Setelah melihat Luna yang masuk ke dalem kantor, Devano bergegas pura-pura berjalan ke arah lift dan seolah-olah tidak melihat Luna saat berjalan ke arah yang sama.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Luna saat berdiri di belakang Devano yang sedang menunggu di depan pintu lift.
Devano lalu membalikkan tubuhnya dan menyapa Luna yang berdiri di belakangnya. "Hai, Luna. Kau sudah sampai di sini?"
"Iya, Tuan."
TING
Pintu lift pun terbuka, Devano lalu masuk ke dalam lift itu, diikuti Luna yang mengikutinya masuk ke dalam lift. Saat ada karyawan lain yang hendak masuk ke dalam lift itu, Devano buru-buru mengusirnya.
"Maaf, sudah penuh," tolak Devano sambil memencet pintu lift.
"Tuan, tapi di lift ini hanya ada kita berdua. Kenapa Tuan mengatakan kalau sudah penuh?"
"Luna, come on. Saya tidak bisa berdesak-desakan dengan orang lain dalam satu lift. Kau tau kan siapa aku?"
"Oh iya, Tuan."
Suasana di dalam lift pun seketika hening. Sesekali, Devano menatap pantulan wajah Luna pada dinding lift yang saat ini tengah menunduk.
'Come on, baby,' batin Devano.
"Emh, eh, Tuan. "
"Ya, ada apa? Tentu saja, Luna."
Mendengar perkataan Devano, Luna pun mengernyitkan keningnya. "Kenapa anda mengatakan tentu saja? Bukankah saya belum mengatakan apapun pada anda?"
"Oh iya, maaf. Memang kau mau mengatakan apa Luna?" tanya Devano. Namun, belum sempat Luna menjawabnya, pintu lift itu pun terbuka.
TING
"Ayo ke ruanganku!" perintah Devano. Luna lalu menganggukkan kepalanya kemudian berjalan di belakang Devano dan mengikuti langkahnya masuk ke dalam ruangannya.
"Ayo duduk, Luna!" perintah Devano. Luna kemudian duduk di samping Devano yang sudah terlebih dulu duduk di atas sofa.
"Ada apa, Luna? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?"
"Emh... Sebelumnya, saya minta maaf."
"Minta maaf? Memangnya kenapa, Luna?"
"Begini, Tuan. Saya tau, saya baru saja bekerja di kantor ini. Tapi saya benar-benar sedang membutuhkan bantuan Tuan Devano."
"Membutuhkan bantuanku? Memangnya apa yang bisa kubantu?"
"Sekali lagi, saya minta maaf. Tapi, apa Tuan bisa menolong saya dengan meminjamkan uang pada saya? Posisi saya sedang sangat terdesak, Tuan. Dan saya benar-benar membutuhkan uang dalam nominal yang cukup besar untuk membebaskan adik saya yang saat ini sedang disekap oleh seorang rentenir. Sa-saya janji, Tuan. Saya akan mengembalikan uang itu, silahkan anda potong gaji saya. Tapi tolong, tolong saya Tuan, tolong saya... " ucap Luna dengan begitu terisak.
Melihat Luna yang saat ini terlihat rapuh, rasa iba pun mulai merasuk ke dalam hati Devano. Dia kemudian menggenggam tangan Luna.
"Jangan bersedih, jangan menangis. Aku pasti akan membantumu."
"Benarkah, Tuan? Terima kasih banyak, Tuan."
"Ya."
"Si-silahkan anda potong gaji saya, Tuan. Sa-saya juga mau bekerja tanpa digaji."
"Sttttt, tolong jangan berkata seperti itu padaku. Kau bekerja padaku. Sudah sepantasnya aku menggajimu. Sekarang katakan berapa yang kau butuhkan?"
"Ma-maaf, Tuan. Saya membutuhkan uang sebanyak seratus juta. Silahkan anda potong saja gaji saya."
'Oh seratus juta? Kupikir hanya lima puluh juta. But, it's no problem for me, itu angka yang sangat kecil,' batin Devano.
"Luna, jangan berkata seperti itu. Aku tidak akan memotong gajimu."
Luna kemudian mengernyitkan keningnya. "Anda tidak mau memotong gaji saya? Lalu, bagaimana saya mengembalikan uang itu, Tuan?"
Devano lalu tersenyum kecut. "Bagaimana kalau kita membuat sebuah perjanjian."
"Perjanjian? Perjanjian apa, Tuan?"
Devano lalu menatap Luna. "Begini Luna, tiga bulan lagi aku akan bertunangan dan menikah dengan seorang wanita. Orang tuaku mengatakan jika kami sudah dijodohkan sejak kecil, mungkin sejak dalam kandungan."
"Lalu? Lalu apa hubungannya dengan saya, Tuan?"
"Dengarkan aku, Luna. Sebelum aku bertunangan dan menikah dengan wanita itu, maukah kau hidup bersama denganku?"
"HIDUP DENGAN ANDA? APA-APAAN INI? ANDA PIKIR SAYA WANITA APA, TUAN?"
"Luna, Luna, Luna. Tolong kecilkan volume suaramu! Jangan berfikir yang tidak-tidak padaku! Apa kau sudah lupa? Bukankah tadi malam aku sudah janji, aku tidak akan menyentuhmu terlebih dulu, kalau tidak maka perusahaanku bangkrut dan aku berubah jadi jelek," gerutu Devano.
Luna menatap Devano dengan tatapan penuh tanda tanya. "Lalu?"
"Aku hanya ingin memintamu untuk tinggal bersama denganku sampai aku bertunangan. Lalu, kau tidak perlu membayar uang yang kau pinjam untuk melunasi hutang-hutang adikmu itu. Bagaimana?"
Luna masih menatap Devano dengan tatapan tajam. "Living together?" tanya Luna.
"Bukan Luna. Aku tidak akan menuntut apapun padamu, aku hanya ingin kau tinggal di apartemen dan menemaniku, itu saja, tidak lebih. Apa kau lupa..."
"Aku tidak akan menyentuhmu terlebih dulu, kalau tidak maka perusahaanmu bangkrut dan kau berubah menjadi jelek. Itu kan yang mau kau katakan?" potong Luna.
"Ya," jawab Devano sambil terkekeh.
"Lalu bagaimana? Kau mau kan menemaniku sampai aku bertunangan?"
Luna diam sejenak, dan tampak berfikir. "Bagaimana Luna? Bukankah waktumu tidak banyak? Kalau kau menyanggupinya, maka sekarang juga kita akan membebaskan adikmu. Bagaimana?"
Luna masih terdiam, hingga beberapa saat, dia tampak mengangukkan kepalanya. 'Yeah, hoplaaaa!' batin Devano saat melihat Luna yang menganggukkan kepalanya.
"Baik Tuan, anda tidak akan menyentuh saya kan?"
"Ya, aku tidak akan menyentuhmu terlebih dulu," jawab Devano.
"Lebih baik sekarang, ayo kita bebaskan adikmu itu. Tanyakan padanya, dimana mereka menyekap adikmu. Aku akan membayar uang seratus juta itu, Luna."
"Emh, baik Tuan. Akan saya tanyakan dimana mereka menyekap Arka."
"Ya," jawab Devano. Luna kini sibuk mengutak-atik ponselnya untuk menghubungi Kayla, sedangkan Devano, menatap Luna sambil tersenyum menyeringai.
'Aku memang tidak akan menyentuhmu terlebih dulu, Luna. Tapi selama tiga bulan terkahir ini, kau akan kubuat bertekuk lutut padaku, dan memintaku untuk membuka gembok milikmu itu, hahahhahhahaha,' batin Devano.
'Aku sudah tidak sabar untuk menikmati buah chery yang ranum di atas benda kenyal milikmu yang belum terjamah oleh siapapun, serta lubang golf yabg masih rapat dan hangat, hahahaha. Aku yakin, rasanya pasti emhhhh sungguh nikmat. Hahahaha!' batin Devano kembali.
NOTE:
Mampir juga ya ke karya Kak Anisyah, judulnya Dokter Misterius vs Mafia Kejam, dijamin ceritanya keren abis loh
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nami chan
blm nanya woy 🤣
2023-11-24
1
yumna
devano bner"ya...otaknya dah travling kmn"
2022-09-01
0
Linda Purwanti
devano udah travling kmn" pikiranya
lanjuuuuuut thor
2022-08-30
0