Devano kemudian berlari mengejar Luna ke arah lobi kantor. Tapi saat dia sudah sampai di lobi, di saat itu juga Luna sudah masuk ke dalam taksi yang dipesan olehnya.
"SIAL! BAGAIMANA JIKA DIA MARAH DAN TIDAK MAU MENURUTI KEINGINANKU LAGI? OH SHIIIITTTT! INI SEMUA GARA-GARA MAMA!" umpat Dewano.
Dia kemudian berlari ke arah basemen untuk mengambil mobilnya dan pulang ke apartemen. "Shhiittt! Semoga Luna masih mau pulang ke apartemen!"
Tak berapa lama, Devano pun sudah sampai di gedung apartemennya dan langsung bergegas menuju ke unit apartemen miliknya.
"Semoga Luna pulang ke sini!" ujar Devano dengan begitu cemas saat berada di dalam lift.
Saat dia membuka pintu apartemennya, suasana apartemen itu tampak begitu sepi. "Luna!" panggil Devano. Tapi tak ada jawaban. Dia kemudian melihat ke arah tempat penyimpanan alas kaki dan melihat sepatu kerja Luna yang ada di dalamnya.
"Syukurlah! Syukurlah Luna sudah pulang ke apartemen ini, mungkin dia ada di kamarnya!" ujar Devano sambil berlalu ke kamar Luna.
TOK TOK TOK
"Luna! Luna! Kau ada di dalam kan, Luna?" panggil Devano, namun hening tak ada jawaban.
"Luna! Tolong keluar, Luna. Aku minta maaf, Luna. Maafkan aku Luna. Keluarlah! Aku bawakan makan malam untukmu, Luna! Ayo temani aku makan!"
"Maaf Tuan, saya tidak lapar! Saya juga sedang ingin sendiri! Maaf, untuk malam ini anda makan sendiri saja!" sahut Luna dari dalam kamar.
"Luna... Luna! Tolong jangan bersikap seperti ini, Luna! Tolong maafkan aku! Maafkan aku Luna!"
"Tuan, anda tidak bersalah, ini semua memang salah saya. Lebih baik anda makan dan istirahat!"
"Lunaaaaa!"
"Tuan, saya mohon. Saya ingin istirahat!" sahut Luna kembali. Dia kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang, lalu berusaha memejamkan matanya, meskipun harus menahan rasa sakit di dalam hatinya serta mencoba menulikan telinganya karena saat ini Devano masih memanggil namanya di luar pintu.
"Selamat malam, Tuan Devano," ujar Luna sebelum menutup matanya, sambil menghapus air mata di wajahnya.
Suara alarm yang berbunyi dari ponsel yang ada di sampingnya membuat Luna terbangun dari tidur lelapnya.
Dia kemudian melihat jam di dinding kamar itu yang sudah menunjukkan pukul lima pagi. "Oh, ternyata sudah pagi," ujar Luna.
"Perutku lapar sekali, ini pasti karena tadi malam aku tidak makan malam! Lebih baik aku sarapan sekarang saja, agar aku bisa menghindar dari Tuan Devano!" gerutu Luna. Dia kemudian bangkit dari atas ranjang lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci wajahnya lalu berjalan ke pintu kamarnya. Saat pintu kamar itu terbuka, betapa terkejutnya dirinya saat melihat Devano yang kini tertidur di depan pintu kamarnya. Di samping Devano, tampak beberapa buah kantung makanan yang masih tertutup rapat.
"Astaga! Dia semalaman tidur di sini? Di atas lantai dingin ini? Dia juga belum makan malam? Dasar keras kepala! Bagaimana kalau dia sakit?" gerutu Luna. Dia kemudian berjongkok dan membangunkan Devano.
"Tuan! Tuan Devano!" ujar Luna sambil mengguncang-guncangkan tubuh Devano.
Akhirnya, Devano pun terbangun. "Oh, Luna? Kau sudah bangun?"
"Tuan Devano? Apa yang anda lakukan di sini? Kenapa anda tidur di sini? Bagaimana kalau anda sakit, Tuan?"
"Ohhh, aku cuma takut kau pergi, Luna. Aku takut kau pergi! Jadi, aku menunggu di depan pintu kamarmu."
"Ada-ada saja!" gerutu Luna.
"Luna, tadi malam kau belum makan. Kau pasti lapar kan?"
"Kau juga kan, Tuan?"
"Devano! Cukup panggil aku Devano, jangan pangil aku dengan sebutan Tuan lagi!"
"Ta.. Tapiii.."
"Kau harus menuruti perintahku! Ayo kita makan!" ujar Devano sambil menarik tangan Luna ke arah sofa.
Devano lalu membuka makanan yang dibeli olehnya. "Mau kusuapi?"
"Tidak usah, Tuan."
"Devano!"
"Iya, tidak usah, Devano!" ucap Luna sambil terkekeh. Devano pun ikut tersenyum. "Jadi, kau sudah tidak marah padaku?"
"Aku tidak marah padamu."
"Tapi kenapa tadi malam kau tidak mau bertemu denganku?"
"Bukankah sudah kukatakan kalau aku sedang ingin sendiri?"
"Daripada sendiri, bukankah lebih baik bersamaku?"
Luna pun tersenyum kembali. "Kenapa kau tersenyum? Cepat buka mulutmu!"
"Untuk apa?" jawab Luna yang mulai dihinggapi perasaan cemas.
"Di saat seperti ini kau pikir aku akan berbuat nakal padamu?"
"Mungkin."
Devano kemudian mengacak-acak rambut Luna, lalu mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Terima kasih."
"Kau berterima kasih terlalu cepat! Padahal setiap saat aku bisa saja menerkammu! Hahahaha!"
Raut wajah Luna pun berubah menjadi begitu tegang. "Tidak perlu takut, aku hanya becanda. Bukankah sudah kukatakan jika di saat seperti ini aku tidak mungkin nakal padamu!"
Luna pun kembali tersenyum. Sedangkan Devano kini tampak menyuapkan makanan suap demi suap ke mulut Luna.
"Sekarang giliranku yang menyuapimu, Devano!" ucap Luna setelah Devano selesai menyuapinya.
"Tidak usah."
"Tidak usah? Memangnya kenapa?"
"Aku tidak lapar."
"Tidak lapar? Bagaimana mungkin? Bukankah tadi malam kau juga belum makan?"
"Aku mau istirahat saja, Luna. Bangunkan aku pukul delapan nanti."
"Oh, baiklah."
Devano lalu bangkit dari sofa dan berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai. "Devano, apa kau baik-baik saja?"
Devano tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Aneh sekali, tidak seperti biasanya dia bersikap seperti itu," gerutu Luna.
"Ah lebih baik aku mandi dulu, lalu menghangatkan makanan untuk Devano," ujar Luna sambil berjalan ke kamarnya.
***
Jarum jam menunjukkan hampir pukul delapan pagi, Luna berjalan ke arah kamar Devano dan mengetuk pintunya.
TOK TOK TOK
"Devano! Devano!"
Tapi tetap tidak ada jawaban, hingga beberapa kali pintu itu diketuk olehnya. Akhirnya, Luna pun memberanikan diri membuka pintu kamar itu, sambil berulang kali mengucapkan doa agar Devano tidak berbuat hal yang tidak-tidak padanya.
Saat pintu itu terbuka, tampak Devano yang kini masih terbaring di atas tempat tidurnya.
"Astaga, dia masih tidur."
Luna lalu mendekat ke arah tempat tidur Devano. "Devano, ini sudah hampir pukul delapan pagi."
Namun, Devano masih saja terlelap. Luna kemudian duduk di sisi ranjang Devano, bermaksud untuk membangunkannya. Tapi saat Luna baru saja memegang tangan Devano, dia begitu terkejut saat merasakan hawa panas di tubuh Devano.
"Devano, kau sakit?" ucap Luna sambil mengguncang-guncangkan tubuh Devano.
"Devano!" panggil Luna kembali. Akhirnya, perlahan Devano pun membuka matanya.
"Oh, Luna. Kau disini?"
"Devano, kau sakit? Demammu tinggi sekali. Sebentar, aku ambilkan kompres untukmu!"
Saat Luna akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba Devano menarik tangannya. "Tidak usah, kau disini saja! Temani aku!"
"Aku ambilkan obat ya!"
"Tidak usah! Temani aku saja! Luna, tolong jangan marah lagi padaku."
"Tidak, aku tidak marah padamu."
"Luna...."
"Apa?"
"Cium."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
yumna
moduss demam aja da maunya
2022-09-05
0
󠇉
sama aku aja ya bang Vano 🤫😂😂
2022-09-03
0
󠇉
daripada sendiri lebih baik bersama joni 😭😭😭
2022-09-03
0