Perkelahian

Gavin menopang dagunya merasa heran dengan kedua temannya Antoine dan Marsya yang tidak terpikirkan olehnya selama beberapa hari ini.

"Kemana perginya kedua orang ini?" Gumam batinnya begitu heran.

Gavin langsung merogoh sakunya mengambil handphone-nya, ia lalu mencari kontak Antoine dan menghubunginya.

'nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi atau berada di luar jaringan' ucap operator memberitahunya.

Gavin langsung menghubungi kontak Marsya dan mendapat pemberitahuan yang sama. Ia menggelengkan kepala dengan pelan, memikirkan keberadaan kedua temannya itu.

"Vin, apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua?" Tanya Andin.

"Gue gak tahu Din" jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya.

Violetta melirik Clara dan menyikutnya dengan pelan.

"Clara, kamu masih ingat gak waktu di bus kita tidak melihat keberadaan Antoine? Sekarang Marsya juga menghilang" celetuk Violetta.

"Aku tahu itu, tapi yang mengherankan, kenapa tidak ada di antara kita yang menyadarinya?" Balas Clara.

Di kursi depan, Gavin melanjutkan kembali pembahasan.

"Guys, tenanglah! Untuk Marsya dan Antoine biar gue sama Julio yang mengurusnya. Sekarang kita lanjutkan kembali pembahasan kita mengenai tiket kepulangan, dana yang masih ada di gue cukup untuk 4 orang, kita tinggal memikirkan 15 orang lagi. Di antara kalian apakah ada yang ingin membantu kelima belas teman kita?" Ujar Gavin dengan sebuah pertanyaan.

"Sory Bro menyela, beberapa teman mungkin bisa membantu yang lainnya dengan memberi pinjaman. Tapi tidak mungkin juga setiap orang membeli dua tiket secara langsung. Kita tidak bisa menyama ratakan kemampuan setiap orang. Apa solusi untuk itu?" Tanya Kaisar.

Gavin langsung menyandarkan kepalanya, ia memikirkan solusinya.

"Guys, harga pertiket pesawat bisa murah seminggu ke depan. Tapi kita tidak bisa mengambilnya karena ada biaya sehari-hari yang harus kita keluarkan selama di sini. Harga tiket besok berada di sekitar tiga sampai empat jutaan. Apakah di antara kalian ada yang bisa membeli lebih dari dua tiket?" Ujar Gavin.

Sebagian mahasiswa langsung mengecek saldo rekeningnya, namun semuanya tampak begitu pasrah. Gavin yang memutar bola matanya melirik semua teman-temannya tampak pesimis.

"Hei, kenapa kita tidak menggunakan kapal saja? Mungkin bisa lebih terjangkau untuk kita semua" cetus Sopian mengemukakan pendapatnya.

Sontak saja semua mahasiswa meliriknya dengan begitu senang.

Gavin meminta Julio untuk mengeceknya di internet. Julio menganggukinya lalu mulai menjelajah di mesin pencarian.

Semua mahasiswa langsung mengalihkan pandangan melihat layar tv di ruang rapat.

"Ketemu, Bro. Bahkan tidak sampai sejuta harga per tiketnya" ucap Julio senang.

Semua mahasiswa bernapas lega mengetahuinya, tampak keceriaan di wajah semuanya yang akhirnya bisa kembali pulang.

Namun ada beberapa mahasiswa yang jeli melihat keterangan di halaman web. Salah satunya adalah Violetta yang langsung berdiri dari kursinya.

"Tunggu! Jangan senang dulu. Lihatlah jadwalnya! Bukankah itu untuk dua minggu ke depan?" Ujar Violetta.

Tampak suasana yang tadinya ceria langsung berubah menjadi hening dengan raut wajah pasrah dari semuanya.

"Guys! Kita kembali ke opsi pertama, jadi siapa saja di antara kalian yang bisa membeli lebih dari dua tiket pesawat?" Tanya Gavin mengulanginya.

Tidak ada yang memberi tanggapan, semua mahasiswa terlihat diam saja.

"Ok kalau begitu kita sudahi rapatnya" ucap Gavin langsung berdiri melihat semuanya.

Kembali ia tidak melihat adanya tanggapan dari teman-teman kampusnya, dengan perasaan kecewa Gavin meninggalkan ruang aula hotel.

Beberapa teman kampus lainnya mengikutinya pergi meninggalkan aula hotel.

"Andin, kenapa Bang Gavin begitu marah?" Tanya Violetta.

"Gue juga bakal marah kalau tidak ditanggapi seperti itu" jawab Andin lalu berdiri.

"Terus, loe sendiri kenapa tidak menanggapinya?" Tanya Violetta menambahkan.

"Loe nanya gue kenapa, terus loe sendiri kenapa diam? Sekalinya ngomong langsung meruntuhkan mental orang" Tanya balik Andin.

Violetta cengengesan ditanya balik Andin, ia sendiri bingung harus menanggapi bagaimana.

Buk! Buk! Buk!

Terdengar suara keributan di luar aula, Gavin sedang dipukuli oleh dua mahasiswa yang tidak terima dengan hasil rapat yang nihil keputusan.

Semua mahasiswa yang masih berada di dalam aula langsung berhamburan keluar untuk melihatnya.

Julio yang pertama berlari keluar pintu langsung melayangkan tendangannya ke salah seorang mahasiswa yang memukuli Gavin sahabatnya.

Buk!

Seorang mahasiswa tersungkur jatuh ke lantai terkena tendangan Julio.

Beberapa mahasiswi berteriak melihat perkelahian teman-teman satu almamaternya. Namun anehnya tidak ada security hotel yang menghampiri.

Gavin kembali bangkit setelah dibantu oleh beberapa mahasiswa. Ia langsung menghampiri Julio yang begitu emosi menyerang dua mahasiswa yang diketahui bernama Junaedi dan Solihin.

Ketiganya ditahan oleh teman-temannya yang lain.

"Tenang Bro! Jantung boleh panas tapi kaki harus tetap dingin" pinta Gavin menenangkan Julio.

Plak! Plak!

Andin tiba-tiba saja menampar Junaedi dan Solihin yang terlihat masih emosi ingin menghajar Gavin dan Julio.

"Kalian berdua tidak menunjukkan karakter seorang terpelajar, jangan menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Pakai otak loe kawan!" Bentak Andin dengan tatapannya yang tajam.

Junaedi dan Solihin tampak begitu malu dimarahi oleh seorang cewek.

Andin berbalik menghampiri Gavin dan Julio yang tampak menyeringai melihat Junaedi dan Solihin yang terkena tamparan.

Plak! Plak!

"Kenapa loe nampar gue?" Protes Gavin tidak terima.

Julio yang terkena tamparan hanya tersenyum sinis menatap Andin.

"Loe main pergi saja tanpa memberi kepastian kepada semuanya, berikan waktu semua teman kita untuk berpikir. Jangan seenaknya menyelonong pergi" ujar Andin menjawabnya.

Ia lalu melirik ke arah Julio yang tersenyum sinis melihatnya.

"Loe juga jadi cowok jangan main hakim sendiri, jangan karena Gavin adalah sahabat loe, loe main hajar orang tanpa berpikir dulu. Empat tahun loe kuliah hasilnya begini! Gagal loe jadi orang!" Bentak Andin lalu meminta semua mahasiswa kembali ke aula.

Tidak ada yang menanggapinya sama sekali dengan permintaan Andin.

"Gila! Cewek kalau lagi marah seram betul" celetuk Sopian berkomentar.

Plak!

"Jir! Apa salah daku?" Protes Sopian yang tiba-tiba terkena tamparan Andin.

"Salah loe gak bisa diam" balas Andin dengan mendekatkan wajahnya memelototi Sopian di depannya.

Sopian langsung tersenyum melihatnya merasa begitu dekat dengan wajah cantik Andin, tidak ada kemarahan sama sekali di raut wajahnya, itu karena ia sudah lama mengagumi sosok Andin yang menurutnya tidak hanya berwajah cantik, Andin juga tipe gadis yang mandiri dan sangat tegas namun lembut.

"Andin" panggilnya dengan senyuman mengembang di bibirnya.

Andin yang membelakanginya langsung berbalik sambil mengangkat kedua alisnya.

"Anu Din, boleh tampar gue lagi gak?" Pinta Sopian sedikit gugup mengatakannya.

Semua teman mahasiswa terperangah mendengar permintaan aneh dari Sopian.

"Baiklah" jawab Andin singkat.

Buk! Buk! Buk!

Andin memukuli Sopian dengan tinjunya berkali-kali, Angel dan Clara langsung menarik tubuh Andin untuk menghentikan pemukulannya.

"Andin, loe kenapa?" Tegur Angel tidak menduganya.

Andin tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum kecut menanggapi sahabatnya lalu melepaskan kedua tangan Angel yang menahan tubuhnya.

"Semuanya, ayo masuk kembali ke ruang rapat. Malam ini kita harus bisa mengambil kesimpulan" pekik Andin begitu nyaring meminta semua teman kampusnya melanjutkan rapat.

Tidak ada seorang pun yang berani menolaknya setelah apa yang mereka saksikan, mereka semua langsung bergegas memasuki aula hotel.

Sopian yang bibirnya berdarah hanya mematung sendiri di luar aula sambil mengusapi kedua pipinya dan tersenyum senang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!