"Kate apa kau haus?" tanya Zahra.
Sorot mata penuh dendam Kate langsung berubah drastis ketika menatap Zahra. Tangannya yang awalnya terkepal perlahan melemah.
"Tidak, tante." jawabnya menggeleng seraya tersenyum manis.
Pandangan Zahra beralih pada Zyano yang sedang duduk di sofa dengan kaki menyilang. Punggung kekarnya disandarkan pada Back Pillow yang empuk dan sangat nyaman. Hawa penguasa nya terpancar begitu jelas.
"Zyan, mom menelepon mu berkali-kali tapi kenapa tidak kau angkat hah?!" tanya Zahra berdecak kesal.
"Mom, tadi aku sedang sibuk." jawabnya santai tanpa rasa bersalah.
"Sibuk terus, alasanmu itu saja. Apa gunanya ponselmu itu kalau kau tidak mengangkat telpon dari mom, Zyan?" sarkas Zahra mendengus.
"Yes, mom i'm sorry." Zyan memutar bola matanya malas mendengar ocehan Zahra.
"Not, Sorry you are not accepted." tukas Zahra memalingkan wajah sambil bersindekap tangan di atas dada. Hari ini ia berniat untuk menghukum Zyano karena telah membuatnya kesal.
"Mom, kau seperti anak kecil. Tolong mengertilah, putramu ini seorang pembisnis." seru Zyano mencoba membuat Zahra mengerti.
"Kenapa mom harus mengerti kamu Zyan? You also don't understand mom!" sungut Zahra.
"Baiklah, apa keinginan mom?" Zyan pasrah tidak ingin Zahra terus merajuk padanya apalagi sampai mendiamkan nya seperti kemarin.
"You know that, Zyan, mom hanya ingin kau menikah. Itu saja." ucap Zahra ada niat terselubung sambil sesekali melirik ke arah Katerina.
Zyano tersenyum tipis, sudah tahu arah pembicaraan ibunya, pasti tentang pernikahan. Zyano sangat mengenal ibunya apalagi soal permintaan Zahra yang ingin dirinya cepat menikah.
"Yes mom, keinginan itu akan segera terwujud." ungkap Zyano bertopang tangan di dagu.
"Really?" tanya Zahra tampak tidak percaya.
"Yes, Mom bisa tanyakan dengan calon menantu mom." seru Zyano melirik Katerina yang terlihat malu.
"Kate, apa benar begitu?" tanya Zahra dengan mata penuh harap, sambil menggenggam tangan Katerina.
"Iya tante, aku sudah memutuskan untuk menyetujui perjodohan itu. Aku akan menikah dengan, Zyano." jawab Katerina tersenyum menatap Zahra.
Senyum merekah terbit di wajah Zahra, langsung saja Zahra memeluk Katerina. Hatinya sangat bahagia mendengar kalau Katerina setuju untuk menikah dengan putranya. Meski sulit dipercaya tapi Zahra tetap bahagia.
"Terima kasih, Kate, aku sangat bahagia mendengar berita ini, tapi kau tidak terpaksa kan?" tanya Zahra melepaskan pelukannya menatap wajah cantik Katerina.
Katerina menggeleng "Tidak tante. Aku akan berusaha untuk mencintai Zyano, ku rasa dia tidak seburuk itu."
"Aku sangat senang Kate. Kau tenang saja, cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, yang penting sekarang kau mau membuka lembaran baru di hidupmu." tutur Zahra membelai wajah Katerina, menyingkap rambut-rambutnya.
"Iya, tante benar. Aku tidak mungkin terus berpacu dengan masa lalu, hidupku masih panjang dan masa depanku masih cerah." sambung Katerina.
"Pilihan yang bijak, Kate" Seru Zahra menyentil hidup Katerina.
"Sekarang mom sudah bahagia kan?" sahut Zyano.
Zahra berdalih menatap putranya yang sok arrogant itu. Zahra akui dia memang sangat bahagia, setidaknya rencananya kali ini berjalan mulus tanpa hambatan. Jarang sekali Zyano mau dijodohkan begini.
"Tentu saja mom bahagia, itu artinya putra mom tidak akan jadi bujang lapuk hahaha." tukas Zahra tertawa terbahak-bahak.
"Apa mom begitu tidak inginnya mempunyai putra yang bujang lapuk?" tanya Zyano.
"Iya lah, mom akan sangat malu dengan teman-teman mom kalau sampai kau tidak menikah. Zyan, kau itu tampan, sukses, kaya raya tapi anehnya kau tidak suka perempuan. Mom sempat berpikir kalau kau itu homo, Zyan hahaha." lagi-lagi Zahra tertawa mengejek putranya.
Katerina mengulum senyum. Ia juga sempat berpikir mungkin tidak akan ada wanita yang bertahan di samping Zyano manusia dingin dan arrogant itu. Tetapi ternyata dirinya malah ingin menikah dengan Zyano.
"Mom, apa kau suka sekali mengejek putramu sendiri?" sarkas Zyano memasang wajah datar.
"Baiklah, maafkan mom, Zyan." seru Zahra lelah terus tertawa sampai perutnya sakit.
"Ah ya, kapan kalian akan melakukan resepsi pernikahan? Biar mom yang akan mempersiapkan semuanya." tanya Zahra antusias.
Zyano dan Katerina saling pandang, jujur saja mereka belum membicarakan kapan hari pernikahan itu karena Zyano baru saja melamar. Untuk resepsi pernikahan belum sama sekali terpikirkan oleh keduanya.
"Oh ya ampun, apa kalian berdua belum memikirkan resepsi pernikahannya?" tanya Zahra peka.
"Belum tante, mom." jawab keduanya bersamaan.
Zahra menepuk jidatnya tidak habis pikir. Bagaimana bisa mereka belum memikirkan tentang resepsi nya.
"Sayang lihatlah, putramu itu sangat kaku. Ingin menikah tapi belum memikirkan tentang resepsi nya. Apa aku harus turun tangan langsung?" seru Zahra menatap Zeano yang tengah menyeruput kopinya.
"Sepertinya kau memang harus turun tangan langsung sayang." sahut Zeano menyunggingkan bibirnya.
Zahra menghela nafas berat "Baiklah, kalau begitu mom akan putuskan resepsi pernikahan kalian berdua akan dilaksanakan minggu depan!" ucap Zahra tegas.
"Whattt?" pekik Katerina dan Zyano bersamaan dengan mata melotot terkejut.
"Are you crazy, mom?" tanya Zyano tidak habis pikir.
"Tante, apa itu tidak terlalu cepat? maksudku, seminggu itu bukan waktu yang lama untuk mempersiapkan segalanya tante." protes Katerina.
"Iya mom, apa yang dibilang Kate benar. Seminggu itu terlalu cepat." sahut Zyano setuju.
"Tidak ada bantahan! Itu salah kalian sendiri kenapa tidak memikirkan resepsi sebelum mom yang memutuskan. Jika mom yang memutuskan maka tidak ada yang bisa menolak ataupun membantahnya, mengerti!" tegas Zahra tak terbantahkan.
"Tapi, mom."
"Sudah cukup, dengarkan baik-baik!"
"Kalian berdua tidak usah khawatir, soal resepsi mom sendiri yang akan mengaturnya untuk kalian. Jadi saat hari H nanti kalian hanya duduk diam dan tenang menikmati acaranya. Mom akan mempersiapkan segalanya tanpa kekurangan sedikitpun!" ungkap Zahra menegaskan.
"Tapi tante.."
"Jangan ada yang membantah! atau kalau kalian mau besok resepsi nya juga tidak apa." tukas Zahra santai.
Katerina dan Zyano melongo dibuatnya. Bisa-bisanya Zahra mengatakan itu dengan santainya. Orang kaya mah bebas, tinggal kasih duit suruh orang beres urusan.
"Apa kalian ingin resepsinya diadakan besok? Mom tidak masalah kalau kalian besok menikah, jutsru mom akan sangat bahagia" ucap Zahra menatap keduanya dengan seringai licik.
"Jangan mom, tante." tolak keduanya bersamaan.
"Baiklah, jika begitu sudah diputuskan kalau minggu depan adalah hari pernikahan kalian." tegas Zahra.
Keduanya manggut-manggut tanda setuju, daripada besok lebih baik minggu depan pikir Zyano dan Katerina. Kali ini mereka benar-benar tidak bisa menolak.
Zeano hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sang istri yang mendominasi untuk menentukan pernikahan Zyano dan Katerina. Ia tahu Zahra tidak bisa dibantah apalagi ditolak yang ada semakin gila.
Katerina meraih tangan Zahra "Tante, bisakah aku meminta sesuatu?" tanyanya hati-hati.
"Kau ingin apa, Kate?" tanya Zahra.
"Begini tante, apa bisa pernikahan ini jangan terlalu diketahui banyak orang terutama untuk keluarga Cristopher. Aku tidak ingin mereka memanfaatkan keadaan ini, jadi aku mohon sama tante jangan sampai pernikahan ini dipublikasikan di media." pintanya sendu.
"Kenapa kau tidak ingin mempublikasikan pernikahan ini? Apa kau malu menikah denganku?" cecar Zyano sedikit kecewa.
Katerina menggeleng "Tidak seperti itu. Aku tidak malu, hanya saja, jika mereka tahu aku menikah denganmu mereka akan memaafkan keadaan ini untuk mendekati kalian. Mereka pasti akan berpura-pura baik denganku untuk melakukan hal yang mereka inginkan. Aku tidak ingin mereka menganggu keluarga kalian. Jadi kumohon mengertilah, ini hanya sementara sampai balas dendam ku terlaksana." bantah Katerina memohon.
Zyano tidak menjawab, dia hanya diam sambil memasang wajah yang amat datar. Katerina yang melihat itu menjadi tidak enak hati dan merasa bersalah, pasti Zyano sudah tersinggung dengan permintaan nya.
Zahra tersenyum "Tidak apa Kate, aku paham apa yang kau pikirkan, kau tenang saja pernikahan kalian hanya akan dihadiri oleh kerabat terdekat dan tidak akan ada media yang menginput nya." ucap Zahra mengerti apa yang Katerina takutkan.
"Terima kasih banyak tante, maaf jika permintaan ku akan menyakiti perasaan kalian." balas Katerina menunduk tidak enak hati.
"Hei tidak apa, Kate, jangan sedih. Aku mengerti apa maksudmu." kata Zahra menaikkan dagu Katerina.
Katerina hanya tersenyum tanpa berucap. Dia tahu Zyano tidak suka dengan permintaannya, itu dapat dilihat dengan ekspresi yang ditampilkan nya saat ini begitu dingin dan datar. Tapi Katerina bersyukur karena Zahra mengerti keinginannya.
"Baiklah, ini sudah jam makan siang. Sebaiknya kita makan siang dulu. Bi Asri sudah menyiapkan makanan, ayo." ajak Zahra beranjak dan mengiring Katerina menuju ruang makan.
"Ayo, boy." ajak Zeano mengalungkan tangannya di bahu putranya itu.
******
Setelah acara makan siang bersama. Katerina memutuskan untuk pulang ke apartemen Maya. Zahra menyuruh Zyano untuk mengantarkannya pulang dan tentu saja Zyano menyetujuinya dengan senang hati. Katerina sempat menolak karena tak ingin merepotkan tapi Zahra memaksanya.
Dan berakhirlah Zyano yang mengantarkan Katerina pulang. Seperti saat ini mereka berdua dalam mobil yang sama tapi tak ada pembicaraan apapun.
Kali ini Zyano yang menyetir mobilnya sendiri sebab Dave harus kembali ke kantor, ada pekerjaan mendesak yang harus dia kerjakan. Sebenarnya itu hanya alasan modus dari Zyano agar bisa berduaan dengan Katerina.
Suasana dalam mobil sangat canggung. Zyano hanya sibuk menyetir tanpa mempedulikan Katerina yang merasa tidak nyaman dengan situasi yang seperti itu. Tidak ada yang bisa menebak apakah Zyano marah atau tidak, ekspresi nya begitu datar dan dingin.
"Kenapa kau suka sekali mengigit bibir mu itu? Apa kau tidak kasian bibirmu bisa saja terluka." seru Zyano sesekali melirik Katerina yang mengigit bibirnya.
"Em....itu.. sudah jadi kebiasaan saya, tuan." ungkap Katerina.
Chittt
Zyano menginjak rem mendadak sehingga membuat Katerina terlonjak kaget. Kepalanya hampir menubruk dasboard jika tangan Zyano tidak menahannya.
Zyano menatapnya tajam "Kenapa kau masih memanggilku tuan?" tanyanya dengan nada tidak suka.
Katerina gelagapan "Maaf, maksudku, Zyano." jawabnya tersenyum canggung.
Cup
Zyano mengecup singkat bibir Katerina membuat sang empu terbelalak.
"Jangan memanggilku tuan. Jika tidak, kau akan dapat hukumannya, Kate." bisik Zyano ditelinga Katerina.
Katerina meneguk saliva nya susah, ancaman Zyano membuatnya merinding. Tapi kepalanya mengangguk pelan tanda mengerti.
Zyano tersenyum tipis lalu menjalankan mobilnya kembali. Suasana hening menyelimuti keduanya. Katerina menyandarkan punggung belakangnya di head rest. Matanya menatap pepohonan rindang yang ada di tepi jalanan, sementara Zyano fokus menyetir sambil sesekali melirik Katerina.
Sepanjang perjalanan hanya ada kesunyiannya. Katerina termenung memikirkan pernikahannya dengan Zyano yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Antara percaya dan tidak dia akan menikah dengan manusia dingin seperti Zyano? Entah bagaimana nasibnya nanti. Katerina hanya berharap semoga pernikahannya akan membawa kebahagiaan.
"Dimana apartemen temanmu, Kate?" tanya Zyano memecah keheningan.
"City Spire Penthouse." jawabnya.
Zyano mengerutkan keningnya, City Spire Penthouse adalah apartemen miliknya. Jadi teman Katerina tinggal di apartemen miliknya. Seketika senyum tipis menghiasi wajah tampannya. Tidak disangka Katerina tinggal di apartemen miliknya. Setidaknya Zyano bisa memantau Katerina tanpa sepengetahuannya.
"Zyan." panggil Katerina.
"Hm Ya, kenapa?" tanya Zyano menoleh.
"Apa kau marah?" tanyanya menunduk sambil mengaitkan kedua tangannya menggenggam.
Alis Zyano mengerut "Tidak. Kenapa kau berkata begitu?"
"Aku pikir kau marah karena permintaan ku tadi. Aku tidak ingin pernikahan ini dipublikasikan bukan karena aku malu menikah denganmu tapi aku hanya tidak ingin mereka mengangumu, Zyan." ungkap Katerina mengutarakan isi hatinya.
Zyano meminggirkan mobilnya ke tepi jalan agar bisa lebih leluasa berbicara dengan Katerina.
"Aku tidak marah, Kate. Aku hanya sedikit kecewa saat mendengar kau tidak ingin mempublikasikan pernikahan kita. Ku pikir kau malu menikah denganku."
"Tidak Zyan. Aku tidak mungkin malu, malah seharusnya kau yang malu. Kau menikah dengan wanita tidak berguna sepertiku, bagaimana reputasi mu nanti ketika orang lain tahu kau menikah denganku yang tidak memiliki apa-apa?"
Zyano menutup mulut Katerina dengan jari telunjuknya. Ia tidak suka mendengar Katerina merendahkan dirinya sendiri.
"Jangan bicara seperti itu Kate. Aku tidak suka mendengarnya. Aku tidak peduli pendapat orang lain mengenai dirimu karena aku punya penilaian ku sendiri."
"Apa kau tidak masalah jika menikah dengan seseorang yang tidak kau cintai?" tanya Katerina menatap dalam manik netra Zyano.
Zyano terkekeh "Lalu, kau sendiri bagaimana? Kau juga tidak mencintaiku. Lantas, kenapa kau menyetujui untuk menikah denganku?" bukannya menjawab Zyano malah bertanya balik.
Katerina langsung terdiam, pertanyaan Zyano seperti sebuah jebakan untuknya.
"Kenapa diam? Jawablah!" Zyano semakin mendesaknya.
"Atau jangan-jangan kau sudah jatuh cinta padaku?" tanya Zyano menggoda.
"Tidak!" bantah Katerina cepat.
Zyano memajukan wajahnya lalu tangannya dia letakkan di atas safety belt sehingga membuat Katerina terpojokkan. Katerina tidak bisa bergerak bebas dia benar-benar sudah terpojokkan oleh kedua tangan kekar Zyano.
"A-apa yang ingin kau lakukan?" tanya Katerina gugup.
"Menurutmu?" tanyanya dengan senyum menggoda.
Katerina semakin gugup ketika Zyano semakin mendekatkan wajahnya. Katerina menutup kedua matanya. Dia pikir Zyano akan menciumnya.
"Kenapa kau menutup matamu? kau pikir aku akan mencium mu?"
"Lalu, kau ingin apa?"
"Aku hanya ingin membenarkan safety belt mu. Kau tidak memasangnya tidak benar. Aku takut kau akan terbentur." jawabnya setelah itu menjauhkan wajahnya dari Katerina.
Katerina malu bukan main, pipinya memerah menahan malu. Ingin sekali rasanya dia menghilang dari bumi saat ini juga. Bisa-bisanya dia berpikir Zyano akan menciumnya. Mau ditaruh dimana mukanya.
Katerina membuang muka tidak berani menatap Zyano. Dia benar-benar malu, kenapa pikirannya mengarah ke sana. Sedangkan Zyano hanya mengulum senyum melihat wajah malu Katerina. Dia memang sengaja melakukan itu untuk menggoda Katerina.
"Kate.." panggil Zyano.
"Hm." Katerina hanya berdehem wajahnya masih memerah.
"Kau malu?" tanyanya sok tidak tahu.
Katerina berdecak kesal "Sudah tahu malah bertanya." jawabnya ketus, masih tidak berani menatap Zyano.
"Kate..." panggilnya lagi.
"Kenapa?" tanya Katerina.
"Jika bicara denganku harus tatap mataku! Apa pohon itu lebih tampan dariku?" seru Zyano langsung memegang dagu Katerina agar menatapnya.
Kini, kedua mata mereka saling pandang dengan tatapan yang sulit diartikan. Jantung Katerina berdegup kencang saat menatap netra milik Zyano begitupun sebaliknya.
"Kate, jawablah pertanyaan ku yang tadi."
"Pertanyaan yang mana?" tanya Katerina tidak ingat.
"Mengapa kau mau menikah denganku?"
"Aku tidak tahu Zyan. Hatiku mengatakan untuk mempercayai mu sebagai pendamping hidupku ku, ditambah keluarga mu juga sangat baik padaku. Aku tidak ingin mengecewakan tante Zahra jika aku menolak mu." jawab Katerina apa adanya.
"Jadi kau setuju karena tidak ingin ibuku kecewa? begitu?" tanya Zyano sedikit tersinggung.
"Tidak begitu Zyan. Em...maksudku untuk saat ini aku tidak bisa mengatakan perasaanku. Aku juga tidak tahu apakah aku menyukaimu ataukah tidak, hatiku hanya mengatakan aku akan mempercayaimu, kau jangan salah paham." ungkap Katerina.
"Baiklah, jika begitu aku ingin menantang mu." seru Zyano membuat Katerina bingung.
"Menantang apa?"
"Jika salah satu diantara kita lebih dulu mencintai maka kita harus mengatakannya terlebih dahulu. Misalnya, jika kau mencintaiku lebih dulu maka kau harus mengatakannya padaku dan begitu sebaliknya, kau mengerti?" tukas Zyano serius.
"Maksudmu, kita saling terbuka?" tanya Katerina memastikan.
"Ya.. aku akan memberikan waktu selama 1 tahun. Jika dalam satu tahun kita berdua masih tidak memiliki rasa satu sama lain maka sebaiknya kita akhiri saja perjodohan ini." seru Zyano.
Katerina tercengang "Jadi maksudmu kita menikah kontrak?"
"Hm aku tidak tahu namanya, yang pasti aku tidak ingin perjodohan ini berlanjut jika kita sama-sama tidak mencintai satu sama lain. Pernikahan tanpa cinta akan sangat tersiksa untuk kita berdua, anggap saja 1 tahun itu percobaan untuk memastikan perasaan kita berdua. Aku juga tidak ingin kau menikah karena terpaksa Kate. Itulah sebabnya kita harus saling terbuka dan mengatakan siapa yang lebih dulu jatuh cinta."
"Jika aku jatuh cinta padamu lebih dulu aku akan mengatakannya padamu dan kau pun juga harus seperti itu." tukas Zyano.
"Kau mengerti maksudku kan, Kate?" tanya Zyano menatap Katerina.
"Iya Zyan. Aku paham kau tidak ingin memaksakan cinta, kali ini aku aku setuju denganmu. Jika kita tidak saling mencintai dalam satu tahun ke depan maka lebih baik kita akhiri saja pernikahan ini. Kau dan aku berhak untuk memilih nantinya." tukas Katerina tersenyum.
"Baguslah, kalau kau mengerti maksudku." balasnya mengelus kepala Katerina dengan lembut.
Setelah itu Zyano menghidupkan mesin mobil dan melaju pergi mengantarkan Katerina pulang.
Bersambung 😎
______________________________________________
Hohohoho kira-kira siapa yang lebih dulu jatuh cinta??
Jangan lupa Like, Vote, Komen, and Share ya teman-teman :)
Terima kasih sudah mampir 😊😊
^^^Coretan Senja ✍️^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
febby fadila
trus arti ciuman2 itu apa dong
2024-12-30
1
Shepty Ani
kenapa malah bikin perjanjian 1th bukannya udh jelas kalian saling jatuh cinta malah ciuman mesra gimana sih
2023-09-12
0
Dede
kenapa jd kayak pernikahan kontrak ya thor. ayo thor buat mereka secepat nya me nyatakan cinta. dan sm2 bucin
2023-03-28
1