Panti Asuhan

Seorang wanita paruh baya dengan penampilan yang begitu modis masuk ke dalam sebuah lembaga pemasyarakatan. Dia kemudian mendekat ke salah seorang petugas lapas dan mengatakan sesuatu padanya. Petugas lapas itu lalu mempersilakan wanita itu duduk di sebuah kursi dengan meja kecil yang ada di dalam ruangan itu.

"Silahkan Nyonya Fitri," kata salah seorang petugas lapas.

Tak berapa lama, seorang laki-laki berpakaian warna orange yang kira-kira berusia empat puluh delapan tahun, mendekat ke arah meja itu lalu duduk di hadapan wanita paruh baya itu.

"Bagaimana kabarmu, Dimas?" tanya wanita paruh baya itu.

"Baik, Ma. Bagaimana kabar Mama?"

"Sangat baik. Begini Dimas, tanggal pertunangan Shakila dan Devano sudah ditentukan. Beberapa hari yang lalu, Mama sudah bertemu dengan Viona dan sudah menentukan tanggal pertunangan Shakila dan Devano. Tentunya setelah kau dan istrimu, Delia dibebaskan dari penjara. Kalian harus menyaksikan pesta pertunangan anak kalian, Shakila."

"Apa Mama yakin?"

"Tentu saja? Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Entahlah. Kata hatiku mengatakan jika Shakila tidak mau menerima perjodohan itu. Selama ini Shakila dibesarkan oleh Aini. Tentu dia tumbuh menjadi wanita yang sangat berkarakter. Aku tidak yakin, dia mau menerima perjodohan itu, Ma."

"Jadi, kau menolak perjodohan itu Dimas? Apa kau sudah lupa wasiat mendiang papamu?"

"Aku tidak bermaksud menolak perjodohan itu, Ma. Aku hanya berfikir secara logis jika Shakila tumbuh dalam lingkungan yang modern, dan rasanya sangat mustahil jika gadis secantik Shakila tidak memiliki seorang pacar."

"Kau dan Aini memang sama saja!"

"Jadi Aini juga mengatakan hal yang sama denganku?"

Wanita paruh baya itu kemudian menganggukan kepalanya. "Sekarang Mama lihat sendiri kan? Tentu bukan hal yang mudah menjodohkan wanita seperti Shakila."

"Tapi bagaimanapun juga pertunangan itu tetap harus dilakukan, Dimas."

"Lalu bagaimana jika kenyataannya seperti yang kita takutkan? Bahkan, Aini saja mengatakan hal yang sama denganku, kan? Bagaimana jika..."

"Masih ada Sachi!" potong Fitri.

"Sachi?" ucap Dimas sambil mengerutkan keningnya.

"Ya, Sachi putri keduamu. Adik kandung Shakila."

"Apa mama sudah menemukan Sachi?"

Fitri kemudian menggelengkan kepalanya. "Kami belum menemukan Sachi. Keberadaannya sangat misterius karena saat Delia tidak sengaja meninggalkannya di dalam kereta, petugas stasiun tidak ada yang tahu jika ada bayi yang tertinggal di dalam kereta. Hal itu benar-benar membuatku kehilangan jejak tentang keberadaan Sachi. Bahkan, untuk mencari saksi mata saat kejadian tersebut saja sangat sulit."

"Jadi pihak stasiun saat itu tidak ada yang tahu jika ada bayi yang tertinggal di dalam kereta, Ma?"

"Ya, tidak ada yang tahu jika ada bayi yang tertinggal di dalam kereta."

"Jadi, kemungkinan ada yang menemukan dan membawa Sachi?"

"Ya, kemungkinan seperti itu, dan kita tidak tahu karena ada begitu banyak manusia yang menaiki kereta tersebut."

"Apa mama sudah pernah mencari tahu keberadaan Sachi di sekitar komplek stasiun itu? Misalnya, mencari datanya di rumah sakit atau klinik terdekat? Atau mungkin di panti asuhan?"

"Mama memang pernah mencoba mendatangi rumah sakit ataupun klinik terdekat, tapi mereka tidak mau memberikan data pada sembarangan orang. Takut disalah gunakan, apalagi kejadian itu sudah dua puluh tahun lebih lamanya."

"Lalu, apa mama pernah mencoba mencarinya di panti asuhan? Barang kali ada panti asuhan di dekat stasiun itu."

"Mama belum mencari ke panti asuhan, Dimas."

Dimas kemudian menghembuskan nafas panjangnya. 'Sachi, dimanapun kau berada papa akan selalu mendoakanmu. Setelah aku keluar dari penjara, sekuat tenagaku, aku akan berusaha untuk mencarimu, Nak. Sachiku sayang, aku bahkan belum pernah bertemu denganmu, melihat wajahmu, ataupun menyentuhmu, tapi kita sudah dipisahkan oleh takdir. Maafkan kami, Nak. Aku memang bukan orang tua yang baik, tapi aku janji aku pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk mencarimu, dan suatu saat nanti kita pasti akan berkumpul bersama,' batin Dimas sambil melihat awan yang berarak dari kaca jendela.

"Satu bulan lagi kau keluar dari penjara Dimas. Kita cari Sachi bersama-sama."

"Iya Ma," jawab Dimas sambil meremas dadanya. Menahan sebuah rasa sakit yang begitu menyesakkan dadanya.

***

"Kau kenapa, Luna?" tanya Devano saat melihat Luna yang berjalan sambil memegang dadanya, ketika mereka tengah berjalan di dalam sebuah mall.

"Tidak apa-apa, Devano. Dadaku, tiba-tiba merasa sesak."

"Dadamu sesak?"

Luna kemudian menganggukan kepalanya. "Kalau begitu, kita istirahat dulu. Kita masuk ke food court itu dulu ya."

"Ya," jawab Luna. Mereka kemudian masuk ke dalam sebuah food court yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.

"Devano, bolehkah aku minta tolong sesuatu?"

"Ya, ada apa sayang? Kau mau apa?"

"Bisakah kau membelikan minyak aromatherapy untuku?"

"Ya, tentu saja. Kau tunggu di sini. Aku pergi ke apotik sebentar."

"Iya Devano."

Devano kemudian berjalan meninggalkan Luna di dalam sebuah food court. Sementara itu seorang pelayan food court tampak mendekat ke arahnya.

"Ini daftar menunya, Nyonya. Silahkan!"

"Oh iya. Tapi saya sedang menunggu teman saya sebentar."

"Tidak apa-apa. Saya bisa menunggu anda."

"Kau baik sekali. Siapa namamu?"

"Dea."

"Oh nama yang bagus."

"Terima kasih."

"Dea, sepertinya kita seumuran."

"Ya, mungkin."

"Usiaku dua puluh satu tahun. Berapa usiamu, Dea?"

"Kemungkinan juga dua puluh satu tahun, tepatnya saya tidak tahu."

"Tidak tahu tepatnya usiamu? Apa maksudmu, Dea?"

"Emh begini, selama ini saya hidup di panti asuhan, jadi saya tidak tahu kapan tepatnya tanggal lahir saya."

"Astaga, maafkan aku Dea."

"Tidak apa-apa."

"Jadi, kau tinggal di panti asuhan? Kau tinggal di panti asuhan mana? Mungkin suatu saat aku dan pacarku bisa datang menjunjungi panti asuhanmu."

"Saya tinggal di panti asuhan dekat stasiun."

"Oh, jadi kau tinggal di panti asuhan yang ada di dekat stasiun?"

"Ya, emhhh permisi Nyonya. Maaf saya harus ke belakang karena shif saya sudah selesai dan akan digantikan oleh teman saya yang melayani anda."

"Apa kita tidak bisa ngobrol sebentar?"

Dea kemudian tersenyum. "Saya harus berangkat kuliah, sekali lagi maaf. Saya permisi dulu, nanti biar teman saya yang melayani anda."

"Oh iya, silakan Dea. Terima kasih sudah menemaniku."

"Sama-sama," jawab Dea. Dia kemudian berlalu masuk ke dalam ruang khusus staf. Sementara Luna kini menatap kepergian Dea sambil mengerutkan keningnya.

"Panti asuhan di dekat stasiun? Bukankan mama juga sering mengunjungi panti asuhan itu?" ujar Luna.

Terpopuler

Comments

yumna

yumna

ap dea dan luna d tukar wakt bayi m ibu dea

2022-09-06

0

Linda Purwanti

Linda Purwanti

lanjuuuuut ka

2022-09-05

0

Tiahsutiah

Tiahsutiah

bukan nya luna itu sachi ya, tp kenapa ciri dea sama persis dengan sachi🤔

2022-09-05

0

lihat semua
Episodes
1 PROLOG. Farewall Gift
2 Sweet Kiss
3 Mau Kuajari?
4 Sekedar Pelampiasan
5 No Love
6 Sebuah Alasan
7 Sarapan Pagi
8 Living Together?
9 Peringatan
10 Lebih Dulu
11 Terbelenggu
12 Demam
13 Hati Untuk Dihargai
14 Sachi
15 Detik Terindah
16 Di Kantin
17 Maafkan Aku
18 Takut
19 Teruntuk Logika
20 Panti Asuhan
21 Siapa Aku Sebenarnya?
22 Kantor Cabang
23 Tentang Luna
24 Seribu Alasan
25 Puasa
26 Dibohongi
27 Selamat Pagi
28 Skenario Kehidupan
29 Dikecewakan
30 Flashback End
31 Diadu Domba
32 Waktuku Telah Habis
33 Lakukan Tugasmu
34 Tiga Hari
35 Menikah Denganku
36 Jati Diriku?
37 Bukan Dengan Berlari
38 Dimana Sachi?
39 Kutunggu Kau
40 Kamar Hotel
41 Ada Dimana?
42 Tentang Cinta
43 Bukan Shakila Tapi Sachi
44 Darah Segar
45 Bukti
46 Tante Dokter
47 Wanita Tidak Pernah Salah
48 Pilihan Yang Sulit
49 Sebatas Nikah Siri
50 Pernikahan
51 Si Cantik Dora
52 Membuat Cemburu
53 Rindu Yang Belum Tersampaikan
54 Special To Me In Every Way
55 Foto Bayi
56 Sesak
57 Panti Asuhan
58 Kau Kenapa?
59 Selidiki Sachi
60 Hilang
61 Mencari Tahu Sachi
62 Berharap Lebih
63 Pilih Siapa?
64 Luna Adalah Sachi
65 Mama
66 Istrimu Sachi
67 Siapa Dora?
68 Sensasi Berbeda
69 Apakah Itu Dea?
70 Bidadari Empang
71 Sebuah Janji
72 Pemalsuan Identitas
73 Kacamata dan Masker
74 Kepalasuan
75 Mengakui Kebenaran
76 Sebuah Pesan
77 Kau?
78 Pesan Dari Dea
79 Alasan
80 Kerjasama
81 Pengumuman
82 Harga Diri
83 Bercerai
84 Karma
85 Percaya Padaku?
86 Ciuman Manis
87 Setan Lewat
88 Setangkai Mawar
89 Melarikan Diri
90 Sakit Jantung
91 Mati?
92 Sepucuk Surat
93 Fin
94 Terjerat Pesona Suami Tanteku
95 PROMO NOVEL ADIK IPARKU KEKASIHKU
96 PROMO NOVEL MAINAN TUAN MAFIA
97 PROMO NOVEL AKU CINTA BUKAN LARA
98 PROMO NOVEL MEREBUT HATI SUAMIMU
99 PROMO NOVEL
100 PROMO NOVEL
101 GAIRAH SANG MANTAN
102 Wanita Malam Pak Polisi
Episodes

Updated 102 Episodes

1
PROLOG. Farewall Gift
2
Sweet Kiss
3
Mau Kuajari?
4
Sekedar Pelampiasan
5
No Love
6
Sebuah Alasan
7
Sarapan Pagi
8
Living Together?
9
Peringatan
10
Lebih Dulu
11
Terbelenggu
12
Demam
13
Hati Untuk Dihargai
14
Sachi
15
Detik Terindah
16
Di Kantin
17
Maafkan Aku
18
Takut
19
Teruntuk Logika
20
Panti Asuhan
21
Siapa Aku Sebenarnya?
22
Kantor Cabang
23
Tentang Luna
24
Seribu Alasan
25
Puasa
26
Dibohongi
27
Selamat Pagi
28
Skenario Kehidupan
29
Dikecewakan
30
Flashback End
31
Diadu Domba
32
Waktuku Telah Habis
33
Lakukan Tugasmu
34
Tiga Hari
35
Menikah Denganku
36
Jati Diriku?
37
Bukan Dengan Berlari
38
Dimana Sachi?
39
Kutunggu Kau
40
Kamar Hotel
41
Ada Dimana?
42
Tentang Cinta
43
Bukan Shakila Tapi Sachi
44
Darah Segar
45
Bukti
46
Tante Dokter
47
Wanita Tidak Pernah Salah
48
Pilihan Yang Sulit
49
Sebatas Nikah Siri
50
Pernikahan
51
Si Cantik Dora
52
Membuat Cemburu
53
Rindu Yang Belum Tersampaikan
54
Special To Me In Every Way
55
Foto Bayi
56
Sesak
57
Panti Asuhan
58
Kau Kenapa?
59
Selidiki Sachi
60
Hilang
61
Mencari Tahu Sachi
62
Berharap Lebih
63
Pilih Siapa?
64
Luna Adalah Sachi
65
Mama
66
Istrimu Sachi
67
Siapa Dora?
68
Sensasi Berbeda
69
Apakah Itu Dea?
70
Bidadari Empang
71
Sebuah Janji
72
Pemalsuan Identitas
73
Kacamata dan Masker
74
Kepalasuan
75
Mengakui Kebenaran
76
Sebuah Pesan
77
Kau?
78
Pesan Dari Dea
79
Alasan
80
Kerjasama
81
Pengumuman
82
Harga Diri
83
Bercerai
84
Karma
85
Percaya Padaku?
86
Ciuman Manis
87
Setan Lewat
88
Setangkai Mawar
89
Melarikan Diri
90
Sakit Jantung
91
Mati?
92
Sepucuk Surat
93
Fin
94
Terjerat Pesona Suami Tanteku
95
PROMO NOVEL ADIK IPARKU KEKASIHKU
96
PROMO NOVEL MAINAN TUAN MAFIA
97
PROMO NOVEL AKU CINTA BUKAN LARA
98
PROMO NOVEL MEREBUT HATI SUAMIMU
99
PROMO NOVEL
100
PROMO NOVEL
101
GAIRAH SANG MANTAN
102
Wanita Malam Pak Polisi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!