"Ada apa Tuan Devano? Kenapa tiba-tiba anda menggebrak meja seperti ini?" tanya Brian sambil mengerutkan keningnya.
"Oh tidak apa-apa. Aku hanya sedang mencoba kekuatan meja ini. Meja ini akan digunakan oleh banyak orang untuk rapat, jadi aku harus mengetes, takut ambruk," jawab Devano sambil meringis. Dia kemudian melirik Luna yang masih berdiri di sampingnya.
"Aneh," gerutu Brian lirih.
"Luna, cepat cuci tanganmu!"
"Cuci tangan? Untuk apa? Tangan saya juga tidak kotor, Tuan."
"Lunaaaa, cuci tangan! Di luar banyak kuman. Kalau kau sakit, nanti siapa yang membantuku di kantor."
"Baik."
"Jangan lupa, cuci tangan yang bersih, lalu pakai hand sanitizer."
"Iya Tuan," jawab Luna. Dia lalu keluar dari ruang rapat menuju ke toilet.
Sementara Brian yang melihat tingkah Devano kini tersenyum kecut. "Apa maksudmu menyuruh sekretarismu untuk mencuci tangan setelah aku mencium tangannya?"
"Astaga, Tuan Brian. Kau jangan berfikiran buruk padaku. Tadi Luna berangkat dengan kendaraan umum. Bukankah kau tahu di kendaraan umum banyak sekali kuman? Aku tidak mau sekretaris secantik Luna terkontaminasi oleh kuman yang ada di tempat atau kendaraan umum."
"Kau benar juga."
"Ya, aku memang selalu benar, dan sangat keren."
"Cihhh!" cibir Brian dengan lirih.
"Sambil menunggu Luna, ayo kita persiapkan rapatnya."
"Oh baik Tuan Devano," jawab Brian. Mereka kemudian memulai rapat mereka. Hampir tiga jam berlalu, akhirnya mereka pun mengakhiri rapat mereka tepat menjelang jam makan siang.
"Terima kasih banyak, Tuan Devano. Senang bisa bekerja sama dengan anda."
"Sama-sama, Tuan Brian. Senang bisa bekerja sama dengan anda."
"Saya permisi."
"Silahkan."
Brian lalu mengalihkan pandangannya pada Luna yang saat ini masih sibuk merapikan beberapa berkas.
"Luna!" panggil Brian.
"Oh iya Tuan Brian."
"Senang bisa bertemu dengan wanita secantik dirimu, Luna. Aku permisi, sampai berjumpa di lain kesempatan. Aku harap kita bisa bertemu kembali."
"Iya Tuan, semoga kita bisa bertemu kembali di lain kesempatan."
"Iya Luna."
'Basa-basi yang menjijikkan sekali,' batin Devano.
"Ehemmm, Tuan Brian. Ini sudah siang, sebaiknya anda kembali ke kantor anda sekarang! Lagipula, saya juga sedang ada urusan penting dengan Luna."
"Oh, baiklah kalau seperti itu. Saya permisi," ucap Brian.
"Silahkan!" jawab Devano.
"Kurang ajar!" umpat Devano lirih saat Brian sudah keluar dari ruang rapat itu.
"Tuan, saya sudah merapikan berkas anda," Suara Luna yang kini sudah berdiri di sampingnya pun mengagetkan dirinya.
"Oh iya. Emh Luna, ikut ke ruanganku sekarang!" perintah Devano.
"Baik," jawab Luna sambil mengikuti langkah Devano menuju ke ruangannya. Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan Devano. "Taruh berkasnya di meja, Luna!"
"Baik," jawab Luna. Dia kemudian menaruh berkas hasil rapat di atas meja. Namun, saat dia baru saja membalikkan tubuhnya dan bersiap keluar dari ruangan itu, tiba-tiba sebuah pelukan hangat menerjang tubuhnya begitu saja.
"Devano! Apa-apaan ini?" pekik Luna.
"Aku tidak ingin ada orang lain yang bersikap seperti itu padamu! Selama tiga bulan ini, kau milikku. Tidak boleh ada yang menatapmu dengan tatapan menjijikan seperti yang dilakukan Brian, tidak boleh ada yang menyentuh sedikitpun bagian tubuhmu kecuali aku, tidak boleh ada yang merayumu kecuali aku. Dan, kau juga tidak boleh dekat dengan laki-laki manapun kecuali aku. Apa kau mengerti?"
"Devanooo!" protes Luna.
"Apa kau mengerti?"
"Ya, iya aku mengerti. Aku mengerti Devano."
"Bagus."
"Kalau begitu, lepaskan pelukanmu!"
Devano kemudian melepaskan pelukannya lalu menatap Luna. Menikmati setiap bagian wajahnya, mulai dari rambut loose wavy indahnya, manik mata cokelatnya, hidung mancung serta bibir tipis yang begitu menggoda.
'Ahhh, sempurna,' batin Devano.
'Astaga aku melupakan sesuatu. Ah, buah, dada dan bokkong sintalnya juga sangat menggoda,' batin Devano sambil terkekeh.
"Devano! Kau kenapa?" panggil Luna yang membuyarkan lamunan Devano.
"Oh tidak apa-apa."
"Apa kau lapar?"
"Mungkin."
"Kalau begitu, aku belikan makanan di kantin. Kau baru saja sembuh, tidak boleh telat makan."
"Tidak usah! Nanti biar kusuruh OB saja."
"Aku sedang ingin memilih makanan sendiri, Devano. Aku juga belum terlalu hapal makanan yang dijual di kantin."
"Baik, tapi jangan lama-lama. Cepat kembali ke sini!"
"Ya, aku pergi dulu."
Devano kemudian menganggukan kepalanya, sedangkan Luna berjalan ke arah kantin. Saat sedang asyik memilih menu makanan, tiba-tiba Luna dikejutkan oleh sebuah suara yang ada di sampingnya.
"Selamat siang, Luna."
Luna lalu mengalihkan pandangannya ke arah samping, dan melihat Brian yang sedang berdiri di sampingnya.
"Tuan Brian, anda masih di sini?"
"Ya, sebenarnya tadi aku berniat langsung ke kantorku, tapi saat melihat jam yang sudah menunjukkan jam makan siang, aku memutuskan untuk makan siang di kantin kantor ini karena aku punya magh akut, jadi aku tidak boleh telat makan sedangkan kau tahu kan di jam-jam sibuk seperti ini, sangat sulit untuk bisa menjangkau ke rumah makan terdekat."
"Oh iya anda benar."
"Kau sudah pesan?"
"Belum."
"Biar kupesankan ya. Kau mau memesan chinese food kan?"
"Iya."
"Kupesankan saja, kau tunggu di sini!"
"Emh permisi Tuan Brian, untuk dua porsi."
"Dua porsi? Kau mau makan siang dengan siapa?"
Luna pun tersenyum. "Oh, baiklah akan kupesankan sekarang."
"Terima kasih."
Brian lalu memesan makanan, sedangkan Luna tampak duduk menunggu di salah satu meja yang ada di dalam kantin tersebut. Tak berapa lama, Brian pun mendekat lagi ke arahnya lalu duduk di depannya.
"Nanti pesanannya diantar. Tapi maaf sepertinya harus menunggu sedikit lama."
"Oh tidak apa-apa. Terima kasih, Tuan Brian."
"Sama-sama."
Sementara Devano yang menunggu di ruangannya kini tampak begitu cemas. "Lama sekali!" gerutu Devano.
"Sebaiknya kususul saja!" ujar Devano sambil bangkit dari kursinya, kemudian berjalan ke arah kantin. Namun, saat baru saja sampai di kantin tersebut. Devano begitu terkejut saat melihat Luna dan Brian yang sedang duduk di meja yang sama dan kini tengah asyik mengobrol dengan begitu akrab. Seketika, emosi pun merasuk ke dalam hatinya.
Devano kemudian menggebrak salah saya meja yang ada di dalam kantin itu, lalu mendorong meja tersebut hingga terbalik dan menjatuhkan seluruh benda yang ada di atas meja.
BRAKKKK
BUMMM
Suara gebrakan dan dentuman meja yang terjungkir pun menarik perhatian seluruh orang yang ada di dalam kantin, termasuk Luna dan Brian. Luna kemudian menatap Devano yang kini tampak menatap tajam ke arahnya.
'Devano,' batin Luna.
"Devano!" panggil Luna, sambil beranjak dari tempat duduknya. Namun, panggilan itu diabaikan begitu saja oleh Devano yang kini berjalan keluar dari kantin tersebut.
"BRENGSEKKKKK! JUST SEXXX NO LOVE!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nami chan
hakan tak cemburu 🤭
2023-11-24
0
yumna
cemburunya gebrak meja mlu devano
2022-09-06
0
Indah Okiana
devano devano... ada rasa sakit d hatimu tapi malu untuk mengakuiix..... dasar
2022-09-03
0