Yongju baru saja tiba di agensinya setelah melakukan pemotretan. Yongju bersama manajernya berjalan ke ruang rapat untuk membicarakan penampilan berikutnya. Keduanya terpaksa menghentikan langkah saat beberapa trainee di agensinya baru saja keluar dari ruang latihan dan menyapa mereka secara bersamaan. Jika sang manajer membalasnya dengan balik menyapa para trainee itu, lain halnya dengan sang artis yang hanya diam dan terkesan sombong dengan wajahnya yang tampak tanpa ekspresi itu. Sehingga, beberapa trainee itu pun berlalu dan tampak saling berbisik dengan wajah kecewa. Sedangkan Yongju dengan cueknya, hanya memutar matanya dengan jengah, "aku tidak suka para penjilat!" pikirnya.
Saat Yongju akan melanjutkan langkahnya, salah satu trainee menjatuhkan bukunya, tepat di depan kaki Yongju yang langsung memungutnya. Setelahnya, Kening Yongku tiba-tiba saja berkerut saat membaca judul buku itu. Lantas, ia pun menyerahkan kembali buku itu pada anak laki-laki yang tampak terpana di depannya. "Te-terima kasih," jawab pemiliknya terbata. Yongju terdiam memandang anak laki-laki di depannya itu. Cukup dalam, ia memperhatikan wajah anak laki-laki itu, "Apa aku mengenalnya? Kenapa rasanya aku familiar dengan wajahnya?" pikirnya. Sedangkan, anak laki-laki itu tampak gugup saat sadar orang di depannya itu menatap wajahnya dengan lekat.
"Kau membaca buku self help ini?" tanya Yongju pada anak laki-laki yang baru saja menjatuhkan buku itu. "I-iya, sunbaenim," jawab anak laki-laki itu masih dengan sikap gugupnya. "Apa kau trainee baru di sini?" tanya Yongju lagi, tapi belum sempat anak laki-laki itu menjawab, Yongju kembali berkata, "buang saja buku itu!" dengan santainya dan tentu saja dengan ekspresi wajahnya yang dingin. "Ya?" ucap anak laki-laki itu seraya memandang Yongju dan manajernya bergantian, dengan wajah penuh kebingungan, "Kenapa aku harus membuangnya?" tanyanya lagi dengan wajah polosnya. "Karena aku sudah membacanya dan isinya hanya omong kosong!" jawab Yongju seraya mulai berlalu meninggalkannya. Anak itu terdiam memandang Yongju karena masih tidak mengerti maksudnya.
Namun, baru beberapa langkah, Yongju kembali berbalik menghadap anak laki-laki itu, "Apa kau dari keluarga kaya?" tanyanya, seraya memperhatikan penampilan anak laki-laki itu keseluruhan. Mendengar perkataan Yongju itu, manajer dan beberapa trainee yang ada di dekat mereka pun turut memperhatikan anak laki-laki itu, yang semakin tampak gugup dan serba salah. Untuk beberapa saat, nak laki-laki itu tampak ragu, "Ti-tidak," jawabnya setelah beberapa saat. Lalu kembali bertanya, "Apa sunbaenim mengenalku?" tanya anak laki-laki itu ragu seraya memberanikan diri menatap Yongju yang tampak superior di depannya.
Sambil memeluk buku itu, anak laki-laki itu memainkan jari-jarinya. Yongju mengangkat satu alisnya saat melihatnya, "Huh, persis seperti Hana!" pikirnya yang tiba-tiba teringat padaku. Yongju tiba-tiba menggelengkan kepalanya pelan untuk mengembalikan pikirannya yang sempat melayang padaku. "Buku itu hanya cocok untuk anak dari keluarga kaya karena mereka tidak pernah tahu rasanya jadi tulang punggung keluarga dan hanya bisa percaya kata-kata dari buku seperti itu," kata Yongju seraya kembali menatap tajam lawan bicaranya itu. "Jadi, omong kosong kalau kau mempercayainya! Semua hal tentang dirimu sendiri, mimpimu, hobimu, memangnya siapa yang bisa mengerti semua itu, selain dirimu sendiri?" lanjutnya dengan sangat angkuh.
Beberapa trainee yang melihat Yongju mengatakan itu pun hanya bisa menelan saliva mereka dengan susah payah, terlebih senior mereka itu juga mengedarkan tatapan tajamnya pada mereka semua. "Jika kalian hanya berpegang pada buku seperti itu dan kurang akal, akan ada banyak hal yang tidak bisa kalian ubah sesuai keinginan kalian karena faktanya, di lapangan lebih memerlukan akal daripada kata-kata," kata Yongju lagi, kembali menatap lekat wajah juniornya yang tertunduk di depannya itu.
"Hei, sudahlah, jangan mengganggu para junior!" kata manajer Yongju menyela saat melihat artisnya itu yang melayangkan tatapan tidak sukanya pada junior barunya itu. "Ayolah, sebentar lagi rapatnya dimulai!" lanjut sang manajer sambil menarik tangan Yongju, tapi Yongju menepis tangan manajernya itu dengan kasar. "Hei, Min Yongju, jangan membuat masalah!" kata manajer itu. Namun, Yongju tidak menghiraukannya dan malah semakin mendekati anak laki-laki itu dengan ekspresinya yang tidak berubah ramah sedikit pun. Sedangkan anak laki-laki itu semakin merasa terintimidasi dibuatnya.
Beberapa teman trainee-nya sampai memundurkan langkah mereka dengan takut dan mencoba menarik serta anak laki-laki itu bersama mereka, tapi mereka urungkan saat Yongju melirik tajam ke arah mereka. Seperti mengerti bahwa Yongju menyuruh mereka melepaskan anak laki-laki itu, para trainee itu pun melangkah menjauh darinya. Dengan pelan, Yongju mendekat ke telinga anak laki-laki itu. "Jangan membodohiku! Aku tahu, kau pasti dari keluarga kaya. Jika kau terlahir sebagai pangeran, mengapa kau mencoba menjadi budak?" bisiknya di telinga anak laki-laki itu yang seketika mematung mendengarnya.
"Sial! Apa dia mengetahui identitasku? Padahal aku sudah memastikan tidak akan ada yang mengetahuinya," pikir anak laki-laki itu, tapi seketika lamunannya buyar saat Yongju menepuk bahunya. Seketika wajah dingin Yongju yang selalu tampak datar tanpa ekspresi itu, berubah tersenyum manis di depannya, "siapa namamu?" tanya Yongju. "Ju-Junghwa," jawab anak laki-laki itu terbata sekaligus terpana oleh senyum Yongju yang begitu manis. "Aigo! Apa dia benar-benar tersenyum padaku?" pikir Junghwa tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Nah, adik kecil, berjuanglah karena hidup di luar istana itu sulit!" bisik Yongju lagi seraya berbalik dan meninggalkannya. "Satu lagi, jangan panggil aku sunbaenim! Hyung saja sudah cukup," teriak Yongju tanpa menoleh lagi ke belakang dan tidak melihat bagaimana Junghwa menatapnya dengan terharu, bahkan sampai menitikan air matanya. "Iya, seharusnya aku memanggilmu, Hyung..." ucap anak laki-laki 14 tahun itu pelan, seraya buru-buru menyeka air matanya.
"Astaga! Apa-apaan itu? Membuatku tegang saja!" ucap salah satu trainee. "Iya, aku sampai benar-benar merasa takut!" sahut trainee lainnya. "Sudah, sudah. Ayo, kita kembali ke dorm dan istirahat. Aku lelah," sahut yang lainnya. Di depan mereka, Yongju tersenyum kecil saat teringat kembali bagaimana perjuangannya dari nol sampai menjadi idola seperti sekarang saat melihat juniornya itu. Anehnya, Yongju merasa seperti melihat pantulan dirinya pada Junghwa. Entah bagaimana, Yongju merasa kalau Junghwa juga bernasib sama dengannya, seorang pangeran kecil yang bermimpi hidup di luar istananya untuk mencari mimpinya dengan menyembunyikan identitasnya.
***
"Hei, kau!" seru Namgil memanggilku yang berjalan di depannya. "Hei, kau yang di depan!" ulangnya saat aku tidak merespon panggilannya dan terus berjalan. "Yang pakai hoodie hitam, berhenti!" teriaknya yang pada akhirnya membuatku menghentikan langkahku dan juga membuat semua mata terfokus padaku dan Namgil. Aku memperhatikan sekelilingku untuk memastikan kalau yang Namgil panggil adalah aku dan sangat jelas kalau memang saat ini hanya aku yang memakai hoodie hitam di lorong kelas ini.
Dengan ragu, aku pun membalikan badanku menghadap Namgil yang sudah menyusulku. Aku yang hanya memiliki tinggi 165cm sampai harus mendongakkan wajahku menatap wajahnya yang jauh tinggi dariku. "Sunbaenim memanggilku?" tanyaku ragu. Sedangkan Namgil yang memiliki tinggi yang aku perkirakan hingga 180cm terpaksa sedikit menundukkan wajahnya untuk menilik wajahku di balik hoodie dan topi yang kupakai. Sadar dengan tatapan menyelidik Namgil, aku dengan cepat kembali menundukan wajahku. "Ada apa sunbaenim memanggilku?" tanyaku dengan masih menundukan wajahku.
"Apa kau mau jadi pacarku?" tanya Namgil tanpa basa-basi yang membuat semua mulut ternganga mendengarnya, termasuk aku yang langsung kembali mendongakkan kepalaku menatapnya. "Hah? Apa?" tanyaku tidak percaya. "Apa aku tidak salah dengar? Apa telingaku tiba-tiba bermasalah?" pikirku panik, lalu menatap sekelilingku saat menyadari semua mata menatapku seperti monster. Bukannya menjawab pertanyaanku, Namgil malah meminta jawabanku, "Ayo, jawab! Kenapa kau diam?" desaknya.
Pletak! Satu pukulan mendarat di kepala Namgil dari tangan Daehyun yang buru-buru menyusulnya, "cara menyatakan perasaan macam apa itu!" ucapnya geregetan. Jiwon menarik tangan Namgil ke belakang. "Apa yang hyung lakukan, hah?" tanya Jiwon. "Hei! Seharusnya, aku yang bertanya, kenapa kau memukulku? Aku hyung-mu!" protes Namgil pada Daehyun. "Apa kau mendadak bodoh? Mana ada orang menyatakan cinta seperti itu!" sahut Daehyun yang masih geregetan. "Tunggu, apa hyung sadar melakukannya atau apakah hyung sekarang sedang mengigau?" tanya Jiwon yang masih shock.
"Memangnya, apa yang salah?" tanya Namgil tidak mengerti. "Memangnya, hyung sedang mengajaknya pacaran atau memaksanya? Mana ada gadis yang mengerti kalau hyung mengatakannya dengan cara seperti itu!" sahut Jiwon. "Apa maksudmu, dia tidak mengerti? Memangnya, apa ada yang salah dengan kalimatku?" tanya Namgil dengan polosnya, tapi kemudian ia berkata "ah, begitu rupanya!" seolah-olah ia mengerti apa yang Jiwon maksud. "Hei, tunggu dulu! Apa yang kalian bicarakan, hah? Hei Namgil, apa kau yakin dengan semua ini? Kau masih mau menembaknya sekarang? Apa kau sudah mengenalnya?" tanya Daehyug menahan tangan kakak sepupunya itu.
"Sudahlah, kalian tenang saja," jawab Namgil seraya melepaskan tangan Daehyun dengan percaya diri. "Yang penting, taruhannya, bukan?" bisiknya pada Daehyun yang masih tidak bisa menerimanya. "Daehyun, perasaanku tidak enak!" bisik Jiwon. "Kau benar. Sepertinya, akan ada hal memalukan yang terjadi. Apa sebaiknya kita pergi saja?" sahut Daehyun dengan pelan sambil memperhatikan Namgil yang kembali menghampiriku, yang terdiam menonton ketiga sahabat itu. Dengan santainya, Namgil berdiri di depanku. "Hi girl, do you wanna be my girlfriend? Do you?" tanyanya seraya tiba-tiba berlutut di depanku dan semakin membuat heboh satu sekolah. Sedangkan, aku sendiri semakin tidak mengerti dengan situasi yang terjadi di sini.
Daehyun dan Jiwon pun benar-benar shock melihat kelakuan sahabatnya itu. "Ya, hyung! Hyung yakin melakukan ini?" tanya Jiwon lagi yang melihat Namgil sampai berlutut. "Astaga, apa yang dia lakukan!" ucap Daehyun sambil menepuk wajah tampannya, "Aigo, ini benar-benar memalukan nama keluarga Kim! Apa dia pikir, dia sedang melamar gadis itu?" gerutu Daehyun. Kemudian, Daehyun kembali membuka matanya yang sempat tertutup. Dari balik jari-jarinya, ia melirik ke arahku, memperhatikan aku dari kepala sampai ujung kaki. Begitu pula, Jiwon yang berdiri di sampingnya. Keduanya memperhatikan aku, "apa dia serius mau pacaran dengan gadis itu?" ucap mereka bersamaan, lalu saling tatap dan menghela nafas sambil menggelengkan kepala mereka.
"Hei, mau sampai kapan kau membiarkanku berlutut?" tanya Namgil padaku. Seketika aku pun teringat perkataan Yongju yang menyuruhku untuk pacaran, "Yes, I do..." ucapku tanpa sadar. Namgil pun tersenyum penuh kemenangan seraya bangkit. "Do you see?" ucap Namgil bangga pada kedua sahabatnya itu. Daehyun dan Jiwon kembali saling melempar pandang, lalu menghela nafas bersamaan. "Kalau begitu, namamu siapa? Aku Namgil. Kim Namgil," kata Namgil seraya mengulurkan tangannya padaku. "Hana," balasku seraya menyambut uluran tangannya dengan ragu. Daehyun dan Jiwon tercengang. "Astaga! Dia bahkan belum tahu namanya?" kata Daehyun tidak percaya. Sedangkan Jiwon yang sedari tadi menahan tawa, akhirnya terbahak melihat kekonyolan di depan matanya itu. "Baru pertama kali ini aku melihat orang jenius sebodoh ini!" ucap Daehyun di sela-sela tawa Jiwon yang semakin tertawa mendengarnya. "Diam kau!" bentak Namgil yang juga mendengarnya, dengan melayangkan tatapan tajamnya.
Setelah melepaskan tanganku, Namgil kembali mengulurkan tangannya, "Sini, ponselmu!" pintanya. Kami pun bertukar nomor ponsel. "Ayo, aku antarkan sampai ke kelasmu," ucapnya seraya menggandeng tanganku dan anehnya, aku diam saja menurutinya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" pikirku yang seperti masih bermimpi, "tapi... biarlah! Persetan jika oppa satu-satunya yang pernah aku sukai, bahkan jika penampilanku tidak sempurna seperti perempuan yang lain, aku tetap edisi terbatas untuk laki-laki lain! Apa kau melihatnya, oppa? Aku bahkan tidak perlu mencarinya," ucapku dalam hati. Tanpa tahu, aku yang terlalu polos, tidak tahu jika aku sudah berada dalam masalah besar, masuk ke dalam jebakan tiga sahabat ini, sebuah ikatan yang berawal taruhan yang akan membodohiku.
***
"Apa dia orangnya?" pertanyaan itu sedari tadi sampai ke telingaku sejak aku memasuki kelas, bahkan sampai jam istirahat sekarang di kantin. "Apa mereka mempunyai banyak waktu luang untuk membicarakan aku?" pikirku kesal. "Apa ada yang mengenalnya?" tanya siswi yang lain dan mereka pun mulai sibuk membicarakan siapa aku, bahkan mulai memberikan penilaian pada penampilanku yang baru mereka jumpai. "Wajahnya sih, lumayan saat dia melepas topinya itu, tapi coba lihat, penampilannya keseluruhan! Apa kakak kelas itu buta?" ucap seseorang di belakangku yang jelas, tidak terima dengan kejadian tadi pagi. "Mungkin selera Namgil oppa memang begitu. Aneh!" ledek yang lain. "Sepertinya, Namgil oppa tidak mengerti fashion dan apa itu cantik!" ledek yang lainnya lagi dan mereka pun tertawa.
Aku hanya diam mendengar ocehan itu, tanpa mau memperdulikannya karena aku sudah terbiasa mendengarnya sejak dulu. "Membosankan!" pikirku seraya meletakan botol minumanku. Aku teringat kembali perkataan Yongju setiap kali menemaniku berbelanja pakaian, "pakai saja apa yang kau inginkan, itu swag namanya! Kita bisa saja mengikuti trend, tapi tampil beda sesuai keinginan kita, itu lebih nyaman," ucapnya saat itu. Mengingatnya, aku pun tersenyum tanpa sadar. Namun, senyumanku itu langsung pudar saat ada yang berteriak di depanku. "Hei, kau!" panggil seorang siswi yang baru saja memasuki kantin. Siswi cantik yang tidak aku kenal ini bahkan sampai menggebrak mejaku dengan keras dan membuat perhatian seisi kantin tertuju ke arah kami.
"Berani-beraninya kau mendekati Namgil oppa kami! Apa kau tidak mempunyai cermin di rumah, hah?" bentaknya di depanku dengan angkuhnya. Sedangkan aku hanya mengerutkan kening mendengarnya. "Namgil oppa kami? Apa laki-laki yang baru saja jadi pacarku itu milik bersama?" pikirku. "Awalnya, aku tidak percaya, tapi ternyata benar, cuma kau sendiri yang aneh di sini," katanya dengan kedua tangannya yang ia silangkan di depan dada, ditambah ekspresi yang merendahkan. "Ikuti aku! Aku dan teman-temanku mau bicara denganmu," lanjutnya seraya berbalik. "Ah, sepertinya pacar baruku itu memang punya penggemar fanatik!" pikirku lagi, menyimpulkan. Menyadari aku masih tidak bergeming dari tempat dudukku, Sooyun, nama gadis itu, berbalik menghadapku dan berkata kasar, "apa kau tuli, hah?" Tapi, aku hanya mendengus kesal dan melanjutkan makan siangku.
Cuih! Sooyun meludah tepat ke dalam makananku dan dengan santainya bertanya, "kau masih mau makan?" Aku tercengang, lalu terkekeh sendiri. "Apa kau yang meludah?" tanyaku seraya menatapnya tajam. "Kalau iya, kenapa?" tantang Sooyun sombong, bahkan ia dan teman-temannya menertawakanku. Aku memberikannya sedikit seringai, lalu berdiri dari dudukku. Aku mengambil piring makanku dan dengan cepat, aku tumpahkan ke wajahnya. "Apa rasanya enak?" tanyaku seraya tersenyum evil. "Apa yang kau lakukan, brengsek!" teriak Sooyun tidak terima, sebelum ia sibuk membersihkan wajahnya yang sudah aku buat kotor dengan tisu yang diberikan temannya.
"Beraninya kau, anak baru! Mana rasa hormatmu pada kakak kelas, hah! Apa kau tahu siapa yang kau lawan. Putri dari keluarga Shin!" bentak dua siswi yang menemani Sooyun sejak tadi. Aku terkekeh mendengarnya, "Oh, keluarga Shin? Kalau begitu, salam kenal, aku dari keluarga Lee," ucapku santai. Saking kesalnya, aku sampai memperkenalkan diriku untuk yang pertama kalinya sebagai bagian keluarga Lee. Karena tidak tahan dengan rengekan manja Sooyun, aku pun pergi meninggalkan mereka bertiga, tanpa sadar akan kehadiran dua manusia yang sejak tadi memperhatikanku dengan serius.
"Kau lihat itu? Daebak! Baru pertama kali aku melihat ada yang berani melawan gadis manja Shin itu!" kata Jiwon pada Daehyun yang sedari tadi juga melihat aksiku. "Wah, sepertinya aku harus cari tahu siapa pacar si jenius itu!" sahut Daehyun, "dan kau kenapa masih berdiri di sini? Urus sana, pacar manjamu itu?" lanjutnya seraya menunjuk ke arah Sooyun. "Malas!" sahut Jiwon seraya memutar matanya jengah. "Sedang apa kalian? Kenapa hari ini kantin lebih ramai dari biasanya?" tanya Namgil yang baru tiba di kantin. "Dari mana saja kau?" tanya Daehyun. "Bukankah kalian menyuruhku ke kelas Hana? Dia tidak ada di kelasnya, tapi saat aku mau menyusul kalian, ada guru yang memanggilku, makanya aku terlambat," jelas Namgil. "Ah, sayang sekali hyung terlambat! Pacar badas hyung itu baru saja pergi. Mungkin kembali ke kelasnya," sahut Jiwon dengan ekspresi kecewa di wajahnya. "Badas?" kata Namgil bingung. "Iya, badas! Pacar hyung itu ternyata keren juga. Seharusnya tadi hyung melihatnya sendiri! Pacar hyung itu..." sahut Jiwon mulai menceritakan kejadian tadi pada Namgil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments