Sachi

Luna kemudian menatap wajah Devano yang masih terlelap, menatap lekat wajah tampan itu lalu menghembuskan nafas panjangnya.

"Bukankah di dunia ini tidak ada yang kebetulan? Termasuk pertemuanku denganmu yang sudah menjadi bagian dari takdir yang digariskan oleh Tuhan. Meskipun aku tak tahu apa arti dibalik pertemuan ini, karena bagiku kebersamaan itu memang tidak ada yang abadi, seperti ujung kebersamaan yang telah kita sepakati."

Luna lalu bangkit dari atas ranjang, kemudian berjalan ke arah dapur dan membuat secangkir kopi. Saat menikmati gemercik rinai hujan saat dia duduk di sofa yang ada di dekat balkon apartemen, tiba-tiba Luna dikagetkan hembusan nafas hangat di tengkuknya.

"Sayang!"

"Devano! Kau masih sakit, istirahatlah di dalam kamar! Dan tolong jangan panggil aku dengan sebutan sayang lagi karena aku bukan siapa-siapamu!"

"Lunaaa, bukankah kau sudah janji untuk tidak meninggalkanku? Kenapa tiba-tiba kau ada di sini? Bukankah kau sekretaris kesayanganku? Apa ada yang salah dengan panggilan dariku? Apa aku salah memanggilmu dengan sebutan sayang?"

"Memangnya tidak boleh aku bersikap seperti ini? Apa hakmu menyuruhku untuk terus menemanimu di dalam kamar? Lagipula, memanggil seorang wanita yang tidak ada memiliki hubungan apapun denganmu tidak perlu dengan menggunakan kata sayang, Devano!" gerutu Luna.

"Ketus sekali! Panggil sayang saja salah!"

"Kau istirahat saja di kamar, Devano!"

"Temani aku, Luna!"

"Aku tidak mau!"

"Kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini, Luna? Bukankah tadi kau bersikap sangat manis padaku?"

"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah? Kau seharusnya bermanja-manja dengan calon tunanganmu! Bukan denganku, Devano!"

"Dengan tunanganku? Shakila?"

"Ya, bukankah Shakila sangat cantik?Jauh lebih cantik dibandingkan denganku! Kenapa kau tidak minta Shakila saja yang merawatmu? Bukankah dia juga calon istrimu? Seharusnya dia yang melakukan semua ini! Bukan aku!"

"Kau benar juga, Luna. Nanti akan kuhubungi Mama untuk meminta Shakila menemaniku!"

"Devano!" bentak Luna. Dia kemudian bangkit dari sofa, dan saat Luna akan melangkahkan kakinya, Devano menarik tangannya, hingga tubuhnya terhempas dan duduk di atas pangkuannya.

Devano kemudian menatap lekat Luna. Dua manik mata cokelat yang sangat dia sukai, kini tampak mulai berembun, dan mulai meneteskan butiran bening dari kedua sudut matanya. Devano kemudian merengkuh wajah cantik itu, lalu perlahan menghapus air matanya.

"Lepaskan aku! Bukankan kau sudah janji untuk tidak menyentuhku?"

"Aku tidak sedang menyentuhmu, aku hanya sedang menatapmu dan menghapus air matamu. Kenapa kau menangis? Kenapa tiba-tiba kau membicarakan Shakila? Apa mamaku menyakitimu lagi?"

"Tidak, bukankah memang kenyataannya seperti itu? Bukankah kau akan bertunangan dengan Shakila? Apa ada yang salah dengan perkataanku?"

"Apa tidak bisa kau tidak usah menyebut namanya saat kita bersama? Bukankah kau tahu aku hanya ingin menghabiskan waktuku denganmu sebelum aku bertunangan dengannya? Bukankah ini kesepakatan yang harus dijalani olehmu saat meminjam uang padaku? Lagipula aku juga sudah berjanji tidak akan menyentuhmu terlebih dulu jika bukan kau yang memulai."

"Tapi kau sangat licik dan selalu mengambil kesempatan!" gerutu Luna yang membuat Devano terkekeh.

"Kenapa kau tertawa seperti itu? Menyebalkan sekali! Lalu bagaimana denganku setelah waktuku habis denganmu, dan kau bertunangan dengan Shakila?"

"Kenapa kau bertanya seperti ini, Luna? Jika waktumu sudah habis bersamaku bukankah seharusnya kau bahagia karena kau tidak perlu menuruti semua perintahku? Kau juga tetap bisa bekerja denganku seperti biasa. Lalu, kenapa kau harus marah-marah seperti ini?"

'Astaga! Benar juga apa yang Devano katakan? Kenapa aku harus marah padanya,' batin Luna.

"Kalau begitu, jangan pernah sentuh aku lagi!" ucap Luna sambil bangkit dari pangkuan Devano.

"Kau mau kemana? Temani aku Luna!"

"Aku mau ke kamar! Kau kembalilah ke kamarmu!"

"Lalu siapa yang akan mengelus punggungku?"

"Suruh saja calon tunanganmu itu!"

"Astaga, Luna. Kau sebenarnya kenapa? Kenapa tiba-tiba kau jadi seperti ini? Bukankah sudah kukatakan agar tidak menyebut nama Shakila lagi?"

"Apa aku salah kalau kusebut namanya?"

"Ya, ini sebuah kesalahan karena tidak boleh ada orang lain selain aku dan kau selama tiga bulan ini!"

"Memangnya kenapa? Dia calon tunangan sekaligus calon istrimu, Devano!"

"Bukankah sudah kubilang tidak boleh ada orang lain kecuali kita? Kenapa tiba-tiba kau berubah seperti ini, Luna! Apa kau cemburu?"

Mendengar perkataan Devano, emosi di dalam dada Luna pun mereda. 'Cemburu?' batin Luna sambil menatap Devano dengan tatapan mata kosong.

"Apa kau cemburu? Kau cemburu pada Shakila?"

"Tidak mungkin! Memangnya kau siapa? Ck, aku tidak mungkin cemburu!"

"Sekarang tatap mataku dan katakan jika kau tidak cemburu pada Shakila!"

"Aku tidak cemburu, Devano!" ujar Luna sambil menatap tajam pada Devano. Namun, tatapan mata tajam itu berubah jadi sayu, dan manik cokelat itu pun mulai berembun.

'Kurang ajar! Kenapa aku jadi menangis seperti ini!' batin Luna yang kini mulai memejamkan matanya. Perlahan, tangannya mulai menyentuh dada bidang Devano, untuk mendorong tubuhnya dari hadapannya.

Namun, sentuhan tangan Luna di dada Devano, buru-buru dicengkam oleh tangan Devano lalu ditarik hingga tubuh Luna terhempas ke dalam pelukannya.

"Bukankan kau sudah janji untuk tidak menyentuhku?" ucap Luna sambil terisak.

"Apa kau sudah lupa jika kau yang menyentuh dadaku terlebih dulu."

"Dasar curang!" isak Luna.

"Tolong jangan sebut Shakila lagi, apa kau mengerti?"

Luna pun menganggukkan kepalanya. "Janji?" Luna menganggukkan kepalanya kembali.

"Luna... "

"Apa?"

"Ciummmm.. "

Senyum pun akhirnya tersungging di bibir Luna. "Dasar manja!"

"Luna.. "

"Hmmmm..."

"Ciummm..."

"Astaga, kau manja sekali!" gerutu Luna sambil mengangkat wajahnya lalu menatap wajah tampan Devano, mengamati setiap inchi wajahnya yang kini terasa begitu menggoda nalurinya. Perlahan, Luna pun mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Devano.

CUP

****

Seorang wanita paruh baya tampak sedang mengutak-atik ponselnya, lalu menempelkan ponsel itu di telinganya.

[Halo, Aini.]

[Ya, Tante Fitri.]

[Apa kau sudah mengatakan pada Shalika tentang pertunangannya dengan Devano?]

[Belum, tapi.. ]

[Tapi apa Aini?]

[Tapi sepertinya Shakila sudah punya pacar, Tante.]

[Apa? Pacar?]

[Iya, aku sering melihat Shakila tersenyum sambil menatap langit, bahkan terkadang dia juga bicara sendiri. Bagaimana kalau Shakila sudah punya pacar, Tante?]

[Perjodohan ini tetap harus dilakukan, Aini.]

[Kalau Shakila tetap menolaknya bagaimana, Tante? Shakila sangat keras kepala. Apa Tante lupa bagaimana keras kepalanya Shakila saat berpisah dengan Darren dua tahun lalu sampai dia sakit?]

[Tapi perjodohan ini harus tetap berjalan Aini, dengan cara apapun karena ini adalah sebuah janji yang harus ditepati. Devano harus menikah dengan salah seorang cucuku, baik itu Shakila ataupun Sachi.]

[Sachi? Apakah Tante sudah menemukan Sachi?]

[Belum, tapi aku yakin, sebentar lagi aku pasti akan menemukannya.]

[Iya tante.]

Fitri kemudian menutup teleponnya, menatap sebuah foto usang sambil berujar pelan. "Sachi, pasti kami akan menemukanmu."

Terpopuler

Comments

Yuniyasa

Yuniyasa

mungkinkah luna itu sachi yg hilang toor

2023-12-03

0

Nami chan

Nami chan

waa ini luna pasti

2023-11-24

0

^⁠__⁠daena__⁠^

^⁠__⁠daena__⁠^

jangan² Sachi ini Luna ..🤔

2022-09-11

3

lihat semua
Episodes
1 PROLOG. Farewall Gift
2 Sweet Kiss
3 Mau Kuajari?
4 Sekedar Pelampiasan
5 No Love
6 Sebuah Alasan
7 Sarapan Pagi
8 Living Together?
9 Peringatan
10 Lebih Dulu
11 Terbelenggu
12 Demam
13 Hati Untuk Dihargai
14 Sachi
15 Detik Terindah
16 Di Kantin
17 Maafkan Aku
18 Takut
19 Teruntuk Logika
20 Panti Asuhan
21 Siapa Aku Sebenarnya?
22 Kantor Cabang
23 Tentang Luna
24 Seribu Alasan
25 Puasa
26 Dibohongi
27 Selamat Pagi
28 Skenario Kehidupan
29 Dikecewakan
30 Flashback End
31 Diadu Domba
32 Waktuku Telah Habis
33 Lakukan Tugasmu
34 Tiga Hari
35 Menikah Denganku
36 Jati Diriku?
37 Bukan Dengan Berlari
38 Dimana Sachi?
39 Kutunggu Kau
40 Kamar Hotel
41 Ada Dimana?
42 Tentang Cinta
43 Bukan Shakila Tapi Sachi
44 Darah Segar
45 Bukti
46 Tante Dokter
47 Wanita Tidak Pernah Salah
48 Pilihan Yang Sulit
49 Sebatas Nikah Siri
50 Pernikahan
51 Si Cantik Dora
52 Membuat Cemburu
53 Rindu Yang Belum Tersampaikan
54 Special To Me In Every Way
55 Foto Bayi
56 Sesak
57 Panti Asuhan
58 Kau Kenapa?
59 Selidiki Sachi
60 Hilang
61 Mencari Tahu Sachi
62 Berharap Lebih
63 Pilih Siapa?
64 Luna Adalah Sachi
65 Mama
66 Istrimu Sachi
67 Siapa Dora?
68 Sensasi Berbeda
69 Apakah Itu Dea?
70 Bidadari Empang
71 Sebuah Janji
72 Pemalsuan Identitas
73 Kacamata dan Masker
74 Kepalasuan
75 Mengakui Kebenaran
76 Sebuah Pesan
77 Kau?
78 Pesan Dari Dea
79 Alasan
80 Kerjasama
81 Pengumuman
82 Harga Diri
83 Bercerai
84 Karma
85 Percaya Padaku?
86 Ciuman Manis
87 Setan Lewat
88 Setangkai Mawar
89 Melarikan Diri
90 Sakit Jantung
91 Mati?
92 Sepucuk Surat
93 Fin
94 Terjerat Pesona Suami Tanteku
95 PROMO NOVEL ADIK IPARKU KEKASIHKU
96 PROMO NOVEL MAINAN TUAN MAFIA
97 PROMO NOVEL AKU CINTA BUKAN LARA
98 PROMO NOVEL MEREBUT HATI SUAMIMU
99 PROMO NOVEL
100 PROMO NOVEL
101 GAIRAH SANG MANTAN
102 Wanita Malam Pak Polisi
Episodes

Updated 102 Episodes

1
PROLOG. Farewall Gift
2
Sweet Kiss
3
Mau Kuajari?
4
Sekedar Pelampiasan
5
No Love
6
Sebuah Alasan
7
Sarapan Pagi
8
Living Together?
9
Peringatan
10
Lebih Dulu
11
Terbelenggu
12
Demam
13
Hati Untuk Dihargai
14
Sachi
15
Detik Terindah
16
Di Kantin
17
Maafkan Aku
18
Takut
19
Teruntuk Logika
20
Panti Asuhan
21
Siapa Aku Sebenarnya?
22
Kantor Cabang
23
Tentang Luna
24
Seribu Alasan
25
Puasa
26
Dibohongi
27
Selamat Pagi
28
Skenario Kehidupan
29
Dikecewakan
30
Flashback End
31
Diadu Domba
32
Waktuku Telah Habis
33
Lakukan Tugasmu
34
Tiga Hari
35
Menikah Denganku
36
Jati Diriku?
37
Bukan Dengan Berlari
38
Dimana Sachi?
39
Kutunggu Kau
40
Kamar Hotel
41
Ada Dimana?
42
Tentang Cinta
43
Bukan Shakila Tapi Sachi
44
Darah Segar
45
Bukti
46
Tante Dokter
47
Wanita Tidak Pernah Salah
48
Pilihan Yang Sulit
49
Sebatas Nikah Siri
50
Pernikahan
51
Si Cantik Dora
52
Membuat Cemburu
53
Rindu Yang Belum Tersampaikan
54
Special To Me In Every Way
55
Foto Bayi
56
Sesak
57
Panti Asuhan
58
Kau Kenapa?
59
Selidiki Sachi
60
Hilang
61
Mencari Tahu Sachi
62
Berharap Lebih
63
Pilih Siapa?
64
Luna Adalah Sachi
65
Mama
66
Istrimu Sachi
67
Siapa Dora?
68
Sensasi Berbeda
69
Apakah Itu Dea?
70
Bidadari Empang
71
Sebuah Janji
72
Pemalsuan Identitas
73
Kacamata dan Masker
74
Kepalasuan
75
Mengakui Kebenaran
76
Sebuah Pesan
77
Kau?
78
Pesan Dari Dea
79
Alasan
80
Kerjasama
81
Pengumuman
82
Harga Diri
83
Bercerai
84
Karma
85
Percaya Padaku?
86
Ciuman Manis
87
Setan Lewat
88
Setangkai Mawar
89
Melarikan Diri
90
Sakit Jantung
91
Mati?
92
Sepucuk Surat
93
Fin
94
Terjerat Pesona Suami Tanteku
95
PROMO NOVEL ADIK IPARKU KEKASIHKU
96
PROMO NOVEL MAINAN TUAN MAFIA
97
PROMO NOVEL AKU CINTA BUKAN LARA
98
PROMO NOVEL MEREBUT HATI SUAMIMU
99
PROMO NOVEL
100
PROMO NOVEL
101
GAIRAH SANG MANTAN
102
Wanita Malam Pak Polisi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!