Setelah melalui drama pertengkaran Violetta dan Angel, keempat gadis langsung terlelap tidur.
Pagi harinya Andin langsung menulis sebuah catatan kecil yang ditempel di pintu kamar kecil berisi daftar nama yang memasukinya.
'Andin : 30 menit, Clara : 30 menit, Angel : 30 menit, Violetta : 15 menit'
Violetta yang bersiap untuk mandi berdiri diam membaca catatan daftar urut yang memasuki kamar kecil.
"Ini tidak adil, kenapa aku jadi yang terakhir dan hanya 15 menit saja berada di dalam kamar mandi? Untuk bertelor saja aku butuh dua puluh menit, mana cukup" keluhnya memprotes catatan.
"Eh, aku kan yang terakhir, bebas dong mau selama apa pun ha ha" kekeh Violetta menyadarinya.
"Vio, minggir!" Pinta Angel langsung menariknya ke belakang.
"Biasa aja dong!" Balas Violetta tidak terima.
"Kenapa? Gak senang?" Timpal Angel mendekatkan wajahnya.
"Huh!" Dengus Violetta langsung berbalik menghampiri Andin yang sedang merias wajah.
"Andin, loe kok bego sih, gue yang terakhir kenapa harus dibatasi waktu 15 menit, emangnya ada lagi yang nungguin gue mandi?" Celetuk Violetta menanyakannya.
"Ha ha, seorang programmer masa gak ngerti maksudnya. 15 menit itu waktu gue sama anak-anak nungguin loe Violetta" kelakar Andin sambil terus menebalkan alisnya.
"Dih! Emang loe bertiga mau mandi lagi, ngapain harus nungguin gue?" Timpal Violetta masih belum paham.
Andin langsung menghentikan aktivitasnya, ia menoleh melirik Violetta yang asyik memakan keripik.
"Ya sudah, kalau loe gak mau ditungguin. Gue sama anak-anak langsung cabut ketika loe mandi. Gimana?" Ujar Andin langsung kembali melanjutkan aktivitasnya.
Mendengar penjelasan Andin membuat Violetta langsung bergegas ke kamar kecil.
"Angel, gue kasih loe ceban kalau loe mau mandi setelah gue" tawar Violetta sambil mengedipkan matanya.
"Loe kira gue anak kecil disogok ceban langsung nurut, enak aja. Kalau cepek sih bisa gue pertimbangkan" balas Angel lalu memegangi dagunya.
"Itu sih pemerasan, mending gue minta tuker sama Clara kalau gitu" timpal Violetta menolaknya.
"Gue potong deh, gocap mau?" Ucap Angel.
"Kayaknya sih gratis, sorry girl!" Timpal Violetta langsung memasuki kamar kecil begitu melihat Clara keluar pintu.
"Brengsek loe Vio!" Pekik Angel kalah cepat dengan Violetta.
Andin dan Clara langsung menggelengkan kepala melihat keributan keduanya.
30 menit berlalu, namun Violetta masih belum juga keluar dari kamar kecil.
Angel yang kesal langsung menggedor-gedor pintu dengan keras.
Dug! Dug! Dug!
"Vio! Cepetan!" Pekik Angel begitu keras terus memanggil Violetta sambil menggedor pintu.
Violetta tidak menyahut sekalipun panggilan Angel. Ia terus saja mandis sambil bernyanyi. Suara Violetta yang nyaring membuat suasana hati Angel semakin kesal dibuatnya. Ia kemudian bersiap untuk mendobrak pintu dengan paksa.
Mundur dua langkah, Angel mengambil ancang-ancang menabrak pintu dengan bahu belakangnya.
"Hiaaat!" Teriaknya langsung menghantamkan bahunya ke pintu.
Tepat ketika bahunya akan mengenai pintu, Violetta langsung membukanya.
Bugh!
Keduanya tabrakan dengan keras.
"Aaw!" Jerit Violetta ditabrak oleh Angel hingga keduanya jatuh ke lantai.
Untungnya Violetta mendekap tubuh Angel karena refleks yang membuat posisi kepalanya tidak membentur ke lantai, namun karena harus menopang berat tubuh Angel. Violetta pun harus menjerit merasakan punggungnya menghantam lantai.
Tak ayal, Violetta langsung memukuli Angel dengan buas.
Tidak hanya memukul, Violetta bahkan menjambak dan mencakar wajah Angel yang masih tertaut di tubuh Violetta, tampak keduanya seperti sedang bergulat.
Andin dan Clara langsung berlari melerai keduanya yang kembali berkelahi di dalam kamar kecil.
Andin menarik keluar Angel yang terlihat berdarah di wajahnya, sedangkan Clara langsung menutupi tubuh Violetta yang polos karena handuknya terlepas ketika jatuh.
Clara menarik tangan Violetta membantunya berdiri.
Krak!
"Aduh! Punggungku" ringis Violetta merasakan ngilu di punggungnya yang berbunyi.
Tak lama Violetta terkulai tidak sadarkan diri, Clara begitu syok melihatnya.
"Vio! Vio!" Pekiknya begitu keras hingga membuat Andin dan Angel langsung menghampirinya.
"Clara, apa yang terjadi dengan Vio?" Tanya Andin begitu panik.
"Aku tidak tahu, tadi waktu aku membangunkannya, terdengar suara patah di punggungnya" jawab Clara sambil memangku Violetta.
Ketiga gadis langsung menggotongnya dan membaringkannya di atas kasur.
"Clara, loe pakaiankan pakaiannya, biar gue hubungi Gavin" pinta Andin langsung mengeluarkan handphone-nya.
Clara mengangguk lalu mengambil pakaian Violetta yang tergantung di lemari, sedangkan Angel hanya bisa terduduk menyesali diri dengan apa yang telah diperbuatnya hingga membuat Violetta tidak sadarkan diri.
Tak lama Gavin dan Julio sudah berdiri di depan pintu kamar keempat gadis. Andin langsung membukakan pintu dan meminta keduanya masuk menggotong Violetta.
Violetta pun dibawa pergi ke rumah sakit dengan Clara yang memangkunya di kursi belakang mobil.
Sampai di depan UGD rumah sakit, petugas medis bergegas mendorong ranjang pasien tepat di pintu mobil. Violetta langsung dibaringkan di atasnya dan dibawa masuk ke ruang UGD untuk mendapatkan perawatan.
Setelah Violetta mendapatkan tindakan medis, Clara langsung melangkah menuju loket administrasi untuk mengisi formulir pendaftaran pasien.
"Clara, gue sama Julio balik duluan. Kabarin gue kalau ada apa-apa. Semoga Vio bisa kembali sehat" ujar Gavin berpamitan.
"Thank you, Bang" balas Clara yang baru saja selesai mengisi formulir.
Lama Clara menunggu kabar dari petugas medis sambil duduk bersandar di sandaran kursi stainless, handphone-nya berdering. Ia langsung merogohnya dan melihat layar yang menampilkan panggilan dari Andin.
"Clara, bagaimana kondisi Vio sekarang?"
"Masih belum ada pemberitahuan, gue masih menunggu. Loe mau ke sini gak?"
"Iya gue ke sana, sekarang gue lagi merajuk Angel. Kabarin gue kalau ada kabar dari pihak medis"
"Ok"
Tut! Sambungan terputus.
Baru saja Clara mengakhiri telepon, seorang perawat menghampirinya.
"Mbak, apakah Mbak keluarga dari pasien bernama Violetta Semicolon?" Tanya perawat memastikan.
"Bukan, saya sahabatnya yang membawa Violetta" jawab Clara.
"Mari Mbak, ikut saya" ajak perawat.
Clara langsung saja mengikutinya ke sebuah ruang ICU, Ia tampak terkejut melihat tubuh yang seluruhnya tertutupi kain berwarna putih.
Clara dengan cepat memakai pakaian khusus untuk memasukinya.
"Tidak, tidak mungkin" gumam Clara langsung membuka kain yang menutupi wajah pasien di hadapannya.
Ia mengerutkan kening melihat seorang gadis yang tidak ia kenali. Clara menghembuskan napas merasa lega lalu menghampiri seorang dokter.
"Maaf Dok, dia bukan teman saya. Di mana teman saya sekarang?" ujar Clara menanyakannya.
Dokter yang menangani tindakan langsung mengambil berkas dari perawat dan membaca profil pasien.
"Violetta Semicolon, apakah benar itu namanya?" Tanya Dokter mengonfirmasi.
"Betul, tapi bukan dia orangnya" jawab Clara lalu mengambil handphone-nya dan menunjukan wajah Violetta.
Sang dokter begitu heran, ia menghampiri perawat mengonfirmasi ulang.
Dari luar pintu, seorang perawat lainnya menghampiri dengan begitu gusar.
"Maaf Dokter, berkasnya tertukar" ucap si perawat dengan raut wajah begitu panik.
"Sus, di mana teman saya Violetta?" Potong Clara menghampirinya.
"Mari Mbak ikut saya" ajak perawat yang memiliki alasan untuk meninggalkan ruang ICU.
Clara mengikutinya ke ruangan lain tidak jauh dari ruang ICU. Sesampainya ia begitu lega melihat Violetta sudah siuman di pembaringannya.
"Vio! Syukurlah kau tidak apa-apa" ucap Clara langsung memeluknya.
"Terima kasih Clara" balas Violetta.
"Mbak, ini hasil rontgen pasien" ucap perawat menyerahkannya.
Clara langsung menerimanya lalu membuka selembar klise dan memperhatikannya dengan serius.
"Clara, kau bisa membaca hasilnya?" Tanya Violetta.
"Tidak, biar kelihatan keren saja he he" jawab Clara terkekeh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments