Satu bulan penuh, aku menghabiskan waktu liburan seorang diri di rumah. Seperti biasa, orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya dan Yongju juga sibuk dengan jadwal promosi album barunya. Sebenarnya kalau aku mau, aku bisa pergi berlibur ke mana saja, tapi jika harus pergi sendirian, lebih baik aku menghabiskan waktuku di kamar, memanjakan miaw. Demi miaw, kucing kesayanganku, selama liburan, aku sibuk merombak habis kamar kosong di samping kamar tidurku untuk aku jadikan kamar pribadi miaw. Mulai dari menata kamarnya dan melengkapinya dengan segala peralatan pendukungnya yang menjadikan kamar itu menjadi surganya kucing, aku lakukan sendiri.
Dan tibalah hari ini, hari pertama sekolah. Aku memandang seragam sekolah yang sudah aku kenakan. Kemeja putih, dasi hitam, jas almamater hitam dan rok hitam di atas lutut. "Aaarrgh! Kenapa rok sekolah selalu sependek ini!" gerutuku di depan cermin memandangi paha putih mulusku yang sedikit terekspos. Ingin rasanya, aku menggantinya dengan celana panjang saja. Aku semakin merasa kesal saat memandang balen***** black hoodie dan baseball cap hitam kesayanganku yang tergantung di lemariku, seperti sedang melambai padaku. Wajahku berubah cemberut melihatnya. Aku tidak mungkin memakainya di hari pertama masuk sekolah karena sebagai murid baru, aku pun harus memakai seragam lengkap. Dengan kesal, aku pun melanjutkan aktivitasku dengan memakai kaos kaki berwarna hitam panjang di bawah lutut yang aku padukan dengan sepatu hitam pula.
"Ck, menyebalkan!" gumamku seraya melepaskan kembali jas almamaterku dan melipatnya dengan sembarang, lalu memasukannya ke dalam tas sekolahku. Pada akhirnya, aku menggantinya dengan hoodie-ku. Lalu, aku lanjutkan dengan memasang sepatu dan topi baseball-ku. Kembali pada style tomboi-ku seperti biasanya. Terakhir, aku menyampirkan ransel di punggungku. Satu-satunya benda yang aku kenakan dengan logo merk yang penuh, padahal selama ini, aku selalu memilih barang dengan logo merk terkecil, bahkan kalau bisa tanpa merk. Tapi sejak aku mengenal logo dengan awalan huruf B ini, aku langsung jatuh cinta karena style-nya sesuai dengan style-ku yang tomboi. Seperti sekarang saja, dari ujung kepala sampai ujung kaki, aku sudah seperti ambassador dari merk ini. "Masa bodoh peraturan sekolah! Aku tinggal melepasnya dan menggantinya dengan jas almamater saat upacara dimulai," kataku dalam hati seraya melangkahkan kakiku keluar dari kamarku. Tidak ada bedak, bahkan sekedar lipbalm, apalagi make up. Seperti biasa, aku datang ke sekolah dengan wajah polosku yang selalu kusembunyikan di balik topi atau hoodie-ku.
***
Mobil yang mengantarkanku ke sekolah, akhirnya berhenti. Bukan di depan sekolah, tapi seperti kebiasaanku setiap berangkat sekolah, aku akan meminta supirku untuk menurunkanku di jalanan sepi yang tidak jauh dari gerbang sekolah karena aku tidak suka teman-teman sekolah mengetahui identitasku sebagai putri keluarga Lee. Sombong, tidak mau berteman dengan orang yang tidak selevel dengannya, takut dimanfaatkan teman-teman yang lebih miskin dariku atau yang matre, seperti itulah penilaian siswa lain setelah tahu identitasku dan sifatku yang introvert, tapi aku tidak pernah peduli apa kata orang.
Sejenak aku memandang sekolah baruku ini, sebelum aku turun dari mobil sambil menghela nafas, "Oke, sekarang waktunya melangkah maju! Ready, set and begin!" kataku dalam hati, memberi semangat pada diriku sendiri sesaat sebelum aku menapakkan kakiku di sekolah baruku. Sekolah paling elit bergaya Inggris yang hanya berisi anak-anak keluarga mampu, mulai dari kaya, kaya raya sampai sekelas konglomerat turun temurun ada di sini dan hari ini aku pun mulai menjadi bagian dari sekolah ini karena paksaan dari eomma-ku. "Dari pada bersekolah di sekolah yang memandang strata sosial seperti ini, aku lebih suka bersekolah di sekolah biasa yang paling dekat dengan rumah. Setidaknya, aku tidak butuh waktu lama untuk pulang menuju kamarku!" gerutu dalam hati.
Saat aku berjalan menuju gerbang sekolah, sebuah mobil mewah baru saja berhenti di belakang mobilku, tapi aku tidak memperdulikannya, bahkan saat seseorang keluar dari mobil itu. "Tunggu dulu! Kenapa dia juga turun di belakang sekolah?" tanyaku dalam hati saat kembali melirik siswa yang berjalan di belakangku itu. Rasa penasaran membuatku jadi memperhatikannya. Melihat sekilas dari seragamnya dan dari tinggi badannya, "sepertinya siswa sekolah ini juga. Mungkin kakak kelas," pikirku.
Aku pun kembali melanjutkan langkahku memasuki gerbang sekolah dengan cuek seperti biasa tanpa keinginan untuk menyapa atau sekedar tersenyum pada siapa pun. "Siapa dia?" bisik beberapa siswa yang masih terdengar di telingaku saat aku melewati mereka. "Sepertinya anak baru," bisik siswa lainnya yang turut memperhatikanku. Tentu saja aku terlihat paling mencolok di antara mereka yang berpenampilan layaknya seperti princess dan prince charming di sekolah ini, terlebih aku lebih suka berjalan seorang diri dan asyik dengan duniaku sendiri.
Walaupun ada pepatah yang mengatakan, "Cinta yang manis berawal di bangku sekolah", tapi sepertinya pepatah itu tidak pernah berlaku untukku. Selama 16 tahun hidupku dan sudah 9 tahun waktu yang kuhabiskan di bangku sekolah, tapi tak ada satu pun kisah kasih yang kutorehkan seperti bunyi pepatah itu. Padahal aku, Lee Hana, memiliki paras yang cantik, bahkan mungkin yang tercantik di antara teman-teman sekolahku dulu, jika aku berniat merias diriku seperti mereka, kalau aku boleh membanggakan diri. Bagaimana pun aku yakin itu, karena walaupun selama ini aku selalu menyembunyikan wajahku dan tidak pernah berdandan sekalipun, aku cukup melihat betapa cantiknya mantan artis Lee Miyoung yang juga eomma-ku semasa mudanya.
Selain cantik, aku juga putri tunggal dari salah satu keluarga ternama di negeri ini dan juga siswi berprestasi dengan kecerdasan di atas rata-rata, meski aku tidak memiliki bakat apapun. Tiga hal yang harusnya cukup membuatku jadi perhatian, tapi pada kenyataannya penampilan tomboiku lah yang menjadi perhatian utama semua orang. Entah itu karena penampilan tomboiku yang membuat teman lawan jenisku malas mendekatiku atau karena memang akulah yang belum bisa melupakan Yongju. Namun, sejak Yongju menyuruhku mencari pacar, aku putuskan, "Mulai hari ini, aku akan membuka hatiku dan mengenal apa itu pria dan cinta!" tekadku dalam hati.
Di sisi lain, tampak para siswa yang semula memperhatikan kedatanganku, mengalihkan perhatiannya ke arah belakangku, bahkan kerumunan para siswa yang semula berkumpul, terbelah dengan kedatangannya. Ternyata siswa yang sejak tadi berjalan di belakangku adalah Kim Namgil, salah satu kakak kelas yang jadi pujaan para siswi di sekolah ini. Berbanding terbalik dengan diriku, Namgil, kakak kelas jangkung nan manis yang selalu menjadi siswa terbaik itu, selalu mendapatkan pernyataan cinta dari para gadis-gadis di sekolah ini, bahkan sudah tidak terhitung jumlahnya. Tapi, selain dikenal sebagai putra tunggal Sang Presiden, Namgil juga mendapat gelar sebagai gunung es karena tak ada satu pun gadis yang berhasil meluluhkan hatinya. Namgil memiliki citra kakak kelas yang ramah, tapi juga di saat yang bersamaan, dingin tak tersentuh. "Tipe kakak kelas yang bikin penasaran," pikirku seraya menguping obrolan siswi lain tentang Namgil.
Kalau Namgil dingin pada para gadis karena memang pemalu dan tidak berani pacaran, lain halnya denganku. Sikap dinginku bahkan tidak mengenal jenis kelamin, asal usul dan kepentingan. Aku tidak akan bicara, jika tidak perlu. Itulah mengapa aku tidak memiliki teman, apalagi sahabat. Aku hanya berteman sebatas keperluan sekolah saja, tidak lebih. Setiap pulang sekolah, aku lebih memilih mengurung diri di kamarku, daripada harus bergaul keluyuran seperti yang lain. Perilaku yang menjadikanku seperti seorang pemeran utama di sebuah dongeng fairytale yang tidak aku sukai. Bak seorang tuan putri yang selalu berada di dalam istana indahnya. Bertahan dengan keangkuhan hati yang sedingin es. Buta tuli akan keindahan dunia luar, serta tak tahu masa depan apa yang akan menanti, jika aku berani melangkahkan kakiku dari sangkar emasku itu.
Saat aku menoleh ke belakang, aku melihat Namgil tengah tersenyum ramah pada beberapa siswa yang menyapanya langsung, walaupun aku yakin, tidak semua ia kenal. Sebuah senyum yang begitu menawan dengan lesung pipit di kedua pipinya baru saja meninggalkan kesan di hatiku, "Manis!" pikirku saat melihatnya. "Ah, apa yang aku pikirkan! Tentu saja senyum Yongju oppa yang paling manis di dunia ini!" kataku dalam hati saat menyadari bahwa sejenak aku sudah teralihkan. Aku pun melanjutkan kembali langkahku menuju kelas baruku, tanpa aku sadar, giliran Namgil yang melihatku dan mulai memperhatikanku dengan penasaran.
"Siapa dia?" tanya Namgil dalam hati saat melihat aku yang dengan cueknya berbalik dan berjalan mendahuluinya. "Tidak seperti gadis-gadis lain yang berusaha menyapaku," pikirnya. Dari belakang, ia memperhatikanku dari kepala sampai kaki. Lalu, sampai mengerutkan keningnya saat mendapati hoodie hitam dan topi hitam yang aku kenakan. "Kenapa style-nya sama persis sepertiku!" gumamnya saat menilai penampilanku. "Coba lihat itu, ternyata ada ambassador balen**** yang lain, selain aku di sekolah ini!" pikirnya yang kembali tersenyum karena merasa ada yang meniru penampilannya. Namgil masih berjalan di belakangku sambil masih memperhatikanku. "Sepertinya, anak baru," pikir Namgil, "sepertinya, akan menarik jika gadis itu dia," pikirnya tiba-tiba. Karena merasa diikuti, aku pun kembali menoleh ke belakang. Deg! Mata kami bertemu, tapi aku kembali cuek seperti biasa. "sepertinya, wajahnya juga biasa saja," pikir Namgil lagi setelah melihat wajahku sekilas dari balik topiku.
***
Sementara itu di depan gerbang sekolah, ada dua siswa yang baru saja turun dari satu mobil yang mengantarnya, bahkan mobil yang membawa kedua siswa itu tampak lebih mahal dari milikku. Para siswa kembali heboh dengan kedatangan mereka berdua, bahkan terdengar lebih heboh dari sambutan atas kedatangan sang putra presiden tadi. Aku yang sudah memasuki gedung sekolah sampai kembali menolehkan wajahku ke belakang saat mendengar kehebohan itu, terlebih beberapa siswa sampai berlari dan bergerombol di gerbang sekolah. Tentu saja, hal itu membuatku jadi penasaran pada siswa yang menjadi pusat perhatian itu. "Siapa lagi sih, yang datang?" gumamku pelan seraya menghentikan langkahku dan berbalik.
Dua siswa itu adalah Park Jiwon, anak yatim piatu yang beruntung bersekolah di sini setelah mendapat beasiswa langsung dari pemilik yayasan sekolah karena bersahabat sejak kecil dengan Kim Daehyun, putra semata wayang pemilik yayasan sekolah, yang juga keluarga terkaya kedua di negeri ini. Aku memiringkan kepalaku, menengok dua sosok itu karena Namgil yang sejak tadi berjalan di belakangku, kini berdiri tepat di depanku dan menghalangi pandanganku dengan tubuh tingginya. "Sepertinya dia tidak mau minggir," pikirku saat menyadari Namgil yang hanya diam di depanku, padahal aku sudah menengokkan kepalaku ke kanan dan ke kiri.
Berniat tak ingin menghalangi langkah Namgil, aku pun mengurungkan niatku untuk melihat siapa pemicu kehebohan itu dan kembali berjalan melanjutkan langkahku ke ruangan kelas. Baru beberapa langkah aku menjauh dari Namgil, suara teriakan beberapa siswi kembali menghentikan langkahku dan aku pun terpaksa kembali menengokkan wajahku ke belakang. Jiwon dan Daehyun berjalan menghampiri Namgil. Tiga sahabat itu pun menciptakan pemandangan indah di pagi hari sebelum memulai pelajaran, bahkan aku sendiri sempat terpaku memandang visual mereka bertiga. "Wow..." hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
Namgil yang paling tinggi, tampak lebih gagah dan karismatik di antara ketiganya. Tatapannya yang terlihat tajam, berubah menggemaskan saat Namgil tersenyum manis pada kedua sahabatnya itu dengan kedua lesung pipitnya yang menawan hati. Sekali lagi, "manis!" pikirku menilai Namgil. Jiwon yang lebih dulu sampai di samping Namgil, membalas dengan tersenyum. Senyuman yang indah bak seorang peri dengan eye smile yang menggemaskan dan itulah yang membuatnya dijuluki peri sekolah ini, selain karena Jiwon juga terkenal sopan, baik hati dan ramah. "Sepertinya, dia anak yang menyenangkan," nilaiku untuk Jiwon.
Selanjutnya, mataku melebar tidak percaya dengan apa yang aku lihat. "Daebak!" ucapku terpukau saat mataku beralih ke visual berikutnya, "apa dia benar-benar nyata?" pikirku seraya memperhatikan Daehyun yang muncul dari belakang Namgil dengan wajah yang sangat angkuh dan terkesan garang layaknya preman sekolah yang menguasai seisi sekolah. Aku rasa, tidak salah jika Daehyun menjadi siswa paling berkuasa di sekolah karena statusnya. Selain itu, Daehyun juga mendapat predikat siswa paling populer karena pesonanya, bahkan semua juga tahu bahwa tuan muda keluarga Kim ini seorang playboy kelas kakap. "Wajahnya terlalu tampan!" pikirku seraya melanjutkan langkahku.
"Kakak kelas yang tampan, bahkan terlalu tampan! Aku tidak mungkin mengincar mereka bertiga untuk aku jadikan pacar. Levelnya terlalu tinggi. Lebih baik, pilih siswa biasa dengan resiko penolakan terkecil," ucapku dalam hati, "seandainya saja ada pria yang mirip oppa," lanjutku dengan cemberut, lagi mencari sosok Yongju pada orang lain. Daehyun dan Jiwon, dua sahabat yang masih duduk di kelas 2 itu sudah akrab dengan Namgil yang duduk di kelas 3 sejak mereka kecil karena ayah Daehyun adalah adik dari ayah Namgil.
"Hei, hyung! Waktumu untuk berpikir sudah habis!" ucap Jiwon, seraya mensejajarkan langkahnya dengan Namgil. "Iya, aku masih ingat," sahut Namgil acuh. Daehyun yang menyusul, merangkul bahu Namgil sesampainya ia di samping sepupunya itu, "Bagaimana? Berani menerima tantangannya?" tanyanya seraya memainkan alisnya. "Tembak salah satu siswi, pacaran satu bulan, lalu putuskan! Kalau kau lupa!" lanjut Daehyun santai. "Ayolah! Hyung harus melepaskan status jomblo abadi milik hyung itu!" ejek Jiwon. "Bagaimana kalau aku bisa memutuskannya dalam waktu kurang dari satu bulan?" tantang Namgil balik. "Mobil! Siapa yang kalah, berikan mobilnya!" tantang Daehyun tidak mau kalah. "Deal!" sahut Jiwon.
"Deal. Aku akan pacaran dan memutuskan hubungan dalam waktu seminggu," sahut Namgil yakin. "Deal!" sahut Daehyun. "Siapa gadisnya, terserah aku, bukan?" tanya Namgil, "kalian tidak boleh protes dan ikut campur!" lanjutnya lagi. "Hei, Jiwon! Aku curiga, sepertinya teman kita ini diam-diam sudah menentukan targetnya," kata Daehyun curiga, "apa kau sudah menentukannya selama liburan, hah?" lanjutnya sambil menyikut perut Namgil. "Tidak, aku baru saja menentukannya," jawab Namgil dengan sedikit meringis juga terkekeh.
"Siapa? Apa dari kelas Hyung? Dari kelas kami? Atau anak baru?" tanya Jiwon penasaran. "Sudah aku katakan, sepupuku ini tidak tertarik dengan gadis-gadis itu. Pasti anak baru! Katanya, anak baru tahun ini banyak yang cantik!" sahut Daehyun seraya mulai tebar pesona di depan para siswa yang mereka lalui. "Memangnya gadis-gadis di kelas kita kurang cantik apa?" celetuk Jiwon. "Mungkin saja ada anak baru yang lebih cantik dari gadis-gadis itu sampai membuat dia berubah pikiran," jawab Daehyun acuh. "Benarkah? Secantik apa?" tanya Jiwon pada Namgil.
"Tapi, tentu saja, kalau pilihan Hyung, pasti cantik! Ah, aku jadi penasaran!" kata Jiwon lagi, mulai memperhatikan wajah-wajah baru yang juga tengah memperhatikan mereka. "Aku sih, tidak peduli siapa targetnya!" kata Daehyun. "Apa dia ada di sekitar sini? Yang mana?" tanya Jiwon semakin penasaran. Namgil menghentikan langkahnya dan menunjuk ke satu arah, "Dia! Aku memilihnya!" ucapnya yakin, "karena untuk memenangkan taruhan ini, aku tidak akan mencari yang cantik agar aku punya alasan kuat untuk minta putus darinya!" ucapnya dalam hati seraya tersenyum kecil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments