"Kemana lagi kita harus pergi mencarinya? Mungkin Hana sudah pulang. Lebih baik kita juga kembali saja," kata Jiwon membujuk Namgil. Untuk sesaat Namgil tampak ragu, sebelum ia mengikuti langkah Jiwon di depannya. Sementara di dalam ruangan yang seperti neraka itu, aku semakin menangis dengan jantung yang tidak berhenti berdetak cepat. "Daehyun monster! Dia benar-benar seperti ingin melahapku!" pikirku. Sekali lagi, monster brengsek itu dengan kasar merobek kemejaku yang tadinya sudah ia rusak dan membuangnya ke sembarang tempat, lalu mengecup lembut keningku setelah berbisik, "kau cantik, Hana!"
Perlahan namun pasti, kecupan itu beralih menjalar dari keningku, pipi, bibir, leher, bahu sampai dadaku. Tiba-tiba Daehyun menghentikan aktivitasnya saat menyadari sesuatu. Smirk sialan itu kembali ia tampilkan di depanku. "Ternyata tubuhmu sangat sensitif!" ucap Daehyun seraya memperhatikan tubuhku yang gemetar dengan dada yang turun naik karena nafas tertahan, ditambah ekspresi wajah memerah yang menahan ******* dengan membungkam mulutku rapat-rapat. "Sial! Aku semakin tidak rela jika ada laki-laki lain yang melihatnya seperti ini! Apa perlu aku percepat saja semuanya? Haruskah aku lakukan saja sekarang?" pikir Daehyun seraya menatap lekat wajahku sambil menggigit bibir bawahnya dengan seksi.
Cekrek! Pintu terbuka, menampilkan Junghwa yang terperangah dengan pemandangan vulgar di depannya. "Siapa kau!" bentak Daehyun marah. "Aku... Aku hanya ingin mengambil ponselku yang tertinggal," jawab Junghwa gelagapan. Junghwa pun bergegas masuk dan meraih ponselnya yang tertinggal di atas meja, tapi sebelum ia bergegas keluar dari ruangan itu pula, aku berkata dengan suara bergetar dan serak, "tolong aku!" Mendengarnya, Junghwa menghentikan langkahnya seraya memandang ke arah Daehyun, lalu beralih menatap aku yang menangis di bawah tubuh Daehyun. "Lepaskan dia!" kata Junghwa seraya menatap tajam Daehyun.
Daehyun terkekeh dan bangkit dari tubuhku. "Ini bukan urusanmu! Adik kecil, lebih baik kau pulang saja!" katanya seraya melangkah mendekati Junghwa, tapi Junghwa malah menghindari Daehyun dan berjalan ke arahku dengan langkah besar. Saat menyadari bagian atas tubuhku yang terekspos, sontak Junghwa membalikan badannya sambil berkata dengan polosnya, "maafkan aku, noona, aku tidak sengaja melihatnya!" bahkan sampai menutup kedua matanya. Dengan tergesa-gesa, Junghwa langsung melepaskan jaket yang ia pakai, lalu kembali berbalik ke arahku, masih dengan mata tertutup dan melemparkan jaketnya ke arahku, "noona, silahkan pakai ini!" katanya.
Masih dengan mata tertutup, Junghwa tiba-tiba menangkap tangan Daehyun yang berniat meninju wajah imutnya. Kedua mata bulatnya terbuka dan menatap tajam mata Daehyun yang tengah murka di depannya. "Sial!" umpat Daehyun saat serangannya gagal. Daehyun yang 2 tahun lebih tua dari Junghwa sedikit kewalahan melepaskan tangannya yang ditahan oleh bocah pemegang sabuk hitam taekwondo itu. "Hei bocah, lepaskan!" bentak Daehyun masih berusaha menarik tangannya dan saat atensinya beralih ke arahku, "Hana, tunggu!" kata Daehyun saat menyadari aku yang bangkit sambil bergegas memasang jaket yang dilemparkan Junghwa.
Saat sedang lengah itulah, Junghwa memelintir kuat tangan Daehyun hingga pemiliknya membungkuk kesakitan sambil memegangi tangannya. Bugh! Daehyun terjungkal ke lantai saat Junghwa meninju wajah tampan Daehyun. Saat aku masih terperangah melihat keberaniannya, Junghwa bertanya padaku, "apa noona baik-baik saja? Apa perlu aku panggilkan pihak keamanan?" dan aku menjawabnya dengan menggeleng. "Kalau begitu, apa noona mau pergi saja? Bagaimana kalau aku antar noona sampai depan?" katanya seraya membuka pintu ruangan itu dan aku pun mengikutinya, meninggalkan Daehyun yang masih meringis kesakitan.
Saat di lorong, kami berpapasan dengan beberapa pria dewasa yang tampak mencari seseorang. Brak! Suara pintu yang dibuka kasar membuat kami semua menoleh ke arah sumber suara. Daehyun keluar dari ruangan itu dengan tulang pipi yang memerah sambil berkata, "Hei, kalian bertiga, tangkap dua orang itu sekarang!" pada ketiga pria dewasa itu sambil menunjuk ke arahku dan Junghwa. Greb! Junghwa menarik tanganku saat menyadari ketiga pria dewasa itu adalah orang-orang suruhan pria yang baru saja ia tinju wajahnya itu, "Noona, ayo pergi!" dan kami berdua pun melarikan diri bersama keluar dari tempat karaoke ini.
Junghwa berlari kencang membawaku serta dan sesampainya di parkiran, pemuda asing itu langsung memintaku menaiki motornya sambil menghidupkan mesin motornya. Aku yang sudah ketakutan pun hanya mempercayai bocah itu dan mengikutinya. "Noona, berpegangan lah yang erat!" pintanya seraya menarik tanganku ke arah pinggangnya sebelum ia memacu laju motornya meninggalkan area parkir itu. Masih dengan tangan yang gemetar, aku memeluk bocah yang sudah menolongku itu dari belakang. Laju motor sports milik Junghwa menyelamatkan kami dari kejaran orang-orang itu. Dinginnya malam ditambah tubuhku yang terasa lemas karena ketakutan membuatku bersandar di punggung kecil kurusnya.
Di tengah jalan, aku sempat berpikir, "Bagaimana bisa semua ini terjadi padaku? Bagaimana bisa aku percaya begitu saja pada anak ini, padahal aku tidak mengenalnya? Anehnya, aku percaya kalau anak ini benar-benar tulus menolongku." Deru motor Junghwa berhenti saat memasuki halaman rumahku. Aku turun dari motornya, disusul Junghwa yang mematikan mesin motornya dan melepaskan helm yang ia kenakan. "Terima kasih karena sudah menolongku," ucapku tulus seraya tersenyum. Deg! Junghwa sempat terdiam saat melihatku tersenyum. "Ah, bukan apa-apa," ucapnya seraya menggaruk tengkuknya dengan kikuk. Tiba-tiba ada kecanggungan di antara kami berdua yang membuat kami saling diam.
Cekrek! Yongju yang mendengar suara deru motor, keluar dari rumah untuk memastikan. "Hana?" ucapnya seraya mendekati kami dengan langkah besarnya. Semakin dekat jarak kami, semakin Yongju melihat penampilanku yang berantakan. "Hyung?" ucap Junghwa saat melihat kehadiran Yongju, lalu beralih menatapku, "Apa noona, adiknya Hyung?" tanya Junghwa tidak percaya. Sedangkan aku tiba-tiba ketakutan melihat tatapan mata Yongju yang perlahan berubah tajam seiring dengan langkahnya. Dan benar saja, greb! Yongju mencengkeram kerah baju Junghwa dengan sangat kasar, "Hei, apa yang sudah kau lakukan pada Hana, hah?" bentaknya dengan keras. "Hyung, dengarkan dulu penjelasanku. Aku..." ucap Junghwa terpotong dengan perkataanku.
"Oppa, lepaskan! Bukan dia!" ucapku seraya menarik tangan Yongju. "Apa? Bukan dia? Jadi, benar sesuatu sudah terjadi padamu?" tanya Yongju seraya melepaskan tangannya dari kerah baju Junghwa. Aku gelagapan menjawab pertanyaan yang Yongju lontarkan. Saat itu, Junghwa berusaha membuka mulutnya untuk menjelaskan kejadian sebenarnya, tapi Yongju lebih dulu menunjuk wajahnya dengan berkata, "diam kau!" Junghwa pun menelan ludahnya kasar saat menangkap amarah Yongju yang seperti akan meledak.
"Katakan, apa yang terjadi, hah? Kenapa pakaianmu berantakan seperti ini? Siapa yang sudah kurang ajar melakukannya, hah?" bentak Yongju dengan begitu keras sampai kedua orang tuaku dan beberapa pelayan keluar karena mendengarnya. "Yongju, apa yang terjadi? Kenapa ribut-ribut?" tanya ayahku. Ibuku yang menyadari penampilanku yang berantakan langsung berlari dan memelukku, "Hana, apa yang terjadi denganmu, hah?" Aku semakin tidak tahu harus berkata apa saat melihat mereka semua berkumpul menanyakan kondisiku seperti ini. Sedangkan Junghwa diam-diam memperhatikan keberadaan kami berempat secara bergantian. "Apa ini keluargamu, hyung? Apa kau bahagia bersama mereka? Sepertinya, kau kakak yang penyayang," kata Junghwa dalam hatinya seraya tersenyum kecil saat melihat Yongju yang tampak sangat marah-marah padaku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments