Makan siang masih berlangsung. Keluarga Brawitama nampak menikmati makanan yang tersaji dimeja makan, tetapi tiba-tiba saja Zahra merasakan kepalanya berdenyut sakit. Sendok yang dipegangnya terjatuh hingga membuat semua orang yang ada di sana tersentak kaget dan langsung menatap ke arah Zahra yang sedang memegangi kepalanya.
"Sayang, kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?" tanya Zeano khawatir melihat istrinya.
Zahra mengangguk pelan "Iya sayang, aku baik-baik saja hanya kepalaku terasa pusing." jawabnya sembari memijit pelipisnya.
"Kau pasti kelelahan, sebaiknya kau istirahat di kamar." seru Zeano terlihat khawatir.
"Iya nyonya, sebaiknya anda istirahat saja, wajah anda sangat pucat nyonya." sahut Katerina ikut khawatir.
"Mom istirahatlah, apa perlu aku suruh Sean untuk memeriksa keadaan mom?" tanya Zyano.
"Tidak perlu Zyan. Mom hanya kelelahan istirahat sebentar nanti juga sehat lagi." Tolak Zahra.
"Ya sudah sayang, ayo aku antar ke kamar" Tawar Zeano beranjak dari duduknya menghampiri sang istri.
Zeano memapah sang istri menuju kamar. Namun, belum jauh dari ruang makan kepala Zahra semakin berdenyut, pandangannya mulai mengabur dan hingga akhirnya Zahra pingsan dalam pelukan Zeano.
"Astaga, Zahra bangun, heii sayang." Zeano tersentak kaget mendapati Zahra pingsan. Ia menepuk-nepuk pipi sang istri tapi tidak ada respon.
Zyano, Katerina dan para maid langsung menghampiri Zeano dan betapa kagetnya mereka semua saat melihat Zahra pingsan. Dengan cepat Zeano menggendong sang istri lalu membawanya ke kamar.
Zeano meletakkan Zahra di kasur king size dengan pelan dan sangat hati-hati. Sedangkan Zyano segera menelepon Sean untuk memeriksa keadaan Zahra. Mereka semua terlihat sangat panik apalagi melihat wajah Zahra yang begitu pucat.
"Zyan, apa kau sudah menelpon Sean?" tanya Zeano.
Zyano mengangguk "Sudah Dad, Sean masih dalam perjalanan."
Zeano kemudian duduk di samping Zahra sambil mengelus kepalanya lembut. Ia sangat khawatir melihat Zahra yang tiba-tiba pingsan apalagi wajahnya begitu pucat.
Sementara Zyano menyandarkan punggungnya ke dinding seraya memijit pelipisnya yang terasa pusing. Sedangkan Katerina hanya diam ia juga khawatir melihat keadaan Zahra.
Setelah lama ditunggu-tunggu akhirnya Sean datang dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Begitu mendapatkan kabar dari Zyano jika bibinya pingsan Sean langsung bergegas pergi menuju mansion.
"Sean, akhirnya kau datang juga." Zeano refleks berdiri saat melihat kedatangan keponakannya.
"Iya Paman, saat Zyan memberitahu jika bibi pingsan aku langsung bergegas kemari."
"Ya sudah, cepatlah kau periksa bibi mu." pinta Zeano menjauh agar Sean bisa memeriksa Zahra.
Sean mengangguk, lalu memeriksa keadaan Zahra. Ia mencek denyut nadi dan membuka sedikit mata Zahra untuk memastikan apa yang terjadi pada bibinya. Namun, saat Sean memeriksa keadaan Zahra ternyata bibinya baik-baik saja.
Sean mengerutkan dahinya bingung dan tiba-tiba ia merasakan ada yang mencubit tangannya ternyata dia adalah Zahra bibinya sendiri. Zahra seperti sedang mengisyaratkan sesuatu kepada Sean bahwa dirinya sedang akting.
Sesaat, Sean terdiam, mencoba memahami maksud bibinya. Ia melirik Zyano dan Katerina yang wajahnya penuh kekhawatiran. Akhirnya Sean paham bahwa bibinya memang menjalankan rencana perjodohan itu.
"Astaga, ku pikir bibi benar-benar sakit ternyata dia sedang akting." batin Sean.
Sean menghela nafas panjang membuat semuanya menatap ke arahnya terutama Zeano. Ia takut penyakit istrinya parah.
"Bagaimana Sean? Apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Zeano.
"Begini paman, setelah aku memeriksa keadaan bibi ternyata bibi punya penyakit yang cukup serius paman." jawab Sean.
Alis Zeano bertautan "Penyakit apa?" tanyanya bingung.
"Bibi menderita penyakit jantung sementara paman." jawabnya membuat semua orang semakin kebingungan.
"Hah? tapi istriku tidak ada riwayat penyakit jantung. Dan kenapa tiba-tiba dia jadi menderita penyakit jantung? Mungkin saja kau salah Sean, coba periksalah sekali lagi." bantah Zeano tidak percaya.
"Tidak paman, penyakit jantung bisa menyerang siapapun tidak terkecuali bibi Zahra." sarkas Sean.
"Tapi apa penyebabnya, Sean?" tanya Zeano semakin khawatir.
"Begini paman, menurut pemantauan ku setelah memeriksa keadaan bibi Zahra tadi, aku dapat mengetahui jika saat ini bibi Zahra sedang banyak pikiran, oleh karena itu jantungnya jadi melemah sehingga menyebabkan bibi Zahra pingsan." jawab Sean berbohong.
"Tapi apakah bisa sembuh Sean? maksudku pasti ada obatnya kan?" tanya Zeano.
"Tentu ada paman tetapi untuk saat kita pantau saja keadaan bibi untuk memastikan lebih lanjut."
Zeano menghembus nafas berat "Astaga, apa yang sedang Zahra pikirkan?" gumam Zeano memijit pelipisnya yang terasa pusing.
Zeano masih belum sadar jika saat ini istrinya itu sedang berakting menjalankan rencananya, sedangkan Sean hanya diam membantu rencana bibinya agar berjalan mulus. Sementara Zyano dan Katerina hanya diam menyimak obrolan Zeano dan Sean.
Zahra perlahan membuka kedua matanya berusaha menyesuaikan cahaya sekitar, hingga akhirnya kedua matanya terbuka sempurna.
"Mom, akhirnya kau sadar." Seru Zyano bahagia.
Zeano bergegas duduk di kasur samping istrinya "Sayang, apa yang kau rasakan? adakah yang sakit?" tanya Zeano penuh perhatian.
Zahra menggeleng lemah "A-aku ingin air." ucapnya terdengar sangat lemah.
"Bi Asri, tolong ambilkan air putih untuk istriku." pinta Zeano.
Bi Asri mengangguk patuh "Baik tuan."
Tidak perlu waktu lama Bi Asri kembali membawa secangkir air putih.
"Ini tuan, airnya." Bi Asri memberikannya kepada Zeano.
"Terima kasih Bi." Zeano membantu Zahra untuk bersandar di headboard dan setelah itu membantunya untuk meminum air putih tadi. Setelah dirasa cukup Zeano meletakkan cangkir itu di atas nakas.
Zahra menatap suaminya sendu "Zean, kurasa hidupku hanya sebentar lagi." ucapnya lemah.
"Kenapa kau berbicara seperti itu sayang? Apa kau mau meninggalkan ku?" tanya Zeano tidak suka dengan perkataan istrinya.
"Zean, aku merasa tubuhku lemah dan tidak berdaya. Mengingat usiaku sudah semakin tua, aku tidak tahu kapan akan menutup mata ini untuk selamanya. Aku tidak ingin meninggalkan mu tapi aku tidak bisa bertahan lama." jawabnya lemah.
"Zahra! Jangan bicara seperti itu. Aku tidak suka, kau pasti sembuh percayalah. Aku tidak mengizinkan kau meninggalkanku!" tukas Zeano tegas memeluk sang istri. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan Zahra, membayangkan saja Zeano tidak sanggup.
"Zean, aku ingin berbicara dengan putra kita." lirih Zahra yang masih dalam pelukan Zeano.
Zeano melepaskan pelukannya menatap wajah pucat sangat istri, hatinya teriris melihat kondisi Zahra yang lemah seperti ini.
"Baiklah." Zeano beranjak lalu menghampiri Zyano dan mengatakan jika Zahra ingin berbicara dengannya.
Zyano pun berjalan menghampiri Zahra yang sedang bersandar di Headboard. Kemudian Zyano duduk menatap mommy nya.
"Mom ingin bicara apa?" tanya Zyano lembut.
Zahra tersenyum, tangannya terangkat untuk membelai wajah putranya yang sangat tampan itu. Rahangnya yang kokoh, bulu mata yang lentik serta hidungnya yang mancung membuat ketampanan Zyano meningkat.
"Zyan, putraku yang paling tampan. Aku tidak menyangka kau sudah sebesar ini, rasanya baru kemarin aku menimang mu dalam pelukanku, menggendong mu lalu menidurkan mu, tapi waktu tidak terasa berlalu begitu cepat. Putraku kini sudah semakin dewasa, aku senang melihatnya." ungkap Zahra menitikkan air matanya.
"Don't cry mom, I don't like to see it." kata Zyano mengangkat tangan kanannya untuk menghapuskan air mata Zahra yang mengalir di kedua pipinya.
"Zyan, umurku mungkin tidak akan lama lagi tapi aku berharap kau selalu bahagia. Aku tahu kau tidak suka mendengar ocehan ku setiap hari bukan? pasti telingamu sakit ketika aku memarahimu tapi itu semua ku lakukan karena aku sangat menyayangimu Zyan. Kau putraku, aku tidak ingin kau salah jalan, ketika kau melakukan kesalahan kau harus meminta maaf, hapuskan gengsi mu yang tinggi itu."
"Mom jangan bicara seakan kau akan meninggalkan ku besok. Aku yakin kau pasti sembuh mom. Aku akan mencari dokter terbaik untuk merawat mu. Kau harus sembuh demi aku mom." cecar Zyano tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Zyan, sebagus apapun dokter jika sudah waktunya untuk mati maka tidak ada yang bisa menghentikannya sayang." Lirih Zahra dengan mata sayu.
Zyano menggeleng tidak setuju "No mom! Aku tidak ingin kau pergi meninggalkan ku dan Dad, mom. Apa kau tidak ingin melihatku menikah? bukankah kau ingin mempunyai cucu? maka kau harus bertahan mom. Aku mohon mom, jangan tinggalkan aku." sarkas Zyano menangis. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan mommy nya walaupun selama ini Zyano jengah dengan permintaan Zahra yang aneh-aneh tapi melihat mommy nya seperti ini hati Zyano terasa sakit.
Zahra meraih tangan Zyano lalu menggenggam nya erat.
"Zyan, apa kau mau mengabulkan satu permintaan mommy?" tanya Zahra terdengar lemah dengan mata yang sayu.
Zyano mengangguk cepat "Mom mau minta apa? pasti aku kabulkan mom." jawabnya yakin.
"Permintaan mom tidak sulit Zyan, mom hanya ingin kau menikah dengan Katerina." ungkap Zahra.
Jdarrrr
Bagai tersambar petir disiang bolong semua orang sangat terkejut mendengar permintaan Zahra terutama Katerina yang sejak tadi ada dalam ruangan itu. Hatinya langsung bergemuruh hebat. Bagaimana tidak? permintaan Zahra tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Zyan, apa kau mau menuruti permintaan mom?" tanya Zahra menatap kedua manik mata Zyano.
Zyano terdiam tidak menggubris pertanyaan Zahra. Pasalnya ia bingung sebab permintaan mommy nya terlalu mengejutkan untuknya. Pernikahan bukan sesuatu yang mudah untuk diputuskan begitu saja apalagi jika tanpa didasari atas rasa cinta, akan sangat sulitnya nantinya.
Zahra menggenggam tangan putranya "Zyan, jawab pertanyaan mom. Apa kau bisa mewujudkan keinginan mommy? Mom hanya ingin kau mempunyai keluarga yang akan selalu ada untukmu Zyan. Jadi ketika mom pergi nanti mom bisa tenang karena putra mom sudah menikah dengan wanita yang mom pilih."
Zyano masih saja diam tidak tahu harus mengatakan apa, ini terlalu mendadak untuknya tapi disisi lain ini permintaan Zahra. Sungguh Zyano pusing dibuatnya.
"Zyan, jawablah." desak Zahra tapi tetap saja Zyan diam.
"Akhhh, jantungku." rintih Zahra memegangi dadanya pura-pura kesakitan.
Semua orang langsung khawatir terutama Zyano. Ia semakin takut melihat kondisi mommy nya yang sedikit saja jantung nya langsung sakit.
"Mom...mom kenapa?" tanya Zyano panik.
"Jantung mom sakit, Zyan." jawabnya.
"Zyan, jawab pertanyaan mom. Apa kau mau menikah dengan Katerina demi mom?" tanya Zahra sekali lagi.
"Turuti saja permintaan Mom Zyan. Agar mommy mu itu tenang." sahut Zeano mulai sadar jika Istrinya sedang akting.
Zeano merasa terbodohi oleh kelicikan sang istri. Ia kini menyadari ternyata dari tadi istrinya sedang berakting demi menyatukan Zyano dan Katerina sehingga Zyano tidak bisa menolak permintaannya lagi. Zahra memang sangat pintar memanfaatkan keadaan.
Zyano menghela nafas berat "Baiklah mom, aku akan menikahi Katerina, tapi mom harus berjanji padaku kalau mom akan sembuh dan baik-baik saja. Aku akan mencarikan dokter terbaik untuk mengobati penyakit jantung mom." jawab Zyano akhirnya setuju. Ia tidak ada pilihan lain lagi selain menuruti permintaan Zahra apalagi melihat mommy nya yang terus merintih kesakitan membuat hatinya sakit.
Mata Zahra langsung berbinar bahagia "Benarkah? kau tidak bercanda kan, Zyan?" tanya Zahra memastikan.
Zyano mengangguk "Yes mom, aku tidak bercanda."
Senyum merekah terbit di wajah cantik Zahra, hatinya berbunga-bunga. Akhirnya Zyano setuju menikah dengan Katerina. Tidak sia-sia dirinya berakting pura-pura sakit jantung ternyata itu semua membuahkan hasil yang sangat memuaskan.
"Terima kasih sayang, mom sangat bahagia mendengarnya." ungkap Zahra langsung memeluk tubuh Zyano untuk menyalurkan kebahagiaannya.
Zyano membalas pelukan Zahra hatinya juga senang melihat wajah kebahagiaan dari mommy nya. Walaupun ia tahu hidupnya akan berubah setelah menikah dengan Katerina tapi demi kesembuhan mommy nya, Zyano rela melakukan apapun.
Sementara Katerina memasang wajah yang sangat datar. Ia belum mengatakan setuju bagaimana bisa mereka membuat keputusan begitu saja sesuka hati?
"Maaf tuan, Nyonya, tapi saya tidak setuju dengan pernikahan ini." sahutnya membuat semua orang langsung menatap ke arah Katerina. Wajah nya sangat datar bahkan dingin.
"Astaga, kenapa aku sampai lupa dengan Katerina, wanita itu pasti tidak akan setuju." batin Zahra meruntuki kebodohannya.
"Kenapa, kau tidak setuju Kate?" tanya Zeano heran.
"Maaf tuan, saya tidak bermaksud apa-apa, tetapi bagi saya pernikahan itu sakral dan saya tidak ingin menjadikannya hanya permainan. Saya tahu jika kondisi nyonya saat ini buruk tetapi apa hak kalian menyuruh saya menikah dengan tuan Zyano? Mengenalnya pun saya tidak apalagi mencintai nya. Bagaimana bisa saya menikah begitu saja tanpa dasar cinta? Saya menginginkan pernikahan atas dasar saling mencintai satu sama lain bukan karena keterpaksaan." jawab Katerina dengan tegas menolak pernikahan ini.
Zyano beranjak dari duduknya "Apa kau sedang menolak ku?" tanyanya menatap Katerina tajam.
"Ya, saya menolak anda tuan Zyano yang terhormat." jawabnya membalas tatapan tajam Zyano tanpa rasa takut.
Zyano tersenyum kecut "Apa aku tidak salah dengar? Kau menolak seorang, Zyano Genta Brawitama? Apa kau sehebat itu hingga bisa menolak ku dengan mentah-mentah?!"
"Justru karena kau seorang, Zyano Genta Brawitama sehingga aku tidak setuju untuk menikah denganmu. Aku menolak mu bukan karena aku merasa diriku hebat tapi karena aku merasa tidak pantas untuk orang sehebat dirimu tuan. Aku hanyalah wanita biasa dengan segala kehidupan yang rumit, sedangkan kau orang yang hebat dan berpengaruh. Aku sama sekali tidak cocok bersanding dengan mu tuan, Zyano." ungkap Katerina apa adanya.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Keluarga ini tidak pernah memandang orang dari status atau kekayaan" tanya Zyano heran.
"Tuan, hidupku rumit dan aku tidak ingin kau terlibat dengan permasalahan hidupku. Lagipula, jika kau menikah denganku akan banyak masalah yang terjadi di keluarga ini. Aku tidak ingin melibatkan keluarga ini ke dalam permasalahan yang sedang ku hadapi. Dan aku juga tidak ingin kalian mengasihani ku." jawabnya tersenyum getir.
"Aku tidak peduli dengan itu. Aku akan membantumu untuk menyelesaikan permasalahan yang kau hadapi." tukas Zyano.
"Tidak! Aku tetap menolak pernikahan ini. Maaf nyonya, aku tidak bisa menuruti permintaan nyonya." bantah Katerina menolak keras.
"Kenapa Kate? Apa kau ingin melihat ibuku mati hah?!" bentak Zyano marah.
"Tentu saja tidak tuan, aku juga ingin melihat nyonya, Zahra sembuh."
"Lalu kenapa hah?! Kenapa kau menolak menikah denganku?" bentaknya.
Katerina hanya diam. Ia tidak mungkin mengatakan jika dirinya mempunyai dendam yang harus dibalas kan kepada keluarga Cristopher. Katerina tidak ingin melibatkan keluarga Zyano dalam permasalahan yang dia hadapi saat ini. Ia takut itu akan berdampak buruk untuk kehidupan keluarga Brawitama kedepannya.
"Jawab! jangan diam saja Katerina!" bentak Zyano marah.
"Karena kau tidak akan mengerti apa yang kurasakan!" jawabnya meninggikan suara.
"Bagaimana bisa aku mengerti jika kau tidak mengatakan nya hah!"
"Apa kau pikir aku tuhan yang akan tahu jika kau tidak memberitahukan nya? Aku juga manusia Kate!"
"Diam! Intinya aku tidak setuju menikah denganmu. Kau tidak bisa memaksa ku!" bentak Katerina marah.
Zahra merasa kepalanya pusing melihat pertengkaran antara Zyano dan Katerina. Matanya berkunang-kunang, pandangannya pun mulai buram hingga akhirnya Zahra pingsan.
"Bibi." Teriak Sean membuat semuanya tersentak dan langsung melihat Zahra yang pingsan.
Bersambung 😎
______________________________________________
Haduh Zahra pingsan lagi🤣🤣
Kira-kira tuh akting atau beneran yak?
Jangan lupa like, Vote, Komen, Share cerita ini ya teman-teman ;)
Terima kasih sudah mampir semoga suka hehe
^^^Coretan Senja ✍️^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
febby fadila
waduuuu kali ini mom pingsan benaran apa gima tu... mantap thor
2024-12-30
1
Erviana Erastus
ini baru pingsan benaran 🤣
2023-09-05
0
Ranung Anatasya
waduuu kali ini pasti mom nya pingsan beneran Thor
2023-08-10
2