Greb! Dengan cepat, aku menahan tangan Namgil yang berniat membuka hadiah dariku. "Jangan dibuka! Nanti saja kalau aku sudah pulang," pintaku manja. Aku malu jika Namgil membukanya di depanku. "Baiklah, aku tidak akan membukanya, tapi maaf, hadiah dariku tertinggal di rumah. Iya, karena aku buru-buru ke sini," ucap Namgil berbohong, padahal ia sama sekali tidak tahu kalau hari ini, hari valentine. "Kau tidak marah, bukan?" tanyanya sedikit khawatir. "Tidak apa-apa," sahutku dengan sedikit tersenyum, padahal sebenarnya aku memang sedikit kecewa. "Aku akan memberikannya besok pagi di sekolah," ucap Namgil seraya menggenggam tanganku yang tadi menahan tangannya, "maaf," ucapnya lagi dengan lembut dan berhasil membuat wajahku semakin memerah.
Namgil tersenyum melihatku yang merona. "Mau pesan makan sekarang?" tanyanya dan aku pun mengangguk dan di sela-sela memesan makanan pun, Namgil tidak bosannya melirik ke arahku. Entah sejak kapan, obrolan kami berlangsung selama makan. Perlahan, kecanggungan di antara kami menghilang, berganti dengan canda tawa yang diselingi sipu malu. Sesekali Namgil masih melirikku yang tengah menikmati makananku. "Aku baru sadar, kalau dia secantik ini. Bodoh, jika aku memutuskannya! Kalau seperti ini, bukankah aku bisa membuat Daehyun dan Jiwon, iri padaku!" pikirnya.
Aku menghentikan suapanku. "Ada apa? Apa ada makanan yang menempel di wajahku?" tanyaku saat menyadari Namgil yang selalu melirik ke arahku. "Tidak, tidak ada," jawab Namgil salah tingkah, "hanya saja, kau benar-benar cantik malam ini. Aku jadi ingin memandangmu terus," lanjutnya yang mulai belajar menggombal. "Jadi... apa kau menyukai penampilanku yang seperti ini?" tanyaku. "Iya, aku menyukainya. Kau sangat cantik seperti ini," jawab Namgil tersenyum manis. "Apa aku harus merubah penampilanku mulai besok?" tanyaku ragu-ragu. Awalnya, Namgil ingin langsung mengiyakan pertanyaanku itu, tapi tiba-tiba terbersit pikiran di kepalanya, "bagaimana kalau ada yang mendekatinya karena Hana datang secantik ini ke sekolah?"
"Jangan!" ucap Namgil yang sedikit membuatku terkejut, "pergilah ke sekolah seperti biasa! Kau tidak perlu merubah penampilanmu untukku. Kalau kau mau, hanya saat kita pergi berdua saja seperti ini," katanya seraya tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya. Sampai obrolan kami berakhir dengan tangan Namgil yang menggenggam tanganku dengan hangat saat kami berjalan menuju mobilnya, bahkan ia tidak melepaskannya sejak kami keluar dari cafe itu.
"Apakah ini cinta?" tanyaku dalam hati yang masih tidak berhenti berdebar. Sesekali aku melirik ke arah Namgil yang berjalan dalam diamnya, "kenapa dia diam? Ada apa dengannya?" pikirku. "Entahlah, ada apa denganku malam ini!? Selanjutnya, apa yang harus aku katakan pada kedua cecunguk itu? Haruskah aku menyerahkanmu?" pikir Namgil seraya memandang mobilnya sesampainya kami di depan sebuah mobil sport keluaran terbaru itu.
"Ada apa?" tanyaku saat memperhatikan Namgil yang tampak melamun. "Tidak ada apa-apa. Ayo, aku antar kau pulang," jawabnya seraya membukakan pintu mobilnya untukku. Kami pun melesat menuju kediaman keluarga Lee, rumahku. "Selama ini, begitu banyak gadis yang mengejarku, tapi aku tak suka satu pun di antara mereka. Aku hanya merasa semuanya biasa saja, sebelum aku mengenalmu," ucap Namgil seraya sekilas memandang lembut ke arahku di sela-sela aktivitas menyetirnya. Aku hanya mengulum senyum menanggapinya. "Sama! Sebelum aku mengenalmu, hatiku hanya bergerak lurus pada satu nama, Min Yongju," ucapku dalam hati seraya menundukkan wajahku. Entah kenapa, rasanya masih sakit setiap kali aku mengingat perkataannya waktu itu.
***
Sementara di depan rumahku, pemilik nama yang aku sebutkan itu tengah berdiri, memandang ragu ke arah pintu rumahku, "apa aku pulang saja?" pikir Yongju. Dengan langkah berat, Yongju membuka pintu mobilnya, berniat kembali pulang ke apartemennya setelah pelayan di rumahku mengatakan bahwa aku sedang tidak berada di rumah. Ia menghela nafasnya panjang. Ada sedikit rasa kecewa karena tidak berhasil menemuiku, padahal ia sudah meluangkan waktunya dari jadwalnya yang padat. "Aku hanya laki-laki biasa yang mencoba bertahan untuk tidak melampaui batasku, tapi kau selalu mengikis semua sisi tajamku, Hana!" pikirnya, yang menatap ke arah jendela kamarku.
Yongju memutuskan kembali ke rumah untuk menemuiku langsung karena sejak ia memintaku pacaran waktu itu, aku tidak membalas satu pun chat darinya dan itu membuatnya khawatir. "Kenapa aku sebodoh ini! Aku yang mengatakannya, tapi aku yang sendiri yang khawatir tanpa alasan. Tidak, aku tidak boleh lemah di depannya! Lebih baik aku pulang saja," gumamnya seraya memasang masker dan topinya. Namun, baru saja pemuda tampan itu berniat memasuki mobilnya, atensinya beralih pada sebuah mobil sport yang baru saja masuk ke halaman rumahku dan sepasang matanya tercengang saat melihat aku turun dari mobil itu setelah Namgil membukakan pintunya.
"Siapa?" bisik Namgil saat mendapati seseorang menatap tajam ke arah kami. Aku memandang pria yang Namgil maksud, "Dia oppa-ku," jawabku yang langsung mengenali Yongju. "Apa aku perlu memperkenalkan diri?" tanya Namgil yang tiba-tiba saja merasa gugup. "Tidak usah. Kau pulang saja, ini sudah malam," jawabku. "Benar, tidak apa-apa?" tanya Namgil lagi dan aku mengangguk menjawabnya. "Kalau begitu, aku langsung pulang. Sampai jumpa besok di sekolah," katanya seraya tersenyum lembut dan tidak lupa pamit pada Yongju dengan membungkukan badannya dengan sopan.
"Dari mana?" tanya Yongju dengan nada sinis, setelah Namgil pergi dan aku berjalan ke arahnya, "siapa dia?" tanyanya lagi. Kakak sepupuku itu menatapku tajam dengan aura dingin yang mencekam. "Aku baru pulang merayakan hari valentine dengan pacarku," jawabku datar, "ada apa oppa pulang?" tanyaku lagi. Yongju tidak menjawab, hanya mulutnya yang membulat hampir membentuk huruf O. "Kenapa? Bukankah oppa yang menyuruhku belajar mengenal orang dan cinta? Berkat perkataan oppa itu, aku menyadarinya, kata "orang" dan "cinta" itu terdengar mirip. Jadi, aku mencoba mencari cinta itu dari orang lain," ucapku santai, walaupun rasanya sakit saat mengatakannya.
"Terima kasih, oppa sudah membuat hidupku penuh cinta selama ini. Mulai hari ini, hiduplah dengan cinta oppa juga. Aku sudah menyadarinya, kenapa juga aku harus mencintai oppa yang tidak mencintaiku!" lanjutku yang seketika terasa seperti belati untuk Yongju. "Apa oppa mau masuk? Jika tidak, aku masuk dulu. Aku lelah," ucapku meninggalkan Yongju seorang diri dengan kejamnya setelah puas menyindirnya. Sepeninggalku, Yongju tertawa sendiri, menertawakan kebodohannya yang selalu mendorongku menjauh dan mengelak perasaannya. Brakk! Yongju membanting pintu mobilnya dengan kasar dan meninggalkan rumahku dengan kecepatan tinggi. Aku mengintipnya dari balik tirai jendela.
"Benar, aku lupa, ada jarak yang tidak boleh aku lewati! Jarak antara kau dan aku memanglah jauh, tapi tanpa sadar aku selalu melewati semuanya dan sampai padamu seperti malam ini!" kata Yongju seraya menggenggam kuat setir mobilnya. "****!" umpat Yongju seraya membanting setirnya ke sisi jalan dan berkata, "Apa kau tidak pernah menyadarinya? Aku dan kau juga sama. Sama-sama suka, meskipun itu tak berarti aku sama sepertimu yang dengan mudahnya mengatakan perasaanmu. Aku juga ingin menjadi bagian dari halamanmu. Aku juga ingin ikut terlibat dalam kisahmu, sebagai kekasihmu, bukan sebagai kakak sepupumu!" ucapnya lirih seraya menyandarkan kepalanya di kursi kemudi, "aku mencintaimu, Hana," lanjutnya dengan kedua matanya yang mulai berair.
"Bagaimana jika aku pergi? Seperti apa rasanya? Jika aku pergi, apa kau akan sedih? Bagaimana jika aku bukan kakak sepupumu? Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan meninggalkanku juga? Atau memilihku?" ucapnya dengan tersenyum dan terkekeh bersamaan. Pemuda Min itu memejamkan kedua matanya, menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi yang masuk lewat jendela mobilnya yang terbuka. "Aniya, bukan ini yang aku harapkan, Hana. Semoga saja orang itu hanya lewat di hatimu," ucapnya seraya memijit ruang di antara dua alisnya karena kepalanya yang mendadak terasa sakit. "Hana, seberapa banyakkah kau mengenalku? Sadarilah, bagiku, kau bukan hanya adik sepupuku. Kau adalah kekasihku. Kau anginku yang selalu menyejukan diriku yang panas. Kau kebanggaanku. Kau cintaku. Satu-satunya cintaku, Hana," racau Yongju tanpa ada satu pun yang mendengarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments