"Luna, tolong maafkan aku. Maaf jika aku sudah membuatmu tersiksa akan sikapku. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman dengan sikapku. Maafkan aku, Luna." ucap Devano sambil memeluk erat tubuh Luna.
"Apa kau marah padaku?"
Devano kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak," jawabnya lirih.
"Kalau kau tidak marah padaku, kenapa kau bersikap dingin padaku?" tanya Luna yang kini begitu terisak.
"Aku takut..."
"Takut apa?"
"Takut melihatmu pergi dengan laki-laki lain karena kau kesal dengan sikapku yang selalu memperlakukanmu sesuka hatiku,"
"Apa aku pernah mengeluh akan sikapmu?"
Devano kemudian menggelengkan kepalanya. "Aku tahu kau tidak pernah mengeluh akan sikapku, tapi aku tahu kau terpaksa melakukan itu karena kau memiliki hutang denganku dan takut kehilangan pekerjaanmu. Iya kan Luna?"
Luna pun hanya terdiam, tak dapat dipungkiri jika dia memang melakukan semua itu karena dia takut kehilangan pekerjaan dan karena permintaan Devano untuk melunasi hutang-hutangnya.
"Kenapa kau diam Luna? Kau melakukan semua itu karena takut kehilangan pekerjaanmu, kan?"
Luna pun kembali terdiam. "Kau tidak bisa menjawabnya kan?"
Luna kemudian mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Aku memang melakukan semua itu karena takut kehilangan pekerjaanku, aku memang melakukan semua itu hanya untuk menuruti petintahmu untuk membayar hutang-hutangku. Tapi, entah menapa semua terasa begitu hampa bagiku saat tidak lagi mendengar rengekan manjamu, semua terasa hampa bagiku saat tidak lagi melihat tingkah nakalmu. Entah mengapa, aku merindukan semua yang ada pada dirimu, Devano."
"Kau merindukan aku?" tanya Devano yang begitu terkejut mendengar kata rindu terucap dari bibir Luna. Luna pun menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku merindukanmu. Aku merindukan semua tentangmu. Aku juga takut hubungan kita tidak bisa diperbaiki lagi seperti dulu. Aku takut melihat kemarahanmu padaku, Devano. Dan aku sangat tersiksa dengan semua keadaan ini," ucap Luna sambil terisak.
Devano kemudian membalikkan tubuh Luna, dan menghapus air mata yang membasahi wajah Luna. "Jangan menangis lagi, maafkan aku."
"Jangan marah lagi padaku. Aku takut," isak Luna.
"Bukankan sudah kukatakan kalau aku tidak marah padamu?"
"Tapi kenapa kau mendiamkan aku? Tidak mau bicara denganku, bahkan mengabaikanku begitu saja."
"Bukankah tadi sudah kukatakan kalau aku takut kau tidak nyaman dengan sikapku."
"Kalau kau tidak marah padaku, kenapa kau membuat keributan di kantin, bahkan membuang makanan itu?"
"Aku merasa kesal, aku sangat marah saat melihatmu berdekatan dengan laki-laki lain. Padahal kau baru saja berjanji padaku untuk tidak berdekatan dengan laki-laki lain, tidak boleh ada yang merayumu kecuali aku, dan tidak boleh ada yang menyentuhmu kecuali aku. Aku sangat kesal karena ada laki-laki lain yang mendekatimu, dan aku takut kau merasa lebih nyaman dengan laki-laki itu dibandingkan dengan diriku. Karena itulah, selama tiga hari aku merenung. Aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman dengan semua sikapku padamu. Aku takut Lunaaaa... "
"Takut apa?"
"Takut kehilanganmu karena semua sikapku. Aku takut semua sikapku membuatmu merasa tidak nyaman padaku."
Luna lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak Devano. Aku sangat merindukanmu, merindukan semua sikap nakalmu, sikap menyebalkanmu, dan sikap manjamu."
"Benarkan?"
"Ya, aku merindukan sikapmu yang dulu. Aku merindukan Devano yang dulu, tolong bersikaplah seperti biasa, bersiaplah seperti Devano yang dulu. Kau mau kan?"
"Tentu saja, aku juga sangat rindu padamu. Aku sangat merindukanmu, Luna."
Luna kemudian memeluk tubuh Devano. memeluk tubuh kekar itu dengan begitu erat sambil mencium dada bidangnya.
"Luna!" panggil Devano.
Luna kemudian mengangkat wajahnya lalu menatap wajah Devano yang kini menatapnya dengan tatapan dalam. "Luna," ucap Devano lirih.
Luna pun menganggukkan kepalanya. Devano kemudian mendekatkan wajahnya lalu mengecup kening Luna, dan turun menjelajahi wajahnya, mengecup seluruh inchi wajah tersebut dengan begitu lembut hingga Luna terhanyut.
"Devano," ucap Luna sambil menatap Devano dengan tatapan, seolah meminta lebih.
"Luna..."
Luna menganggukkan kepalanya kembali. Devano kemudian menempelkan bibirnya pada bibir Luna, memaggutnya dengan lembut.
"Devanooo," legguhan lirih pun mulai keluar dari bibirnya.
"Lunaaaaaa, aku sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu," ucap Devano setelah melepaskan ciumannya, dia kemudian menempelkan wajahnya pada wajah Luna sambil menciumi kembali setiap inchi wajah cantik itu.
"Aku juga sangat merindukanmu, Devano. Aku hanya milikmu, hanya milikmu," ujar Luna lirih saat Devano mengecup seluruh wajahnya.
Devano kemudian memaggut kembali bibir Luna dan dibalas degan paggutan yang begitu rakus oleh Luna, hingga ciuman itu kini menjadi ciuman yang begitu menuntut, dan semakin liar. Devano mendorong tubuh Luna hingga menempel di tembok dan mulai membuka kancing piama yang dikenakan oleh Luna dan memasukan tangannya ke bawah pakaian Luna.
"Emmmptt Devano..." dessah Luna, saat tangan Devano mulai mengusap dan meraba punggungnya.
"Ahhhh, Devano.... "
Devano kemudian melepaskan isappannya dan beralih menyapu leher Luna dengan bibirnya yang membuat Luna mendongakkan kepalanya.
"Devanooo, i'm yours,' legguh Luna saat Devano tengah asyik menjillati leher jenjangnya.
"Benarkah?"
"Ya."
"Di ranjang atau di sofa?" bisik Devano.
"Di ranjang."
"Pilihan yang bagus, Luna," ujar Devano. Dia kemudian mengangkat tubuh Luna tanpa melepaskan ciumannya.
Devano pun semakin tak tahan melihat tubuh indah Luna, dia kemudian melucuti sisa pakaian yang dikenakan oleh Luna.
"Kau siap?" tanya Devano. Luna kemudian menganggukan kepalanya.
"Kau tenang saja, aku akan berusaha melakukan dengan lembut."
'Kau siap Joni?' batin Devano sambil melihat juniornya.
Dikecupnya kembali bibir tipis itu, perlahan Devano pun mulai memasukkan juniornya ke dalam liang hangat itu.
'Shitttt, sempit sekali Joniii,' umpatnya saat berulang kali gagal memasukkan Joni. Dia kemudian mencoba memasukan kembali dengan perlahan, meskipun saat ini Luna tampak mulai meneteskan air matanya.
SREKKK
"Awwww," jerit Luna sambil meringis kesakitan.
"Sakit? Maaf."
"Tidak apa-apa."
Devano kemudian pelan-pelan mulai menggerakkan juniornya, perlahan, dan lembut, memainkan pinggullnya di atas tubuh Luna.
"Ahhhhhh Luna!" jerit Devano setelah cairan kental menyembur ke dalam liang hangat milik Luna.
Tubuh Devano pun ambruk di atas tubuh Luna, kemudian mengecup lembut bibirnya.
"Lunaaa, i love you," bisik Devano dengan mata terpejam.
"Apa?"
"I love you, Luna. Aku mencintaimu, aku sebenarnya sangat tersiksa dan kehilanganmu tiga hari terakhir ini. Aku tidak ingin kehilangan dirimu, Luna. Jadilah milikku," bisik Devano di telinga Luna. Dia kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping tubuh Luna lalu menatap wajah cantik itu, dan membelai wajah itu dengan begitu lembut.
"I love you, kau mau kan jadi pacarku?"
"Kau sudah bertunangan."
"Aku akan membatalkan pertunanganku."
"Tapi Devano, lalu apa kata orang tuamu?"
"Itu urusanku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
yumna
benarkah devano cint m luna bnran....
2022-09-06
0
tata 💕
devano, kamu yakin "luna, I love you" bukan'a "just s*x no love"
2022-09-04
0
tata 💕
aduh luna...luna gara2 di diemin 3hari mahkota mu kau lepas, gampang banget
2022-09-04
0