yang datang adalah orang lain, entah itu salah satu pelayan di rumahku atau salah satu karyawan dari tempat kerja orang tuaku. Sampai aku pun sudah berhenti berharap jika yang datang adalah orang tuaku atau hanya salah satu dari mereka berdua, apalagi sampai seorang idol seperti Yongju.

"Lee Hana!" panggil eomma yang membuyarkan lamunanku. "Apa yang kau pikirkan sampai tidak mendengar sama sekali eomma panggil?" ucapnya heran. "Ada apa?" tanyaku datar. "Aish, kau ini! Pergilah ke kamarmu! Yongju menitipkan sesuatu untukmu," jawab eomma yang seketika membuat mataku berbinar. Aku pun langsung berlari menuju kamarku dan benar saja, sebuah buket bunga anyelir putih yang bersanding dengan tulip merah, serta sebuah kotak berwarna hitam sudah berada di atas meja belajarku.

Setelah menghirup wangi bunganya, aku pun membuka kotak persegi panjang itu. Sebuah kalung dengan liontin inisial H terdapat di dalamnya. Aku tersenyum melihatnya dan langsung memakainya di leherku. Kemudian, kulanjutkan dengan membaca kartu ucapan yang terselip di sana. "Selamat atas kelulusanmu. Maaf, oppa tidak bisa datang lagi. Semoga kau menyukai makhluk itu, kalau kau tidak suka, buang saja," tulis Yongju. "Makhluk?" ucapku dengan kening berkerut. "Apa maksudnya?" ucapku lagi kebingungan, tapi belum sempat terpikirkan olehku jawabannya, aku merasakan sensasi lembut di kakiku yang membuatku seketika tersentak.

"Kucing?!" kataku terkejut saat mendapati seekor anak kucing tengah menggosok-gosokan badannya di kakiku. Aku pun memekik kegirangan dan langsung menggendongnya. Sejak kecil, aku memang sudah sangat ingin memelihara kucing, tapi Yongju tidak mengizinkannya. Alasannya sederhana, karena dia kesal padaku yang selalu menyebutnya mirip kucing. "Cantik!" ucapku saat menyadari kucing itu memiliki sepasang mata berwarna biru terang seperti lautan. Kucing kecil itu mengeong dengan suaranya yang terdengar menggemaskan. "Imutnya!" pekikku lagi seraya membelai lembut bulu putih kucing berjenis british shorthair itu. "Oppa, aku bahagia hari ini. Terima kasih," kataku seraya memeluk hadiah darinya itu.

Episodes
1 Prolog
2 Aku Kesepian, Tapi Hari Ini Aku Bahagia
3 Bungamu Adalah Bungaku
4 Dia, Aku Memilihnya
5 Seharusnya Kau Lihat Sendiri
6 Karena Aku Pacarmu
7 Kau Cintaku Satu-satunya
8 Tidak Perlu Ikut Campur Dengan Hubunganku
9 Hanya Aku Yang Berjuang Mengejarmu
10 Tak Bisa Sembunyikan Detak Jantungmu
11 Bukankah Itu Yang Kau Inginkan?
12 Apa Yang Kau Lakukan Disana?
13 Tidak Akan Ada Yang Bisa Menghentikan Aku
14 Kau Hanya Pacarnya, Sedangkan Dia Tunangannya
15 Katakan Siapa! Karena Aku Yakin Bukan Dia
16 Apa Yang Terjadi Denganmu?
17 Jauhi Dia!
18 Sungguh Sempurna Untuk Jadi Istriku
19 Seharusnya Aku Tidak Membuatnya Marah
20 Selalu Membohongiku
21 Mendengarkan Cerita Masa Lalu
22 Tolong, Jangan Terlalu Keras Padanya
23 Cinta Akan Menemukan Jalannya
24 Menangis Hanya Karena Satu Gadis
25 Ceritakan Padaku Ceritamu
26 Tuan Muda Kim Yang Tampan
27 Jawabannya Sudah Ada, Aku Bahagia
28 I Am Not Your Baby
29 Sepertinya, Aku Juga Menyukainya
30 Yang Bagimu Biasa Saja, Bagiku Istimewa
31 Bagaimana Aku Bisa Bahagia Jika Kau Pergi
32 Mengering Karena Patah Hati
33 Berhentilah Bermain-main, Peterpan!
34 Maaf, Jika Dia Lebih Menyebalkan Dariku
35 Tolong, Bantu Aku Mencintaimu
36 Mari Kita Berpesta, Sayang!
37 Kau Yang Berpacaran Dengan Tunanganku
38 Aku Bertahan Bukan Untuk Akhir Seperti Ini
39 Otakku Yang Kotor Atau Dia Yang Beracun?
40 Persahabatan Tenggelam Karena Terjebak Kata Cinta
41 Mau Apa Lagi Kau Mencarinya?
42 Perkenalkan, Tuan Muda Kedua Keluarga Jeon
43 Pasang Saja Sendiri Cincin Sialan Itu Di Jarimu!
44 Aku Tidak Akan Menyerah Melindungimu
45 Selamat Siang, Bungaku
46 Sepertinya, Aku Memang Butuh Kehangatan
47 Jangan Salahkan Aku Karena Sudah Tak Tahan
48 Hukuman Karena Sudah Membuatku Cemburu
49 Beritahu Aku Jika Rasa Sakit Ini Bahkan Tidak Nyata
50 Hujan Cemburu Di Matamu
51 Di Atas Dua Hati Yang Retak
52 Perlahan, Aku Mulai Menyukai Permainanmu
53 Aku Akan Menerkammu Setiap Malam!
54 Sweet Strawberry Kiss
55 Merubah Good Girl Menjadi Bad Girl
56 Maukah Kau Menikah Denganku?
57 Kado Ulang Tahun Dariku Untukmu
58 Kali Ini, Aku Mengalah Demi Dirimu
59 Kemana Pun, Aku Akan Menuntutmu Bertanggung Jawab!
60 Untuk Siapa, Aku Sampai Semarah Ini?
61 Hukum Saja Aku Semaumu, Tapi Tidak Untuk Pergi Meninggalkan Aku
62 Jika Kau Rela Kehilanganku
63 Jika Ada Yang Menginjak Kakimu, Injak Balik Kepalanya!
64 Aku Tidak Peduli Apapun Lagi
65 Kalian Tidak Bisa Bersama Lagi
66 Aku Yang Menghamili Dan Aku Akan Bertanggung Jawab Menikahinya
67 Maaf, Kami Sudah Melakukan Sebisanya
68 Bungaku Yang Agung
69 Tolong, Lindungi Dia Untukku!
70 Aku Serahkan Semuanya Padamu Untuk Melanjutkannya
71 Satu Nama Untuk Diberi Karma
72 Di Antara Senyuman Manis, Senyumam Imut Dan Senyuman Hangat
73 Aku Takut, Aku Trauma
74 Katanya, Mirip Itu Jodoh
75 Aku Nelangsa Merindukanmu
76 Hari Ini Manis dan Kau Benar-benar Sangat Manis
77 Cinta Sejati Yang Tak Akan Pernah Berakhir
78 Kau Selalu Menjadi Satu-satunya Bungaku
79 Mawar Merah Darah
80 Benar-benar Mencurigakan
81 Kau Tak Sendiri, Ada Aku Di Sini
82 Secarik Surat Untukmu
83 Tiba-tiba Saja Menghilang
84 Undangan Untuk Teman Lama
85 Pesta Pernikahan Mantan
86 Aku Hanya Mengkhawatirkanmu
87 Membantu Dengan Caraku
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Prolog
2
Aku Kesepian, Tapi Hari Ini Aku Bahagia
3
Bungamu Adalah Bungaku
4
Dia, Aku Memilihnya
5
Seharusnya Kau Lihat Sendiri
6
Karena Aku Pacarmu
7
Kau Cintaku Satu-satunya
8
Tidak Perlu Ikut Campur Dengan Hubunganku
9
Hanya Aku Yang Berjuang Mengejarmu
10
Tak Bisa Sembunyikan Detak Jantungmu
11
Bukankah Itu Yang Kau Inginkan?
12
Apa Yang Kau Lakukan Disana?
13
Tidak Akan Ada Yang Bisa Menghentikan Aku
14
Kau Hanya Pacarnya, Sedangkan Dia Tunangannya
15
Katakan Siapa! Karena Aku Yakin Bukan Dia
16
Apa Yang Terjadi Denganmu?
17
Jauhi Dia!
18
Sungguh Sempurna Untuk Jadi Istriku
19
Seharusnya Aku Tidak Membuatnya Marah
20
Selalu Membohongiku
21
Mendengarkan Cerita Masa Lalu
22
Tolong, Jangan Terlalu Keras Padanya
23
Cinta Akan Menemukan Jalannya
24
Menangis Hanya Karena Satu Gadis
25
Ceritakan Padaku Ceritamu
26
Tuan Muda Kim Yang Tampan
27
Jawabannya Sudah Ada, Aku Bahagia
28
I Am Not Your Baby
29
Sepertinya, Aku Juga Menyukainya
30
Yang Bagimu Biasa Saja, Bagiku Istimewa
31
Bagaimana Aku Bisa Bahagia Jika Kau Pergi
32
Mengering Karena Patah Hati
33
Berhentilah Bermain-main, Peterpan!
34
Maaf, Jika Dia Lebih Menyebalkan Dariku
35
Tolong, Bantu Aku Mencintaimu
36
Mari Kita Berpesta, Sayang!
37
Kau Yang Berpacaran Dengan Tunanganku
38
Aku Bertahan Bukan Untuk Akhir Seperti Ini
39
Otakku Yang Kotor Atau Dia Yang Beracun?
40
Persahabatan Tenggelam Karena Terjebak Kata Cinta
41
Mau Apa Lagi Kau Mencarinya?
42
Perkenalkan, Tuan Muda Kedua Keluarga Jeon
43
Pasang Saja Sendiri Cincin Sialan Itu Di Jarimu!
44
Aku Tidak Akan Menyerah Melindungimu
45
Selamat Siang, Bungaku
46
Sepertinya, Aku Memang Butuh Kehangatan
47
Jangan Salahkan Aku Karena Sudah Tak Tahan
48
Hukuman Karena Sudah Membuatku Cemburu
49
Beritahu Aku Jika Rasa Sakit Ini Bahkan Tidak Nyata
50
Hujan Cemburu Di Matamu
51
Di Atas Dua Hati Yang Retak
52
Perlahan, Aku Mulai Menyukai Permainanmu
53
Aku Akan Menerkammu Setiap Malam!
54
Sweet Strawberry Kiss
55
Merubah Good Girl Menjadi Bad Girl
56
Maukah Kau Menikah Denganku?
57
Kado Ulang Tahun Dariku Untukmu
58
Kali Ini, Aku Mengalah Demi Dirimu
59
Kemana Pun, Aku Akan Menuntutmu Bertanggung Jawab!
60
Untuk Siapa, Aku Sampai Semarah Ini?
61
Hukum Saja Aku Semaumu, Tapi Tidak Untuk Pergi Meninggalkan Aku
62
Jika Kau Rela Kehilanganku
63
Jika Ada Yang Menginjak Kakimu, Injak Balik Kepalanya!
64
Aku Tidak Peduli Apapun Lagi
65
Kalian Tidak Bisa Bersama Lagi
66
Aku Yang Menghamili Dan Aku Akan Bertanggung Jawab Menikahinya
67
Maaf, Kami Sudah Melakukan Sebisanya
68
Bungaku Yang Agung
69
Tolong, Lindungi Dia Untukku!
70
Aku Serahkan Semuanya Padamu Untuk Melanjutkannya
71
Satu Nama Untuk Diberi Karma
72
Di Antara Senyuman Manis, Senyumam Imut Dan Senyuman Hangat
73
Aku Takut, Aku Trauma
74
Katanya, Mirip Itu Jodoh
75
Aku Nelangsa Merindukanmu
76
Hari Ini Manis dan Kau Benar-benar Sangat Manis
77
Cinta Sejati Yang Tak Akan Pernah Berakhir
78
Kau Selalu Menjadi Satu-satunya Bungaku
79
Mawar Merah Darah
80
Benar-benar Mencurigakan
81
Kau Tak Sendiri, Ada Aku Di Sini
82
Secarik Surat Untukmu
83
Tiba-tiba Saja Menghilang
84
Undangan Untuk Teman Lama
85
Pesta Pernikahan Mantan
86
Aku Hanya Mengkhawatirkanmu
87
Membantu Dengan Caraku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!