"Haa!" Jerit Violetta melihat api menyambarnya dengan begitu cepat.
Violetta yang sedang terlelap dalam tidurnya langsung melompat dari kursinya dengan tatapan kosong, napasnya begitu berat dan keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya yang membuat wajahnya begitu pucat.
Semua penumpang di ruang tunggu keberangkatan langsung meliriknya dengan heran.
Clara mengusap-usap daun telinganya karena kesakitan, earphone yang dipakainya berbarengan dengan Violetta tertarik paksa.
"Kau kenapa, Vio?" Tegur Clara lalu menarik tangan Violetta untuk kembali duduk di kursi dan memberikannya sebotol minuman.
"Minumlah dulu, setelah tenang kau bisa menceritakannya kepadaku" imbuh Clara sambil membantunya membuka tutup botol minuman.
Glek! Glek!
Violetta terus menenggaknya hingga habis isinya. Masih terbayang dalam benaknya dengan apa yang dialaminya.
Lama Violetta termenung dalam lamunannya, ia kemudian melirik sahabatnya.
"Kau pernah menonton film lama berjudul Final Destination, kan?" Tanya Violetta begitu serius.
Clara yang mendengar pertanyaannya membuat dirinya begitu takut, namun ia menekan ketakutan sebisanya.
"Kau tahu, itu hanyalah sebuah film fiksi. Jangan terlalu dipikirkan. Berdoalah! Tuhan akan menyelamatkan hidup kita" jawabnya menenangkan hati sahabatnya.
Sejam berlalu, akhirnya mereka berdua menaiki pesawat bersama beberapa rekan kampusnya.
Clara! Kau sudah tenang sekarang?" Tanya Violetta begitu duduk di kursinya.
"Sudah, thank you my bestie" jawabnya lalu mengaitkan ujung logam sabuk pengaman di perutnya.
"Aw!" Jeritnya merasakan sakit di jarinya yang tergores bagian tajam dari logam sabuk pengaman.
Kedua mata Violetta melebar tidak percaya menatap Clara.
"Vio, kau kenapa?" Tanya Clara mulai cemas.
"Diam! Sebentar lagi anak bayi menangis" pinta Violetta.
Benar saja bayi di kursi depan menangis, semakin gemetar hati Violetta karenanya. Begitupun dengan Clara yang ikut gemetar menyaksikan sendiri, perkataan sahabatnya benar adanya.
"Sebentar lagi ada anak kecil menyanyikan lagu kakak tua" imbuh Violetta memberitahu sahabatnya.
Ucapannya kembali benar, seorang anak kecil dengan ceria menyanyikan lagu kakak tua.
"Haa!" Keduanya menjerit histeris, semua penumpang langsung berdiri melihat keduanya yang berlari ke arah pintu depan.
Marsya dan teman-temannya yang berpapasan menatap heran kedua teman kampusnya yang begitu panik memaksa turun keluar dari pesawat.
Dua orang pramugari bersama seorang pramugara membawanya ke belakang kokpit pesawat.
"Mbak berdua tenanglah, ceritakan kepada kami apa yang terjadi dengan kalian berdua?" ucap seorang pramugari menginterogasinya.
Violetta tidak langsung menjawabnya, ia terus berusaha menenangkan dirinya dengan menekan dadanya dan menghembuskan pelan napasnya. Ia kemudian menatap pramugari dengan tajam.
"Aku mengalami seperti yang terjadi di film Final Destination, semuanya terasa begitu nyata. Tolong, biarkan kami keluar dari pesawat. Kami berdua masih ingin hidup" ungkap Violetta memberitahunya.
"Sepertinya Mbak terlalu banyak menonton film, jadi merasa dejavu dengan yang dialami. Bukankah dalam film itu lebih menakutkan ketika berhasil lari dari kematian bahkan lebih tragis setelahnya. Saranku, Mbak berdua banyaklah berdoa menurut kepercayaan dan kembalilah ke kursi dengan tenang. Ingatlah ada Tuhan bersama kita" ujar pramugari memberikan arahan.
Violetta dan Clara langsung diantar oleh pramugari kembali ke kursinya.
Keduanya terus saja diam dengan wajah tegang yang tidak bisa disembunyikannya.
Tak lama kemudian, seorang pemuda bertubuh tinggi dan atletis, berwajah simetris dengan rahang yang begitu tegas dipadu janggutnya yang tipis memakai kemeja hitam lengan panjang dan berkacamata photocromic duduk di sebelah Violetta yang berada di kursi tengah.
"Tenang saja, ada aku yang akan menjagamu, Violetta Semicolon!" Bisik pemuda itu begitu pelan.
Violetta yang begitu tegang langsung mereda setelah mendapatkan bisikan dari pria di sebelahnya, namun entah kenapa ia tidak berani meliriknya.
"Kenapa aku lebih takut meliriknya daripada apa yang aku alami tadi?" Tanya pikirnya begitu heran.
Jantungnya berdetak begitu cepat tatkala pesawat lepas landas.
Tiba-tiba saja tangan kekar pemuda menggenggam jemari tangannya begitu erat. Violetta kembali merasakan ketenangan di hatinya.
Ia meyakinkan dirinya untuk memberanikan diri menoleh ke arah pemuda yang sedang menggenggam jemari tangannya, namun lehernya tiba-tiba saja tidak bisa digerakkan, bahkan matanya pun tidak bisa menoleh ke arah pemuda di sampingnya.
Satu jam penerbangannya, Violetta menoleh ke arah jendela. Tampak terlihat olehnya langit yang begitu cerah.
"Syukurlah, ternyata tidak terjadi apa-apa" gumamnya merasa lega.
"Clara!" Panggilnya berusaha menyadarkan sahabatnya yang terus melamun dalam ketegangannya.
"Maafkan aku, ternyata tidak sesuai dengan apa yang aku halusinasikan. Lihatlah langit yang cerah itu" ujar Violetta memutar wajah Clara ke arah jendela.
Setelah melihat langit cerah, Clara langsung berbalik mendekap sahabatnya. Keduanya lalu berbincang dengan santai sampai pesawat mendarat dengan selamat di kota Gaib.
Violetta dan Clara langsung saja meninggalkan pesawat untuk secepatnya berada di dalam bandara.
"Huh!" Peluh keduanya merasakan lega setelah dua jam penerbangannya ke kota Gaib.
"Vio, apa kau memperhatikan di barisan kursi kita tidak ada orang lain lagi selain kita berdua?" Tanya Clara merasa heran.
Deg!
Violetta langsung mengingat sosok pria yang menggenggam jemarinya.
"Vio, kenapa kau melamun?" Imbuh Clara bertanya.
Violetta masih termenung memikirkan sosok pria yang tidak bisa dipahami olehnya.
"Tidak apa-apa, ayo kita ke ruang pengambilan bagasi" jawabnya lalu berjalan mengikuti papan tanda penunjuk yang tergantung di langit-langit bandara.
Marsya dan beberapa temannya yang melihat Violetta dan Clara berjalan tidak jauh di depannya langsung berjalan cepat menghampiri keduanya lalu mendorong gadis yang dibencinya.
"Aduh!" Kaget Clara terhuyung ke depan namun berhasil ditahan dengan sigap oleh Violetta.
"Ha ha ha, rasain loe cewek kucrut!" Ejek Marsya yang mendorongnya dari belakang.
Mengetahui siapa yang telah mendorongnya dari belakang, wajah Clara berubah merah, sorot matanya begitu tajam menatap gadis yang terus berkelakar bersama teman-temannya.
Bugh!
"Aw!" Rintih Marsya merasakan sakit di wajahnya terkena bogem mentah yang dilayangkan oleh Clara.
"Gimana rasanya tonjokan gue? Sedap kan? Pasti loe ketagihan ha ha ha" ucap Clara sambil meniup kepalan tangannya dengan raut wajah begitu puas.
"Bajingan! Awas loe, gue bilangin sama emak loe nanti" berang Marsya tidak terima atas perlakuan musuhnya.
"Kenapa loe Jeng? Kesambet ikan asin loe! Baru ditoel dikit aja udah mau lapor-laporin gue" ejek Clara dengan raut wajahnya yang ketus.
Antoine yang merupakan pacarnya Marsya langsung menarik kekasihnya menjauhi kedua gadis yang terlihat puas membalas kelakuan kekasihnya.
"Hati-hati loe Clara!" Ucap seorang gadis sahabatnya Marsya mengancamnya.
"Loe kira gue bakal takut. Pergi sana!" Balas Clara tidak mempedulikan ancamannya.
Dengan berdecak pinggang, Clara terus saja menunjukkan wajah puasnya melihat Marsya dan teman-temannya menjauhi dirinya.
"Huh! Main-main sama gue" dengus Clara lalu meringis kesakitan mengibaskan tangannya.
"Ha ha ha, kau ini" kekeh Violetta lalu menarik tangan sahabatnya.
"Aw! Sakit!" Jerit Clara yang tangannya sedang kesakitan malah diremas oleh jemari Violetta.
"Clara! Vio!" Panggil seseorang dari seberang putaran bagasi sambil melambaikan tangannya.
"Hei, Andin" sahut keduanya begitu senang langsung membalas lambaiannya.
Keduanya lalu menghampiri Andin yang berdiri dengan beberapa teman kampusnya.
"Tadi kalian kenapa? Gue panggil-panggil gak ada yang nyahut, gue lihat kalian begitu tegang duduk di kursi pesawat" tanya Andin ingin tahu.
"Tidak apa-apa, gue sama Clara salah makan tadi, jadinya nahan mules selama di pesawat" kilah Violetta asal.
"Ha ha ha bohong aja loe! Tapi ya sudahlah, toh kalian baik-baik saja" timpal Andin mengetahuinya.
Marsya dan pacarnya berada di ujung jalur keluar bagasi, ia melihat sebuah koper milik Clara baru keluar dari lorong lalu mengambilnya.
Dengan begitu kesal ia menginjak-injaknya dan langsung menendangnya.
Namun sial baginya, koper yang diinjaknya bukanlah milik Clara. Terlihat seorang gadis bersama ayahnya yang berbadan sangat tinggi dan tegap dengan rambut cepak nampak seperti aktor Arnold Kurangseger langsung mengambil koper anak gadisnya yang sedikit rusak dan kotor.
"Ayah, itu dia orangnya yang telah menginjak koperku" tunjuk si gadis ke arah gadis bergaun merah.
Keduanya lalu menghampiri seorang gadis yang masih menunggu kopernya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
anggita
ikut ng👍like aja.
2022-12-03
0
Optimuscrime 🦊
Arnold kurangseger gatuh, waduh aktor paporitku itu thor!
2022-10-24
1
Optimuscrime 🦊
marsha and the bear rese!!
2022-10-24
1