Setelah semua mahasiswa kembali memasuki aula hotel, kini giliran Andin yang memimpin rapat.
"Teman-teman, kita ini tidak terlahir dari batu akik. Gue daritadi tidak mendengar ada yang mengusulkan untuk meminta pertolongan dari Bokap dan Nyokap kita. Why?" Ujar Andin menatap dingin semua temannya.
Semua mahasiswa akhirnya menyadari maksud dari perkataan Andin, lalu semuanya mulai menghubungi keluarganya masing-masing.
Dari semua mahasiswa yang menghubungi keluarganya, ada tiga mahasiswi yang menundukkan wajah.
"Tiwi, Intan, Vani. Kalian kenapa?" Tanya Andin lalu menghampiri ketiganya.
"Andin, kami bertiga berasal dari Yayasan, untuk bisa ikut acara kelulusan ini kami harus menabung dari pekerjaan paruh waktu selama kuliah. Harus ke mana lagi kami meminta bantuan?" Ucap Tiwi sambil terisak sedih.
Andin tersenyum mendengarnya, ia lalu melirik ke arah Gavin.
"Vin, ada jatah buat empat orang kan? Prioritaskan ketiganya" tanya Andin.
"Baik Din, gue setuju" jawab Gavin tanpa pikir panjang.
Ia langsung melirik ke arah teman-teman yang lainnya.
"Apakah di antara kalian semua ada yang keberatan gue ngasih jatah tiket kepada Tiwi, Intan dan Vani?" Tanya Gavin lantang.
Tidak ada satu pun mahasiswa yang merasa keberatan, semuanya setuju jatah tiket diberikan kepada tiga mahasiswi.
"Baiklah, deal!" Ucap Gavin memutuskan.
Tiwi, Intan dan Vani langsung gembira mendengarnya, ketiga gadis itu saling berpelukan.
Beberapa waktu kemudian, belasan mahasiswa langsung melaporkan kepada Andin dan Gavin bahwa mereka akan ditransfer oleh keluarganya.
Gavin langsung mendata kembali memastikan semua mahasiswa bisa kembali pulang.
"Ok, jumlahnya sudah pas"
"Syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang maha esa, akhirnya masalah ini bisa teratasi" ucap Gavin merasa lega.
Semua mahasiswa memberikan applaus lalu rapat secara resmi dibubarkan oleh Gavin.
Setelah semua mahasiswa kembali ke kamarnya masing-masing. Gavin, Julio, Andin dan Angel masih duduk di ruang rapat aula hotel.
"Vin, sejak kapan loe sadar ketidakhadiran Marsya dan Antoine di tengah kita?" Tanya Andin.
"Sejujurnya, gue baru tahu tadi. Yang gue herankan kenapa tidak ada di antara kita yang menyadari sebelumnya?" Jawab Gavin masih begitu heran.
"Itulah masalahnya, sejak keributan keduanya di bandara tempo hari, liburan kita selalu saja mendapat rintangan setiap harinya" imbuh Gavin begitu serius mengatakannya.
"Lalu apa yang harus kita katakan apabila keluarganya menanyakan?" Tanya Andin.
"Nah, kenapa kita tidak mencoba menanyakan langsung kepada keluarganya? Siapa tahu keduanya sudah pulang tanpa pamit"
"Benar juga loe Vin. Tapi siapa yang punya kontak keluarganya?"
"Ini abad digital, kita tinggal cek akun medsosnya, pasti ada akun keluarganya di sana"
"Ok, biar gue saja yang nyari" potong Julio menawarkan diri.
"Sial, akunnya terkunci" rutuk Julio setelah menelusuri akun keduanya.
"Lalu bagaimana?"
"Sudah tidak perlu memaksakan, besok kita bagi tugas. Gue sama Julio ke konter pesawat beli tiket, loe sama Angel ke kantor polisi melaporkan kehilangan Marsya dan Antoine"
"Ok, gue setuju. Kalau gitu gue balik ke kamar"
Keempat mahasiswa langsung keluar meninggalkan ruang rapat, baru saja keempatnya akan memasuki kamar, suasana hotel tampak begitu hening.
"Vin, tumben sepi begini" ucap Julio memperhatikan sekitarnya.
"Mungkin sudah larut, sebaiknya kita cepat masuk" balas Gavin lalu membuka pintu.
Di kamar lainnya, Andin dan Angel mengetuk pintu kamarnya.
"Vio, Clara kalian belum tidur kan? Cepatlah buka, kami berdua menggigil kedinginan, anginnya sangat kencang" ujar Andin sambil terus mengetuk pintu.
Berkali-kali keduanya mengetuk pintu dan memanggil dengan cukup keras, namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar.
"Din, gimana ini?" Tanya Angel begitu cemas.
"Tenanglah, gue coba telpon keduanya" jawab Andin yang tampak masih tenang.
"Sialan, hape keduanya tidak aktiv" rutuk Andin mulai kesal.
"Kita ketuk kamar gadis lainnya, siapa tahu ada yang masih belum tidur" imbuh Andin lalu menarik tangan Angel ke kamar sebelahnya.
Sudah tiga kamar yang ia tahu ditempati oleh para mahasiswi diketuk dan dipanggilnya, namun tidak ada satu pun yang menyahuti keduanya.
Tampak Andin dan Angel begitu cemas, butiran keringat mulai membasahi wajah keduanya kontras dengan hawa dingin dari terpaan angin malam.
"Angel, kita tidak punya pilihan. Apa loe percaya sama Gavin dan Julio?" Ucap Andin menanyakannya.
"Maksud loe Din?" Tanya balik Angel belum memahaminya.
"Kita tidur dengan keduanya" jawab Andin.
Angel tampak begitu bimbang, namun kondisi malam itu sangatlah menyeramkan untuk keduanya.
"Ya sudah, tapi gue milih tidak tidur daripada terjadi sesuatu yang buruk dengan kita" ucap Angel terpaksa menyetujuinya.
Keduanya lalu bergegas ke kamar yang ditempati oleh Gavin dan Julio.
Tok, tok, tok!
"Vin, loe belum tidur kan?" Tanya Andin dari luar.
Di dalam kamar, Julio sedang berbaring sambil memakai handsfree-nya, sedangkan Gavin sedang bertelor di kamar kecil, namun ia mendengar suara ketukan pintu di luarnya.
Dengan terburu-buru ia menyelesaikan hajatnya lalu bergegas menghampirinya.
"Siapa di luar?" Tanya Gavin sedikit keras.
"Vin, ini gue Andin sama Angel, di kamar kami penghuninya sudah tidur" sahut Andin tampak lega mengetahui Gavin menyahutinya.
Krak!
Pintu terbuka, Gavin menatap heran kedua gadis yang begitu pucat dan berkeringat dingin.
"Kalian kenapa?" Tanya Gavin merasa iba.
Andin dan Angel langsung saja memasuki kamar Gavin dan menutup pintu. Tampak keduanya menghembuskan napas lega.
"Si Vio sama si Clara sudah tidur, sumpah gue takut di luar" ucap Andin baru menjawabnya.
"Kan di sebelahnya ada kamar para gadis, kenapa kalian ke sini?"
"Vin, gue gak mungkin langsung ke kamar loe dengan sengaja. Ini karena mendesak, gue udah coba berkali-kali memanggil kamar yang lainnya, tapi nihil. Tidak ada satu pun yang menyahuti kami" jawab Andin menjelaskannya.
Gavin tampak bingung dengan keberadaan kedua cewek di kamarnya. Ia melirik Julio yang sudah tertidur pulas.
"Din, loe tahu kan resiko yang bakal gue sama Julio alami ketika besok teman-teman kita mengetahui kalau kalian berdua tidur bareng di kamar ini"
"Bagaimana kalau loe sama Julio tidur di luar, biar gue sama Clara tidur di dalam"
"Gila loe Din, loe pikir gue sama Julio gak takut apa tidur di luar. Enak saja loe kalau ngomong"
"Loe lihat tuh Julio, dia sudah mendengkur daritadi, mana tega gue bangunin dia" imbuh Gavin berkelit.
"Yaelah loe jadi cowok gak mau berkorban gitu buat kita"
"Andin, sorry ya, sorry banget. Ini kamar gue sama Julio. Jadi loe berdua silakan tidur di luar"
Andin tidak mau kalah, ia langsung mencium Gavin. Angel yang berada di sebelahnya tertegun melihat tingkah sahabatnya lalu membalikkan badan.
Setelah cukup lama, Andin langsung melepaskan ciumannya, ia tersenyum lembut sambil memelas meminta Gavin mengalah padanya.
Ditatap seperti itu membuat Gavin menjadi serba salah, apalagi dengan sesuatu yang mengejutkannya. Ia lalu mengelus dagu memikirkannya.
"Gini aja deh, gue sama Julio tidur di bawah, kalian berdua bisa tidur di kasur. Urusan anak-anak biar gue yang tanganin. Kita sudah dewasa, gue siap menanggung konsekuensinya" ujar Gavin menyarankan.
Andin langsung melirik Angel yang masih membelakanginya.
"Angel, gimana?" Tanya Andin.
Angel langsung berbalik meliriknya, ia tidak punya pilihan selain menganggukinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments