Tidak Perlu Ikut Campur Dengan Hubunganku

"Gadis pertama, pertemuan pertama, SMS pertama, panggilan telepon pertama, kencan pertama, lalu ciuman pertama," kata Daehyun seraya menyeringai. "Mari ubah taruhannya. Kau harus menciumnya dalam waktu minggu ini dan aku akan melepaskan mobilmu itu! Bagaimana?" tantang Daehyun lagi. Sepuluh menit yang lalu, sepulang dari mengantarku, Namgil langsung menemui kedua sahabatnya itu dan mengatakan kalau dia batal melakukan aksinya dan ingin membatalkan taruhan mereka. "Apa kau bercanda? Bagaimana bisa taruhannya dibatalkan!" protes Daehyun saat itu. Bahkan wajah angkuhnya menampilkan ekspresi marah saat mendengarnya.

"Memangnya, kenapa taruhannya harus dibatalkan?" tanya Jiwon mencoba mendengar penjelasan dari Namgil dulu, "apa hyung tidak berani mengatakannya?" lanjutnya seraya terkekeh. "Bukan begitu. Aku hanya berubah pikiran. Aku ingin serius pacaran dengannya," jawab Namgil yang sontak membuat Jiwon dan Daehyun tidak percaya. "Ayolah, kali ini saja, lepaskan aku! Aku tidak mungkin menyerahkan mobil itu. Bisa-bisa aku dipecat presiden itu jadi anaknya," pinta Namgil dengan wajah memelas. "Sebenarnya kenapa? Katakan dulu alasannya!" sahut Jiwon, "bukankah hyung tidak menyukainya?" lanjutnya seraya menatap lekat wajah Namgil.

"Iya. Awalnya, aku hanya asal tunjuk. Bahkan aku sengaja memilihnya karena penampilannya yang aneh agar aku punya alasan putus dengannya. Tapi tadi aku baru tahu, kalau dia sangat cantik setelah berdandan seperti gadis-gadis itu," jawab Namgil seraya tersenyum malu. "Benarkah? Memangnya secantik apa dia?" tanya Jiwon tidak percaya, bahkan matanya membulat. Sedangkan Daehyun terkekeh mendengar perkataan Namgil tadi sambil berujar dalam hati, "apa seleranya separah itu!" Namgil melirik ekspresi Daehyun yang meremehkannya, "bahkan lebih cantik dari pacar barumu itu!" jawabnya seraya melirik pada Jiwon.

Daehyun semakin tertawa mendengarnya dan Jiwon hanya berkata, "Jinjjayo? Lebih cantik dari Sooyun?" dengan bibir yang maju dan mata yang mendelik tidak terima. Sooyun memang terkenal siswi paling cantik di sekolah, juga sudah lama mengincar Daehyun dan Namgil yang kaya. Tapi dua sahabat itu tidak pernah meladeni usaha dan perasaannya. Untuk melancarkan aksinya mendekati kedua tuan muda kaya raya itu, Sooyun malah sengaja mendekati Jiwon yang berhati lemah dan sampai rela menjadi pacarnya sebagai batu loncatan.

"Bagaimana? Aku cuma mau terus pacaran dengan Hana. Selain mobil, aku bisa memberikan yang lain," tawar Namgil lagi, "ayolah, demi persahabatan kita. Hana gadis pertamaku," rengeknya memohon. "Ya, Daehyun-ssi! Sepertinya, dia tidak bercanda," ucap Jiwon seraya menatap Daehyun yang tampak berpikir sambil menatap tajam ke arah Namgil yang masih tampak memelas di depannya. Setelah mendengar tantangan baru Daehyun tadi, Namgil hanya diam menatapnya tajam. "Ada apa? Apa kau tidak berani menciumnya?" tanya Daehyun membalas tatapan tajam Namgil. "Hei, sudahlah. Hentikan saja. Perasaanku tidak enak melihat kalian seperti ini," sela Jiwon. "Tunggu saja nanti!" ucap Namgil kesal dan pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu.

"Daehyun, jangan keterlaluan!" pinta Jiwon mengingatkan. "Tenanglah! Aku hanya ingin mengajari hal yang menyenangkan di dunia ini pada anak suci itu. Lagipula, kau sendiri sama parahnya denganku!" sahut Daehyun. "Bukan itu masalahnya. Kau sendiri tahu, siapa mereka berdua. Apa tidak apa-apa kita bermain seperti ini? Perasaanku tidak enak," kata Jiwon khawatir. "Memangnya, apa yang kau khawatirkan?" balas Daehyun. "Entahlah, aku hanya takut nanti akan jadi masalah," sahut Jiwon seraya menyusul Namgil.

***

"Apa akhir-akhir ini, aku memiliki masalah makan? Apapun yang aku makan, aku tidak berselera. Aku hanya tetap kelaparan tentangmu. Apa aku semakin candu untuk memilikimu?" gumam Yongju seorang diri di apartemennya seraya meletakan kembali sendok makannya. "Kenapa tadi kau berpenampilan seperti itu? Kenapa kau tersenyum semanis itu pada pria lain?" lanjutnya seraya merebahkan kepalanya di atas meja makan. "Padahal aku sudah mengajarimu untuk menutupi wajah cantikmu itu. Kau tidak boleh seperti itu, Hana!" katanya sambil berulang kali tampak menghela nafas berat. "Aku tahu, kau cantik dan mendeskripsikan gadis sepertimu adalah hal yang mustahil, bahkan melebihi sajak puisi dan syair lagu yang aku buat untukmu," lanjutnya seraya tersenyum manis membayangkan parasku.

"Hana... Sekarang, aku harus bagaimana?" tanya Yongju pada dirinya sendiri sambil bangun dan mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Diraihnya gelas wine-nya dan kembali meminumnya. "Ini semua karenamu! Seperti huruf besar, aku ingin menempatkanmu sebagai yang pertama dalam hidupku. Aku tahu, semua langkah yang aku ambil, membuatmu marah padaku. Aku tahu, harta tak berarti kebahagian, tapi aku ingin memberikan semuanya padamu," gumamnya. "Aku ingin memiliki semuanya agar saat aku siap berdiri dengan kakiku sendiri, aku bisa membawamu berlari dari semua ini, tapi kenapa aku semakin merasa takut. Aku mohon, jangan semakin menjauh dariku. Tunggu aku menjemputmu, Hana..." lanjutnya yang ia akhiri dengan menenggak habis wine di gelasnya.

***

"Hyung, tunggu! Tunggu dulu!" panggil Jiwon yang berlari di belakang Namgil. "Waeyo?" tanya Namgil seraya menghentikan langkahnya dan berbalik. "Sepertinya, ini tidak benar," ucap Jiwon dengan nafas ngos-ngosan. "Apa maksudmu?" tanya Namgil tidak mengerti. "Apa hyung yakin bisa menciumnya dalam waktu seminggu? Itu terlalu cepat, apa hyung pikir gadis seperti Hana, mau melakukannya? Lalu... apa hyung tahu caranya? Mau belajar dulu?" tanya Jiwon dengan wajah serius menatap lekat wajah Namgil yang tiba-tiba memerah.

Namgil memalingkan wajahnya dengan cepat, "bicara apa kau!" bentaknya. "Kenapa hyung marah? Maksudku, belajar cara mengajak seorang gadis berciuman," jawab Jiwon, "hei, apa yang sebenarnya hyung pikirkan?" lanjutnya tersenyum evil, menggoda Namgil. "Daebak! Apa pangeran kita yang polos sudah mulai memikirkan sesuatu?" kata Daehyun yang tiba-tiba datang menghampiri mereka. "Omong kosong!" bentak Namgil lagi dengan wajah semakin memerah dan tampak kesal dengan ejekan kedua sahabatnya itu.

"Ayolah, nyalakan saja fantasinya! Ini baru benar. Style pacaran sekarang memang seperti ini. Cinta harus penuh dengan harapan dan sedikit fantasi liar, mungkin!" bisik Daehyun di telinga Namgil, sengaja memprovokasinya. "Itu kau, bukan aku!" sahut Namgil, tidak mau kalah. "Yeah, itu aku. Menyatakan cinta tanpa ragu adalah style-ku dan membuat para gadis itu berkata, jika untukmu, aku rela memberikan tubuhku. Aku akan selalu bersinar untukmu, sayang," ucap Daehyun seraya sengaja menggoda Namgil dan memberikan wink-nya dengan nakal sebelum ia tertawa terbahak melihat ekspresi jijik Namgil.

***

Keesokan paginya, aku sampai di depan gerbang sekolah. Hari ini, aku sedikit bersemangat dari biasanya karena memikirkan sekolah adalah panggung cintaku dan Namgil. Tidak seperti biasanya, aku datang ke sekolah tanpa topi dan hoodie kesayanganku. Dengan tidak percaya diri, aku melangkah ragu memasuki gerbang sekolah. "Astaga! Apa aku tidak salah lihat? Apa selama ini mataku benar-benar buta?" ucap Jiwon seraya menutup mulutnya yang menganga dan tiba-tiba menghentikan langkahnya di depan Daehyun. "Kenapa?" tanya Daehyun yang berjalan dibelakangnya, bingung. "Kau tidak melihatnya? Itu Hana, bukan?" sahut Jiwon seraya menunjuk ke arahku dan aku yang mendengarnya pun menoleh ke arah mereka.

Karena mereka sahabat pacarku, aku pun tersenyum menyapa mereka. Senyuman manis dan ceria yang tidak pernah aku tunjukan selama di sekolah. Cerah dan berkilauan, itulah yang ditangkap oleh seluruh pasang netra yang melihatnya. Aku yang biasa tampil dengan warna monokrom favoritku, hari ini tampil dengan penuh warna. Seragam sekolah yang berwarna hitam, aku padukan dengan sweater rajut berwarna pink dusty, kaos kaki putih dan sepatu kets putih, ditambah bedak tipis dan sedikit lipbalm.

Daehyun dan Jiwon masih mematung melihatku, sampai sebuah suara yang familiar mengalihkan perhatian mereka. "Apa kalian juga datang terlambat?" tanya Namgil yang baru saja tiba. "Hei, sepupu sialan! Apa selama ini kau sengaja menyembunyikan pacarmu dariku, hah?" tanya Daehyun. "Iya, hyung pasti sengaja!" sahut Jiwon. "Apa?" tanya Namgil balik, tapi saat matanya mendapati sosokku yang berdiri di depan mereka, ia langsung menghampiriku dan meninggalkan Daehyun dan Jiwon yang tampak kesal.

"Mana topi dan hoodie-mu? Bukankah tadi malam aku bilang kau tidak perlu merubah penampilanmu?" tanya Namgil yang tampak panik dan sedikit kesal. "Apa aku salah? Apa kau tidak menyukainya?" tanyaku. Melihat wajahku yang berubah cemberut, Namgil merasa bersalah. "Bukan itu maksudku, aku..." ucapnya terpotong, "ah, sudahlah, kita masuk dulu," lanjutnya. Namgil menggenggam tanganku dan menuntunku menuju kelas. "Ah, ini baru keren! Akhirnya, hyung-ku itu sudah memenuhi harapanku," ucap Jiwon melihat Namgil yang sudah berani menggenggam tangan seorang gadis. "Apanya yang keren? Baru juga berani menyentuh tangannya. Itu masih jauh dari style kita," sahut Daehyun. "Lalu, style kita itu seperti apa?" tanya Jiwon seraya terkekeh. "Ck, pura-pura suci!" balas Daehyun yang juga terkekeh, "Ayo, kita susul mereka," lanjutnya.

***

Saat jam pulang sekolah, Namgil mengajakku bertemu di kelasku yang berada di lantai dua sekolah kami. Aku menunggunya di kelas sampai tidak ada lagi siswa yang tersisa. Selama menuju ke kelasku, Namgil kembali mengingat bagaimana Daehyun dan Jiwon semalam mengajarinya cara mendekati lawan jenis yang berujung sebuah ciuman manis. Dan benar saja, saat tengah berbincang berdua denganku sambil bersandar di jendela kelas, Namgil semakin merapatkan posisinya secara perlahan sampai tanpa aku sadari, sudah tidak ada jarak di antara kami. Namgil yang sudah berdiri di depanku, menatap lekat mataku. "Bolehkah aku menciummu, Hana?" ucapnya ragu, bahkan dengan suara yang terdengar bergetar. "Aku menyukaimu. Bagaimana denganmu?" lanjutnya saat aku hanya terdiam mendengar permintaannya itu yang menurutku terlalu awal.

Rasanya, aku ingin berteriak marah dan tentu saja, seluruh akal dan tubuhku menolaknya, aku bahkan ingin mengeluarkan kata-kata kotor untuk menghentikannya saat Namgil mulai mendekatkan wajahnya padaku. "Maaf, Hana. Aku harus cepat melakukannya," ucap Namgil dalam hati dengan jantungnya yang berdebar kencang, tapi sebelum bibirnya berhasil menyentuh bibirku, aku menundukan wajahku sambil berkata, "maaf, aku belum pernah melakukannya." Aku memalingkan tubuhku menghadap ke arah jendela.

Namgil menatap punggungku dengan rasa yang mulai berkecamuk, antara rasa bersalah sudah menjadikanku taruhan dan rasa ingin memilikiku yang sudah mulai mendominasi akal sehatnya. "Hana, aku akan bertanya lagi padamu. Bagaimana denganmu? Jika kau belum pernah melakukannya, bagaimana jika melakukannnya denganku?" tanyanya sekali lagi dengan suara yang semakin lembut, bahkan tanpa aku duga, Namgil berani memelukku dari belakang. Sepasang tangannya melingkar erat di pinggangku, dan memeluk tubuhku yang mungil bagi tubuh tinggi besarnya itu. Bahkan aku bisa merasakan hangat nafasnya yang berhembus di telingaku.

Tubuhku tiba-tiba mematung dan perlahan gemetar, bahkan tanpa aku sadari air mataku mengalir pelan, tapi bukan karena perlakuan Namgil ini yang membuatku seperti ini. Aku membeku karena menangkap sosok dengan hoodie, topi dan masker yang berdiri di halaman sekolah dan tengah menatap tajam ke arah kami. Dari sepasang matanya saja, aku tahu bahwa ia marah besar padaku. "O-oppa!" ucapku seraya langsung berbalik dan mencoba melepaskan diriku dari Namgil. "Ada apa?" tanya Namgil bingung dan melepaskan pelukannya.

"Oppa-ku di bawah!" jawabku panik. "Apa?!" kata Namgil seraya turut melihat keluar jendela dan benar saja, ia melihat seorang pria yang menatap murka dirinya. "Mati aku!" pikir Namgil seraya berbalik, tapi aku sudah menghilang dari pandangannya. Namgil bingung harus menyusulku atau tidak karena mendadak ia jadi takut jika harus menemui pria yang aku panggil oppa itu. Daehyun dan Jiwon yang sejak tadi bersembunyi pun keluar, "ada apa?" tanya mereka bersamaan. "Melihat Hana yang lari seperti itu, sepertinya kau gagal," kata Daehyun sambil terkekeh.

"Apa kau sendiri berani mencium pacarmu di depan kakaknya?" tanya Namgil kesal dan menatap tajam Daehyun yang meledeknya. "Hah? Apa maksudmu?" tanya Daehyun. "Ada oppa-nya Hana di bawah dan aku baru saja ketahuan ingin mencium adiknya. Bahkan tadi aku memeluk adiknya di depan matanya! Bisa kau bayangkan, seperti apa dia menatapku tadi?" jawab Namgil seraya sembunyi-sembunyi melirik ke arah luar jendela. Daehyun dan Jiwon pun ikut menengok ke bawah dan melihat Yongju yang masih menatap ke arah mereka. Daehyun dan Jiwon pun sampai memundurkan langkahnya saat mata mereka bertemu dengan mata dingin Yongju.

"Hyung benar! Dia seperti ingin membunuhmu, hyung!" kata Jiwon menambah panik Namgil. "Tunggu! Oppa? Bukankah Hana anak tunggal?" tanya Daehyun yang tiba-tiba jadi curiga dan penasaran lagi. "Kata Hana, dia oppa-nya. Aku memang belum pernah bertemu langsung, tapi saat aku mengantar Hana pulang, pria itu juga ada di rumahnya," jawab Namgil. "Kalau begitu, lebih baik kita pulang saja," ajak Daehyun. "Atau hyung mau menunggu kakaknya naik ke atas sini?" sahut Jiwon yang tertawa melihat ekspresi panik Namgil. "Gila!" umpat Namgil karena Jiwon sejak tadi hanya meledeknya. "Ayo, aku lapar!" sela Daehyun seraya mulai melangkah pergi. Mereka pun pergi lewat jalan lain. Sedangkan aku dengan cepat berlari menuruni anak tangga menuju pintu keluar mengingat sifat temperamental Yongju yang sulit terkendali. "Bagaimana bisa oppa datang ke sini? Apa dia gila? Bagaimana kalau ada yang mengenalinya?" gumamku sambil menghapus air mata di pipiku yang sempat terjatuh.

***

Sementara di bawah, Yongju mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. "Aku lah yang selama ini selalu membuatmu tersenyum, tapi kau pergi ke bajing*n yang membuatmu menangis seperti itu!" pikir Yongju yang samar-samar melihatku menitikkan air mata. "Oppa..." panggilku sesampainya aku di depan Yongju. Aku berhenti sejenak untuk mengatur nafasku yang tersengal setelah berlari. "Oppa menjemputku?" tanyaku. "Masuk ke mobil!" ucap Yongju dengan begitu dingin, bahkan seketika membuatku merinding mendengarnya, terlebih matanya masih menatap tajam ke arahku.

Di dalam mobil pun hanya kesunyian yang mencekam. "Kenapa oppa yang menjemputku? Apa jadwal oppa hari ini kosong?" tanyaku pelan mencoba mencairkan suasana. "Hmm," balas Yongju malas. "Maaf, sudah membuat oppa menunggu," ucapku lagi sambil memainkan jari-jariku, aku masih takut jika Yongju marah. "Satu jam," sahut Yongju datar. "Hah? Maksud oppa?" tanyaku tidak mengerti. "Sudah satu jam oppa menunggu di mobil, tapi kau tidak muncul juga. Karena khawatir, oppa mencarimu ke dalam dan apa yang oppa temukan tadi? Tontonan yang sangat bagus!" jawab Yongju penuh sarkasme seraya menatapku.

Glup! Dengan susah payah, aku menelan saliva-ku. "Jadi, dia pacarmu itu?" tanya Yongju dengan tatapan lurus ke depan. Aku hanya menjawabnya dengan mengangguk. "Siapa namanya? Dari keluarga mana?" tanya Yongju yang memulai interogasinya. "Kim Namgil, putra bungsu Kim Dangwook, Pak Presiden..." jawabku pelan. Aku melihat tangan Yongju yang meremas setir mobil dengan keras dan melirik wajahnya yang tampak menggertakan giginya. "Sial! Lawan berat ternyata!" pikir Yongju saat mendengarnya.

Mobil Yongju sampai di halaman rumahku. Tanganku yang semula ingin membuka pintu mobilnya terhenti, saat Yongju berkata, "putuskan dia!" Aku menoleh padanya, "apa oppa bilang?" tanyaku tidak percaya, tapi Yongju diam saja, bahkan tidak menatapku sama sekali. "Kenapa?" tanyaku pada akhirnya kembali ke posisi awalku yang duduk manis di sampingnya. "Oppa hanya tidak suka anak itu," jawab Yongju masih dengan tatapannya lurus ke depan. "Kenapa?" tanyaku lagi, kali ini dengan melayangkan tatapan tajam ke arahnya. "Ck, turuti saja oppa!" ucap Yongju seraya kembali menatap tajam diriku. "Sekarang, masuklah!" perintahnya yang ingin kabur dari pertanyaanku selanjutnya.

"Oppa tidak bisa seperti ini! Beri aku alasan yang jelas, kenapa oppa tidak suka dengan Namgil dan kenapa aku harus menuruti oppa!" ucapku keras kepala. "Masuk!" ulang Yongju pelan dan sama keras kepalanya denganku. "Tidak, jawab dulu pertanyaanku!" sahutku membantah. "Oppa!" panggilku karena sejak tadi, Yongju tidak mau melihatku, masih tidak bergeming. "Lihat aku dan jawab, oppa!" panggilku lagi seraya menarik lengannya yang masih menggenggam setir mobilnya. "Masuk!" bentaknya membuatku terdiam. "Sudah oppa katakan, oppa tidak suka dengannya dan kau harus menuruti oppa karena aku oppa-mu dan kau adik oppa! Arraseo?" jawab Yongju kesal.

Begitu pula aku yang juga menggertakan gigiku mendengar jawabannya. "Sudahlah. Masuk saja sana!" kata Yongju yang menurunkan nada bicaranya yang sempat meninggi. Aku tersenyum getir, "Tidak, oppa salah," ucapku tertunduk. "Apa? Hei, bicara apa kau?" tanya Yongju yang tidak mengerti dengan apa yang aku katakan. Aku keluar dari mobilnya sambil berkata sebelum membanting pintu mobilnya, "Oppa hanya kakak sepupuku. Jadi, oppa tidak perlu ikut campur dengan hubunganku!"

Episodes
1 Prolog
2 Aku Kesepian, Tapi Hari Ini Aku Bahagia
3 Bungamu Adalah Bungaku
4 Dia, Aku Memilihnya
5 Seharusnya Kau Lihat Sendiri
6 Karena Aku Pacarmu
7 Kau Cintaku Satu-satunya
8 Tidak Perlu Ikut Campur Dengan Hubunganku
9 Hanya Aku Yang Berjuang Mengejarmu
10 Tak Bisa Sembunyikan Detak Jantungmu
11 Bukankah Itu Yang Kau Inginkan?
12 Apa Yang Kau Lakukan Disana?
13 Tidak Akan Ada Yang Bisa Menghentikan Aku
14 Kau Hanya Pacarnya, Sedangkan Dia Tunangannya
15 Katakan Siapa! Karena Aku Yakin Bukan Dia
16 Apa Yang Terjadi Denganmu?
17 Jauhi Dia!
18 Sungguh Sempurna Untuk Jadi Istriku
19 Seharusnya Aku Tidak Membuatnya Marah
20 Selalu Membohongiku
21 Mendengarkan Cerita Masa Lalu
22 Tolong, Jangan Terlalu Keras Padanya
23 Cinta Akan Menemukan Jalannya
24 Menangis Hanya Karena Satu Gadis
25 Ceritakan Padaku Ceritamu
26 Tuan Muda Kim Yang Tampan
27 Jawabannya Sudah Ada, Aku Bahagia
28 I Am Not Your Baby
29 Sepertinya, Aku Juga Menyukainya
30 Yang Bagimu Biasa Saja, Bagiku Istimewa
31 Bagaimana Aku Bisa Bahagia Jika Kau Pergi
32 Mengering Karena Patah Hati
33 Berhentilah Bermain-main, Peterpan!
34 Maaf, Jika Dia Lebih Menyebalkan Dariku
35 Tolong, Bantu Aku Mencintaimu
36 Mari Kita Berpesta, Sayang!
37 Kau Yang Berpacaran Dengan Tunanganku
38 Aku Bertahan Bukan Untuk Akhir Seperti Ini
39 Otakku Yang Kotor Atau Dia Yang Beracun?
40 Persahabatan Tenggelam Karena Terjebak Kata Cinta
41 Mau Apa Lagi Kau Mencarinya?
42 Perkenalkan, Tuan Muda Kedua Keluarga Jeon
43 Pasang Saja Sendiri Cincin Sialan Itu Di Jarimu!
44 Aku Tidak Akan Menyerah Melindungimu
45 Selamat Siang, Bungaku
46 Sepertinya, Aku Memang Butuh Kehangatan
47 Jangan Salahkan Aku Karena Sudah Tak Tahan
48 Hukuman Karena Sudah Membuatku Cemburu
49 Beritahu Aku Jika Rasa Sakit Ini Bahkan Tidak Nyata
50 Hujan Cemburu Di Matamu
51 Di Atas Dua Hati Yang Retak
52 Perlahan, Aku Mulai Menyukai Permainanmu
53 Aku Akan Menerkammu Setiap Malam!
54 Sweet Strawberry Kiss
55 Merubah Good Girl Menjadi Bad Girl
56 Maukah Kau Menikah Denganku?
57 Kado Ulang Tahun Dariku Untukmu
58 Kali Ini, Aku Mengalah Demi Dirimu
59 Kemana Pun, Aku Akan Menuntutmu Bertanggung Jawab!
60 Untuk Siapa, Aku Sampai Semarah Ini?
61 Hukum Saja Aku Semaumu, Tapi Tidak Untuk Pergi Meninggalkan Aku
62 Jika Kau Rela Kehilanganku
63 Jika Ada Yang Menginjak Kakimu, Injak Balik Kepalanya!
64 Aku Tidak Peduli Apapun Lagi
65 Kalian Tidak Bisa Bersama Lagi
66 Aku Yang Menghamili Dan Aku Akan Bertanggung Jawab Menikahinya
67 Maaf, Kami Sudah Melakukan Sebisanya
68 Bungaku Yang Agung
69 Tolong, Lindungi Dia Untukku!
70 Aku Serahkan Semuanya Padamu Untuk Melanjutkannya
71 Satu Nama Untuk Diberi Karma
72 Di Antara Senyuman Manis, Senyumam Imut Dan Senyuman Hangat
73 Aku Takut, Aku Trauma
74 Katanya, Mirip Itu Jodoh
75 Aku Nelangsa Merindukanmu
76 Hari Ini Manis dan Kau Benar-benar Sangat Manis
77 Cinta Sejati Yang Tak Akan Pernah Berakhir
78 Kau Selalu Menjadi Satu-satunya Bungaku
79 Mawar Merah Darah
80 Benar-benar Mencurigakan
81 Kau Tak Sendiri, Ada Aku Di Sini
82 Secarik Surat Untukmu
83 Tiba-tiba Saja Menghilang
84 Undangan Untuk Teman Lama
85 Pesta Pernikahan Mantan
86 Aku Hanya Mengkhawatirkanmu
87 Membantu Dengan Caraku
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Prolog
2
Aku Kesepian, Tapi Hari Ini Aku Bahagia
3
Bungamu Adalah Bungaku
4
Dia, Aku Memilihnya
5
Seharusnya Kau Lihat Sendiri
6
Karena Aku Pacarmu
7
Kau Cintaku Satu-satunya
8
Tidak Perlu Ikut Campur Dengan Hubunganku
9
Hanya Aku Yang Berjuang Mengejarmu
10
Tak Bisa Sembunyikan Detak Jantungmu
11
Bukankah Itu Yang Kau Inginkan?
12
Apa Yang Kau Lakukan Disana?
13
Tidak Akan Ada Yang Bisa Menghentikan Aku
14
Kau Hanya Pacarnya, Sedangkan Dia Tunangannya
15
Katakan Siapa! Karena Aku Yakin Bukan Dia
16
Apa Yang Terjadi Denganmu?
17
Jauhi Dia!
18
Sungguh Sempurna Untuk Jadi Istriku
19
Seharusnya Aku Tidak Membuatnya Marah
20
Selalu Membohongiku
21
Mendengarkan Cerita Masa Lalu
22
Tolong, Jangan Terlalu Keras Padanya
23
Cinta Akan Menemukan Jalannya
24
Menangis Hanya Karena Satu Gadis
25
Ceritakan Padaku Ceritamu
26
Tuan Muda Kim Yang Tampan
27
Jawabannya Sudah Ada, Aku Bahagia
28
I Am Not Your Baby
29
Sepertinya, Aku Juga Menyukainya
30
Yang Bagimu Biasa Saja, Bagiku Istimewa
31
Bagaimana Aku Bisa Bahagia Jika Kau Pergi
32
Mengering Karena Patah Hati
33
Berhentilah Bermain-main, Peterpan!
34
Maaf, Jika Dia Lebih Menyebalkan Dariku
35
Tolong, Bantu Aku Mencintaimu
36
Mari Kita Berpesta, Sayang!
37
Kau Yang Berpacaran Dengan Tunanganku
38
Aku Bertahan Bukan Untuk Akhir Seperti Ini
39
Otakku Yang Kotor Atau Dia Yang Beracun?
40
Persahabatan Tenggelam Karena Terjebak Kata Cinta
41
Mau Apa Lagi Kau Mencarinya?
42
Perkenalkan, Tuan Muda Kedua Keluarga Jeon
43
Pasang Saja Sendiri Cincin Sialan Itu Di Jarimu!
44
Aku Tidak Akan Menyerah Melindungimu
45
Selamat Siang, Bungaku
46
Sepertinya, Aku Memang Butuh Kehangatan
47
Jangan Salahkan Aku Karena Sudah Tak Tahan
48
Hukuman Karena Sudah Membuatku Cemburu
49
Beritahu Aku Jika Rasa Sakit Ini Bahkan Tidak Nyata
50
Hujan Cemburu Di Matamu
51
Di Atas Dua Hati Yang Retak
52
Perlahan, Aku Mulai Menyukai Permainanmu
53
Aku Akan Menerkammu Setiap Malam!
54
Sweet Strawberry Kiss
55
Merubah Good Girl Menjadi Bad Girl
56
Maukah Kau Menikah Denganku?
57
Kado Ulang Tahun Dariku Untukmu
58
Kali Ini, Aku Mengalah Demi Dirimu
59
Kemana Pun, Aku Akan Menuntutmu Bertanggung Jawab!
60
Untuk Siapa, Aku Sampai Semarah Ini?
61
Hukum Saja Aku Semaumu, Tapi Tidak Untuk Pergi Meninggalkan Aku
62
Jika Kau Rela Kehilanganku
63
Jika Ada Yang Menginjak Kakimu, Injak Balik Kepalanya!
64
Aku Tidak Peduli Apapun Lagi
65
Kalian Tidak Bisa Bersama Lagi
66
Aku Yang Menghamili Dan Aku Akan Bertanggung Jawab Menikahinya
67
Maaf, Kami Sudah Melakukan Sebisanya
68
Bungaku Yang Agung
69
Tolong, Lindungi Dia Untukku!
70
Aku Serahkan Semuanya Padamu Untuk Melanjutkannya
71
Satu Nama Untuk Diberi Karma
72
Di Antara Senyuman Manis, Senyumam Imut Dan Senyuman Hangat
73
Aku Takut, Aku Trauma
74
Katanya, Mirip Itu Jodoh
75
Aku Nelangsa Merindukanmu
76
Hari Ini Manis dan Kau Benar-benar Sangat Manis
77
Cinta Sejati Yang Tak Akan Pernah Berakhir
78
Kau Selalu Menjadi Satu-satunya Bungaku
79
Mawar Merah Darah
80
Benar-benar Mencurigakan
81
Kau Tak Sendiri, Ada Aku Di Sini
82
Secarik Surat Untukmu
83
Tiba-tiba Saja Menghilang
84
Undangan Untuk Teman Lama
85
Pesta Pernikahan Mantan
86
Aku Hanya Mengkhawatirkanmu
87
Membantu Dengan Caraku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!