"Di mana Bitna?" tanya Daehyun yang menjadi dalang masalah ini, sesampainya ia di ruangan karaoke mereka. "Eonni itu baru saja pulang. Kenapa kalian lama sekali? Aku juga sudah mau pulang," kata Sooyun yang tertinggal seorang diri di sana. "Kau mau pulang sekarang? Kalau begitu, biar aku antar," kata Jiwon seraya berbalik ke arah pintu. "Tidak perlu, aku pulang naik taksi saja. Tadi aku sudah memesannya. Mungkin sekarang sudah hampir sampai. Jadi, aku pulang sekarang," kata Sooyun. Padahal Sooyun berbohong hanya karena tidak ingin diantar oleh Jiwon dan senyuman Sooyun seketika mengembang saat mendengar Daehyun juga berkata, "sepertinya aku juga akan pulang sekarang."
"Apa kalian masih ingin di sini?" tanya Daehyun pada Jiwon dan Namgil. Jiwon memandang iba pada Namgil yang tampak tidak bersemangat. "Kau duluan saja. Aku akan pulang bersama Namgil hyung," jawab Jiwon. Daehyun pun berjalan meninggalkan mereka. "Sayang, hati-hati di jalan. Kalau kau sudah sampai rumah, hubungi aku, oke?" kata Jiwon pada Sooyun seraya memberikan senyuman indahnya, tapi Sooyun hanya tersenyum malas membalasnya. "Oh, tunggu! Ada apa dengan pipi Daehyun? Kenapa memerah?" gumam Jiwon yang baru sadar, tapi Daehyun sudah terlanjur pergi.
***
Daehyung masuk ke dalam mobilnya dan berniat menghidupkan mesinnya saat pintu mobilnya terbuka. Sooyun masuk tanpa izin terlebih dahulu dan langsung duduk di kursi samping kemudi, membuat Daehyun menatapnya bingung. "Mau apa kau?" tanya Daehyun dingin. "Pulang," sahut Sooyun santai, "atau kau punya tempat tujuan lainnya, selain pulang?" lanjutnya seraya tanpa tahu malu, menyilangkan kakinya sampai paha mulusnya terekspos begitu saja. Atensi Daehyung pun tertuju pada paha putih itu yang tampak menggiurkan dengan keningnya yang berkerut.
Kemudian, Daehyun terkekeh sendiri karena usaha Sooyun itu, "Kau yakin?" tanyanya seraya menatap lekat wajah Sooyun yang memang cantik. Sooyun tersenyum manis, lalu menyandarkan kepalanya dengan manja di lengan Daehyun seraya memeluk lengan itu. "Jujur, aku lebih menyukaimu daripada Jiwon," kata Sooyun yang membuat Daehyun mencibir rendah dirinya. "Dasar murahan, bahkan aku tidak perlu menggodamu! Aku yakin pelacur sepertimu bukan kartu perdana seperti calon istriku itu!" pikir Daehyun seraya menatap lurus ke depan. Tiba-tiba Daehyun kembali teringat padaku. "Ah, kenapa aku jadi mengingatnya lagi? Sejak kapan aku suka memperhatikan gaya tomboinya itu? ****! Aku jadi membayangkan tubuh berkilaunya itu. Sepertinya, aku akan merindukan ekspresi ketakutanmu itu, berlianku!" ucapnya dalam hati.
Daehyun beralih menatap Sooyun dari pantulan kaca mobilnya. "Gadis bodoh yang rela menawarkan dirinya untukku, sangat berbanding terbalik dengan satu-satunya gadis yang pernah menolakku!" pikir Daehyun lagi. "Sekarang, cobalah untuk menggodaku, jika kau tidak takut kehilangan kekasihmu itu!" kata Daehyun dengan senyuman evil di wajah tampannya itu. Perang lidah pun kembali terulang antara kedua anak manusia itu, layaknya pasangan harmonis. "Daehyun, aku mencintaimu," ucap Sooyun lembut seraya merapatkan tubuhnya di dalam penyatuannya dengan Daehyun. Namun bagi Daehyun, kalimat itu hanyalah wordplay yang tidak berarti sama sekali.
Bagi seorang Kim Daehyun, wanita adalah surga yang tidak bisa ia tolak. Demi surga itu, Daehyun akan melakukannya dengan senang hati jika ada yang menawarkan diri dengan suka rela, meski tanpa melihat wajah dari lawan bermainnya dan tentu saja meski tanpa perasaan sekalipun. Bajingan sepertinya tidak akan pernah peduli dengan seberapa banyak anak gadis yang sudah ia rusak dan berapa kali air kehidupan yang sudah ia teteskan di dunia ini, selama ia menikmatinya. "Aku cukup menampungnya, menyekanya jika tumpah, membasuh jejak sisanya atau membuangnya jika berkembang tanpa seizinku!" pikir otak iblis seorang Kim Daehyun yang merasa dirinya berkuasa atas hidupnya sendiri. Daehyun juga tidak peduli, tubuh maupun hati yang ia sentuh sudah ada pemiliknya atau belum. Bahkan jika itu milik sahabat dekatnya sekali pun. "Bukan aku yang meminta, apalagi memaksanya. Mereka sendiri yang mau," pikir Daehyun, masa bodoh.
***
"Hana, buka pintunya! Hana! Lee Hana!" teriak Yongju sambil memukul-mukul pintu kamarku dengan keras, membuat gendang telingaku sakit. Sedangkan, aku hanya bisa menangis di balik pintu kamarku itu. Setelah memastikan pintu itu telah terkunci sempurna, aku perlahan bergerak menuju tempat tidurku. Segala sesuatu yang menimpaku malam ini, membuatku memilih menutup mulutku rapat-rapat, tak ingin menceritakannya pada siapapun. "Kebahagian dan hubungan yang baru aku coba rasakan, semua dicemarkan oleh si brengsek itu!" gumamku pelan seraya mulai meringkuk seperti biasa setiap kali aku bersedih dan merasa sendirian.
Sementara di luar, Yongju semakin tidak terkendali. Berulang kali, ia menggedor-gedor pintu kamarku, bahkan sampai ingin mendobraknya secara paksa, jika saja tidak ditahan oleh appa-ku. "Yongju, hentikan! Apa kau bodoh? Kalau kau seperti ini, kau hanya membuat Hana semakin ketakutan. Ikut appa ke bawah! Biarkan Hana menenangkan dirinya dulu!" perintah appa seraya menarik tangan Yongju dengan kuat. Di bawah, Junghwa yang duduk di sofa ruang tamu, hanya diam mendengarkan keributan yang dibuat Yongju. Sesekali, ia tampak membenarkan duduknya dengan gelisah sambil berulang kali, melirik ke arah eomma-ku yang tidak berhenti menatapnya sejak kedatangannya.
"Hei, kau, ikuti aku! Antar aku ke tempat laki-laki itu sekarang!" ucap Yongju saat menuruni tangga rumahku sambil menunjuk ke arah Junghwa yang terkejut dan langsung berdiri dari duduknya. "Yongju!" bentak appa seraya berpaling menghadap Yongju dengan tatapan tajam. "Mau apa kau ke sana, hah? Mau membuat ulah lagi? Mau merusak karirmu, hah?" bentak eomma juga seraya turut bangun dari duduknya. "Eomma, sekarang bukan itu yang penting, tapi anak perempuanmu!" sahut Yongju tak kalah keras. Dengan kesal, Yongju berjalan mendahului appa di depannya dan menghampiri Junghwa.
"Namamu Junghwa, bukan?" tanya Yongju sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, lalu menunjukan sesuatu di layar ponselnya pada Junghwa sambil kembali bertanya, "apa benar pelakunya anak laki-laki yang ada di foto ini?" Junghwa pun memperhatikan foto itu, "iya, hyung. Salah satu di antara mereka bertiga di foto ini," jawabnya. "Siapa?" tanya appa penasaran. "Sudah kuduga, pasti anak sialan itu!" gerutu Yongju sambil mengepalkan tangannya. "Katakan, siapa orangnya?" tanya eomma seraya merebut ponsel Yongju. Belum sempat eomma melihat fotonya, "Kim Namgil, putra bungsu Presiden Kim Dangwook. Hana berpacaran dengannya," jawab Yongju dengan emosi.
"Apa?" ucap orang tuaku bersamaan. "Hana berpacaran?" tanya eomma seraya menutup mulutnya. "Anak Presiden Kim?" tanya appa juga sambil kembali terduduk. "Astaga! Berarti yang aku pukul tadi anak presiden?" pikir Junghwa dengan mulut ternganga. "Aku sudah menyuruh Hana untuk memutuskan hubungannya malam ini, tapi apa yang terjadi? Anak sialan itu benar-benar mencari mati!" kata Yongju seraya bergegas pergi saat ketiga orang lainnya masih shock.
"Mau ke mana kau, Yongju! Ya, Min Yongju!" teriak appa, tapi tidak dihiraukan oleh Yongju yang sudah pergi dengan mobilnya. "Biarkan saja dia! Percuma saja menahannya! Memangnya siapa yang bisa menghentikan anak nakal itu?" sahut eomma. Sepeninggal Yongju, Junghwa yang bingung harus bagaimana, berusaha menyusul Yongju, tapi ditahan oleh eomma. "Tunggu! Apa namamu Junghwa? Bukankah kau trainee baru itu?" tanya eomma ragu.
"Trainee?" ucap appa sekali lagi terkejut sambil menatap Junghwa penuh dengan tanda tanya karena kehadiran Junghwa saja sudah mengejutkan appa. "Ada apa? Kenapa kau terkejut seperti itu?" tanya eomma bingung melihat reaksi appa. Tanpa sepengetahuan eomma, Junghwa yang berdiri di belakang eomma meletakan jari telunjuk di bibirnya dan appa yang mengerti isyarat itu hanya mengangguk kecil sambil berkata, "tidak, bukan apa-apa. Aku hanya terkejut saja."
"Nak Junghwa, apa kau yakin, pelakunya anak Presiden Kim?" tanya eomma lagi pada Junghwa. Junghwa menggaruk tengkuknya ragu, "sebenarnya, aku juga tidak tahu siapa dia, bahkan tadi aku memelintir tangan dan meninju wajahnya," kata Junghwa dengan ekspresi sedikit menyesal. "Yang mana orangnya?" tanya eomma seraya mulai memperhatikan foto tadi. "Yang ini!" jawab Junghwa seraya menunjuk foto Daehyun yang berdiri di antara Namgil dan Jiwon. Eomma pun membulatkan matanya menatap foto itu.
"Kau yakin?" tanya appa yang juga memperhatikan foto itu dan Junghwa mengangguk yakin. "Apa kau bercanda?" tanya eomma tidak percaya dan kali ini Junghwa menggeleng, yakin. Eomma kembali terduduk. "Dia bukan putra presiden Kim," ucap eomma lemas, "dia putra Kim Taeyang dan Eunha. Tunangan Hana sendiri," lanjut eomma dengan dada yang terasa sesak dengan amarah. "Aku akan menghubungi Eunha," ucap eomma seraya bangun dari duduknya. "Iya, kita harus membicarakan ini dengan mereka, tapi bagaimana dengan Yongju? Lebih baik beritahu anak itu dulu kalau dia salah orang," kata appa.
"Bagaimana memberitahunya? Ponselnya saja di sini!" sahut eomma seraya menunjukan ponsel Yongju di tangan eomma. "Kalau begitu, biar saya saja yang menyusul Hyung. Lagipula kesalahpahaman ini berawal dari saya," sela Junghwa. "Kalau begitu, tolong bantuannya dan terima kasih banyak karena sudah menolong Hana. Entah, apa yang terjadi kalau kau tidak menolongnya. Maaf juga karena jadi melibatkan dan merepotkanmu," ucap Eomma seraya memeluk Junghwa. "Bukan apa-apa. Ini sudah kewajiban kita untuk saling menolong. Lagipula, aku senang saat tahu noona yang aku tolong adalah adiknya hyung," ucap Junghwa. "Kalau begitu, biar aku yang mengantarkan Junghwa ke depan. Kau hubungi saja keluarga Kim," sela appa seraya mengajak Junghwa keluar.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tadi kau menyuruh paman untuk diam?" tanya appa sesampainya mereka di depan rumah. Junghwa tersenyum memamerkan gigi kelincinya. Melihatnya, appa malah semakin menatap Junghwa dengan curiga. "Trainee, hah?" tanya appa lagi seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa kau sedang bermain-main di sini? Apa appa dan eomma-mu tahu kau ada di Korea? Aigo, jangan katakan kalau kau kabur lagi dari rumah!" lanjut appa seraya menatap tajam Junghwa.
Junghwa semakin salah tingkah saat diberondong pertanyaan seperti itu. Sebenarnya, ia juga masih bingung bagaimana ia harus menjelaskan semuanya, terlebih ia juga tidak menyangka jika pria di depannya ini berhubungan dengan operasi yang ia mulai seorang diri ini. "Hmmm.... maaf, untuk sekarang, saya masih belum bisa menceritai pada paman, tapi paman tenang saja, appa tahu apa yang aku lakukan di sini. Kalau paman tidak percaya, silahlan tanyakan saja pada appa," jawab Junghwa seperti anak kecil yang manja.
"Satu hal lagi, tolong rahasiakan nama keluargaku," lanjut Junghwa seraya kembali tersenyum lebar. "Maksudmu, kau mau mengganti nama panggungmu?" tanya appa mengingat kini bocah di depannya ini adalah seorang trainee. "Bukan. Untuk nama panggung, mungkin aku tidak akan mengubah namaku, tapi aku hanya ingin menyembunyikan identitas keluargaku. Paman mengerti, bukan, menyandang nama keluargaku itu berat," jawabnya, terkekeh. "Terserah kau saja, tapi setelah ini, paman akan memastikannya dengan menghubungi appa-mu. Sekarang pulanglah, ini sudah larut. Lain kali, kau bisa datang ke sini atau menginap di sini, jika kau mau," kata appa.
Sedangkan di dalam rumah eomma tampak berbicara di ponselnya dengan Nyonya Kim, ibu Daehyun, tidak dalam posisi duduk santai seperti biasa, tapi berjalan mondar-mandir karena sedang menahan amarahnya. "Kau memintaku mengikat putriku dengan putramu, tapi tahukah kau apa yang sudah putramu lakukan pada putriku? Aku sangat kecewa, Eunha. Jujur, aku menyesal menerima pertunangan yang belum kita langsungkan ini! Untuk detailnya, aku juga belum mendengarnya langsung dari Hana karena saat ini, Hana mengunci dirinya di dalam kamar. Jadi, tanyakan saja pada Daehyun nanti, apa yang sudah ia perbuat pada Hana, lalu beri aku penjelasan atas semua ini!" ucap eomma lewat sambungan telepon pada Nyonya Kim. Eomma mematikan sambungan teleponnya dengan kasar. Sungguh, saat ini eomma sangat merasa kecewa dengan pilihannya sendiri. "Aku pikir dengan memilih putranya, akan memberikan takdir yang luar biasa untuk putriku!" ucapnya dalam hati.
***
Brak!! Yongju membuka pintu tempat Namgil dan Jiwon sedang duduk sambil berbincang. Dengan langkah besar, Yongju berjalan ke arah Namgil yang tengah duduk menatapnya dengan ekspresi terkejut. Jiwon pun langsung berdiri dari duduknya dan berusaha menenangkan Yongju yang tiba-tiba mencengkeram kerah baju Namgil hingga dagunya terangkat. "Ada apa ini? Apa-apaan ini?" ucap Jiwon gelagapan. "Kau bukan, yang bernama Namgil? Pacar Hana?" tanya Yongju dengan aura membunuh yang menyeruak dari tatapannya. Glup! Dengan susah payah, Namgil menelan kasar saliva-nya sambil mengangguk pasrah.
"Haruskah aku memberikan ibu jariku pada bajingan sepertimu, hah? Atau aku buat kau membusuk dengan mematahkan tangan dan kakimu?" kata Yongju seraya mengarahkan bogemnya ke arah wajah Namgil yang tidak tahu apa-apa. "Hyung-nim, tenang dulu! Sebenarnya, ada apa? Tenanglah! Kita bicarakan dulu," ajak Jiwon berusaha melerai. "Kalau ini berhubungan dengan Hana, kami minta maaf. Percayalah, Namgil Hyung tidak bermaksud menyakitinya," lanjut Jiwon yang juga tidak tahu duduk masalahnya.
Tatapan Yongju beralih pada Jiwon, "tidak bermaksud menyakitinya?" ucapnya penuh penekanan, lalu beralih menatap Namgil lagi, "tapi melecehkannya?" ucapnya kembali penuh penekanan disertai gertakan giginya. "A-apa? Melecehkan?" tanya Namgil tergagap, lalu memandang Jiwon dengan tanda tanya. Begitu pula, Jiwon yang tercengang mendengarnya. "Melecehkan? Apa maksudnya, hyung? Siapa melecehkan siapa?" kata Jiwon tidak mengerti. "Siapa lagi?! Bukankah kau yang sudah melecehkan Hana? Bahkan sampai Hana pulang ke rumah dengan penampilan berantakan seperti itu! Dasar brengsek! Tidak mau mengaku, hah!" bentak Yongju seraya kembali menghadiahkan Namgil bogem mentahnya.
"Hyung-nim! Hentikan, hyung! Tunggu dulu, hyung!" kata Namgil seraya melindungi wajahnya dengan kedua tangannya. "Diam kau!" bentak Yongju yang berniat menghajar Namgil, tapi tubuhnya ditahan Jiwon dengan memeluknya dari belakang. "Dengarkan aku dulu, hyung. Aku bersumpah, bukan aku, hyung! Aku bisa jamin, Hana keluar dari ruangan ini dalam keadaan baik-baik saja. Kalau hyung tidak percaya, kita bisa periksa kamera pengawas," kata Namgil dengan nafas tersengal. Untuk sesaat, Yongju terdiam. "Kalau bukan kau, lalu siapa?" katanya dengan keningnya yang berkerut seiring Jiwon yang melepaskannya. Yongju berniat pergi ke ruang kamera pengawas untuk memastikannya. Di depan pintu, Yongju berbalik kembali seraya menunjuk Namgil sambil berkata, "Aku akan mengatakan ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Jauhi Hana! Dan jika ternyata kau pelakunya, aku pastikan akan menghabisimu hari ini juga!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments