Dua Pria Pengganggu

Kesal karena tidak bisa tidur, Violetta langsung mengambil smartphone di tas kecilnya.

Ia mengetuk layarnya dua kali untuk melihat notifikasi.

"Ha ha ha bodoh! Pantas saja tidak terdengar notifikasi apa pun, toh masih dalam mode pesawat" kekehnya merasa lucu.

Setelah mematikan mode pesawat, munculah ratusan notifikasi dari satu aplikasi di smartphone-nya.

Violetta merasa heran melihatnya, hanya satu aplikasi yang menampilkan notifikasi.

"Kenapa hanya Telegram saja yang menampilkan notifikasi? Aplikasi lainnya kenapa tidak menampilkannya?" Tanya pikirnya merasa heran.

Violetta lalu membaca pesan dari telegramnya. Namun hanya ada satu akun yang mengiriminya pesan.

"Hem, apa maksudnya?" Gumam Violetta begitu penasaran dengan akun anonim yang mengirim ratusan karakter yang tidak dipahaminya.

Ia lalu mengabaikannya dan mulai mengirim pesan kepada sahabatnya Clara. Namun ia terkejut, tidak ada kontak Clara yang ditemukan. Ia langsung scroll namun tidak satu pun grup yang diikutinya.

"Apa sedang eror nih aplikasi?" Tanya pikirnya.

Ia beralih ke aplikasi kontak, tidak ada nama yang tersimpan. Violetta mulai panik, ia mengotak-atik semua akun media sosialnya.

"Sial!" Kenapa akun gue ke blokir semua" rutuknya begitu kesal. Violetta langsung membantingnya ke atas kasur lalu mengambil air mineral.

Glek, glek, glek!

Sebotol air mineral ditenggaknya lalu menghempaskan tubuhnya kembali ke atas kasur.

"Huh!" Dengusnya merasakan mumet tidak jelas, Violetta kembali bangkit lalu mengambil kunci dan keluar dari kamarnya.

"Hei cantik, sendirian saja nih" ucap seorang pria yang lehernya bertato mendekatinya.

"Maaf Bang, permisi" balas Violetta lalu berbalik untuk kembali ke kamarnya.

"Mau ke mana? Santailah!" Tanya seorang lagi menahan langkahnya.

"Minggir atau aku teriak!" Ancam Violetta merasa risih.

"Ha ha ha, coba saja kalau kau berani" tantang kedua pria begitu terkekeh melihat ketakutan Violetta.

Kedua pria mulai menatapnya dengan pikiran kotor sambil terus memojokan Violetta ke dinding.

"Kenapa sayang? Kau tidak berani berteriak atau kau sebenarnya menginginkan hal lain dengan kami" ucap pria berusia tiga puluhan mulai melecehkannya secara verbal.

"Mati lebih baik daripada aku dinodai" gumam batin Violetta lalu berteriak.

"Tolooong!" Jeritnya lalu disekap mulutnya dengan kasar oleh seorang pria di depannya.

Violetta meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari sekapan kedua pria yang mencoba memperkosanya.

Sreet! Sreet!

Leher kedua pria terkelupas menganga terkena sabetan benda tajam.

Pupil mata Violetta melebar melihatnya, cipratan darah mengotori wajahnya. Ia tidak tahu bagaimana bisa kedua pria langsung tertebas dengan mudahnya.

"Haa!" Teriak Violetta terperanjat bangun dari tidurnya.

"Brengsek! Lagi-lagi terulang" umpatnya lalu berjalan ke kamar kecil mencuci wajahnya.

Setelahnya Ia berlalu keluar kamar tanpa menutup pintu, memastikan kalau ada kedua pria yang menghampirinya, ia bisa langsung berlari memasuki kamar.

Violeta memutar melirik ke berbagai arah di lorong hotel mencari keberadaan teman kampusnya namun tidak ada satu pun yang keluar kamar saat itu.

"Hei cantik, sendirian saja nih" ucap seorang pria yang lehernya bertato mendekatinya.

"Dua mayat dengan leher hampis putus datang juga" gumam Violetta langsung berlari masuk ke kamarnya.

Ia mengintip di kaca pintu yang memang dikhususkan untuk melihat keluar.

"Bajingan!" Violetta begitu geram melihat kedua pria memperlihatkan sesuatu yang menjijikan ke arahnya.

Di kamar Andin, Clara yang hampir seharian berada di kamar temannya merasa khawatir dengan kondisi Violetta yang sebelumnya mengalami demam.

"Din, antar gue balik ke kamar, gue khawatir Violetta sudah bangun lalu nyari gue. Kebayang bisa seumur hidup gue gak ditanya olehnya" pinta Clara lalu diantar oleh Andin.

"Andin, masuk!" Pinta Clara yang melihat keberadaan dua pria sakit jiwa di depan kamar yang ditempati Violetta.

"Tuh kan benar, pantas saja gue begitu khawatir" ujar Clara yang kembali memasuki kamar Andin.

