"Pulanglah kalau kau sudah menemukannya!" kata Nyonya Jeon pada Junghwa, putra semata wayangnya. "Tidak mau!" bantah sang putra. "Apa lagi yang mau kau lakukan di sana, hah? Eomma sudah menuruti semua keinginanmu!" sahut Nyonya Jeon. "Aku mau meneruskannya!" ucap Junghwa yakin. "Bukankah kau sampai menjadi trainee hanya untuk mencarinya? Sejak kapan kau juga ingin menjadi penyanyi?" tanya Nyonya Jeon seraya memijit ruang di antara dua alisnya. "Sejak aku menemukannya!" jawab Junghwa terkekeh. "Ayolah, kau tidak bisa seperti ini pada eomma! Kalau kau jadi penyanyi, bagaimana dengan pendidikanmu? Apa kau mau berhenti sekolah?" sahut Nyonya Jeon lagi.
"Eomma tenang saja! Biar aku dan appa yang mengurusnya," jawab Junghwa lagi dengan santai. "Bagaimana bisa seperti itu! Kalau kalian berdua terjun di dunia yang sama, siapa yang akan membantu appa dan hyung-mu untuk mengurus perusahaan nantinya?" bantah Nyonya Jeon lagi. "Eomma, masalah nanti, ya nanti saja dipikirkannya! Lagipula, bukankah sudah ada hyung. Sekarang, aku sudah memutuskan akan mengikuti jejaknya. Aku akan jadi bintang sepertinya. Tidak! Aku harus menjadi bintang terbesar di dunia, bahkan melebihi hyung itu!" ucap Junghwa berkhayal. "Anak nakal! Anak keras kepala! Berhenti bicara omong kosong! Pulang sekarang juga!" bentak Nyonya Jeon yang sudah emosi menghadapi Junghwa, putra tunggalnya yang memang selalu bertindak seenaknya.
"Iya, eomma. Aku pulang sekarang... tapi ke dorm!" jawab Junghwa seraya mematikan sambungan teleponnya. Sedangkan di sebuah rumah mewah di Los Angeles, Nyonya Jeon berteriak keras memanggil putranya itu, "Jeon Junghwa!" Si pemilik nama meletakkan ponselnya di atas meja dengan kesal. "Astaga, kupingku panas!" gumamnya sambil memutar-mutar jari telunjuknya di lubang telinganya, sambil tangannya yang satunya mematikan layar monitor dengan sebuah remote. "Haaah... padahal lagi seru-serunya bernyanyi," gumam Junghwa dengan ekspresi kesalnya yang masih imut. Kemudian, Junghwa berdiri sambil memasang jaketnya dan meninggalkan salah satu private room di tempat karaoke yang sama dengan kami itu.
Sementara di lorong yang sama, aku berjalan dengan arah berlawanan dengan Junghwa tanpa memperdulikan satu sama lain. "Seharusnya, aku mendengarkan oppa!" sesalku dalam hati seraya terus melangkah. Alih-alih menghubungi supirku, aku memilih menghubungi Yongju, tapi panggilanku tak kunjung ia terima. Saat terus mencoba menghubungi Yongju, tiba-tiba aku merasa ada yang mengikutiku di belakang. Entah apa yang membuatku menjadi panik dan semakin melangkahkan kakiku dengan terburu-buru saat menyadari suara langkah di belakangku itu terus mengikutiku dan semakin mendekat ke arahku. Greb! Bruk! Aku di dorong dengan tiba-tiba hingga punggungku menubruk pintu private room yang baru ditinggalkan Junghwa sampai pintunya kembali terbuka. "Ya, Tuhan tolong aku!" ucapku dalam hati dengan mata terpejam karena takut.
"Kenapa buru-buru, sayang?" sebuah suara sontak membuatku membuka mata. "Daehyun?" ucapku terperangah mendapati wajah orang yang baru saja mendorongku. Bahkan kini pemuda itu berdiri di depanku dengan jarak yang sangat dekat. "Apa yang kau lakukan? Minggir!" kataku seraya berusaha mendorongnya agar menjauh. Melihat Daehyun yang tidak berniat menyingkir, aku pun mendorongnya dengan sekuat tenaga, hingga membuat pintu yang aku sandari terbuka. Melihat aku yang kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke belakang, dengan sigap, Daehyun menarik pinggangku dan memelukku dengan satu tangannya. Tidak sampai di situ saja, Daehyun malah semakin melangkah maju dan menggiringku masuk ke dalam ruangan itu saat mendapati tidak ada orang di dalamnya. "Daehyun, lepaskan!" bentakku berusaha melepaskan diri dari tangannya yang melingkar di pinggangku, tapi bukannya melonggarkan pelukannya, ia malah memelukku dengan kedua tangannya sambil berkata, "sstt... diam!".
Anehnya, mendengar deep voice-nya yang berbisik di telingaku, membuatku benar-benar terdiam, terlebih saat Daehyun kembali menatapku dengan matanya yang selalu berhasil menyihirku dan membuatku tidak berkutik di depannya. Jantungku berdegup semakin kencang karena takut, saat Daehyun semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku sambil berkata dengan suara husky-nya yang seksi, "Apa bibir bocah bodoh itu tadi mengenai bibir ini?" Daehyun mengusap pelan bibirku dengan ibu jarinya kanannya. Cup! Mataku membulat sempurna saat bibir merah plum seksi milik Daehyun mengecup lembut bibirku dan seperti terhipnotis tatapannya yang menatap dalam kedua bola mataku, aku hanya diam menerima perlakuan tidak terduganya ini. Air mataku jatuh dari ujung mataku, tapi Daehyun tidak peduli meski melihatnya. Ia terus menatap lekat kedua bola mata hitamku yang memantulkan wajahnya di sana, seraya semakin memperdalam ciumannya dengan menarik tengkukku, meski aku tidak membalasnya.
Bruk! Daehyun kembali mendorongku hingga terjatuh ke atas sofa panjang di ruangan itu. Tanpa membuang waktu, ia menahan pergerakanku yang berusaha memberontak dengan menindih tubuhku. Aku semakin ketakutan saat melihat smirk Daehyun, terlebih saat ia dengan begitu kasar menarik dan membuka lebar-lebar kemeja yang aku gunakan hingga kancingnya terlepas, lalu menahan kedua tanganku yang berusaha memukulinya. Kening Daehyun mengerut memperhatikan pemandangan di depan matanya. "Kulit putih yang halus dan mulus, pinggang ramping dengan perut yang rata dan astaga! Ini benar-benar di luar ekspektasiku!" pikir Daehyun, terperangah menatap buah dadaku yang indah. Glup! Daehyun menelan kasar saliva-nya saat memperhatikan bentuk tubuhku yang terekspos berkat ulahnya tadi. "Ternyata gadis tomboi ini benar-benar menyembunyikan sesuatu di balik baju longgarnya," pikirnya lagi.
"Lee Hana... Aku bisa menyingkirkan semua orang yang ingin merebutmu dariku dan kalau kau mau, aku juga bisa meninggalkan semua orang yang ingin merebutku darimu. Jadi, berhentilah membuatku cemburu dengan laki-laki lain!" kata Daehyun yang sama sekali tidak bisa aku mengerti. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!" ucapku dengan suara bergetar. Daehyun kembali menampilkan smirk andalannya, "ingatlah, kau milikku, Lee Hana!" bisiknya lagi seraya mengigit kecil telingaku. "Ah!" pekikku. Dengan cepat, Daehyun kembali menyambar mulutku yang terbuka akibat ulahnya tadi. "****!" umpat Daehyun seraya melepaskan ciumannya setelah aku menggigit bibirnya hingga berdarah saat bibirnya itu menciumku dengan kasar.
"Apa kau pikir aku sama seperti gadis-gadis itu yang bersedia melacur untukmu?" ucapku terisak. "Hah, apa katamu? Melacur?" kata Daehyun sambil terkekeh. "Kalau mereka, kau sebut melacur, lalu kau apa?" lanjut Daehyun dengan tatapan yang menakutkan. "Apa maksudmu? Aku tidak pernah..." ucapku terpotong karena Daehyun tiba-tiba mencengkeram leherku sambil berkata dengan geram, "lalu ini apa? Katakan, padaku! Siapa yang sudah berani mencium lehermu ini dan meninggalkan bekas kemerahan ini?" Aku teringat Yongju yang tadi mencium leherku sebelum aku pergi. "Katakan! Siapa? Karena aku yakin itu bukan ulah bocah bodoh itu!" katanya seraya menatapku tajam, "Siapa, hah? Siapa yang sudah berani melakukannya?" bentak Daehyun yang semakin kesal melihat aku yang bungkam seribu bahasa. Sedangkan aku semakin menangis dengan pelecehan yang Daehyun lakukan padaku, tanpa bisa berbuat apa-apa untuk melawannya.
***
Jiwon mengikuti Namgil yang keluar mencariku, tapi meski sudah sampai di depan lobby hotel, mereka berdua tidak menemukanku. "Di mana Hana? Ponselnya mati. Apa dia sudah pergi?" kata Namgil yang masih menengokkan kepalanya ke kanan ke kiri mencari sosokku. Jiwon berjalan bolak-balik dengan ponselnya yang bertengger di telinganya. "Di mana bocah sombong itu? Kenapa tidak mengangkat teleponku? Apa mungkin dia yang mengantar Hana pulang?" pikir Jiwon mulai khawatir.
Bruk! Junghwa yang berlari tidak sengaja menabrak Jiwon yang mondar-mandir di depan lobby hotel. "Maaf, saya tidak melihat anda karena saya sedang buru-buru," ucap Junghwa seraya membungkukkan badannya pada Jiwon. "Ah, tidak apa-apa," jawab Jiwon seraya tersenyum ramah. Junghwa pun kembali melanjutkan langkahnya dengan terburu-buru setelah kembali membungkukkan badannya sambil dengan sopan meminta maaf lagi pada Jiwon.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments