Aku menatap pantulan diriku di cermin kamar mandi, "percayalah pada dirimu sendiri, Hana! Seiring waktu, perasaan ini akan hilang. Bahkan jika kenyataannya sekarang dia sudah menjawab perasaanmu!" ucapku seraya menopang kedua tanganku di wastafel. Aku menunduk untuk membasuh wajahku dan saat aku kembali berdiri, aku sungguh terkejut dengan pemandangan yang kulihat di cermin. "Oppa? Apa yang oppa lakukan di sini?" tanyaku langsung berbalik seraya membenarkan handuk yang aku kenakan. Yongju yang entah sejak kapan, tanpa aku sadari berdiri di pintu kamar mandiku, tidak menjawab, malah berjalan ke arahku. Tanpa mengalihkan pandangan matanya yang menatap wajahku lekat, tangannya meraih bathrobes yang tergantung di dinding.
"Apa kau masih seperti dulu, tidak berani menutup pintu kamar mandi?" tanyanya seraya menyampirkan bathrobes itu ke bahuku, lalu memakaikannya padaku. Aku yang sudah terbiasa diperlakukannya seperti anak kecil, hanya diam menerimanya. "Kenapa oppa datang sepagi ini?" tanyaku berusaha mengalihkan kegugupanku. "Mengantarmu ke sekolah, apalagi?" jawabnya seraya mengikat bathrobes itu dan berbalik sambil berkata, "kau sudah besar, tutup pintunya jika kau sedang di dalam kamar mandi."
"Tidak perlu mengantarku. Aku akan berangkat dengan supir, seperti biasa," sahutku dingin seraya menjauh darinya, tapi belum jauh aku menghindar, Yongju menahan tanganku. Dengan pelan, ia kembali berbalik dan memelukku dari belakang, membuatku membeku seketika, terlebih Yongju semakin mengeratkan pelukannya, bahkan menghirup wangi tubuhku. "Oppa memang bukan Tuhan yang bisa mengubah takdir sialan ini. Tapi jika ini yang juga kau khawatirkan seperti aku, percayakah jika kau mau, kita bisa menentukan takdir kita sendiri? Haruskah oppa kehilangan akal ini?" ucapnya. "Oppa ingin menjadi segalanya untukmu dan memilikimu, tapi kau harus percaya pada oppa. Buang semua pikiran buruk itu yang membuat kita pesimis," lanjutnya seraya dengan lembut, meletakan dagunya di bahuku. "Hana, maukah kau menunggu oppa?" tanyanya.
"Oppa bicara seperti semua ini benar, tapi maaf aku benar-benar ingin menghapus perasaan ini. Seperti kata oppa dulu, kita akan benar-benar terbiasa saat kita berjauhan. Jadi, hentikan saja semua ini!" ucapku dingin seraya melepaskan lingkaran kedua tangannya yang memelukku. "Keluarlah! Aku ingin memakai bajuku," usirku tanpa mau melihat wajahnya. Tanpa memperdulikan Yongju, aku berjalan memasuki kamarku. Yongju hanya menatap punggungku dengan tajam. Ada rasa sesak di dalam dadanya karena penyesalan yang memenuhi hatinya.
Yongju tersenyum pahit, "Seandainya saat kau menyatakan perasaanmu dulu, oppa berani menggenggam tanganmu, mungkin oppa tidak akan setakut ini kehilanganmu. Cepatlah, oppa tunggu kau di bawah," ucapnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa, sambil berjalan keluar dari kamar mandiku. "Aku bilang tidak perlu," sahutku menghentikan langkahnya. "Sudah aku bilang, hentikan semua ini! Pulanglah! Aku bisa mengurus diriku sendiri," usirku lagi. Yongju menatapku dengan kesal, "bahkan keras kepalamu tidak pernah berubah!" ucapnya. "Hanya tubuhmu yang berubah!" pikir Yongju saat mengingat kembali tubuhku yang baru saja ia peluk.
"Kalau oppa tahu aku keras kepala, berhentilah memaksaku dan pulanglah!" sahutku seraya berjalan ke arah lemariku untuk mengambil seragamku. Brakk! Pintu lemari yang sudah kubuka, tertutup kembali. "Kau juga tahu, kalau oppa ini pemaksa!" ucap Yongju geram. Nafasnya yang memburu terdengar jelas di telingaku. Aku berusaha menghindar darinya, tapi pergerakanku tertahan dengan kedua tangannya yang ia tekankan ke pintu lemari di kedua sisi tubuhku. "Keluar!" ucapku pelan dengan suara bergetar karena takut menerima sikap posesifnya yang tidak pernah aku duga sama sekali selama dua hari ini, ia berani tunjukan padaku.
"Asal kau tahu, oppa percaya pada cinta dan harapan. Oppa percaya kalau suatu hari, oppa akan mendapatkanmu dan kau cukup menunggu saja oppa mewujudkannya," ucap Yongju dengan suara yang juga bergetar menahan amarahnya yang tiba-tiba tersulut karena penolakanku. "Apa oppa gila?" ucapku seraya berbalik menghadapnya dan mencoba melepaskan diri. Brakk! Yongju memukul pintu lemari dengan keras. "Ya, oppa gila! Apa kau pikir oppa sepertiku hanya bisa menjadi oppa yang baik di depanmu? Selain menjadi malaikatmu, oppa juga bisa menjadi iblis, jika kau mau?" ucapnya.
Yongju menatapku dengan tatapan yang sama saat ia melihatku bersama Namgil. Amarah memenuhi kedua netranya. "Jujur saja kalau oppa masih di hatimu!" ucapnya menatap lekat kedua mataku. "Tidak!" jawabku cepat dengan membalas tatapannya. Yongju mengerutkan keningnya, semakin menatapku dalam sampai aku kalah dan tertunduk. "Sekalipun benar, kita tetap tidak akan bisa bersama," sambungku. "Kau yakin?" tanyanya seraya menurunkan kedua tangannya yang menahanku. Kemudian, menangkup wajahku yang tertunduk dengan kedua tangannya, lalu kembali tanpa permisi menyambar bibirku untuk kedua kalinya.
"Jangan berbohong! Bahkan saat aku menciummu seperti ini menyenangkan, bukan?" bisiknya setelah sekilas mengecup bibir polosku dan lagi-lagi membuat perasaanku kacau balau. "Jika kau masih bingung, pikirkanlah dulu! Tapi tetap, putuskan anak itu secepatnya! Tidak peduli di mana dan apa yang kau lakukan, oppa akan melindungimu. Percayalah! Jadi, cukup tunggu oppa saja. Mengerti?" bisiknya lagi di telingaku. Melihatku yang tidak bereaksi sama sekali, Yongju tersenyum karena gemas dan mengecup bibirku lagi. "Ah, sepertinya aku sudah kecanduan melakukannya!" pikirnya sesaat sebelum matanya membuka lebar saat melihat kedua mataku terpejam.
Yongju semakin memberanikan diri menciumku setelah melihat reaksi pasrahku itu. Ciuman yang berawal hanya dari sebuah kecupan belaka, kini berubah penuh gairah, saat aku mulai belajar membalasnya, bahkan kini Yongju memeluk tubuhku dengan erat. Tok... Tok... Tok... "Kenapa kalian lama sekali?" suara eomma di depan pintu, membuatku dan Yongju gelagapan. Aku mendorong tubuhnya, tapi Yongju kembali mendekat untuk membenarkan bathrobes-ku sebelum membukakan pintu kamarku. Dengan cepat, aku mengambil baju seragamku dan berlari ke kamar mandi.
"Mana Hana?" tanya eomma yang kudengar dari kamar mandi. "Di kamar mandi. Anak manja itu baru saja bangun," jawab Yongju berpura-pura bersikap tenang seperti biasanya. Deg... Deg... Deg... Jantung Yongju semakin berdetak dengan cepat karena eomma hanya diam sambil menatapnya dengan tajam. Glup! Yongju sampai menelan air liurnya dengan nafas tertahan. "Eomma..." panggilku pelan saat keluar dari kamar mandi dengan seragam dan membuat Yongju bisa bernafas lagi. Aku dan Yongju saling melempar pandang.
"Kenapa belum siap? Sudah jam berapa sekarang? Cepatlah, biar Yongju yang mengantarmu, tapi jangan lupa sarapan dulu. Eomma mau berangkat sekarang karena ada rapat," kata eomma seraya mengecup pipiku seperti biasa, lalu kembali berjalan ke arah Yongju. "Eits! Kenapa eomma juga masih mencium pipiku? Aku sudah dewasa," kata Yongju seraya menghindar, melakukan antisipasi sebelum eomma berhasil mencium pipinya. "Tetap saja, kalian anak eomma!" kata eomma. "Siapa bilang? Aku bukan anak eomma!" sahut Yongju dengan swag. "Aku sungguh tidak suka kalimat itu!" pikirnya.
"Ck, terserah kau saja. Mau anak atau keponakan ya, tetap anak. Makna yang sama, hanya berbeda jalan keluarnya saja," sahut eomma tak kalah swag. "Mumpung ini di rumah. Kalau di agensi, kau hanya artis dan eomma ini atasanmu. Cepatlah ke sini!" sambung eomma seraya menyuruh Yongju mendekat. "Tidak mau!" bantah Yongju, "Cium Hana saja, jangan aku!" pintanya kesal. "Apa kalian mau terlambat?" tanyaku menghentikan perdebatan konyol dua orang itu. Eomma melihat jam tangannya, "astaga, aku hampir terlambat gara-gara bocah kurang ajar ini," gumamnya seraya buru-buru berjalan keluar kamar.
Eomma berhenti tepat di depan pintu kamarku dan kembali menatap tajam Yongju. "Eomma lupa! Tadi malam, eomma dapat laporan kalau kau pulang ke apartemenmu dalam keadaan mabuk. Kenapa?" tanya eomma pada Yongju, tapi keponakannya itu hanya diam tidak menjawabnya. Eomma hanya bisa menghela nafas melihat reaksi Yongju yang seperti biasanya. "Berhentilah membuat masalah. Apa kau tidak bosan menjadi bahan berita di artikel internet, majalah sampai TV, hah! Jangan ikuti hatimu, tapi kepalamu! Ah, ini tidak mudah untuk mengatakannya pada artis pembangkang sepertimu!" ucap Eomma, lalu pergi.
"Apa benar oppa pulang mabuk lagi?" tanyaku. Yongju menoleh padaku, "bukankah sudah biasa oppa mabuk," jawabnya santai. "Berhentilah. Apa oppa tidak peduli pada eomma?" ucapku sambil berjalan melaluinya yang berdiri di samping pintu kamarku. Yongju menghalangi langkahku dengan berdiri di depan pintu, "Oppa tidak peduli karena oppa hanya peduli bagaimana caranya mendekati hatimu," ucapnya tepat di depan wajahku seraya tersenyum begitu manis, sengaja menggodaku lagi.
Karena mengira Yongju akan menciumku lagi, aku pun menutup wajahku yang memerah dan terasa panas akibat ulahnya itu dengan kedua tanganku. Yongju tidak menduga dengan reaksiku yang tersipu malu seperti itu, bahkan pertama kali ia melihatnya dan itu membuatnya tersenyum melihatku. "Bahkan jika kau menutupi wajahmu seperti ini, kau tidak bisa menyembunyikan detak jantungmu, Hana!" bisiknya di telingaku dengan lembut, lalu pergi meninggalkanku dengan tersenyum sangat manis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments