Hujan deras di malam hari tidak membuat gadis cantik yang menutupi tubuhnya dengan selimut tebal itu menghentikan aktivitasnya menyaksikan film di laptop kesayangannya.
"Vio!" Panggil ibunya dari luar kamarnya.
"Iya, Mom!" Sahutnya lalu menengadah memperhatikan jam bundar yang menempel di dinding kamar menunjukkan pukul 11 malam.
Violetta mengetahui apa yang akan ditanyakan oleh ibunya.
"Sudah jam berapa ini? Bukannya besok subuh kau harus ke bandara. Ingat loh, perjalanan dari Bogor ke bandara Perjuangan lumayan jauh, jam 5 pagi kau sudah harus berada di Pool Bus" ujar ibunya mengingatkan.
"Iya, sebentar lagi! Baru juga jam 11, nanggung nih" timpalnya sambil terus menatap layar laptopnya.
Sejam kemudian, film yang ditontonnya berakhir. Violetta langsung mematikan laptopnya. Ia masih belum merasakan kantuk di tengah malam.
"Enak kali ya ngopi sambil sebat" gumamnya dengan menyeringai.
Violetta mengendap-endap berjalan di ruang keluarga ke arah buffet tempat ayahnya biasa menyimpan rokoknya.
Ia melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang yang melihatnya, terutama sang ayah yang tidak bisa ia bayangkan kemarahannya.
Ia membuka sebuah laci dengan begitu pelan lalu mengambil sebungkus rokok dan memasukkannya ke dalam selipan celananya.
Setelahnya ia melangkah ke arah dapur untuk membuat kopi hitam kesukaannya.
Baru saja ia menyalakan kompor, dari arah belakang seorang pria paruh baya berjalan menghampirinya.
"Ayo, anak Popis lagi ngapain tengah malam begini?" Tanya pak Anton ayahnya Violetta.
Deg!
Jantungnya seolah berhenti, wajahnya berubah pucat mendengar suara ayahnya yang berdiri di belakangnya. Ia begitu ketakutan ayahnya mengetahui perilakunya.
"Jangan terkejut seperti kau melihat hantu saja, Popis sudah mengetahui anak gadis Popis merokok.
Kamu harus ingat, jangan sampai Momis tahu kau merokok, nanti Popis kena getahnya" ujarnya mengingatkan walau terlihat ia begitu kecewa di raut wajahnya.
"Jadi! Jadi Popis tidak marah Vio merokok" ucapnya terbata lalu memberanikan diri berbalik menatap ayahnya.
"Sebenarnya Popis begitu marah kepadamu, ini semua juga salah Popis yang tidak bisa berhenti merokok, kau jadi mengikutinya. Vio sekarang sudah dewasa, kamu pastinya tahu segala sesuatu ada timbal baliknya, apa yang kamu tanam pasti kamu akan menuai hasilnya nanti. Berpikirlah sebelum bertindak dan bertanggung jawablah pada setiap apa pun yang kamu lakukan" ujarnya memberikan wejangan.
Violetta menangis mendengarkannya, ia langsung meluruh memeluk ayahnya.
Sebagai seorang programmer yang bergelut di dunia informatika, menghadapi rumitnya kode program merupakan makanan kesehariannya.
Bagi yang memiliki aktivitas di luar rumah mungkin bisa melampiaskan mumet di kepala dengan melakukan aktivitas fisik, namun bagi seorang yang kesehariannya di rumah tentunya akan menghadapi masalah psikis yang harus diatasinya.
Hal itulah yang membuat Violetta melampiaskannya pada hal yang merusak kesehatannya. Sampai akhirnya sang ayah mencurigainya dan selalu memantau aktivitasnya.
"Maafkan Vio ya Popis. Vio pasti akan selalu mengingatnya. Vio sayang Popis" ucapnya semakin erat ia memeluk ayahnya.
"Popis juga sayang Vio, tapi sayang gasnya terbuang percuma" Balas ayahnya melihat api kompor terus menyala.
Violetta langsung melepaskan pelukannya lalu berbalik memasak air sambil mengusap pipinya yang basah.
"Kopi punya Popis jangan diaduk" pinta pak Anton langsung berbalik meninggalkannya.
"Siap, Bos!" Balasnya dengan semangat.
Tak lama ia membawakan segelas kopi untuk ayahnya.
"Spesial tanpa diaduk buatan Violetta putri Popis Anton" ucap Violetta langsung meletakkannya di meja.
"Besok Popis hanya bisa mengantarmu ke Pool Bus saja. Popis ada rapat di Puncak, maaf ya putri cantik Popis" ujar pak Anton dengan raut wajah kecewa.
Violetta tersenyum menatap ayahnya.
"Tidak apa-apa, Momis sudah mengatakannya tadi" jawabnya lalu berbalik pergi.
Di balkon depan kamarnya, Violetta memutar sebungkus rokok yang dipegangnya, mengingat perkataan ayahnya, ia langsung melemparkannya ke tong sampah.
"Aku tidak mau membuat orang tuaku kecewa dan sedih karena kelakuanku" ucapnya meyakinkan diri tidak akan melakukannya lagi.
Setelah menghabiskan kopinya, Violetta langsung melemparkan tubuhnya ke atas sofa. Karena kasurnya masih basah, ia jadi tidur di atas sofa kamarnya.
Dalam posisi telungkup, ia menutup kepalanya dengan bantal dan tertidur di bawahnya.
Beberapa jam kemudian, ibunya masuk membangunkannya.
"Vio, bangun Nak!" Pinta ibunya sambil menepuk-nepuk badannya.
Violetta terbangun sambil mengucek matanya yang masih sepet.
"Pastikan tidak ada yang tertinggal" pesan ibunya yang melangkah pergi keluar kamar lalu menutup pintu.
"Baru juga tidur, sudah dibangunkan saja. Mana masih perih ini mata" keluh Violetta lalu beranjak bangun pergi ke kamar mandi yang terhubung dengan kamarnya.
Setelah menutup pintu kamar mandi, Violetta langsung saja mengguyur badannya dengan shower, ia lalu menuangkan sabun cair ke serabut benang lalu mulai menggosok tangannya.
"Waduh!" Kagetnya ketika melihat kain bajunya masih menempel di tubuhnya.
Sambil terkekeh karena keteledorannya sendiri, ia lalu membukanya.
Selesai sudah ia membersihkan dirinya, namun masih ada hal yang dilupakannya yaitu membawa handuk.
Violetta celingak-celinguk mengintip di pintu kamar mandinya.
"Aman" ucapnya lalu berjalan santai ke dalam kamarnya.
Di balik pintu kamarnya, sang ayah membuka pintu dan selonong memasuki kamar putrinya.
"Ya Tuhan, maaf!" Ucap pak Anton lalu berbalik meninggalkan kamar setelah tidak sengaja melihat putrinya.
Untung hanya bagian belakangnya saja yang terlihat oleh ayahnya. Violetta yang menyadari keberadaan ayahnya langsung terburu-buru memakai pakaiannya.
Di depan cermin kamarnya, Violetta tidak henti-hentinya menatap dirinya sendiri.
"Perasaan baru kemarin aku masih kecil, sekarang sudah besar begini" gumamnya membalik-balikkan badan sambil mengerucutkan bibirnya.
"Vio! Cepatlah! Sudah mau jam lima" teriak ibunya kesal dengan anaknya yang begitu lama di kamarnya.
Pak Anton yang sedang sarapan menjadi kikuk melihat putrinya. Ia pura-pura mengacuhkannya dengan terus melahap nasi goreng buatan istrinya.
Setelah sarapan, pak Anton dan Violetta langsung melangkah keluar rumah.
"Momis, aku pergi dulu" ucap Violetta langsung mencium punggung tangan ibunya.
"Hati-hati sayang, ingat jangan berbuat yang aneh-aneh di sana" pesan ibunya terus memperhatikan suami dan anaknya.
"Siap, Bos" sahut Violetta lalu memasukkan kopernya ke bagasi mobil ayahnya.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah. Di sepanjang perjalanan mengantar putrinya, Pak Anton terus saja diam tidak berani mengatakan apa pun.
"Popis, sebaiknya langsung cepat pulang setelah mengantar Vio" ucap Vio menyarankan.
Ia tahu apa yang terjadi dengan ayahnya hingga tidak berbicara sepatah kata pun di sepanjang perjalanan.
"Itu pasti, maafkan Popis ya sayang, tadi tidak sengaja" balas pak Anton mulai mencair suasana hatinya.
"Iya, tidak apa-apa, Vio juga salah tidak membawa handuk waktu mandi, jangan diingat-ingat lagi ya Pop. Aku ini anakmu" timpal Vio memahami kegugupan ayahnya.
"Tenang saja sayang, Popis hanya terkejut saja melihatmu sudah besar" kilah pak Anton sambil mengusap lembut kepala anaknya.
"Apanya yang besar?" Tanya Violetta tanpa memikirkannya.
"Ya Tuhan!" Serunya menanggapi pertanyaan anaknya.
"Maksud Popis, dirimu yang sudah besar, bukan anak kecil lagi. Jangan disambungkan ke hal lain. Pamali!" Ujar pak Anton sambil menggelengkan kepalanya.
"Ha ha ha, maaf, maaf" balas Violetta terkekeh karena salah memahaminya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
⍣⃝ꉣꉣ❤️⃟Wᵃf◌ᷟ⑅⃝ͩ●diahps94●⑅⃝ᷟ◌ͩ
seyemm
2023-02-10
1
𝐀⃝🥀Jinda🤎Team Ganjil❀∂я🧡
dua gift mawar 🌹🌹 untuk si Programmer Violetta dan untuk kk Author.
2023-02-10
2
DMus
Kurang akrab di sama bpknya kayaknya
2022-11-20
1