"Ada apa Jeng Viona?" ucap sebuah suara yang terdengar mendekat ke arahnya.
"Oh, Oma Fitri."
"Bagaimana? Apa Devano sudah bisa kau hubungi?"
"Ponselnya sibuk."
"Kalau begitu, biarkan saja, mungkin dia benar-benar sedang sibuk dengan pekerjaannya. Lagipula, Shakila juga tidak bisa datang karena dia sedang sakit."
"Oh, iya Oma."
'Aku yakin, Devano pasti tidak sedang sibuk! Tadi aku sudah menelepon ke kantornya, dan salah seorang karyawan kepercayaanku mengatakan jika Devano pergi dengan sekretaris miskin itu sejak tadi pagi! Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan! Dia bahkan mengabaikan janjinya padaku demi wanita miskin itu! Aku harus memberi mereka pelajaran!' batin Viona.
Sementara itu, di apartemen Devano, Luna tampak menghentikan ciumannya karena mendengar ponsel Devano yang berbunyi berkali-kali.
"Kenapa Luna? Bukankah ini sangat menyenangkan?" ledek Devano.
"Tapi Tuan, ponsel anda terus berbunyi."
"Biarkan saja."
"Siapa tahu penting?"
"Tidak ada yang lebih penting dibandingkan kita, Luna," ucap Devano sambil membelai wajah Luna.
"Tapi Tu... "
Belum sempat Luna menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Devano sudah melummat bibirnya kembali. 'Astaga, bisa-bisa bibirku bengkak kalau dia terus menerus menciumku seperti ini. Aku harus punya alasan untuk menghentikan laki-laki messum ini,' batin Luna.
Dia kemudian melepaskan ciumannya kembali dari Devano. "Ada apa lagi, Luna? Apa kau mau lebih dari sekedar berciuman?" ucap Devano sambil mengedipkan mata kanannya.
"Emhhhh, maaf tidak Tuan. Sebenarnya, saya mau mengingatkan anda nanti pukul dua siang kita ada meeting dengan Tuan Chow. Sebaiknya, kita pergi ke kantor sekarang karena saya belum menyiapkan berkasnya."
"Astaga, kau benar juga. Ayo kita kembali ke kantor sekarang Luna!"
"Eh, emhhh iya Tuan."
'Syukurlah, aku selamat,' batin Luna.
Mereka kemudian keluarga dari apartemen Devano menuju ke kantornya.
***
05.00 pm
Luna tampak sedang merapikan pekerjaannya, saat sebuah suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya di tengah suasana kantor yang sudah sunyi.
"Tuan, apa anda sudah selesai? Kita pulang sekarang?" ucap Luna tanpa melihat siapa yang sedang berjalan ke arahnya.
"Pulang sekarang? Apa maksudmu? Kau menyuruh putraku untuk pulang denganmu? Lancang sekali!" jawab sebuah suara yang mengagetkannya.
'Astaga, kupikir tadi Tuan Devano. Ternyata Nyonya Viona, aku sudah salah bicara. Ini benar-benar gawat, bagaimana jika dia tahu saat ini aku tinggal bersama putranya? Bisa-bisa aku dipecat dari kantor ini? Tuhan, kenapa akhir-akhir ini rasanya begitu banyak musibah terjadi di dalam hidupku,' batin Luna.
"Kenapa kau diam? Kenapa kau tadi mengatakan seperti itu? Kau menyuruh putraku untuk pulang denganmu? Memangnya kau siapa? Kau cuma wanita miskin yang beruntung bisa bekerja dan kantor ini! Apa kau mengerti?"
"Maaf, saya salah bicara. Maksud saya, saya sedang menanyakan pada Tuan Devano apakah saya sudah bisa pulang atau belum."
"Tidak usah banyak alasan! Kau pasti sering menggoda putraku dengan kecantikanmu kan? Kau pasti sering merayu putraku dengan tubuhmu itu kan? Akui saja semua tingkah menjijikanmu itu! Aku tahu bagaimana akal licik dari wanita sepertimu yang hanya mengandalkan wajah dan tubuhnya untuk mendapatkan apa yang kau inginkan! Termasuk uang dari putraku kan?"
"Tidak Nyonya, sungguh saya tidak pernah menggoda putra anda. Saya bekerja di sini karena saya membutuhkan pekerjaan ini, saya tulang punggung keluarga. Jadi, saya tidak berniat untuk menggoda Tuan Devano," jawab Luna dengan bibir bergetar.
"Alasan saja! Tidak usah banyak alasan karena aku tahu akal busukmu! Dasar wanita tidak tahu diri! Wanita penggoda! Kau memang tidak sepantasnya bekerja di kantor ini!"
"MAMMAAAA!"
Viona lalu menghentikan kalimatnya, kemudian membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara.
"Kau mau apa Devano? Kau mau membela wanita penggoda ini kan? Dia memang benar-benar telah merusak akal sehatmu!"
"Tolong jangan bicara seperti itu pada Luna, Ma."
"Cuihhh, benar kan kau mau membela wanita ini? Devano, apa kau tidak sadar kalau kau sedang diperalat oleh wanita ini?"
"Diperalat bagaiman maksud Mama?"
"Kau belum juga sadar, Devano? Bukankah kemarin kau berjanji pada Mama untuk menghadiri rencana pertunanganmu tadi siang? Kenapa kau tidak datang? Padahal Oma Fitri sudah menunggu dan ingin berkenalan denganmu! Bahkan saat Mama meneleponmu, kau juga tidak mengangkat panggilan dari Mama, Devano!"
"Mama, mengertilah Ma. Tadi siang aku sibuk, aku ada rapat dengan Tuan Chow."
"Alasan saja! Aku tahu wanita jallang ini pasti sudah mempengaruhimu agar tidak pulang ke rumah dan bertemu dengan Oma Fitri kan? Dasar wanita murahan! Kau wanita pengobral tubuh!"
Mendengar perkataan Viona, Luna tak dapat lagi menahan rasa sakit di dalam hatinya.
"Permisi, saya pulang dulu Nyonya. Tuan saya permisi," ujar Luna. Dia kemudian berlari meninggalkan Devano dan Viona yang masih berdebat.
"Mama benar-benar keterlaluan!" bentak Devano. Saat dia ingin mengejar Luna, tiba-tiba Viona mencekal tangannya, hingga membuat langkahnya terhenti.
"Tunggu Devano! Mama belum selesai bicara denganmu!"
"Apa lagi, Ma? Memangnya Mama pernah mendengar penjelasanku? Memangnya Mama percaya dengan semua yang kukatakan? Mama tidak mempercayaiku, kan?"
"Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini pada Mama? Kau pasti terpengaruh oleh wanita jallang itu kan?"
"MAMA! TOLONG JANGAN PERNAH SEBUT LUNA WANITA JALLANG, MA!"
"Lihat, lihat kau bahkan berani membentak mama untuk membela wanita itu! Kau sepertinya sudah tidak bisa menggunakan akal sehatmu karena tergila-gila pada wanita seperti itu, Devano!"
"Aku bersikap seperti ini karena Mama sudah keterlaluan!"
"Devano, mama hanya ingin kau ingat jika kau akan bertunangan dan menikah dengan Shakila! Jadi, tolong batasi hubunganmu dengan wanita itu!"
"Aku ingat Ma! Aku tahu! Tapi tolong ijinkan aku untuk menghabiskan waktuku dengan Luna sebelum aku menikah! Aku hanya ingin bersenang-senang dengan Luna, Ma!"
"Hanya bersenang-senang? Tapi bagaimana jika hubunganmu dan Luna akhirnya berjalan terlalu jauh? Bagaimana jika hubunganmu dan Luna akhirnya berdampak pada pertunanganmu dengan Shakila? Apa kau tidak berfikir panjang sebelum menjalani semua ini, Devano?"
"Aku sudah dewasa, Ma! Bukankah aku mau menerima perjodohan yang dipaksakan ini karena ambisi Mama dan Papa? Setidaknya biarkan aku bebas menentukan jalan hidupku sebelum aku terbelenggu pada hubungan yang tidak pernah aku inginkan! Ingat Ma! JUST SEXXX NO LOVE!" bentak Devano sambil berjalan meninggalkan Viona.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
yumna
luna kashn bgt
2022-09-05
1
󠇉
knp gk karmila aja nama nya 😭😭🤣🤣🤣🤣
2022-09-02
1
Erni Handayani
Sakit hati tiap devano bilang just sex no love
Minta di ke iri nih bocah gendeng🤭
2022-09-02
0