"Din, ada apa?" Tanya Angel teman sekamarnya.

"Ada dua cowok gila yang lagi berbuat kurang aja di depan kamar Clara" jawab Andin langsung menelpon seseorang.

"Halo Vin, loe bisa tolongin gue gak?"

"Ada apa Din?"

"Ada dua cowok brengsek pamerin senjatanya di depan kamar Vio"

"Kamar lantai mana dan nomor berapa?"

"Lantai tiga nomor 3-, bentar!"

"381"

"Ok, tunggu! Gue sama Julio naik ke atas sekarang"

Tut, tut! Koneksi terputus.

"Clara, loe tenang saja. Sebentar lagi Gavin sama Julio akan mengatasinya" ucap Andin menenangkannya.

"Thank you, Din. Loe emang terbaik" balas Clara berterima kasih.

Di lorong hotel, Gavin dan Julio yang sudah sampai di lantai tiga langsung melihat kedua pria gila yang dimaksud oleh Andin di teleponnya.

"Itu mereka, ayo kita tegur!" Ajak Gavin yang langsung ditahan langkahnya.

"Vin, tahan dulu! Kita tidak tahu keduanya bawa senjata atau tidak, bahaya kalau kita gegabah" pinta Julio melihat kedua pria tampak seperti preman.

"Benar juga kata loe, kita turun dulu cari security" timpal Gavin lalu keduanya berbalik turun.

Sesampainya di lobby hotel, Gavin dan Julio langsung menghampiri seorang security yang sedang berdiri tegap di pintu utama.

"Lapor, Pak. Ada dua orang gila di lantai tiga sedang berbuat mesum di depan kamar yang ditempati oleh mahasiswi" beber Gavin menjelaskan.

"Baik, kita ke atas sekarang" kata security langsung bergegas bersama keduanya menaiki tangga.

Sampai di lantai dua, ketiganya berpapasan dengan kedua pria yang berbuat mesum.

"Itu Pak, mereka berdua orangnya" tunjuk Julio mengenalinya.

"Salam, Juragan" sapa security begitu sopan melihat kedua pria yang melewatinya.

Gavin dan Julio terperangah melihatnya.

"Sialan! Ada yang tidak beres rupanya" gumam Gavin setelah melihatnya sendiri.

"Kalian jangan asal tuduh, mana mungkin keduanya berbuat mesum. Kalian memnggangguku saja. Minggir!" Bentak security langsung kembali turun.

"Vin, gimana?" Tanya Julio.

"Ya gimana lagi, ayo kita lihat keadaan Vio" jawab Gavin langsung melangkah ke lantai tiga diikuti Julio di belakangnya.

Sampai keduanya di depan pintu kamar nomor 381, Gavin langsung mengetuk pintu.

Tok, tok, tok!

Violetta langsung mengintipnya, melihat kedua teman kampusnya. Ia langsung membukakan pintu.

"Sialan!" Keluh Gavin melihat Violetta yang berpakaian minim.

"Dasar mesum!" Geram Violetta langsung menutup pintu.

Bruk!

Pintu tertutup paksa dibanting oleh Violetta yang langsung berbalik mengganti pakaiannya.

Ia kembali membuka pintu, kini pakaiannya lebih sopan.

"Woi! Bengong saja!" Tegur Violetta menyadarkan keduanya.

"Sorry Vio, gimana keadaan loe?" Tanya Gavin mengkhawatirkannya.

"Seperti yang loe lihat, kalau bisa gue minta pindah ke kamar bawah" jawab Violetta memintanya.

"Ke kamar gue aja Vio, gue rela tidur di lantai asal ada loe" potong Julio penuh harap.

Buk!

"Wadaw!" Kaget Julio terkena bogem dari tangan Violetta.

"Dasar bule gila!" Rutuk Julio lalu mundur menjauhi keduanya.

"Syukurin loe, ha ha ha" kekeh Gavin melihatnya.

Buk!

"Aw!" Jerit Gavin baru saja menoleh ke arah Violetta yang langsung melayangkan pukulannya.

"Vio, apa salah gue sampai loe harus mukul gue juga?" Protes Gavin menahan sakit di wajahnya.

"Loe gak salah, tapi adek loe tuh yang salah. Kaya gak pernah lihat cewek cantik saja kalian berdua. Memalukan!" Timpal Violetta menunjuk perkakas Gavin.

Tiga orang gadis dari arah lainnya tertawa-tawa melihat kedua pria meringis kesakitan. Ketiganya menghampiri Violetta.

Andin melirik kedua pria yang masih meringis menahan sakit di wajah keduanya.

"Makanya kalian jadi cowok jangan kurang ajar" celetuk Andin kembali tertawa melihatnya.

"Sialan kalian! bukannya berterima kasih ditolongin, malah ngetawain" keluh Gavin lalu mendorong Julio kembali turun meninggalkan para gadis.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!