"Hana! Dengarkan oppa dulu!" teriak Yongju dari dalam mobilnya, tapi aku tidak mendengarkannya dan terus berlari ke kamarku, bahkan aku tidak memperdulikan eomma yang berpapasan denganku di pintu masuk rumah. "Ada apa ini? Apa kalian bertengkar?" tanya eomma, tapi tidak satu pun di antara kami berdua yang menjawabnya. Rasanya, hatiku tiba-tiba tersulut emosi mendengar perkataan Yongju tadi. "Sial! Hana tidak pernah seperti ini sebelumnya," gumam Yongju seraya menyusulku. Sedangkan eomma hanya menghela nafas panjang melihat aku yang lari dan Yongju yang mengejarku. Eomma pun memilih kembali ke kantor dan membiarkan kami seperti biasa karena percuma saja mencoba menghentikan pertengkaran di antara aku dan Yongju. Eomma tahu betul, hanya Yongju yang bisa membujukku.
Aku sampai di kamarku, tapi saat aku menutup pintunya, Yongju menahannya dengan tangannya. "Dengarkan dulu penjelasan oppa!" ucapnya terengah sambil menatapku lekat. Dan pada akhirnya, Yongju menang. Aku berjalan masuk ke kamar dan membiarkannya mengikutiku masuk. Aku melepaskan sweater-ku di depannya dengan kesal dan melemparkannya ke sembarang tempat. Yongju memperhatikanku dari belakang, "Hana, kau harus tahu, kau memang sudah berubah dan mungkin sudah menjadi mawar berduri untukku, tapi di mata laki-laki lain, kau tetaplah bunga mawar yang gampang dipetik!" ucap Yongju dalam hati.
"Oppa hanya merasa khawatir. Melihatnya yang berani memelukmu di sekolah, oppa takut kalau anak itu hanya mempermainkanmu," kata Yongju. Aku menghentikan langkahku, "jadi, oppa benar-benar melihatnya!" pikirku lagi mengingat Namgil yang berusaha menciumku tadi. "Apa oppa melihatnya?" tanyaku pelan. "Apa?" tanya Yongju datar, "melihat anak itu berusaha menciummu?" lanjutnya lagi yang seketika membuatku berbalik tanpa menyadari kalau Yongju sudah berdiri tepat di belakangku.
Brukk! Aku pun menubruk tubuh Yongju tanpa sengaja, bahkan bibir Yongju sampai menyentuh dahiku. Aku yang terkejut menyadarinya, sontak memundurkan langkahku dengan panik. Greb! Yongju menahan tubuhku yang hampir limbung dengan tangannya yang melingkar di pinggangku. Deg... Deg... Deg... Jantungku berdebar tidak karuan di dalam dekapannya. Bahkan aku bisa mencium wangi parfumnya yang aku sukai. Sesaat, kami saling terdiam, hingga sebuah pertanyaan diajukan Yongju padaku. "Apa kau mendengarnya, Hana?" tanyanya pelan. Aku terdiam tidak mengerti, tapi sesaat kemudian aku menyadari bahwa bukan hanya jantungku yang berdebar kuat.
"Kau yang membuat jantung oppa berdebar seperti ini. Oppa tidak tahu sejak kapan, tapi sekarang oppa ingin kau tahu isi hati oppa. Oppa juga ingin menjadi oppa-mu, bukan sekedar kakak sepupumu, walau oppa tahu perasaan kita tidak mungkin bisa terjalin," ucap Yongju dengan suara yang bergetar. Kemudian, ia mengalihkan tangannya dari pinggangku ke pipiku. "Jujur, oppa juga ingin menciummu sepanjang waktu. Mungkin selama ini, oppa bisa mengalihkan mata oppa darimu, tapi oppa tetap tidak bisa mengalihkan hati oppa darimu," lirihnya seraya menatap lekat kedua bola mataku.
Aku mengerjapkan kedua mataku, berusaha mencerna apa yang baru saja aku dengar. "Haruskah aku memulainya? Menjadi monster yang memangsa ikan paus di depanmu?" pikir Yongju saat atensinya beralih pada bibirku. "Hana, berikan oppa hatimu dan oppa akan memberikan segala yang oppa miliki," pinta Yongju sebelum mengecup lembut bibirku. Akhirnya, ciuman pertamaku diambil oleh kakak sepupuku sendiri. Sebuah kecupan lembut dari bibir milik cinta pertamaku.
Mengingat perasaanku pada Yongju selama ini, seharusnya hari ini aku bahagia saat mendengarnya memberitahuku perasaannya yang sebenarnya, tapi kenapa aku malah menangis lagi. Terlebih saat Yongju sendiri tersentak dengan perbuatannya hingga memundurkan langkahnya dan semakin tersentak saat melihat air mataku menetes di pipiku. Yongju menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan. "Maaf..." hanya satu kata itu yang terucap dari mulutnya yang bergegas pergi meninggalkan aku. Dalam langkah cepatnya, Yongju menyesali perbuatannya. "Kenapa aku melakukannya? Kenapa aku merasa sudah melakukan kesalahan dan dosa besar? Haruskah aku kembali dan meminta maaf lagi?" pikirnya ragu dengan langkah yang melamban.
Sementara di tempat lain, Namgil tengah memikirkan juga perbuatannya padaku tadi siang. "Kenapa kau menolakku? Tidak cukupkah bahwa kita adalah pasangan?" pikirnya seraya menatap layar ponselnya. "Kau juga selalu membalas chat-ku dengan seadanya, bahkan sangat singkat," gumamnya yang memperhatikan obrolan kami di chat yang teramat singkat dan terkesan membosankan.
***
Yongju terduduk di dalam mobilnya, "Apa yang sudah kau lakukan, bodoh!" rutuknya seraya memejamkan matanya dan berkata pada dirinya sendiri. "Selama ini, kau sudah berhasil menjaga hati dan melarikan diri dari perasaan ini. Kau sendiri tahu, perasaan ini tidak boleh berawal dan tidak akan pernah bisa berakhir dengan adil," lanjutnya. Lalu, ia tersenyum getir, "bukannya aku ingin memilikimu secepat ini, tapi saat ini, aku juga tidak ingin menyerahkanmu pada laki-laki lain. Aku ingin terus menjagamu," lirihnya dengan bulir air mata yang terjatuh dari pelupuk matanya. "Appa, eomma, maafkan aku yang mencintai putrimu..." lirihnya lagi seraya meminum wine langsung dari botol di tangannya. Seperti biasa, sang rapper akan tumbang setiap kali memikirkan perasaan terlarangnya itu.
***
Sedangkan, aku di dalam kamar masih melamun dengan pikiran, "apa oppa bersungguh-sungguh mengatakannya? Bukankah oppa tahu apa yang terbaik untuk kita? Kenyataannya, perasaan kita tetaplah terlarang dan aku sudah mulai mengerti itu." Aku merebahkan diriku di atas tempat tidur dan menutupi tubuhku dengan selimut. Aku memilih meringkuk di dalamnya, bahkan tidak memperdulikan miaw yang datang ingin bermanja padaku. "Jadi, sekarang bagiku, cukup memandangmu dari bawah sebagai seorang penggemar dan seorang adik yang selalu mendukungmu. Tidak lebih!" putusku dalam hati. "Aku akan meletakkan perasaan ini di pundakku karena aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk perasaan kita ini," lirihku tersenyum pahit seperti biasa. Aku menyentuh bibirku sendiri dengan mata yang basah sampai tanpa aku sadari, aku terlelap dalam tidurku dan tidak tahu berapa kali ponselku bergetar.
***
Namgil masih menatap layar ponselnya, menunggu balasan dariku setelah ia meminta maaf lewat chat padaku. "Kenapa kau tidak membalas? Apa kau marah?" gumamnya seorang diri. "Seingatku, kau bahkan tidak pernah mengatakan kau menyukaiku atau tidak. Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku?" gumamnya lagi. "Apa kau benar-benar marah karena aku terlalu terburu-buru? Tapi jika tidak..." pikirnya terpotong karena menghela nafas panjang. "Haaaah... Apa sesulit ini? Aku hanya ingin leluasa menjadi pacarmu," katanya dengan wajah cemberutnya.
Tik... Tak... Tik... Bunyi jarum jam yang terus bergerak, membuat perasaan Namgil semakin tidak karuan. Sejak pulang sekolah tadi, pemuda itu gelisah menunggu kabar dariku. Sesekali, ia mengetuk-ngetuk layar ponselnya, lalu menaruhnya di telinganya dan kembali menghubungiku, tapi lama nada sambung itu terdengar di telinganya, tetap tak ada jua jawaban. "Sayang, apa kau sudah tidur?" chat-nya lagi setelah beberapa kali panggilan tidak terjawab. "Apa kau marah?" tanyanya untuk kesekian kalinya. "Kalau kau marah, kau boleh menghukumku, tapi tolong jangan seperti ini," pintanya.
Menit demi menit kembali berlalu dan Namgil masih setia menunggu balasanku. "Hei, apa aku orang asing bagimu sampai kau bersikap cuek seperti ini padaku? Apa kau tahu, aku terus memikirkannya. Aku mencintaimu," chat-nya lagi, berharap aku akan membalas setelah ia mengatakan cintanya. "Berhentilah marah. Jangan membuatku bingung. Jika kau masih marah, mari buat perjanjian. Kapan dan berapa kali aku boleh menciummu? Juga berapa kali sehari aku boleh menghubungimu seperti ini?" tulisnya dengan wajah cemberut.
"Jika kita harus membuatnya, apa kau merasa lebih baik? Sayang? Jangan tidur! Balas! Apa kau tidak mau memaafkanku? Sebenarnya, apa aku bagimu?" ketiknya terakhir kalinya sebelum menyerah dan beralih ke alam mimpinya. "Aku juga ingin diperhatikan, seperti aku memperhatikanmu. Aku juga ingin dirindukan, seperti aku merindukanmu. Aku juga ingin dicari saat aku tidak mengabarimu. Sepertinya, hanya aku yang berjuang mengejarmu," igau Namgil dalam mimpinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments