Rapat Kepulangan

Setelahnya Clara dan Violetta membicarakan tentang rencana pulang ke Jakarta.

"Aku baca di grup Telegram, anak-anak meminta kembali ke Jakarta. Kau tahu apa yang menjadi masalahnya?" Ucap Clara bertanya.

"Mereka kecewa karena liburannya tidak membahagiakan" jawab Violetta sekenanya.

"Bukan, dana pembelian tiket habis dipakai untuk membayar biaya rumah sakit. Sekarang semua mahasiswa menuntut Bang Gavin untuk menggantinya" timpal Clara.

"Lah, kok gitu! Mereka-mereka juga yang masuk rumah sakit, jadi wajar dong Bang Gavin mengalihkan dana untuk membayar biaya rumah sakit. Apa salahnya?" balas Violetta begitu heran.

"By the way, hapeku mana?" Tanya Violetta.

"Entahlah, aku tidak tahu alasan sebenarnya dibalik tuntutan mereka, namun kita harus maklum juga dengan mereka yang tidak semuanya merupakan orang kaya, kita bisa memaklumi kecemasan di hati mereka sampai harus membuat tuntutan" tanggap Clara menyikapinya.

"Oya, mungkin hapemu ketinggalan di kamar hotel, aku tidak sempat mengingatnya" imbuh Clara menjawab pertanyaan Violetta.

"Sebentar! Aku hubungi Andin menanyakannya" sambungnya lalu menelpon Andin.

"Hallo Clara"

"Din, ada handphone Violetta gak di situ?"

"Ada, kenapa?"

"Kalau loe mau ke sini, sekalian bawain, orangnya nanyain"

"Ok siap, ada yang lain lagi gak?"

"Bawain pizza ya hehe"

"Hahaha siap Jeng"

Tut!

"Ada katanya, sebentar ya, aku tanya Suster dulu, apa kamu harus dirawat inap?" Tanya Clara belum mendapat kabar lanjutan Violetta yang masih berbaring di ruang rawat sementara.

Clara langsung menghampiri perawat untuk memastikannya.

"Suster, apa teman saya Violetta harus mendapatkan rawat inap?" Tanya Clara.

"Sebentar ya, Mbak. Saya cek dulu" jawab suster lalu menghubungi pihak UGD.

Setelah mendapat konfirmasi dari pihak UGD, suster lalu menghampiri Clara yang masih berdiri menunggunya.

"Saudari Violetta sudah diizinkan pulang, tidak ada masalah serius dari tulang belakangnya, hanya memar saja karena benturan" ujar suster memberitahunya.

"Terima kasih Sus" balas Clara diakhiri senyuman.

Clara pun kembali menghampiri Violetta yang menatapnya dengan tajam.

"Kenapa kau melihatku seperti mau memakanku saja?" Tanya Clara merasa heran.

"Apa hasilnya?" Tanya Violetta mengabaikan pertanyaannya.

"Kau harus dirawat sampai ada pangeran tampan yang menjemputmu" jawab Clara asal.

"Serius atau aku tonjok kamu" ancam Violetta menjulurkan tangannya yang terkepal.

"Ha ha ha, katanya kau boleh pulang sekarang. Bersiaplah!" Ucap Clara sambil mencomot bibir Violetta yang manyun.

Setelah menyelesaikan administrasi, keduanya duduk di kursi taman parkiran rumah sakit.

Tak lama Andin dan Angel datang menghampirinya dari belakang.

"Siapa nih yang pesan pizza?" Tanya Andin langsung menyodorkannya.

"Gue" jawab Clara langsung menoleh ke belakang dan mengambilnya.

Di sampingnya, Angel langsung memeluk erat Violetta sambil menangis.

"Maafin gue Vio, gue tersulut emosi" ucap Angel menyesalinya.

"Sama-sama, gue yang salah main nyerobot masuk kamar kecil" balas Violetta lalu melepaskan pelukannya.

"Gitu kan enak lihatnya, paling nanti di kamar hotel berantem lagi" timpal Andin menyindir keduanya.

"Sudahlah! Mending kita makan pizzanya, mumpung masih anget" potong Clara yang sedang membagi pizza menjadi empat bagian.

Selesai sudah keempatnya menikmati pizza dan langsung bergegas meninggalkan taman rumah sakit menuju ke mobil untuk kembali pulang ke hotel tempat mereka menginap.

Matahari hampir tenggelam menemani perjalanan keempatnya.

"Nanti malam Gavin mengundang kita rapat di aula hotel membahas kepulangan kita ke Jakarta" ujar Andin memberitahu ketiganya.

"Kapan rencananya kita balik ke Jakarta?" Tanya Clara.

"Belum diputuskan, makanya kita mengadakan rapat untuk membahasnya. Gue sendiri pengennya besok kita sudah bisa pulang" jawab Andin sambil fokus mengendarai mobilnya.

"Katanya di grup telegram banyak yang menuntut pengembalian uang tiket. Apa sudah ada solusinya?" Sambung Violetta menanyakan.

"Ada beberapa opsi untuk itu, kita tunggu malam saja untuk mengetahuinya" jawab Andin.

Mobil pun sampai di parkiran samping hotel, keempatnya langsung berjalan memasuki lobi hotel.

Di dalam kamar, Violetta langsung memasuki kamar kecil karena kebelet buang air, namun ia mengurungkan niatnya dan langsung menatap ketiganya.

"Kalian ada yang mau ke kamar kecil?" Tanya Violetta.

"Ha ha, tenang saja. Gak akan gue dobrak lagi" jawab Angel yang membuat ketiganya langsung tertawa.

Violetta manyun saja melihat ketiga temannya tertawa, ia lalu kembali memasuki kamar kecil.

Tepat pukul 8 malam, keempat gadis memasuki ruang rapat, bergabung dengan teman-temannya yang lain.

"Terima kasih kalian sudah hadir di rapat dadakan ini, sebelum memulai pada poin yang akan kita bahas. Gue Gavin Prasetyo bersama Julio Before Agustus mewakili almarhum saudara kita Javier Fernando meminta maaf dengan sedalam-dalamnya atas apa yang terjadi pada kita semua selama berada di sini" ujar Gavin mengawali rapat.

"Baiklah, kita akan memulainya" imbuh Gavin lalu meminta Julio menampilkan slide presentasi di layar tv ruang rapat.

"Kalian semua bisa lihat pada slide di layar. Itu adalah rincian biaya yang telah gue keluarkan sampai hari ini, total seluruhnya adalah seratus tiga puluh juta rupiah, yang mana pengeluaran biaya didominasi untuk biaya perawatan di dua rumah sakit, baik rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta. Juga biaya pergantian tiga unit motor yang rusak" sambungnya sambil menunjuk item-item pada tabel pengeluaran.

Semua mahasiswa terlihat begitu pasrah melihat tabel yang ditunjukkan, apalagi pada sisa saldo yang tinggal belasan juta saja.

"Maaf Bang Gavin, melihat sisa saldo yang ada, tidak mungkin cukup untuk bisa membeli tiket kepulangan. Solusi apa yang akan Abang tawarkan kepada kami? Bagi kami yang paling penting adalah bisa kembali pulang secepatnya" sela Faisal menanyakannya.

"Terima kasih Bro, karena itulah gue mengajak kalian semua untuk merumuskan solusinya. Di antara kita semuanya, sebagian mungkin bisa membeli tiket sendiri. Untuk itu gue pengen tahu siapa saja yang bisa membeli tiket dan siapa yang tidak bisa, bagi yang tidak bisa kita bisa mencari solusinya. Sekarang gue minta yang tidak bisa membeli tiket tunjuk tangan" jawab Gavin lalu mulai menghitung berapa banyak yang tidak bisa membeli tiket.

Satu, dua dan berakhir dengan angka 19 Gavin menghitung semua mahasiswa yang mengangkat tangan.

"Kita sudah dapat angkanya, sebelumnya gue pengen tahu, apakah ada teman kalian yang tidak hadir dalam rapat ini?" Tanya Gavin.

"Sebentar Bro, gue print dulu daftar absen semuanya. Nanti kita akan tahu total jumlahnya" potong Julio lalu keluar meninggalkan ruang rapat.

"Ok. Gue tunggu" balas Gavin mempersilakannya.

Tak lama Julio kembali lagi dengan membawa dua lembar kertas berisi daftar nama mahasiswa, ia langsung menyerahkannya ke Gavin yang mengawali tanda tangan dilanjutkan oleh Julio dan berputar sampai kembali ke tangan Gavin.

Dengan seriusnya Gavin melihat daftar hadir yang sudah ditandatangani oleh semua mahasiswa, tampak ada dua nama yang tidak menandatanganinya.

"Apa ada yang tahu di mana keberadaan dua teman kita Antoine dan Marsya?" Tanya Gavin menatap semuanya.

Semua mahasiswa hanya menggelengkan kepala tidak mengetahuinya. Gavin langsung melirik ke arah Nara dan Bella yang merupakan sahabat dari Marsya.

Kedua gadis yang ditatap olehnya hanya mengangkat bahu tidak mengetahuinya.

"Kapan terakhir kali kalian berdua melihatnya?" Tanya Gavin.

"Terakhir kalinya kami melihat Marsya setelah keributan di dalam Bus. Dari situ kami berdua tidak lagi melihatnya" jawab Bella merasa tidak nyaman ditatap dingin oleh semua mahasiswa.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!