TOK TOK TOK
"Menggangu saja!" gerutu Devano.
'Akhirnya aku selamat,' batin Luna sambil menghembuskan nafas panjannya.
Luna kemudian bangun dari atas paha Devano lalu merapihkan pakaiannya dan berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu kerja Devano.
CEKLEK
Saat pintu ruangan itu dibuka, tampak seorang wanita paruh baya yang terlihat begitu elegan sedang berdiri di depannya. Wanita itu lalu menatap Luna dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Selamat sore, Nyonya!" sapa Luna.
"Selamat sore, kau siapa?"
"Perkenalkan saya Luna. Saya sekretaris baru Tuan Devano," jawab Luna sambil mengulurkan tangannya. Namun, uluran tangan itu tidak mendapat balasan sehingga Luna menarik tangannya kembali sambil tersenyum getir.
"Mana Devano?"
"Ada di dalam, Nyonya."
Wanita paruh baya tersebut lalu masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Devano yang masih duduk di atas sofa.
"Mama!" ujar Devano.
"Kenapa Mama datang ke sini?" sambung Devano lagi.
"Kenapa Mama datang ke sini katamu? Bukankan kau yang sudah lama tidak pulang ke rumah dan memilih hidup di apartemenmu dan bersenang-senang dengan wanita-wanita itu? Termasuk dia kan?" bentak wanita itu sambil menunjuk Luna yang saat ini mendekat ke arahnya.
"Maaf Nyonya, Maaf Tuan Devano, saya pamit pulang," ujar Luna saat berada di dekat mereka saat akan mengambil tasnya.
"Silahkan Luna, maaf atas ketidaknyamanannya. Sampai bertemu besok!" ujar Devano sambil mengedipkan matanya.
Luna hanya tersenyum, sambil bergidik ngeri di dalam hatinya, kemudian dia pergi dari ruang kerja Devano.
Viona, Mama Devano menatap kepergian Luna dengan tatapan tajam. Setelah sosoknya tak lagi terlihat, dia kemudian duduk di samping Devano.
"Siapa wanita itu?" tanya Viona.
"Hanya sekretaris baru, Ma."
"Benar kau tidak ada hubungan apa-apa dengannya?"
"Mamaaaa... Mama berkata seperti itu seolah-olah tidak mengenalku saja! Kapan aku pernah menjalin hubungan yang serius dengan seorang wanita Ma? Semua wanita yang dekat denganku hanya sekedar pelampiasanku saja, Ma."
"Huffffttt, sampai kapan kau akan terus menerus seperti ini, Devano? Bagaimana kalau sampai Oma Fitri tau calon menantunya seperti ini?"
"Memangnya kenapa, Ma?"
"Astaga Devanooooo, mau ditaruh dimana muka Mama kalau sampai mereka tahu kau seperti ini? Mama minta, setelah kau bertunangan dengan Shakila, kau harus mengakhiri petualanganmu ini!"
Devano pun terdiam, hanya sebuah senyuman getir yang tersungging di bibirnya. "Devano! Apa kau tidak mendengar perkataan Mama?"
"Dengar, Ma."
"Apa?"
"Just sexxx, no love. Hahahaha!"
"Dasarrr, Devanoooo! Ayo pulang sekarang! Sepertinya otakmu harus Mama cuci dan tubuhmu harus Mama rukyah! Hahhh bisa-bisanya aku punya anak sepertimu! Lebih baik kau jauhi wanita itu sebelum suatu hal yang buruk terjadi!"
Devano tersenyum kecut kembali, sambil mengangkat alisnya.
"Kenapa kau hanya bisa tersenyum, Devano? Apa kau tidak mendengar perkataan, Mama?"
"Tentu saja aku dengar Ma, ayo kita pulang! Itu kan yang Mama katakan?"
"Bukan hanya itu, Devano! Mama ingin kau menjauhi wanita itu sebelum ada masalah karena sebentar lagi kau akan bertunangan dengan Shakila!"
"Bukankah tidak ada salahnya bersenang-senang, Ma? Anggap saja aku sedang menikmati masa muda. Apa salahnya menikmati masa muda sebelum menikah? Iya kan?"
"DEVANNOOOOO! lebih baik kita pulang sekarang! Kau harus benar-benar dicuci otak!"
"Dan rukyah?" sambung Devano sambil terkekeh.
"Devanooo! Jadi kau mau meledek Mama?"
"Tidak, Ma. Hahahahaha!"
"Sudahlah, Mama sudah tidak mau berdebat denganmu! Sebenarnya Mama datang ke sini untuk menyuruhmu pulang karena besok kita ada pertemuan keluarga, Devano!"
"Pertemuan keluarga? Pertemuan keluarga apa, Ma?"
"Tentu saja membahas pertunanganmu dan pernikahanmu dengan Shakila!"
"Apakah itu penting?"
"Sangat penting, jadi besok kau harus pulang ke rumah untuk membicarakan pertunanganmu, apa kau mengerti?"
"Ya," jawab Devano singkat.
"Tapi aku tidak janji."
"DEVANOOO!!"
"Baik, baik, Ma."
"Baik, kalau begitu besok sore Mama tunggu di rumah."
Devano kemudian menganggukan kepalanya. "Mama pulang dulu."
"Hati-hati, Ma!"
"Ingat, jauhi Luna, ataupun wanita lain! Ubah sikapmu karena sebentar lagi kau akan menikah!"
Devano hanya menyunggingkan senyum tipisnya sambil melihat Viona yang berjalan keluar dari ruangannya.
"Menyuruhku untuk menjauhi Luna? Yang benar saja, Ma. Aku baru saja bertemu dengan wanita sepolos Luna, dan kau menyuruhku untuk menjauhi Luna? Menjauhi Luna adalah sebuah kebodohan bagiku. Dia begitu polos dan lugu, heh. Luna, Luna, Luna, aku yakin kau pasti masih suci kan Luna? Dan akan kupastikan jika kesucianmu itu pasti akan jadi milikku."
Devano kemudian menyenderkan tubuhnya ke sofa, dan tampak mengerutkan keningnya. "Ah tidak, aku tidak ingin ada pemaksaan. Aku ingin Luna yang memberikan sendiri padaku, sensasinya tentu akan berbeda jika dia yang memberikannya tanpa paksaan dariku. Ahhhh, emmmhhh rasanya pasti sangat nikmat! Hahhahhahaa!"
"Aku akan membuat Luna menyerahkan kesuciannya sendiri padaku, meskipun aku harus melakukan sedikit sandiwara untuk mendapatkan itu, hahahaha!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Nami chan
kesian ya 🥲
2023-11-24
1
Teh IyuZz
brati devano itu anak nya daniel sm viona ya
2022-09-23
0
Blue Rose
Ihh devano jahat.....😠
2022-09-19
0