"Ada apa dengan nilaimu tahun ini dan bagaimana bisa ada laporan ketidak-hadiranmu saat sekolah? Apa kau ingin membuat masalah untuk appa?" tanya Kim Dangwook, pria yang menjabat sebagai presiden saat ini pada putra kesayangannya, Kim Namgil. Sang presiden menghela nafas berat di depan putranya itu. "Namgil, kau adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga kita. Berhentilah main-main. Tahun ini kau harus lulus dengan baik seperti kakak-kakakmu. Jangan terlalu bermain bersama sepupumu itu," lanjut Tuan Kim. "Maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," jawab Namgil dengan sopan. Anak laki-laki itu membungkukkan badannya di depan ayahnya itu, tapi tidak terlihat penyesalan di wajahnya. "Tepati janjimu! Sekarang, kembalilah ke kamarmu!" ucap Tuan Presiden seraya kembali menghela nafas karena ia memang tidak bisa marah pada putra semata wayangnya itu.
Kim Namgil, pemuda yang hampir berusia 19 tahun itu menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya. Kali ini, sang putra lah yang menghela nafas jengah. "Ya, masalah untuk presiden kita! Gara-gara kalimat itu, aku bahkan tidak punya mimpi apa pun!" gumamnya seorang diri dengan mata terpejam. Bagi Namgil, kalimat yang selalu appa-nya tekankan itu selalu menjadi beban untuknya, sekali pun ia memang sudah dididik dengan baik dan terlahir jenius. Sebagai putra presiden yang selalu disorot, setiap hari Namgil habiskan dengan belajar demi predikat terbaik di sekolahnya, sampai ia merasa bosan bersikap baik. Tidak ada waktu bermain, apalagi pacaran dan baru saja Namgil mencoba belajar berteman dan bertingkah seperti anak-anak seusianya, ia menjadi lengah terhadap sekolah dan nilainya.
Bermain, hal yang baru saja ia pelajari dan sangat jarang ia lakukan. Hanya di hari-hari tertentu dan itu pun Namgil lakukan tanpa sepengetahuan orang tuanya. "Bagaimana kalau kali ini aku terima tantangannya? Mencoba pacaran, mungkin akan menyenangkan!" ucap Namgil dengan tersenyum nakal. Anak yang selalu berusaha patuh dan penurut di depan kedua orang tuanya ini memang selalu berhasil menyembunyikan sisi nakalnya. Namgil mengunci pintu kamarnya, memastikan tidak ada yang akan mengganggunya dan mulai memasang earbuds di kedua telinganya. Membiarkan buku-buku yang biasa menjadi teman belajarnya kala malam, terbengkalai tak tersentuh di atas meja belajarnya. "Nanti saja belajarnya. Aku malas!" pikirnya. Hentakan musik hip hop dengan beat yang kuat dari rapper idolanya, memenuhi kedua ruang rungu Namgil yang tampak sangat menikmatinya dengan rileks, bahkan sesekali Namgil turut menyanyikan potongan liriknya yang sentimentil.
***
Sementara di tempat lain, sang idola, pemilik lagu yang tengah didengar oleh Namgil baru tiba di apartemennya. Setelah mendesahkan nafas lelahnya, Yongju langsung berjalan menuju kamar mandi sambil melucuti pakaian ditubuhnya satu persatu. Setelah memutuskan fokus dengan karirnya, namanya menjadi besar dengan kemampuannya sendiri. Selain rapper yang handal, ia juga menciptakan lagu-lagunya sendiri. Meskipun menjadi seorang rapper terkenal adalah mimpinya yang menjadi nyata, aktivitas yang tinggi sebagai seorang rapper ternama, terkadang membuatnya merasa jemu. Yongju sendiri terkenal apa adanya, tidak pernah peduli dengan penampilan, citranya, apalagi pendapat para haters yang tidak menyukainya. Bahkan tidak ada yang tahu identitasnya yang sebenarnya sebagai keponakan dari Lee Miyoung, sang direktur pemasaran di agensinya. Yongju lebih senang, publik mengenalnya tanpa keluarga.
Lagi-lagi, Yongju menghela nafasnya di bawah guyuran shower. "Sudah 7 tahun dan aku tetap tidak bisa membunuh perasaan ini dan aku hanya bisa mengatakannya dengan musik," ucapnya pelan dengan mata terpejam. Yongju terpaksa menghentikan aktivitas mandinya, setelah mendengar dering ponselnya yang ada di dalam kamarnya. Ia pun beranjak masuk ke kamarnya. Dari jauh saja dan cukup dengan mendengar nada dering khusus itu saja, ia bisa tahu, jika yang menghubunginya saat ini adalah aku, adik sepupunya yang tengah ia pikirkan barusan.
"Ada apa?" sahut Yongju datar. "Siapa namanya?" tanyaku tanpa basa-basi. "Terserah!" jawab Yongju langsung. Seolah-olah dia mengerti apa yang aku maksud. "Karena oppa yang memberikannya, jadi harus oppa juga yang memberikan namanya!" ucapku memaksa. "Kau saja yang memberikannya," ucap Yongju dengan malas. "Oppa!" sahutku keras kepala. "Apa susahnya? Panggil saja dia kucing," sahut Yongju santai seraya duduk di ranjangnya sambil mengeringkan rambut basahnya. "Itu sama saja tidak punya nama!" bentakku kesal. "Kenapa jadi ribut masalah nama kucing!" sahut Yongju yang juga mulai kesal. "Oppa!" rengekku manja saat menyadari perubahan nada bicara Yongju. "Ya sudah, namanya miaw!" putus Yongju setelah luluh mendengar suara rengekanku. "Miaw?" tanyaku. "Kalau tidak suka, kau saja yang beri nama!" tegas Yongju. "Tidak. Aku suka," jawabku lalu terdiam sejenak sambil membelai miaw.
"Kenapa diam?" tanya Yongju lembut. "Hmm?" sahutku. "Hei! Jangan bilang, kau ingin memanggilnya Yongju!" tebak Yongju kembali kesal. "Aigo! Sepertinya, itu ide yang bagus!" godaku seraya terkekeh. "Jangan macam-macam!" bentak Yongju yang terdengar semakin kesal dan membuatku tertawa. "Iya. Iya. Mulai hari ini namanya miaw," sahutku, "untung miaw bukan grumpy cat seperti oppa!" lanjutku mengejeknya. "Ya, kau!" ucap Yongju geregetan.
"Oppa, terima kasih. Ini hadiah terbaik hari ini," ucapku dengan tulus. "Ya, walaupun itu karena ini juga hadiah satu-satunya yang aku dapat hari ini," pikirku. "Syukurlah, kalau kau menyukainya," kata Yongju lembut. Untuk sesaat suasana menjadi hening, tanpa ada yang tahu harus berkata apa lagi. Hanya suara nafas Yongju yang terdengar samar-samar, sampai Yongju berusaha mengakhirinya dengan berkata, "Ya sudah, nanti kita lanjutkan lagi, oppa masih sibuk." Seperti biasanya, sebelum menghubungi Yongju, aku terlebih dulu menanyakan jadwalnya pada manajernya karena aku tidak ingin mengganggu kesibukannya dan manajernya bilang kalau jadwal Yongju kosong sampai besok pagi. "Bohong! Aku tahu, jadwal oppa hari ini sudah selesai. Kalau oppa bilang mau tidur, aku lebih percaya itu," ucapku pelan dengan nada sedih dan Yongju hanya diam tak menjawab.
"Aku merindukanmu, oppa," lirihku setelah mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya, tapi sekali lagi, hanya keheningan yang aku dapat, bahkan bunyi jam dinding lebih terdengar jelas di telingaku. "Aku..." ucapku lagi, tapi terpotong dengan perkataan Yongju yang tidak pernah aku duga sama sekali, "belajarlah untuk mengenal orang lain agar kau tidak merindukan oppa lagi." Perkataan Yongju yang terdengar jelas di telingaku seperti pisau yang terbuat dari es, dingin dan mengiris hatiku. "Oppa tidak pernah berubah," ucapku dengan air mata yang sudah berlinang. "Baiklah, jika itu mau oppa," jawabku tak kalah dinginnya, namun dengan suara yang bergetar menahan tangis dan aku yang benci mendengar perkataannya itu, langsung mematikan panggilan itu sepihak.
Sedangkan, Yongju hanya bisa memejamkan matanya dengan kesal karena harus mengatakan kalimat yang tidak sesuai dengan hatinya itu, bahkan ia melempar ponselnya ke lantai. Yongju yakin, jika saat ini, ia sudah membuatku menangis lagi. "Selain membuatmu menangis, aku bisa apa lagi?" liriknya terdengar pasrah seraya memandangi tato pertamanya yang baru dibuatnya tadi siang. Kemudian, Yongju mengingat kejadian siang tadi di agensi saat eomma-ku melihat tato milik artisnya dan juga keponakannya itu.
***
"Kata manajermu, kau membuat tato," kata eomma setelah memanggil Yongju, sang artis ke ruangannya secara pribadi. "Iya," jawab Yongju santai dan memilih duduk di sofa. "Kau serius?" tanya eomma tidak percaya. "Apa aku melakukan kesalahan atau aku harus izin dulu pada eomma?" tanya Yongju acuh, bahkan terkesan tidak sopan, tapi eomma sudah terbiasa dengan sikap swag keponakannya itu. "Tidak. Kau tidak perlu melakukannya. Itu hakmu. Eomma hanya kaget kau mentato tubuhmu," kata eomma santai, "Di mana?" tanya eomma yang penasaran. Yongju pun mengulurkan tangannya dan menunjukan tato di pergelangan tangan kanannya. Sebuah tato berukuran kecil dengan bentuk aksara Hindi dan setangkai mawar yang melilitnya. "Tato yang cantik. Apa ini untuk namamu dan bunga mawar? Ah, Eomma lupa kalau suka bunga," kata Eomma menilai dengan kebiasaan Yongju yang sering mengirimiku bunga.
***
"Eomma benar, aku suka bunga, tapi eomma salah, tulisan ini bukan menuliskan namaku, tapi Lee Hana, karena bunga yang aku suka adalah bunga milikmu, karena bunga mawarku adalah Hanamu," ucap Yongju seraya tersenyum getir. "Apa eomma tahu kenapa aku menyukai bunga? Karena eomma memberinya nama Hana yang berarti bunga dan maaf jika pada seiring waktu, keponakanmu ini juga memandangnya seperti bunga dan ingin memetiknya," lanjut Yongju dengan lirih. "Hana, cepatlah tumbuh menjadi bunga, agar saat aku sudah mampu menghadapi dunia, aku bisa memetikmu dan membuatmu menjadi bunga paling cantik di dunia," ucapnya sebelum ia mengecup lembut tato di pergelangan tangannya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments