"Kalian!" Geram Violetta menatap ketiga temannya dengan tatapan ingin mencabiknya.
Namun ketiga temannya tidak merasa takut sama sekali, mereka malah semakin keras tertawa.
Violetta langsung melemparkan bantal ke arah ketiganya yang masih tertawa lalu terjadilah perang bantal di dalam kamar hotel.
"Girls, pantai di kota ini sangat indah loh. Lihatlah pemandangannya! Bagaimana kalau kita pergi ke pantai? Hari ini kan kita masih bebas bermain sampai Bang Javier kembali pulang dari rumah sakit" tawar Andin menunjukkan layar laptopnya.
Ketiga gadis langsung memperhatikan layar yang menampilkan gambar pemandangan pantai yang sangat indah.
"Gue setuju" jawab Angel begitu antusias.
Clara langsung melirik Violetta yang melamun memikirkan sosok pria dalam mimpinya.
"Vio, Woi!" Panggil Clara meneriakinya.
Violetta lalu menatapnya dengan tatapan berbinar.
"Come on girl, lets check the waves" ucapnya yang ditanggapi dengan lidah yang menjulur dan mata yang memicing dari Clara.
"Eh, sebentar. Kita ke sana naik apa?" Tanya Angel ingin tahu.
"Naik mobil rental, tadi pagi gue udah private chat Bang Gavin soal mobil. Katanya sudah dibookingkan beberapa mobil untuk kita semua, jadi tinggal ambil kunci saja" jawab Andin menjelaskan.
"Bagus deh, by the way apa kalian tidak mencium bau asem dari tubuh yang belum mandi? Siapa ya?" Timpal Angel sambil menutupi hidungnya menyindir Violetta yang langsung mengerut bibirnya.
Andin dan Clara langsung melirik Violetta dengan menutup hidung.
"Asem loe semua, udah ah, gue mau mandi sambil luluran" ucap Violetta lalu melangkah ke kamar kecil.
Sejam kemudian, Violetta keluar dari kamar kecil sambil menyanyikan lagu dari salah satu penyanyi barat.
Ketiga temannya menyilangkan tangan di dada melihat Violetta yang tanpa dosa baru selesai mandi.
"Dasar bule gila! Loe mandi atau nguras air?" Gerutu Angel melihatnya.
Violetta cengengesan saja melihat raut wajah sebal ketiga temannya.
"Aje gile, kalian bertiga mau ke pantai atau mau show? Kece betul dandanannya" ledek Violetta langsung memilah pakaian di kopernya.
"Wanjir girls! Gue lupa bawa bikini" celetuknya terus mencari-cari pakaiannya.
"Hah! Lo mau mandi di pantai?" Tanya Andin heran.
Violetta langsung meliriknya dengan heran.
"Lah, memangnya kalian ke pantai mau ngapain? Nyari kumang!" Tanya balik Violetta.
"Si Vio kan gak punya cowok, biarkan saja dia berenang. Siapa tahu ada cowok yang menggodanya." bisik Angel ke telinga Andin.
"Ngomong yang jelas, gak perlu bisik-bisik segala. Belum pernah ditabok cewek cantik loe ya" ucap Violetta sambil meniupi kepalan tangannya.
"Sudah, nggak perlu ribut. Dah siang nih, teman-teman lainnya sudah menunggu di luar. Gue tunggu 15 menit buat loe dandan" Ucap Andin melerainya.
Ketiga gadis langsung keluar kamar meninggalkan Violetta yang masih terbalut handuk.
"Clara, loe jangan pergi, tunggu gue di sini" pinta Violetta menahan sahabatnya.
Clara mengacuhkannya lalu menutup pintu dengan mengedipkan mata ke arah Violetta.
"Sialan! Mana cukup 15 menit buat gue dandan" rutuknya lalu dengan diburu waktu ia asal comot pakaiannya.
"Vio, cepat!" Panggil Andin di luar.
"Bentar" sahutnya dari dalam.
Violetta hanya sesempatnya saja merias diri dengan minimalis.
"Come on, girls" ajak Violetta yang baru saja keluar dari kamar.
"Wow, ternyata semuanya ikut kita ke pantai juga" imbuh Violetta memperhatikan teman-teman kampusnya yang sudah begitu siap untuk berangkat.
"Ke mana aja loe Vio? Makanya punya handphone tuh dipake. Baca dong semua pesan di grup" timpal Angel menanggapinya.
"Diem loe, ulekan sambal" balas Vio.
"Sudah, jangan ribut terus" potong Andin melerai keduanya.
Grung! Grung!
Tiga motor memasuki pelataran hotel dengan begitu gaya melakukan jumping.
"Jir, dikira kita nyamuk apa ya, sampai difogging segala" ucap Clara sambil menutupi hidungnya terkena kepulan asap dari ketiga motor.
Ketika semua mahasiswa memakai mobil untuk pergi ke pantai, tiga mahasiswi cantik yang terkenal dengan sebutan Pistonladies menyewa motor RX Queen sebagai kendaraannya. Ketiganya yaitu Santi Putri Bapak Ucup sebagai ketua geng, Solarina Oxtania dan yang terakhir Chika Dexlite si gadis yang paling imut dari keduanya.
Ketiganya yang akan memimpin perjalanan ke arah pantai Pasir Perak di kota Gaib yang akan ditempuh selama satu jam perjalanan dari lokasi hotel.
Grung! Grung!
Gas motor ketiganya terus dihentakkan dengan kepulan asap tebal dari knalpot racing yang menambah polusi udara sebagai tanda keberangkatan.
Semua mahasiswa langsung menaiki mobil masing-masing.
Andin yang menjadi sopir ketiga sahabatnya langsung menyalakan mesin dan membunyikan klakson memberi tanda bahwa mobilnya sudah siap untuk melaju diikuti mobil lainnya yang menyembunyikan klakson secara bergantian.
Tak lama kemudian, semua mahasiswa dari Universitas Teknologi Semesta melaju beriringan keluar dari hotel.
Tiga motor dan delapan mobil mini bus melaju cepat melintasi jalan perkotaan yang cukup lengang dilalui.
Di dalam mobil yang dikendarai oleh Andin tampak begitu ceria, keempatnya bernyanyi dengan suara yang lantang menikmati perjalanan.
Tiga puluh menit waktu yang ditempuh oleh rombongan mahasiswa, memasuki hutan jati di luar area kota, sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.
Puluhan motor dari belakang rombongan mulai menyalip dan membuat keributan dengan membunyikan klakson dan suara bising knalpotnya.
Tiin, tiin, tiin!
Grung! Grung!
Bunyi klakson dan knalpot saling bersahutan dengan nyaring di tengah hutan membuat semua mahasiswa yang melajukan kendaraan tampak begitu panik.
"Din, jaga jarak pengereman, keselamatan kita lebih penting" ucap Violetta mengingatkannya.
Andin tidak langsung menjawabnya, ia terus saja menatap ke depan memperhatikan ketiga motor temannya.
Bruk! Bruk!
Ketiga motor yang dikendarai oleh Pistonladies terjatuh bergulingan ditendang oleh beberapa pengendara motor.
Ciit!
Ban berdecit dengan keras, Andin yang berada di belakang ketiga motor langsung saja mengerem dengan mendadak.
Tujuh mobil di belakangnya langsung menghantam keras bagian bekakang mobil.
Dhuar! Dhuar!
"Aahh!" Jerit semua mahasiswa di dalam mobil yang saling bertabrakan.
Dugh!
Bemper depan mobil yang dikendarai Andin menabrak sebuah pohon jati. Andin terpaksa membanting setir menghndari ketiga temannya yang terjatuh dari motor.
Untungnya ada dua mobil yang paling belakang selamat dari tabrakan karena jarak rem yang cukup.
Dug! dug! dug!
Dua orang pria berhelm menggedor-gedor kaca mobil yang ditumpangi keempat gadis.
"Turun kalian semua! Serahkan semua harta kalian" teriak seorang pria pembegal memaksanya.
Keempat gadis langsung menunduk tidak mempedulikannya.
Tak lama terdengar perkelahian tidak jauh didekatnya. Seorang pria bermasker dengan liar menyerang puluhan pembegal.
Violetta dan ketiga temannya langsung mengintip dari jendela mobil, keempatnya begitu serius melihat pertarungan seorang pria melawan puluhan pembegal.
Hiaat! Hiaat!
Buk! Buk!
Jeritan, pukulan, tendangan terus teedengar dari arah luar, seorang pria terlihat begitu tangguh memukuli para pembegal.
Beberapa menit kemudian, para pembegal kabur melarikan diri berbalik ke arah kota.
Violetta dan ketiga temannya bernapas lega melihat seorang pria berhasil menyelamatkan semua rombongan.
Keempatnya lalu keluar dari mobil dan berlari menghampiri ketiga gadis yang tergeletak tidak sadarkan diri.
Mahasiswa lainnya pun berlarian mengerumininya.
"Cepat panggil ambulan" pinta Andin yang begitu panik melihat ketiga gadis dipenuhi banyak luka.
Tak lama berselang, tiga mobil ambulan datang menghampiri, Hampir setengahnya mahasiswa dilarikan ke rumah sakit.
"Andin, dan kalian semua lebih baik kalian mengikuti ambulan. Pergilah ke rumah sakit, aku dan beberapa pria akan mengurusi mobil. Setelahnya kami akan menyusul kalian, kabari kami via group" ujar Kaisar lalu memberikan kunci mobil kepada Andin.
"Baiklah, jangan lupa kabari kami juga. Semoga saja semua mobil tercover asuransi" balas Andin lalu berjalan meninggalkan para pria yang menangani masalah di lokasi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments