Sampai di rumah sakit umum, Violetta dan beberapa teman kampusnya terlihat begitu panik dengan kondisi teman kampusnya yang menjadi korban pembegalan di jalan yang membelah area hutan jati menuju pantai Pasir Perak.
Tampak tim medis begitu cekatan dalam menangani para korban dengan begitu intensif di dalam ruang UGD.
Tak lama seorang petugas rumah sakit menghampiri para mahasiswa yang menunggu di pelataran.
"Siapa yang akan mewakili para pasien?" Tanya petugas yang membawa papan berjalan.
Semua mahasiswa saling melirik satu sama lain tampak tidak ada yang mau mewakili para korban.
"Saya Pak, saya akan mewakilinya" ucap Andin mengangkat tangannya.
"Baiklah, ikut saya" balas petugas rumah sakit langsung berbalik.
"Kalian tunggulah di sini" pinta Andin kepada tiga sahabatnya.
"Aku ikut" ucap Violetta.
"Aku juga" timpal Clara dan Angel.
"Tidak, namanya perwakilan tidak bisa banyak orang" timpal Andin lalu memilih Violetta menemaninya.
Kedua gadis berjalan cepat menyusul petugas medis yang berbelok ke lorong sebelah kanan.
Sesampainya di sebuah ruang kerja, petugas rumah sakit menyodorkan seberkas dokumen untuk diisi oleh salah satu gadis yang akan menjadi perwakilan korban.
Andin langsung mengambil ballpoint lalu mulai mengisinya.
Kriing, kriing!
Handphone milik Andin berbunyi, ia yang sedang mengisi formulir terpaksa menghentikannya kemudian mengambil handphone-nya dan melihat layar ponsel yang menampilkan panggilan dari Gavin.
"Ada apa ya Gavin menelpon?" Tanya pikirnya merasa heran.
"Vio, tolong lanjutkan pengisiannya, gue mau mengangkat panggilan dari Gavin" pinta Andin lalu berjalan keluar ruangan.
"Baik" sahut Violetta melanjutkan pengisian formulir.
Di luar ruangan, Andin yang sedang menerima panggilan Gavin tampak begitu cemas mendengar racauan suara teman kampusnya di telepon.
"Vin, loe coba tenang dulu baru bicara" pinta Andin di telepon.
"Javier Din, Javier meninggal dunia"
"Jangan becanda loe Vin. Nggak lucu. Kita lagi dalam musibah, gak etis loe bilang gitu"
"Benar Din, gue gak becanda. Lo kabari teman-teman lainnya di grup, gue sama Julio mau mengabari keluarganya"
Tuut! Panggilan terputus.
Andin langsung terduduk lemas setelah mendengarnya lalu membenamkan wajahnya di lutut sambil menangis.
Violetta yang sudah selesai mengisi formulir langsung beranjak keluar ruangan. Ia melihat Andin yang menangis dalam posisi duduk.
"Din, ada apa? Kenapa loe nangis? Cerita sama gue" tanya Violetta sambil merangkulnya.
Andin menengadahkan wajahnya, ia menatap lekat Violetta yang penasaran dengan apa yang ingin dia dengar dari mulut Andin di depannya.
"Javier, Javier meninggal dunia" ucapnya dengan terbata.
Violetta langsung memeluknya dengan erat setelah mengetahui apa yang disampaikan Andin kepadanya, ia pun menangis atas meninggalnya Javier teman kampusnya.
Setelahnya kedua gadis langsung berjalan sempoyongan keluar rumah sakit di mana beberapa temannya menunggu.
"Vio, Andin, kalian kenapa?" Tanya Clara heran melihat keduanya terlihat lemas.
"Clara, loe kabarin teman kampus di grup. Teman kita Javier Fernando telah tiada" jawab Violetta.
Beberapa teman kampusnya langsung mengerumuni ketiganya.
"Maaf, gue gak bisa jawab apa pun. Kalian bisa menanyakan langsung kepada sahabatnya Gavin dan Julio" ujar Andin tidak mau mendengar pertanyaan dari teman-temannya.
Matahari condong ke arah barat di dua puluh derajat, pihak rumah sakit masih belum ada yang keluar untuk mengabari kondisi terakhir dari para korban.
"Sudah sore, kenapa belum ada pemberitahuan tentang kondisi teman-teman kita?" Tanya Clara.
"Entahlah, gue yakin kondisi teman-teman kita tidak begitu parah" jawab Andin meyakini.
Dari arah parkiran rumah sakit, tiga orang pemuda berjalan menghampiri para mahasiswa yang terduduk di pelataran luar UGD.
"Kaisar, Syarif, Malik. Bagaimana dengan mobil yang rusak?" Tanya Andin berdiri menghampiri ketiganya.
"Aman, kita tidak membayar biaya apa pun, semuanya sudah ditangani dengan baik oleh pihak Asuransi dan para petugas lalu lintas. Hanya lama dari proses investigasi petugas" jawab Kaisar.
"Oh iya, bagaimana dengan kondisi kawan-kawan kita yang lainnya?" Tanya Kaisar ingin tahu.
"Belum ada, kami di sini belum mendapat pemberitahuan lebih lanjut" jawab Andin pasrah.
"Saudari Violetta Semicolon!" Panggil seorang suster di pintu.
"Ya, saya" sahut Violetta langsung menghampirinya.
"Dari dua puluh pasien, tujuh belas pasien hanya mengalami cedera ringan dan sedang, sedangkan tiga pasien lainnya sedang dalam perawatan intensif di ruang ICU. Kondisi ketiganya semakin membaik, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Nona Violetta dan yang lainnya bisa melihat pasien secara bergantian di ruang Mawar Ungu. Terima kasih" ujar seorang suster mengabarinya.
Violetta tersenyum senang mendengarnya, ia langsung berjalan cepat menghampiri teman-temannya.
"Vio, bagaimana keadaan teman-teman kita?" Tanya Andin mewakili yang lainnya.
"Syukur kita panjatkan kepada Tuhan. Semua teman kita dalam kondisi baik, hanya tiga teman kita saja yang masih di ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif" jawab Violetta lalu tersenyum.
Semua teman kampusnya langsung gembira mendengarnya.
"Vio, bagaimana kalau kita langsung ke rumah sakit Harapan Sembuh melihat Javier?" Tanya Andin yang langsung mengingatnya.
"Ya sudah, kita langsung jalan saja. Kaisar kau yang bawa mobil" jawab Violetta langsung melirik ke arah pemuda yang begitu alim.
"Siap!" Ucap Kaisar lalu menjulurkan tangannya meminta kunci mobil.
Andin langsung memberikannya. Mahasiswa terbagi dalam dua kelompok, ada yang tetap di rumah sakit umum dan sebagian pergi ke rumah sakit Harapan Sembuh yang berlokasi tidak jauh dari hotel tempat menginap mahasiswa.
Dalam perjalanan, semua gadis terus terdiam dalam lamunan masing-masing sampai Clara memulai percakapan.
"Gue masih heran, siapa yang memiliki ide untuk liburan ke kota Gaib ini?" Tanya Clara merasa menyesal setelah apa yang terjadi.
"Entahlah, tapi kota ini mendapatkan poling terbanyak dari beberapa kota pilihan lainnya" jawab Andin.
"Sebentar, gue baru ingat sesuatu. Vio, loe bawa laptop gak?" Tanya Angel terlihat serius.
"Gue tinggalin di hotel, kenapa?" Jawab Violetta balik bertanya.
"Di hari terakhir waktu penutupan poling, loe semua merasa aneh gak sih dengan perolehan suara kota ini?" Ujar Angel menanyakannya.
"Maksud loe Ngel?" Tanya balik Andin.
"Dari banyak pilihan tempat, kenapa kelas kita sebagian besarnya memilih ke kota Gaib?"
"Serius loe Ngel?" Sambung tanya Andin.
"Ya, karena gue gak memilih kota Gaib sebagai destinasi gue" jawab Angel.
"Sama, gue malah pilih kota pelajar" timpal Andin.
"Gue malah belum menentukan pilihan sampai akhir poling" timpal Clara.
Ketiganya langsung melirik Violetta yang masih terdiam.
"Gue yang memilih kota Gaib, karena dari hasil penelusuran di internet, kota ini menawarkan keunikan yang tidak bisa kita temukan di tempat lainnya. Kenapa? Salah ya?" Kata Violetta menatap heran ketiga temannya.
"Bukannya loe yang bikin webnya?" Tanya Andin.
"Gue cuma bantuin desainnya doang, yang bikin proyek si Antoine cowoknya si Marsya" jawab Violetta merasa tidak nyaman ditatap ketiganya.
Tiba-tiba mobil berhenti sebelum sampai di rumah sakit.
Kaisar yang mengemudikannya langsung melirik keempat gadis di dua baris kursi belakang.
"Kalian berempat ada yang tahu di mana Antoine? Kenapa saya tidak melihatnya setelah keributan di bandara?" Tanya Kaisar baru mengingatnya setelah Violetta menyebutkannya.
Keempat gadis langsung terdiam baru menyadari ketidakhadiran Antoine dalam rombongan mahasiswa.
"Sebentar, apakah Marsya ikut ke pantai bersama kita?" Tanya Violetta mengingatnya.
Semakin heran keenam mahasiswa di dalam mobil.
Tiin! Tiin!
Sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya.
Kaisar langsung menurunkan kaca melihat siapa yang membunyikan klakson.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments