"Tidak perlu menjemputku. Aku akan pergi ke sana bersama supirku," ketikku pada chat yang aku kirimkan untuk Namgil, sedangkan Yongju yang menyuruhku melakukannya, memperhatikan chat itu dari layar ponselku. "Sudah," laporku pada Yongju dan ia tersenyum membalasnya. "Ingat, paling lambat jam 10 malam sudah harus pulang!" bisiknya sambil menyampirkan rambutku ke telinga. Sebenarnya, Yongju sangat marah saat aku memberitahunya bahwa malam ini Namgil mengajakku pergi untuk merayakan ulang tahunnya. "Kenapa harus di club malam?" tanya Yongju geram saat itu.
"Kata Namgil, Daehyun yang sudah mengaturnya karena hotel itu milik appa-nya. Lagipula, bukankah sebuah club tidak hanya berisi diskotek? Ada karaoke room dan cafe juga, bukan?" sahutku. "Katanya, kami hanya akan makan di cafe-nya, lalu berkaraoke sebentar. Setelah ini, Namgil sudah berjanji untuk putus denganku. Jadi, boleh, ya?" lanjutku dengan polosnya merengek meminta izin Yongju. "Sial! Kenapa harus malam ini? Oppa tidak bisa mengantarmu," ucapnya kesal. "Tidak usah khawatir. Aku bisa pergi sendiri," sahutku santai yang membuatnya semakin kesal.
"Apa kau pikir, kau akan pergi ke supermarket? Club malam, Hana! Gadis bodoh sepertimu, tidak tahu apa yang ada di dalamnya!" sahut Yongju seraya menekan jari telunjuknya ke dahiku. "Ya sudah, tidak jadi pergi saja. Kalau besok, Namgil membuat alasan ini untuk tidak jadi putus lagi, jangan marah denganku dan memaksaku lagi. Bukankah aku bodoh seperti yang oppa katakan?!" kataku dengan wajah cemberut. Yongju yang selalu kalah setiap kali aku merajuk pun bereaksi. "Baiklah, kali ini saja oppa izinkan, tapi ingat kau harus memutuskan anak itu besok! Kalau perlu, malam ini juga!" sahutnya yang membuatku langsung tersenyum.
"Hati-hati di sana. Ingat, jangan matikan ponselmu, selama di sana. Kau harus pergi bersama supir dan pulang sebelum jam 10. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi oppa atau langsung pulang. Mengerti?" pesan Yongju. Aku mengangguk tanda mengerti. Melihatku yang langsung kembali ceria setelah mendapat izinnya, semakin membuat Yongju merasa kesal bercampur khawatir, serta gemas secara bersamaan. "Hei, oppa sudah memberimu izin. Bukankah kalau kita menerima sesuatu, anak baik harus berterima kasih?" kata Yongju seraya menatap nakal ke arahku. Aku terdiam mencerna maksudnya. Perlahan, Yongju mendekatkan bibirnya pada bibirku, tapi aku langsung memalingkan wajahku saat menyadari maksudnya. Satu alis Yongju terangkat ke atas menyadari penolakan dariku. "Kenapa seperti itu? Apa anak baik ingin mendapat hukuman? Ingin jadi anak nakal, hah?" katanya seraya berlagak seperti eomma saat setiap kali kami melakukan kesalahan di waktu kecil. Aku dan Yongju pun saling tertawa mengingatnya.
Sejenak, Yongju terdiam memperhatikan senyumku yang selalu indah di matanya dan saat menyadari tatapannya yang lembut, aku bertanya "kenapa oppa menatapku?" Yongju memberikan senyuman manisnya, "Apa kau sadar, segala sesuatu tentangmu itu luar biasa dan membuatku jadi menginginkannya," bisiknya sambil meraih helaian rambutku dan menghirup dalam wanginya dan kembali mendekatkan wajahnya. "Oppa, aku tidak mau seperti ini! Aku ingin hubungan yang biasa saja. Bukan yang seperti ini," tolakku pelan tanpa berani menatap ke arah Yongju. Yongju menghela nafasnya kecewa seiring pandangannya yang turun, tapi sebuah smirk terbersit di wajah putih pucatnya saat atensinya turun ke leher putihku. Cup! Yongju mengalihkan sasarannya ke leherku. Tanpa aku duga, ia berani mencium leherku, bahkan sampai menahan tengkukku agar aku tidak bisa melepaskan diri darinya saat aku berusaha mendorong bagian dadanya.
"Oppa!" pekikku saat Yongju dengan sengaja menggigit kecil bagian leherku yang ia cium. Aku mendorongnya hingga menjauh, lalu menutup leherku dengan tanganku. "Sakit!" rengekku dengan wajah cemberut, tanpa aku tahu, bagian itu memerah dan akan meninggalkan bekas karena Yongju sengaja melakukannya sebagai tanda kepemilikannya untuk lawannya. Aku melayangkan tatapan tajam padanya sebagai tanda marahku, tapi ia malah hanya memberikan sebuah smirk padaku dan tanpa mengatakan apapun, pergi begitu saja. "Ada apa dengannya? Aneh! Kenapa perasaanku jadi tidak enak!" gumamku seraya menatap punggungnya yang semakin menghilang di balik pintu kamarku.
***
Malam harinya, aku sudah sampai di sebuah club malam yang Namgil pilih sebagai tempat merayakan ulang tahunnya. Aku menyuruh supirku pulang dan memintanya menjemputku lagi sebelum jam 10 seperti pesan Yongju. "Kata Namgil, ia hanya ingin mentraktir aku dan dua sahabatnya itu makan, tapi kenapa harus di sini?" pikirku seraya memperhatikan tempat yang baru saja aku masuki untuk pertama kalinya ini. Di tengah cahaya temaram dan hingar bingar musik di dalamnya, dengan bingung, aku mencari private room yang Namgil maksud. Sejak sampai di hotel mewah ini, sudah berkali-kali aku menghubungi Namgil, tapi ia tidak menjawabnya.
Aku pun terus berjalan melalui beberapa private room di tempat karaoke ini sambil memperhatikan setiap nomor yang tertempel di pintunya dengan sedikit mulai merasa takut saat menyusuri lorong yang minim penerangan ini. "Seperti sedang tersesat di tempat asing saja! Tunggu, kenapa aku tidak meminta tolong saja pada pramusaji tadi untuk mengantarkanku! Bodohnya aku!" pikirku seraya tiba-tiba berbalik ke belakang. Dugh! Aku menabrak seseorang di belakangku. Sret! Orang yang aku tabrak itu menarik pinggangku saat aku terhuyung ke belakang dan kehilangan keseimbanganku di depannya.
Deg... Deg... Deg... Aku mematung dalam dekapannya, bahkan aku sempat menghirup dalam parfumnya yang membuatku terhanyut memejamkan mata, terlebih saat aku membuka mataku kembali dan menemukan wajahnya. "Aku menemukanmu!" ucap Daehyun tersenyum begitu tampan. Deg... Deg... Deg... Jantungku pun semakin berdetak tidak karuan saat melihat dengan jelas ketampanannya dalam posisi sedekat ini. Anehnya, seperti tersihir pesonanya itu, aku bahkan diam saja saat Daehyun semakin mengencangkan lingkaran tangannya di pinggangku dan menekannya, membuatku semakin merapat padanya.
"Ramping!" nilai Daehyun dalam hati. "Cantik!" nilainya lagi sambil menatap lekat wajahku dengan seksama dan sama halnya dengan yang Daehyun lakukan, aku jadi menatap wajah tampan itu tanpa berkedip. "Apa sekarang dia sedang menatapku juga?" pikir Daehyun lagi saat menyadari tatapanku yang terpesona padanya. Entah apa yang membuatku menatap dalam kedua bola mata Daehyun yang sangat indah itu, "matanya menarikku!" pikirku saat itu. "Lihat lah bibirnya yang terbuka itu! Aku jadi ingin melahapnya sekarang juga!" pikir Daehyun lagi seraya menggigit bibir bawahnya dan membuatku tersentak saat menyadari tatapannya yang semula juga menatap bola mataku, beralih turun ke bibirku. Aku menggeliatkan tubuhku agar Daehyun melepaskan tangannya dari pinggangku. "Ikut aku!" ucapnya sesaat setelah ia melepaskan tangannya dan langsung menarik tanganku agar mengikutinya.
"Lihat saja, Jiwon. Aku akan membalik semuanya. Panggil aku pecundang, jika tidak bisa merebut Hana dari Namgil," pikir Daehyun seraya tersenyum licik, tapi langkahnya terhenti saat aku menahan langkahku sambil berkata, "mau ke mana?" Daehyun berbalik menghadapku sambil berkata, "mengantarmu pada Namgil." Deg! Tiba-tiba atensi Daehyun menemukan sesuatu yang membuatnya kesal. Ia berjalan mendekatiku dengan ekspresinya yang berubah tidak bersahabat. Dengan kasar, Daehyun menyibak rambut sebahuku. "Apa ini?" tanyanya seraya melayangkan tatapan tajam padaku saat memastikan tanda kemerahan di leherku. "Apa yang kau bicarakan?" ucapku seraya memundurkan langkahku.
Namun, Daehyun semakin melangkah maju sampai aku terpojok di dinding. "A-apa yang kau lakukan?" tanyaku terbata. "Katakan, siapa? Siapa yang berani menciummu di sini?" bisik Daehyun seraya menunjuk leherku dan menekannya dengan jarinya. Tiba-tiba aku merasa merinding dengan perlakuan dan suara deep Daehyun yang menggelitik telingaku. Daehyun berniat menyentuh tanda kemerahan itu dengan bibirnya, tapi tertahan karena sebuah suara. "Daehyun!" panggil Jiwon yang datang dari ujung lorong. Dengan kesal, Daehyun bergantian menatap kami berdua, lalu pergi begitu saja. Sedangkan Jiwon tetap melanjutkan langkahnya menghampiriku.
"Kau tidak apa-apa, Hana?" tanya Jiwon sesampainya ia di depanku. Aku mengangguk tanpa suara. Melihat aku yang ketakutan, Jiwon mengelus pucuk kepalaku untuk menenangkanku. "Jangan takut. Ada aku dan Namgil di sini. Terkadang, anak itu memang aneh. Kau akan mengerti setelah terbiasa dengannya," katanya seraya tersenyum manis padaku dan seketika membuatku merasa aman. "Ayo, aku antar. Namgil sudah menunggumu dari tadi," lanjut Jiwon seraya mulai melangkah lebih dulu. Aku pun mengikutinya di belakang hingga kami sampai di ruangan paling ujung lorong ini.
Sebuah ruangan karaoke mewah yang berisi empat orang di dalamnya. "Namgil, Daehyun, Sooyun dan siapa dia?" ucapku dalam hati saat aku mengabsen mereka satu persatu dan menemukan wajah asing di ruangan itu. "Sayang, kau sudah datang?" sambut Namgil yang langsung berdiri menghampiriku. "Maaf, aku datang terlambat dan ini hadiah untuk oppa dan selamat ulang tahun," ucapku seraya menyerahkan kadoku pada Namgil. Jiwon yang semula berdiri di sampingku, beralih ke samping Namgil saat melihat Namgil membuka kado dariku. "Wah, keren!" ucap Jiwon saat melihat jam tangan mahal yang aku hadiahkan untuk Namgil.
"Aku akan memakainya sekarang," kata Namgil dan setelah ia selesai memakai jam tangan itu, ia mengecup keningku dengan lembut sambil berkata, "terima kasih. Aku suka hadiahnya dan akan menyimpannya dengan baik." Aku membalasnya dengan tersenyum sekedarnya. "Cieeee... Yang sudah berani mengecup kening!" ledek Jiwon sambil menyenggol bahu Namgil yang hanya terkekeh. Tapi wajah Jiwon mendadak berubah datar saat ia melihat Sooyun yang cemberut dan Daehyun yang murka. "Astaga! Aku lupa, anak itu juga di sini!" kata Jiwon dalam hati. Jiwon pun kembali duduk di samping Sooyun, "kenapa kau cemberut?" tanyanya pada pacarnya itu. "Bukan urusanmu!" sahut Sooyun ketus.
"Jangan katakan, kau cemburu karena aku menggoda Namgil! Apa perlu aku juga menggodamu?" kata Jiwon seraya mulai mencium pipi Sooyun. Bahkan tanpa malu bibir mungil tebalnya turun ke bibir pacarnya itu dan Sooyun hanya membalasnya. "Apa yang mereka lakukan?" ucapku pelan seraya mengalihkan pandanganku dan bersembunyi di belakang punggung Namgil yang saat itu menuntunku ke kursi. "Jangan pedulikan mereka! Mereka sudah biasa seperti itu, sampai-sampai aku sudah muak melihatnya," jawab Namgil sambil menuntunku duduk di bagian ujung kursi.
Posisi saat itu dari kanan ke kiri, ada aku, Namgil, Jiwon, Sooyun, gadis yang tidak aku kenal itu, yang menurutku mungkin pacar Daehyun, dan Daehyun sendiri, yang sejak tadi sesekali diam-diam melirikku. "Sayang, apa kau mau karaoke bersamaku?" tanya Namgil dan kami pun memilih lagu bersama dan mulai bernyanyi bersama, tapi aku benar-benar tidak bisa konsentrasi karena 4 makhluk di samping kami ini. Terlebih fokusku benar-benar terganggu dengan Daehyun yang mulai berciuman dengan gadis asing itu. Bahkan terang-terangan menatap ke arahku saat ia melakukannya. "Seharusnya, aku yang mengajarimu dunia! Siapa lagi yang berani mendahuluiku? Apa Namgil lagi yang melakukannya? Tidak! Tidak mungkin si bodoh itu! Jangan katakan, kalau kau hanya berpura-pura polos di depanku, Lee Hana!" pikir Daehyun.
Karena risih melihat mereka, aku menjadi gelisah sendiri. "Ada apa?" tanya Namgil. Aku hanya diam sambil menyesal dalam hati, "kalau saja aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan datang ke sini," gumamku. Namgil yang hanya samar-samar mendengarnya, melirik ke arah mereka berempat, "Jangan dilihat! Biarkan saja mereka," ucapnya seraya menutup kedua mataku dengan tangannya. Deg! Tiba-tiba Namgil sendiri jadi terfokus pada bibirku. Dengan perlahan, Namgil mencoba menciumku lagi. "Ah! Daehyun, sakit!" pekik gadis itu yang membuat kami semua menoleh ke arahnya, begitu pula Namgil yang melepaskan tangannya.
"Ada apa?" tanya Sooyun. "Daehyun, mencubitku!" adu gadis itu manja sambil mengelus pinggangnya. "Hei, Daehyun! Apa yang kau lakukan?" tanya Jiwon. "Aku hanya gemas saja!" sahut Daehyun tanpa mengalihkan tatapannya dariku. Rasa kesal di hati Daehyun semakin merasukinya. Daehyun meminta gadis yang dibawanya itu duduk di pangkuannya dan kembali mencium bibir gadis itu. Daehyun menatapku, memastikan kalau aku melihat aksinya. Aku tersentak sekaligus langsung berdiri sambil menutupi leherku sendiri saat melihat Daehyun yang menjilat leher gadis itu sambil menatapku nakal. Bahkan tangannya berani menyusup ke dalam baju gadis itu. "Ada apa lagi?" tanya Sooyun sambil menatap tidak suka padaku yang mengganggu aktivitas mesranya dengan Jiwon. "Aku mau ke kamar kecil," sahutku sambil terburu-buru pergi. "Ada apa dengannya?" tanya Jiwon pada Namgil. "Apa lagi? Ini pasti gara-gara kalian yang membuatnya tidak nyaman. Kenapa kalian tidak pindah tempat saja?" sahut Namgil dengan wajah kesal.
***
Di kamar mandi, aku berulang kali membasuh wajahku. "Gila! Mereka gila! Apalagi si brengsek itu! Apa yang dia lakukan? Bukankah tadi dia sengaja melakukannya di depanku seperti itu?" pikirku seraya bergidik ngeri. Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka. Gadis yang bersama Daehyun tadi masuk menghampiriku. "Hai, kau sudah selesai?" sapanya ramah. Aku hanya berusaha tersenyum kikuk membalasnya. Sesampainya di depan cermin, gadis itu memperhatikan wajahnya, lalu mengoleskan lipstik di bibirnya. "Apa kau mau?" tanyanya seraya menyodorkan lipstiknya padaku. Aku menggeleng.
"Apa yang aku lakukan di sini? Kenapa aku jadi memperhatikannya," pikirku seraya berniat meninggalkan gadis itu, tapi gadis itu malah mengikutiku dan berjalan di sampingku. Langkahku tertahan saat gadis itu tiba-tiba mengulurkan tangannya sambil berkata, "Aku Bitna. Siapa namamu?" Gadis cantik itu tampak tersenyum ramah padaku. "Hana," balasku seraya menyambut tangannya. Bitna kembali tersenyum, "ternyata Namgil pintar mencari pacar," katanya. "Pacar?" ucapku tertahan saat ingat kalau besok aku harus putus dari Namgil. "Aku jadi merasa tidak enak!" pikirku.
"Iya. Bukankah kau pacar Namgil?" sahut Bitna sambil dengan manja menggandeng tanganku dan aku hanya tersenyum kecil menanggapinya sambil membalasnya "dan kau pacar Daehyun, bukan?" Bitna tersenyum, "Bukan. Daehyun bukan pacarku," jawabnya santai dan membuatku seketika berhenti. "Kau bukan pacarnya?" tanyaku tidak percaya, terlebih dengan semua yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. "Kalian tidak pacaran?" tanyaku lagi. Bitna tertawa melihat reaksiku yang menurutnya imut. "Tidak," jawab Bitna lagi. "Tapi tadi..." ucapku seraya menunjukan jariku ke kiri ke kanan dengan wajah bingung dan membuat Bitna tertawa renyah.
"Hmm... Apa, ya? Kami hanya teman. Ya, hanya teman dekat, mungkin! Jadi, ini hanya hubungan saling membutuhkan," kata Bitna. "Apa?" ucapku yang semakin bingung mendengarnya. "Sepertinya, kau belum mengenal Daehyun," sahut Bitna. "Bocah itu hanya main-main. Sejak Daehyun tahu kalau dia mempunyai tunangan yang harus dia nikahi nanti, dia tidak mau ada komitmen "pacaran" dengan gadis mana pun. Tapi kalau gadis itu bersedia menjalaninya tanpa komitmen, dia akan menerimanya dengan senang hati. Seperti aku!" kata Bitna santai. Aku ternganga mendengar penjelasannya, "mereka benar-benar tidak normal!" pikirku. "Astaga! Ponselku tertinggal," kata Bitna yang tiba-tiba berlari kembali ke arah kamar kecil. Aku pun tidak memperdulikannya dan kembali ke ruangan.
Sebelum masuk, aku melihat Daehyun dan Sooyun berciuman di dalam ruangan kami, sedangkan Namgil malah asyik memainkan ponselnya. "Apa yang mereka lakukan!" pikirku seraya mengurungkan niatku untuk masuk. "Ada apa? Kenapa tidak jadi masuk?" tanya Jiwon yang tiba-tiba berdiri di belakangku dan berniat membuka pintu. Aku langsung mencegahnya dan menariknya menjauh dari pintu. "Tunggu! Jangan masuk dulu!" kataku dengan wajah memelas. Jiwon yang bingung, melirik sekilas ke arah pintu yang sebagian terbuat dari kaca, lalu tersenyum seolah mengerti maksudku. "Aku lapar, mau menemaniku ke cafe depan?" tanyanya seraya mendahuluiku.
"Ayo! Mau ikut, tidak?" ajak Jiwon sekali lagi. Aku pun menyusulnya daripada aku harus kembali melihat adegan vulgar itu di dalam. Kami pun memilih mengobrol di cafe itu sambil menunggu minuman dan makanan yang kami pesan selesai dibuat. "Bagaimana bisa mereka berdua seperti itu?" gumamku tak habis pikir yang terdengar oleh Jiwon. "Daehyun dan Sooyun, maksudmu?" tanya Jiwon seraya terkekeh. Aku tersentak, "hah? Apanya? Aku tidak bicara apa-apa," sahutku gelagapan karena merasa tak enak hati.
Jiwon terdiam melihat reaksiku yang masih berusaha menutupinya darinya, padahal ia sendiri sudah melihatnya. Lalu ia pun tersenyum sambil mengacak rambutku sambil berkata, "jangan bohong! Aku juga melihatnya, kok!" Aku membulatkan mataku, "Kau melihatnya? Dan kau tidak apa-apa?" ucapku tak percaya. "Astaga! Lucunya bayi cantik ini!" ucap Jiwon seraya mencubit kedua pipiku gemas. "Ah, lepaskan!" ucapku seraya menarik tangannya. Jiwon tersenyum, lalu berkata, "tidak apa-apa. Aku sudah tahu kalau Sooyun hanya mendekatiku untuk dua orang itu," sambil menurunkan pandangannya ke arah lantai.
"Kalau itu Daehyun, aku tidak bisa apa-apa. Lagipula, siapa yang bisa menolak wajah sialannya itu? Bukankah cukup melihat wajahnya saja, gadis-gadis akan mendaftar jadi pacarnya?" kata Jiwon pelan tertunduk. "Maaf..." ucapku yang seolah merasakan sakit yang Jiwon rasa. Jiwon kembali memandangku, "untuk apa kau minta maaf? Memangnya, kau yang mempermainkanku?" tanyanya seraya memukul pelan kepalaku. "Hei! Kenapa kau memukulku?" rengekku dengan wajah cemberut. "Apa kau marah? Sini, balas pukul aku, kalau berani!" ledeknya seraya tertawa sampai matanya menyipit. Aku pun membalasnya dengan memukul lengannya.
***
Sementara itu, di tempat lain, Yongju akan tampil mengisi sebuah acara penghargaan. Rapper itu tampak mondar-mandir di ruang tunggunya. "Jam berapa sekarang?" tanya Yongju dengan cemas pada manajernya. "Tenanglah! Setelah ini, giliranmu tampil. Memangnya, ada apa denganmu? Kenapa dari tadi gelisah?" sahut sang manajer. "Aish, kenapa lama sekali!" bentak Yongju seraya kembali duduk di kursi riasnya. "Kenapa Hana belum menghubungiku sampai sekarang? Apa yang kau lakukan di sana? Sial, membuatku cemas saja!" gerutunya seraya kembali menghubungi ponselku yang tertinggal di dalam ruangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments