Bitna kembali ke ruangan dan langsung disambut oleh tatapan dari Daehyun dan Namgil. "Kau sendiri saja?" tanya Daehyun. "Mana Hana? Bukankah tadi kau juga pergi ke kamar kecil?" tambah Namgil. "Apa Hana belum kembali? Padahal dia lebih dulu kembali," jawab Bitna seraya duduk di tengah-tengah, sengaja membuat jarak antara Daehyun dan Sooyun yang menempel padanya. "Bisakah kau menggeser dudukmu, Sooyun-ssi?" tanya Bitna seraya tersenyum. Sooyun pun menggeser duduknya dengan kesal. "Di mana Jiwon?" tanya Bitna. Daehyun dan Namgil saling tatap karena baru menyadari kalau Jiwon juga belum kembali dari tadi. Begitu pula, Sooyun yang menatap Daehyun sambil berkata, "Mungkinkah..."
"Hei, apa maksudmu?" tanya Namgil tidak suka. "Apa? Aku belum selesai bicara. Maksudku, mungkinkah mereka memesan sesuatu bersama. Tadi sebelum keluar, Jiwon berkata ingin memesan cemilan," lanjut Sooyun. Daehyun hanya diam seraya mengalihkan tatapannya ke arah pintu. "Sialan kau, Jiwon! Apa akhirnya kau ingin melawanku? Awas saja, kalau kau berani menikamku dari belakang!" katanya dalam hati.
***
Sementara itu di cafe, aku tengah mendengarkan curhatan Jiwon tentang persahabatannya dengan Daehyun selama ini. Jiwon tampak seperti seorang sahabat yang akan melakukan apapun untuk sahabat sekaligus penopang hidupnya itu. "Baju dan sepatu berharga ratusan, jaket berharga ribuan, jam tangan mahal, semua yang aku pakai ini, kau pikir dari mana aku mendapatkannya, kalau bukan pemberian Daehyun?" ucap Jiwon tersenyum hambar. "Setiap hari, aku selalu merasa hebat karena bisa bersekolah di sekolah itu, juga bisa pergi ke tempat anak-anak orang kaya seperti ini, padahal aku sendiri tidak punya apa-apa di dunia ini," lanjutnya.
"Kau pasti sudah tahu dari teman-teman sekolah kita, kalau aku hanya anak yatim piatu beruntung yang hidup sebagai tangan kanan Daehyun," kata Jiwon seraya tersenyum getir. "Ya, aku tahu julukanmu itu," ucapku dalam hati seraya menatapnya iba. "Apa kau tahu, Hana? Aku sudah berusaha keras mendapatkan semua ini dengan menuruti semua keinginan Daehyun tanpa pernah bisa mengatakan tidak," lanjutnya. "Tapi apa yang terjadi? Tetap saja, Daehyun seolah-olah tidak peduli dengan usahaku itu dan aku tidak mungkin merengek atau protes dengan apa yang Daehyun lakukan. Aku tidak mungkin menyerang orang yang sudah menolong hidupku," ucapnya seraya tersenyum ke arahku.
Jiwon menghela nafasnya panjang, "tapi kadang, aku juga merasa serakah dengan semua yang aku dapatkan ini. Sampai aku selalu berpikir, bagaimana jika seandainya orang tuaku masih hidup," lanjut Jiwon dengan tatapan kosong ke arah langit-langit cafe ini. "Aku pasti juga merengek pada mereka untuk dibelikan semua ini. Mungkin juga, aku tega mematahkan tulang punggung ayahku dan menguras habis tabungan ibuku karena takut tidak ada yang mau menjadi temanku jika aku tidak melakukannya," ucap Jiwon seraya terkekeh sebelum kulihat kedua matanya mulai berair.
"Hentikan! Kau masih bisa menjadi temanku meski tidak memiliki semua itu! Isilah kepalamu dengan pikiran yang masuk akal. Kata siapa, tanpa semua ini, tidak ada yang mau menjadi temanmu?" ucapku sambil menarik baju yang Jiwon kenakan. "Asal kau tahu, selama ini aku berpakaian semauku. Aku tidak peduli dengan fashion atau trend apa pun itu. Apakah orang-orang sampai melihat label yang ada pada baju kita untuk memastikan berapa harga baju yang kita pakai? Tidak, bukan?" kataku di depan Jiwon. "Murah atau mahal, asli atau palsu, apa mereka bisa memastikannya dengan sekali lihat? Belum tentu! Atau mau pakai pakaian kotor bekas kemarin pun, apa ada yang tahu, kalau kita memakai parfum?" lanjutku seperti sedang mengomeli Jiwon.
"Salah! Kau salah! Meski bukan si gila itu, kau masih bisa mendapatkan teman tanpa embel-embel label nama Kim Daehyun di sampingmu!" ucapku kesal dan tanpa sadar sampai menitikkan air mataku. "Hei, apa yang salah denganmu? Kau gila? Kenapa kau menangis hanya karena mendengar ceritaku? Sudah aku katakan, aku tidak apa-apa," ucap Jiwon seraya dengan lembut menyapu air mata di pipiku. "Berhentilah menangis. Namgil pasti marah padaku kalau tahu, aku sudah membuatmu menangis. Hmm?" lanjutnya dengan suara yang begitu lembut, "dan Daehyun mungkin membunuhku kalau ia tahu!" ucapnya dalam hati.
***
"Dari mana saja kalian? Apa yang terjadi? Kenapa lama?" Namgil memberondong aku dan Jiwon dengan pertanyaan setelah kami kembali ke ruangan, sedangkan Daehyun hanya diam menatap Jiwon curiga. Jiwon mengangkat nampan yang ia pegang ke arah Daehyun, "Hana menemaniku mengambil ini," katanya, seraya membagikan makanan dan minuman yang mereka pesan serta menyerahkan minuman yang baru saja kami pesan tadi di depanku. "Apa itu?" tanya Bitna seraya merebut minumanku. "Jus strawberry. Aku tidak boleh minum ini," jawabku seraya menunjuk kaleng bir yang ada di atas meja. "Boleh aku cicipi?" tanya Bitna. Tapi sebelum aku menjawabnya, Daehyun lebih dulu merebutnya dari tangan Bitna.
Daehyun meminum jus strawberry milikku tanpa izin. Setelah menghabiskan setengah gelasnya, tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia meletakan kembali minuman itu di depanku. "Mau pesan lagi?" tanyanya padaku. Dengan kesal, aku berdiri dan berniat kembali ke cafe untuk memesan minuman lagi. Namgil berniat menemaniku, tapi Daehyun lebih dulu berdiri sambil berkata, "biar aku saja yang menemani Hana karena aku yang meminum minumannya." Namgil menatap kami berdua dengan wajah bingung. Aku mendengus kesal melihat wajah Daehyun yang tanpa dosa itu dan meninggalkannya. Sesampainya di kasir, aku memesan minuman yang sama dan meminta pelayan untuk mengantarkannya.
"Apa yang terjadi antara kau dengan bocah itu?" tanya Daehyun saat ia sudah berhasil menyusulku di meja kasir. "Jiwon?" tanyaku tanpa berbalik. "Apa yang kalian lakukan tadi?" tanya Daehyun lagi. "Bukankah tadi sudah kami katakan, kami menunggu pesanan di sini?" sahutku ketus. "Kenapa memanggilnya seperti itu? Seharusnya kau merasa beruntung punya sahabat seperti Jiwon," lanjutku seraya ingin membayar minuman itu. Tapi Daehyun menahan tanganku sambil berkata pada kasir itu, "masukan semuanya ke tagihanku."
Aku menarik tanganku dari tangan Daehyun, tapi ia malah menarikku menuju ruangan kami tanpa mengatakan apa-apa. "Hei, mungkin ini terdengar aku melewati batas untuk ikut campur urusan kalian. Kenapa kau berciuman dengan Sooyun?" tanyaku. Daehyun menghentikan langkahnya dan menoleh kepadaku. "Apa sekarang kau mulai memperhatikan dan penasaran denganku?" tanyanya dengan alisnya yang terangkat. "Apa kau tidak puas dengan satu gadis, sampai kau mencium pacar sahabatmu sendiri?" tanyaku seraya menatapnya dengan berani. "Kenapa? Kau marah?" tanyanya seraya mulai melangkah semakin mendekatiku. "Aku? Untuk apa aku marah? Hah! Terserah kau saja! Urus saja urusanmu sendiri! Aku yang salah sudah bertanya!" jawabku kesal sambil melewatinya.
Sret! Daehyun menarik jaket yang aku kenakan dan menahan langkahku. Sejak kedatanganku, Daehyun terganggu dengan jaket yang aku kenakan malam ini. "Jaket siapa ini?" tanyanya yang semakin menariknya dengan pelan agar aku mendekat. "Memangnya kenapa dengan jaketku? Apa kau mau berkata jaketku tidak bagus?" tanyaku seraya berusaha melepaskan tangan Daehyun. "Aku tahu ini bukan jaketmu! Ini pasti jaket milik laki-laki, bukan? Ada bau parfum laki-laki yang menempel di jaket ini," katanya semakin mengeratkan genggamannya. "Lepaskan!" ucap kami bersamaan.
"Apa?" lanjutku. "Lepaskan jaket ini!" lanjut Daehyun datar. "Apa maksudmu?" tanyaku seraya memperhatikan jaket Yongju yang ia pasangkan tadi sebelum aku pergi. "Aku mau jaket ini," jawab Daehyun berbohong. "Hah? Jadi, apa yang harus aku lakukan? Memberikannya untukmu? Kau gila? Temanku yang lebih miskin saja memilikinya. Beli saja sendiri!" sahutku seraya berhasil menepis tangan Daehyun. "Berarti aku tidak punya pilihan lain," kata Daehyun. Sret! Daehyun menarik paksa jaket yang aku kenakan hingga resletingnya terbuka dan langsung melepaskannya dari badanku, lalu membawa jaket itu bersamanya.
Aku yang shock dengan perbuatannya itu, hanya mematung menatapnya yang pergi dengan sebuah seringai. "Dasar gila! Kembalikan!" umpatku seraya mengejarnya. "Aku akan mengembalikannya saat kau pulang," sahutnya santai. "Kim Daehyun!" panggilku berulang kali, sampai aku menahannya dengan memeluk lengannya, "Daehyun..." rengekku dengan wajah memelasku yang manja. Deg! Daehyun berhenti seraya menatap wajahku yang menurutnya saat itu begitu menggoda, lalu atensinya beralih ke lengannya yang menempel di dadaku. "Selama ini, aku tidak peduli dengan baju apapun yang gadis ini pakai. Aku mengerti, kalau dia tomboi, tapi apa-apaan ini! Apa selama ini, dia sengaja memakai baju longgarnya untuk menyembunyikan sesuatu?" pikirnya.
"Kau akan menyesalinya, Hana, karena sudah membuatku penasaran dengan apa yang kau sembunyikan di balik baju longgarmu ini!" Daehyun tersenyum seraya perlahan menarik tangannya yang aku tahan. Ia mengembalikan jaket itu padaku dan aku langsung berlari meninggalkannya. "Baiklah eomma, aku akan menjaganya sampai pesta pertunangan kami, tapi setelahnya, tidak akan ada yang bisa menghentikanku!" gumam Daehyun seorang diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments