Clara dan beberapa teman kampusnya sudah tiba di depan kamar bernomor 381, para mahasiswa langsung menggedor-gedor pintu kamar.
"Vio! Vio!" Panggil para mahasiswa tanpa henti.
Violetta yang mendengarnya langsung memunggungi pintu dengan menutup kedua matanya, ia tidak berani melihat apa pun di dalam kamar.
Krak!
Pintu terbuka keluar, seorang gadis yang begitu berkeringat langsung meluruh memeluk sahabatnya Clara.
"Vio, kamu tidak apa-apa?" Tanya Clara begitu mencemaskannya.
"Aku takut, Clara"
"Tenanglah, kita akan pindah ke lantai satu bersama yang lainnya" ucap Clara menenangkannya.
Di belakangnya, Andin menyentuh bahu Violetta dengan lembut.
"Vio, gue sama anak-anak akan ke kamar yang lainnya, loe sama Clara bisa langsung turun ke lantai satu" ujarnya lalu berjalan ke kamar lainnya.
"Thank you, Din" balas Vio lalu melepaskan pelukannya dan keduanya berjalan menuruni tangga.
Pukul 2 dini hari, Violetta masih duduk di kasurnya dengan menyandarkan kepala di sandaran ranjang.
Clara yang terbangun karena kebelet ingin buang air menatapnya heran.
"Vio, kenapa kau tidak tidur?" Tanya Clara.
"Tidak apa-apa, aku belum ngantuk" jawabnya dilanjutkan dengan tersenyum simpul menatap sahabatnya.
"Sebentar! Aku buang air kecil dulu" balas Clara langsung beranjak ke kamar kecil.
Setelahnya Clara menemani Violetta berbincang sambil mengusapi kepala sahabatnya yang bersandar di pangkuannya agar bisa merasakan kantuk.
"Vio, sepertinya kamu harus membuka hati untuk pria yang bisa membuatmu merasa terlindungi. Kita tidak bisa terus membohongi diri kita yang sebenarnya membutuhkan sandaran seorang pria" ujar Clara menyarankannya.
"Tapi pria sekarang memperlakukan seorang perempuan laiknya seorang istri tanpa nafkah, mereka hanya mencari kepuasan ragawi saja. Aku tidak menyukai hal seperti itu, kita sebagai cewek harus bisa menjaga kehormatan yang hanya dimiliki satu kali dalam hidup, lihatlah teman-teman kita yang melakukan hubungan suami istri sebelum nikah. Apakah mereka bahagia? Bullshit kalau ada yang mengatakannya.
Aku lebih baik pacaran dengan seorang pria yang tidak bisa menyentuhku" balas Violetta menanggapi saran sahabatnya.
"Apa kamu mau pacaran sama hantu?" Tanya Clara.
"Ya, asal tampan seperti Lee Min Ho bukan seperti So Lee Hin" jawab Violetta sambil terkekeh.
"Awas loh nanti mas So Lee Hin nyamperin lagi seperti waktu di bus" timpal Clara membuat keduanya tertawa-tawa di waktu yang tidak tepat.
Tok, tok, tok!
Keduanya saling tatap mendengar ketukan di pintu yang membuat keduanya langsung berdiri bulu kuduknya, saking takutnya Violetta dan Clara menyembunyikan wajah dengan bantal lalu tertidur dalam ketakutan di waktu subuh menjelang pagi.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Violetta mengalami mimpi yang begitu indah. Dalam mimpinya, Violetta duduk sendirian di sebuah kursi putih dengan meja bundar di depannya, ia memperhatikan teman-teman kampusnya bergandengan tangan berjalan begitu mesra dengan pasangannya masing-masing.
Violetta yang tidak memiliki pasangan kemudian membakar sebatang rokok di tangannya, ia menjadikan rokok sebagai pasangannya.
Dari arah belakangnya, seorang pria bersinglet putih dan memakai celana pendek menghampirinya.
Pria itu tiba-tiba saja mengambil rokok di kedua jari tangan Violetta lalu membuangnya.
Violetta sedikit terkejut dengannya, ia langsung menatap dingin dan mengerutkan bibir kepada soerang pria yang langsung duduk di depannya lalu melepas kacamata hitamnya.
Wajahnya terlihat begitu tampan dengan sorot mata yang tajam seperti mata elang, ia terlihat semakin keren dengan gaya rambut two blocks yaitu perpaduan antara undercut dan french crop. Model yang terlihat layaknya artis KPop.
Inilah pertama kalinya Violetta tertarik akan seorang pria. Raut wajah yang tadinya cemberut langsung berubah menampilkan ukiran senyum terbaik dari bibirnya yang tipis.
Kedua insan saling memandang seakan waktu berhenti di sekitarnya. Tak lama kemudian si pria mengusap lembut wajah Violetta yang terus tersenyum menatapnya.
"Jangan kau jadikan sesuatu yang merusak tubuhmu sebagai teman" ucap si pria dengan tegas.
Violetta tersadar dari lamunannya, ia kembali ke tatapan dinginnya.
"Yang aku lakukan memang salah tapi bukan berarti dirimu itu benar, kau tidak seharusnya langsung melemparkan sebatang rokok yang masih menyala ke mana pun yang kau suka. Ada asbak untuk mematikannya dan ada tong sampah untuk membuangnya. Kau harus belajar meletakkan sesuatu sesuai tempatnya" balas Violetta tidak ingin kalah.
Pria tampan di depannya hanya bisa menggaruk kepalanya mendengarkan gadis cantik di depannya melakukan serangan balik.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu, apa kau ingin menemaniku menikmati sinar mentari yang sebentar lagi akan terbenam" ucapnya menawarkan.
Entah apa yang merasuki Violetta, ia langsung saja menyetujuinya lalu berdiri mengikutinya. Pria tampan itu menggenggam jemari tangan halus gadis di sampingnya.
Jantungnya berdetak begitu cepat dengan keringat dingin mulai bercucuran keluar dari pori-pori kulitnya dan napas yang begitu sesak dirasakannya.
Pria di sampingnya merasakan kegugupan sang gadis, dalam senyuman ia semakin erat menggenggam jemari tangan sang gadis lalu membawanya berjalan menyusuri bibir pantai.
Keduanya menghentikan langkah di sebuah pohon kelapa yang melengkung kemudian duduk bersama di bawahnya. Posisi Violetta berada di depan pria tampan yang menyandarkan punggungnya pada batang pohon kelapa.
Keduanya begitu menikmati senja sambil menantikan matahari terbenam di ufuk barat.
Violetta menyandarkan tubuhnya di dada bidang si pria yang melindunginya dari angin laut yang begitu kencang menerpa.
Lama keduanya terdiam menatap lautan, Violetta akhirnya memulai percakapan.
"Siapa namamu dan dari mana asalmu?" Tanya Violetta belum mengenalnya.
"Kau bisa memanggilku Valen, aku berasal dari perut ibuku" jawab pria tampan menyebutkan nama.
"Aku tahu semua orang lahir dari perut ibunya, jangan jadi pria menyebalkan. Jawablah maksud pertanyaanku" timpal Violetta sedikit kesal, namun ia tidak menolak kedua tangan kekar pria tampan merangkulnya.
"Aku berasal dari wilayah selatan Negeri tercinta ini" balas si pria.
"Huh! Indonesia hanya memiliki tiga wilayah, yaitu bagian barat, tengah dan timur. Berhentilah mengada-ada, Ferguso. Mana ada wilayah selatan" dengus Violetta begitu kesal mendengar ucapan Valen.
"Namaku Valentino, bukan Ferguso. Sekarang siapa yang mengada-ada?" Tanya Valen tidak mau kalah.
"Dasar pria kurang update, makanya sering-sering lihat trending topic di aplikasi burung biru" gerutu Violetta.
"Aku tidak butuh aplikasi apa pun, ada kamu yang tahu segalanya. Itu cukup untukku" ucap Valentino.
Violetta menepuk keningnya sambil geleng-geleng kepala.
"Apa kau menyukaiku?" Tanya Violetta.
"Ya, aku sangat menyukaimu" jawab Valentino cepat.
"Apa alasanmu menyukaiku? jangan katakan karena aku cantik, kecantikanku akan pudar seiring waktu. Aku tidak ingin mendengarnya" Tanya kembali Violetta.
Valentino tersenyum mendengarnya, ia mendekap gadis di depannya dengan erat sebelum menjawabnya.
"Lihatlah keindahan alam ini, bagiku semua keindahannya tidaklah cukup untuk menggambarkan dirimu. Kaulah keindahan sebenarnya" ucap Valentino lalu menghilang pergi meninggalkannya.
"Kau sama saja seperti pria lainnya yang begitu gombal untuk menjerat hati wanita, tapi bagiku dirimu adalah pengecualian" balas Violetta kembali menyandarkan tubuhnya.
"Aduh!" Kaget Violetta terjatuh ke belakang menimpa batang pohon kelapa.
"Valen, kamu di mana?" Tanya Violetta tidak melihatnya.
Violetta langsung berdiri dari tempatnya, ia terus memutar tubuhnya mencari Valentino yang menghilang seperti ditelan bumi.
"Valen!" Teriaknya dengan keras memanggil pria tampan yang baru saja membuat hatinya begitu bahagia.
Violetta langsung terduduk menghadap lautan, bulir-bulir air mata menggantung di sudut matanya merasakan kesedihan ditinggal pria yang membuatnya bahagia.
Tiba-tiba saja dari arah depannya, gelombang ombak dengan begitu tinggi menerjang, tampak terlihat di depan mata, orang-orang berlarian ke arahnya.
"Vio!" Teriak Clara memanggilnya.
Violetta yang terperangah tidak sempat menghindari air laut yang menerjangnya, ia kemudian menutup kedua matanya merasakan air laut menghantamnya.
"Ha!" Jeritnya lalu terbangun dari tidurnya.
Ketiga temannya tertawa-tawa melihat dirinya yang melompat di atas kasur setelah disiram air mineral oleh ketiganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments