"Vio, kenapa loe left di semua grup kampus?" Tanya Andin merasa heran.
"Hape gue eror, entah kenapa cuma satu aplikasi saja yang menampilkan notifikasi" jawab Violetta terlihat pasrah.
"Sepertinya loe kena hack orang iseng" ucap Andin menanggapinya.
Semua gadis memasuki kamar yang ditempati Violetta dan Clara.
"Girls, lihat ke jendela!" Pinta Angel yang berdiri menatap jendela.
Violetta dan kedua gadis lainnya langsung menoleh ke arah jendela.
Andin dan Clara langsung terperangah melihat keanehan di luar jendela, sedangkan Violetta tidak menemukan adanya hal janggal yang ia lihat.
"Kenapa kalian terlihat begitu ketakutan? Hei sadarlah, ini masih siang" tegur Violetta yang begitu keheranan.
"Vio, Clara. Kemasi barang kalian sekarang!" Pinta Andin yang langsung membantu keduanya mengemasi barang-barang.
Violetta langsung saja mengikuti Clara memunguti barangnya yang berserakan.
Setelahnya mereka semua langsung bergegas ke luar kamar.
"Pintunya terkunci" ucap Andin terus memutar handel pintu.
Angel nampak ketakutan sampai mengompol, ia merangsek melewati Violetta dan Clara di depannya.
"Gila loe Angel, toilet ada di samping loe. Kenapa loe ngompol di sini?" Rutuk Clara langsung menutup hidungnya.
"Telpon. Cepat telpon Gavin!" Ucap Violetta.
Andin langsung mengeluarkan ponsel di saku celananya.
"Sial! Tidak ada sinyal, Clara loe coba hubungi Gavin" pinta Andin yang kehilangan sinyal.
"Sama, tidak ada sinyal di hape gue" balas Clara.
Keempat gadis langsung berkeringat dingin karena panik, Angel sudah terduduk gemetar di bawah pintu.
"Tenang, tenang. Gue akan berteriak kalau ada orang yang lewat" ucap Violetta lalu mengintip kaca kecil di pintu.
Drett! Drett!
Ponsel Violetta bergetar di atas kasur.
"Vio, hape lu nyala tuh. Sepertinya ada yang menelpon. Cepatlah ambil!" Ucap Clara yang melihatnya.
Vio langsung mengambilnya, tampak ia melihat nomor tak dikenal melakukan panggilan. Tanpa curiga ia langsung mengangkatnya.
"Halo"
"Ssh"
"Hei jawab, jangan kurang ajar ya!"
"Doronglah pintu dengan punggung" ucap suara seorang pria.
"Pintunya ditarik bukan didorong, bego loe" balas Violetta merasa geram.
Tut! Sambungan terputus.
"Sial! Siapa sih yang menelpon?" Rutuknya lalu kembali melangkah ke arah pintu.
"Vio, siapa yang telpon?" Tanya Clara.
"Nomor tak dikenal, masa gue disuruh dorong pintu pake punggung buat keluar, kan pintunya ditarik ke dalam bukannya didorong keluar" jawab Violetta masih kesal.
"Sebaiknya kita ikuti saja ucapannya" potong Andin lalu mendorong pintu dengan punggungnya.
Krak!
Pintu langsung terbuka dengan sendirinya.
"Ayo cepat keluar!" Pinta Andin kepada ketiga temannya.
Keempatnya langsung berlarian ke arah kamar yang ditempati Andin dan Angel.
"Angel, kartunya mana?" Tanya Andin berkali-kali merogoh sakunya.
Angel langsung panik menatap ketiganya,
"Gue simpan di sela jendela kamar tadi" jawabnya sambil gemetar tubuhnya.
"Sial! Bagaimana ini?" Tanggap Andin tak habis pikir.
"Santai girls, biar gue yang mengambilnya" timpal Violetta memberanikan diri.
Ia langsung berlari memasuki kamarnya dengan menekan ketakutan dalam dirinya.
Sampai pada jendela kamarnya, Violetta terkejut melihat langit berubah gelap.
"Hah! Bukannya tadi masih siang" gumamnya merasa aneh dengan langit yang berubah gelap.
Ia langsung memperhatikan kayu jendela tempat kunci kartu disimpan oleh Angel.
"Ketemu" ucapnya lalu berbalik pergi.
"Apa lagi ini?" Kesalnya sambil mendorong-dorong pintu.
Ia baru mengingat caranya, lalu membalikan badan mendorong pintu dengan punggungnya.
Krak!
Pintu langsung terbuka, Violetta berlari ke kamar Andin.
"Hei, kalian di mana?" Teriaknya tidak melihat keberadaan ketiga temannya.
Sebelumnya ketika Violetta memasuki kamar. Clara, Andin dan Angel yang menunggu Violetta dihampiri oleh kedua pria gila.
"Ha ha, kita beruntung, gagal mendapatkan cewek cantik yang kabur melihat kita, sekarang muncul tiga cewek cantik lainnya" ucap seorang pria bertato begitu berbinar kedua matanya melihat ketiga gadis cantik di depannya.
"Jangan kurang ajar kalian" kata Andin yang terus melangkah mundur bersama kedua temannya.
"Tenang saja, kami bukan orang jahat" balas si pria terus mendekatinya.
"Tolong!" Teriak Clara langsung menarik tangan Angel berlarian.
Andin yang ketinggalan langsung ikut berlari meninggalkan kedua pria yang menyeringai menatapnya.
Ketiganya berputar mengelilingi lorong hotel lantai 3, namun kedua pria sudah menunggu ketiganya di tangga.
"Halo sayang, kita bertemu lagi. Kami berdua punya banyak minuman untuk kalian bertiga yang begitu haus setelah berlarian memutari lorong hotel, ikutlah dengan kami yang baik hati ini" ucap pria bertato mengajaknya.
"Maaf, Bang. Tolong lepaskan kami. Kami gadis baik-baik" timpal Andin memelas.
"Lah, kami berdua tidak ada yang menyentuh kalian, apa yang harus kami lepaskan?" Balas si pria dengan tatapan liar melihat ketiga gadis yang begitu ketakutan.
"Mungkin ketiganya minta disentuh, Bang" sambung pria di sebelahnya tak kalah liar menatap ketiga gadis.
"Ha ha, betul juga katamu Sob" timpalnya lalu mulai menggosok-gosokkan telapak tangannya.
"Woi!" Tunjuk seorang pemuda melihat ketiga gadis yang sedang diganggu oleh dua orang pria.
"Kaisar" ucap Angel mengenalinya.
Kaisar dan enam temannya langsung menaiki tangga membantu ketiga gadis.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Kaisar dengan rasa iba melihat ketiga teman kampusnya yang begitu pucat.
"Untung kalian datang tepat waktu" jawab Andin merasa lega.
Kedua pria langsung pergi meninggalkannya.
"Sebaiknya kalian bertiga ikut kami melaporkannya ke Bang Gavin" pinta Kaisar yang diangguki ketiganya.
Para mahasiswa lalu turun ke lantai satu di mana Gavin berada.
Gavin dan Julio yang sedang asyik merokok sambil ngopi di pelataran kamarnya melirik ke arah teman-temannya yang menghampiri.
"Sepertinya ada masalah dengan ketiga gadis" celoteh Julio menduganya.
Gavin dan Julio langsung berdiri menyambutnya.
"Bang Gavin, kami memergoki kedua pria yang sedang mengganggu ketiga teman kita. Sepertinya kedua pria yang terlihat seperti preman itu akan berbuat kotor kepada ketiganya" beber Kaisar melaporkannya.
"Sorry, tadi siang sudah gue coba untuk mengatasinya, tapi ya kalian bisa tanyakan kepada ketiganya" tanggap Gavin yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Begini saja, semua gadis di lantai tiga turun ke lantai satu. Karena kita tidak bisa lagi menambah kamar, jadi mau tidak mau kita bertumpuk disetiap kamar. Bagaimana menurut kalian?" Imbuh Gavin menawarkan ide.
Semua mahasiswa saling melirik dan mengangguk menyetujuinya.
"Baiklah kalau begitu, kalian bisa membantu ketiganya membawa barang" ujar Gavin memutuskan.
"Violetta" ucap ketiga gadis dengan serentak baru mengingatnya.
"Cepatlah, sebelum kedua pria itu melakukan kejahatannya" ujar Andin langsung berlari kembali ke lantai tiga.
Teman-teman lainnya langsung berlari mengikutinya.
Violetta yang melihat kedatangan dua pria langsung kembali memasuki kamarnya. Walaupun takut, ia masih berdiri menunggu teman-temannya menjemput.
"Ayolah cepat, aku sudah menggigil ketakutan" gumamnya yang tidak berani menoleh ke belakang.
Bruk! Bruk!
Langit-langit di kamarnya berjatuhan.
Violetta semakin merinding mendengarnya, ia sama sekali tidak mau menolehnya.
Wuzz!
Angin kencang menerpanya dari jendela kamar yang terbuka dengan sendirinya, tv yang tidak pernah dinyalakannya pun langsung mengeluarkan suara keras yang membuat Violetta harus menutup kedua telinganya.
Dhuar!
Terdengar sesuatu yang jatuh dari dalam kamarnya.
Violetta merasakan jantungnya berdetak cepat, wajahnya begitu pucat. Ia tidak tahu harus berbuat apa, keluar beresiko diperkosa kedua pria, berada di dalam harus kuat mengalami gangguan yang membuatnya begitu merinding.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments