Mau Kuajari?

"Luna!" panggil Devano kembali yang membuyarkan lamunannya.

Akhirnya Luna membalikkan tubuhnya ke arah Devano yang sejak tadi masih diam terpaku. Keringat dingin kini keluar di sekujur tubuhnya.

"Luna, silahkan ke mejamu dan kerjakan pekerjaanmu!" perintah Devano dengan begitu entengnya.

Mendengar perkataan Devano, Luna menelan ludahnya dengan kasar. 'Laki-laki macam apa ini? Setelah dia memperlakukanku dengan seenak hatinya, dia bisa berkata seperti itu dengan begitu mudah, seperti tanpa dosa! Tapi aku bisa apa? Aku benar-benar membutuhkan pekerjaan ini!' batin Luna.

"Luna!" panggil Devano, kembali.

"Oh-E, iya Tuan," jawab Luna. Dia kemudian menarik gagang pintu, meskipun dengan tangan yang kini masih gemetar.

Setelah keluar dari ruangan Devano, Luna menaruh tasnya di atas mejanya lalu bergegas masuk ke dalam toilet.

BYUR BYUR BYUR

Berulang kali, Luna tampak membasuh wajahnya sambil berkumur dan menggosok-gosokan bibirnya. Hingga beberapa saat kemudian, dia tampak lebih tenang.

Luna akhirnya menyenderkan tubuhnya ke tembok, sambil memejamkan matanya dan menggatur irama nafasnya yang sejak tadi begitu tak beraturan.

"Huffttt, hufffttt, hufff!"

Setelah menghembuskan nafas panjannya, Luna kemudian membuka matanya lalu menatap wajahnya di cermin yang ada di atas wastafel sambil memegang bibirnya.

"Bibirku," gerutu Luna.

"Jahat sekali, dia begitu semena-mena padaku. Sungguh benar-benar lancang! Bibirku yang masih perawan ini, harus ternoda oleh lummatan bibirnya yang begitu menjijikan!" keluh Luna sambil mengusap-usap bibirnya dengan menggunakan tissue basah.

"Oh Tuhan, haruskah setiap hari aku menghadapi laki-laki messum seperti dia? Ahhh, tapi aku bisa apa? Aku benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Astaga, apa yang harus kulakukan? Tuhan, tolong bantu aku untuk menjalani semua ini. Tolong lindungi aku, Tuhan," ujar Luna seraya menelungkupkan tangannya pada wajahnya.

Setelah menegarkan hatinya, dan merapikan riasannya, Luna kemudian keluar dari toilet lalu berjalan ke arah mejanya. Namun, saat baru saja sampai di mejanya, tiba-tiba suara ponselnya berbunyi.

Luna menghembuskan napas panjangnya kembali saat melihat sebuah nama di ponselnya. Dengan malas, dia akhirnya mengangkat panggilan di ponselnya.

[Halo.]

[Halo, Mba. Bagaimana Mba Luna? Apa Mba Luna sudah dapet pinjaman dari bos Mba Luna?]

[ASTAGA ARKA! Kau pikir bisa semudah itu? Mba baru saja kerja di kantor ini. Tapi kamu sudah menuntut Mba seperti itu! Sudah bagus Mba mau bantu bayar hutang-hutang kamu, Arka!]

[Tapi, Mba. Waktuku tinggal satu minggu lagi, Mba. Kalau dalam satu minggu aku tidak bisa mendapatkan uang itu, kemungkinan aku akan dipenjara, atau kemungkinan terburuk, rumah kita akan disita oleh mereka Mba.]

[Astaga! Jadi kau juga menggadaikan sertifikat rumah kita, Arka?]

[Arkaaaaa! Kau memang tidak tahu diri! Apa kau tidak sadar, dengan semua tingkahmu? Apa kau tidak melihat bagaimana malunya kami saat kau harus menikah muda karena kau sudah menghamili Kayla? Tidak hanya itu, kau juga rasanya seperti mencekek kami saat kau meminta pesta pernikahan yang mewah dan mahar yang besar untuk diberikan pada keluarga Kayla? Kupikir saat kau pulang dengan membawa uang yang banyak, kau sudah mendapat pinjanan dari restaurant tempat kau bekerja, tapi aku benar-benar tidak menyangka jika kau sampai separah ini, nnenggadaikan sesuatu barang yang bukan menjadi mikikmu, itu adalah sebuah kejahatan, Arka! Lebih baik, kau kulaporkan ke polisi saja!]

[Mba, tolong Mba, tolong jangan bersikap seperti itu, Kayla sedang hamil. Apa Mba mau, keponakan Mba lahir tanpa seorang ayah?]

[Aku tidak peduli, Arka!]

[Mba, tolong Mba, tolong jangan berbuat dzalim padaku.] rengek Arka.

[Dzalim padamu? Apa kau tidak salah? Kau yang sudah dzalim padaku dan orang tuamu!]

[Maafkan aku Mba, maaf. Tolong maafkan aku, Mba. Aku khilaf.]

[Ck, enak sekali kau berkata khilaf begitu saja!]

[Mba, tolong Mba, cuma Mba Luna yang bisa nolongin aku.]

[Akan kupikirkan.]

[Mba, ingat rumah, Mba. Kalau Mba ga mau rumah kita dilelalang, Mba harus berbuat sesuatu.]

[ARKAAA!!!] bentak Luna, dia kemudian menutup ponselnya dan membanting ponsel itu ke atas meja.

"Satu masalah belum selesai. Sudah ada masalah lain lagi!" gerutu Luna.

Dia kemudian mulai menyalakan komputernya untuk mengerjakan pekerjaannya.

***

Luna tampak melirik arloji yang ada di tangannya. "Astaga, sudah pukul lima sore? jam kantor sudah selesai, sebaiknya aku pulang sekarang! Bekas pekerjaan yang Helen tinggalkan sangat banyak. Memangnya, apa saja yang selama ini dia kerjakan? Apa cuma melayani Devano?" gerutu Luna sambil bergidik ngeri.

Saat baru saja beranjak dari kursinya, tiba-tiba telepon di atas mejanya berbunyi.

KRING KRING

Meskipun diselimuti keraguan, akhirnya Luna mengangkat panggilan telepon itu.

[Cepat ke ruanganku!] perintah sebuah suara di ujung sambungan telepon.

[Ta-tapi jam kantor sudah habis, Tuan.]

[Cepat ke ruanganku jika kau masih ingin bekerja di sini!]

[Baik, Tuan.]

Luna lalu melangkahkann kakinya ke ruangan Devano, meskipun disertai irama degup jantung yang berdegup begitu kencang. Dengan ragu-ragu dia mulai mengetuk pintu itu.

TOK TOK TOK

"Masuk!" perintah suara di dalam ruangan.

Luna menarik gagang pintu, lalu membuka pintu itu disertai raut wajah yang begitu tegang, masih jelas di dalam benaknya, ciuman Devano tadi pagi yang membuat harinya terasa begitu buruk.

"Duduk di sini Luna!" perintah Devano yang saat ini sedang duduk di atas sofa. Luna lalu mendekat ke arah Devano. Namun, saat Luna akan menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, tiba-tiba Devano sudah menarik tangannya hingga tubuhnya terhempas ke pelukan Devano.

"Duduk di sini Luna!" perintah Devano sambil menepuk pahanya. Luna pun menelan salivanya dengan kasar.

"Kau takut? Santai saja!" ujar Devano yang melihat raut wajah cemas di wajah Luna. Luna pun terpaksa mengikuti perintah Devano untuk duduk di atas pahanya.

Setelah Luna duduk di atas paha Devano, jemarinya kemudian merengkuh wajah Luna, dan membelai wajah cantik itu, lalu mengangkat dagunya, dan sebuah kecupan pun kembali menempel di bibir Luna.

CUP

'Astaga! Sial! Dasar laki-laki brengsekkkk! Kurang ajar! Jika saja aku tidak sedang membutuhkan uang, aku tidak mau diperlakukan oleh lelaki bajjinggan seperti dirinya!' umpat Luna di dalam hati.

"Kau sepertinya sangat polos, apa kau belum pernah berpacaran?"

"Be-belum, Tuan."

"Pantas saja, tadi pagi kau tidak membalas ciumanku."

Luna hanya tersenyum getir. "Mau kuajari?" tanya Devano. Belum sempat Luna menjawab, tiba-tiba Devano sudah menempelkan bibirnya di bibir Luna.

"Ayo Luna, pelan-pelan, ikuti gerakanku!"

'Astaga, apa-apaan ini?' batin Luna, tapi dia tidak bisa berkutik, dan akhirnya mengikuti perintah Devano. Luna pun akhirnya membalas ciuman itu bibir mereka pun saling memmagut, ciuman yang awalnya dipaksakan, kini terasa begitu nikmat bagi Luna, hingga tanpa dia sadari, sebuah legguhan pun keluar dari bibirnya.

"Ahhhh, Tuan Devano."

Devano yang mendengar leggguhan Luna pun melepaskan ciumannya. "Hai, kau mulai menggodaku, Luna?"

'SIALLLL! OH NOOOO! KENAPA AKU HARUS HANYUT DALAM CIUMAN ITU!' umpat Luna di dalam hati.

"Luna, kita lakukan lebih. Kau mau kan?"

"Tidak!" jawab Luna begitu lirih hingga Devano pun tak mendengarnya, tiba-tiba lidah Devano sudah menyapu leher Luna yang membuatnya merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Kata hatinya sebenarnya menolak semua sikap Devano, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengikuti perintahnya. Saat tangan Devano mulai merasuk ke dalam pakaian Luna, tiba-tiba sebuah ketukan pintu pun terdengar.

TOK TOK TOK

Terpopuler

Comments

Paijo 2018

Paijo 2018

karena masih pemula, jadi ambil les privat ke pak Devano aja ya mbak Luna 😊😁 freeeee....

2022-09-06

1

^⁠__⁠daena__⁠^

^⁠__⁠daena__⁠^

terpaksa ya Lun🥺 demi keluarga

2022-09-02

0

tata 💕

tata 💕

aish...gila y devano berarti dia maniak y thor

2022-08-27

0

lihat semua
Episodes
1 PROLOG. Farewall Gift
2 Sweet Kiss
3 Mau Kuajari?
4 Sekedar Pelampiasan
5 No Love
6 Sebuah Alasan
7 Sarapan Pagi
8 Living Together?
9 Peringatan
10 Lebih Dulu
11 Terbelenggu
12 Demam
13 Hati Untuk Dihargai
14 Sachi
15 Detik Terindah
16 Di Kantin
17 Maafkan Aku
18 Takut
19 Teruntuk Logika
20 Panti Asuhan
21 Siapa Aku Sebenarnya?
22 Kantor Cabang
23 Tentang Luna
24 Seribu Alasan
25 Puasa
26 Dibohongi
27 Selamat Pagi
28 Skenario Kehidupan
29 Dikecewakan
30 Flashback End
31 Diadu Domba
32 Waktuku Telah Habis
33 Lakukan Tugasmu
34 Tiga Hari
35 Menikah Denganku
36 Jati Diriku?
37 Bukan Dengan Berlari
38 Dimana Sachi?
39 Kutunggu Kau
40 Kamar Hotel
41 Ada Dimana?
42 Tentang Cinta
43 Bukan Shakila Tapi Sachi
44 Darah Segar
45 Bukti
46 Tante Dokter
47 Wanita Tidak Pernah Salah
48 Pilihan Yang Sulit
49 Sebatas Nikah Siri
50 Pernikahan
51 Si Cantik Dora
52 Membuat Cemburu
53 Rindu Yang Belum Tersampaikan
54 Special To Me In Every Way
55 Foto Bayi
56 Sesak
57 Panti Asuhan
58 Kau Kenapa?
59 Selidiki Sachi
60 Hilang
61 Mencari Tahu Sachi
62 Berharap Lebih
63 Pilih Siapa?
64 Luna Adalah Sachi
65 Mama
66 Istrimu Sachi
67 Siapa Dora?
68 Sensasi Berbeda
69 Apakah Itu Dea?
70 Bidadari Empang
71 Sebuah Janji
72 Pemalsuan Identitas
73 Kacamata dan Masker
74 Kepalasuan
75 Mengakui Kebenaran
76 Sebuah Pesan
77 Kau?
78 Pesan Dari Dea
79 Alasan
80 Kerjasama
81 Pengumuman
82 Harga Diri
83 Bercerai
84 Karma
85 Percaya Padaku?
86 Ciuman Manis
87 Setan Lewat
88 Setangkai Mawar
89 Melarikan Diri
90 Sakit Jantung
91 Mati?
92 Sepucuk Surat
93 Fin
94 Terjerat Pesona Suami Tanteku
95 PROMO NOVEL ADIK IPARKU KEKASIHKU
96 PROMO NOVEL MAINAN TUAN MAFIA
97 PROMO NOVEL AKU CINTA BUKAN LARA
98 PROMO NOVEL MEREBUT HATI SUAMIMU
99 PROMO NOVEL
100 PROMO NOVEL
101 GAIRAH SANG MANTAN
102 Wanita Malam Pak Polisi
Episodes

Updated 102 Episodes

1
PROLOG. Farewall Gift
2
Sweet Kiss
3
Mau Kuajari?
4
Sekedar Pelampiasan
5
No Love
6
Sebuah Alasan
7
Sarapan Pagi
8
Living Together?
9
Peringatan
10
Lebih Dulu
11
Terbelenggu
12
Demam
13
Hati Untuk Dihargai
14
Sachi
15
Detik Terindah
16
Di Kantin
17
Maafkan Aku
18
Takut
19
Teruntuk Logika
20
Panti Asuhan
21
Siapa Aku Sebenarnya?
22
Kantor Cabang
23
Tentang Luna
24
Seribu Alasan
25
Puasa
26
Dibohongi
27
Selamat Pagi
28
Skenario Kehidupan
29
Dikecewakan
30
Flashback End
31
Diadu Domba
32
Waktuku Telah Habis
33
Lakukan Tugasmu
34
Tiga Hari
35
Menikah Denganku
36
Jati Diriku?
37
Bukan Dengan Berlari
38
Dimana Sachi?
39
Kutunggu Kau
40
Kamar Hotel
41
Ada Dimana?
42
Tentang Cinta
43
Bukan Shakila Tapi Sachi
44
Darah Segar
45
Bukti
46
Tante Dokter
47
Wanita Tidak Pernah Salah
48
Pilihan Yang Sulit
49
Sebatas Nikah Siri
50
Pernikahan
51
Si Cantik Dora
52
Membuat Cemburu
53
Rindu Yang Belum Tersampaikan
54
Special To Me In Every Way
55
Foto Bayi
56
Sesak
57
Panti Asuhan
58
Kau Kenapa?
59
Selidiki Sachi
60
Hilang
61
Mencari Tahu Sachi
62
Berharap Lebih
63
Pilih Siapa?
64
Luna Adalah Sachi
65
Mama
66
Istrimu Sachi
67
Siapa Dora?
68
Sensasi Berbeda
69
Apakah Itu Dea?
70
Bidadari Empang
71
Sebuah Janji
72
Pemalsuan Identitas
73
Kacamata dan Masker
74
Kepalasuan
75
Mengakui Kebenaran
76
Sebuah Pesan
77
Kau?
78
Pesan Dari Dea
79
Alasan
80
Kerjasama
81
Pengumuman
82
Harga Diri
83
Bercerai
84
Karma
85
Percaya Padaku?
86
Ciuman Manis
87
Setan Lewat
88
Setangkai Mawar
89
Melarikan Diri
90
Sakit Jantung
91
Mati?
92
Sepucuk Surat
93
Fin
94
Terjerat Pesona Suami Tanteku
95
PROMO NOVEL ADIK IPARKU KEKASIHKU
96
PROMO NOVEL MAINAN TUAN MAFIA
97
PROMO NOVEL AKU CINTA BUKAN LARA
98
PROMO NOVEL MEREBUT HATI SUAMIMU
99
PROMO NOVEL
100
PROMO NOVEL
101
GAIRAH SANG MANTAN
102
Wanita Malam Pak Polisi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!