Semua orang langsung bergegas menghampiri Zahra, bahkan Sean terlihat sangat panik. Ia segera memeriksa keadaan Zahra dan kali ini bibinya tidak berakting. Dia benar-benar pingsan.
Sean melakukan pertolongan pertama dengan membaringkan tubuh Zahra dengan benar. Selanjutnya, ia mengambil guling untuk menyangga kaki Zahra sehingga letak kaki lebih tinggi daripada kepala. Itu bertujuan agar aliran darah dapat lebih banyak mengalir menuju otak. Semua orang nampak sangat cemas melihat Zahra yang kembali pingsan.
Zyano menatap Katerina penuh amarah. "Lihatlah, ini semua karena kau! Jika kau tidak menolak permintaan ibuku maka dia tidak mungkin pingsan. Kalau terjadi sesuatu dengan ibuku aku tidak akan pernah memaafkan mu!" tukas Zyano menyalahkan Katerina.
"Maaf tuan, aku tidak bermaksud untuk membuat kondisi nyonya Zahra semakin memburuk. Aku hanya tidak ingin kalian terlibat dalam masalahku." ungkap Katerina jujur.
"Aku tidak perlu maaf darimu, yang pasti jika kondisi ibuku memburuk itu semua karena kau dan kau harus bertanggung jawab untuk itu!" sarkas Zyano murka.
Katerina menundukkan kepala merasa bersalah. Ia juga tidak ingin kondisi Zahra memburuk tapi disatu sisi dirinya bingung harus bagaimana. Katerina tidak ingin melibatkan keluarga Brawitama dalam dendamnya, sebab ia takut jika nanti keluarga Brawitama akan terkena masalah besar.
"Sudahlah Zyan, Kau jangan memarahi Katerina seperti itu. Ini tidak sepenuhnya salahnya." sahut Zeano.
"Tapi Dad.."
"Bibi... akhirnya kau sadar juga." Seru Sean tersenyum bahagia melihat Zahra membuka kedua matanya.
Zeano duduk di samping istrinya "Sayang, apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Zeano sambil mengelus pucuk kepala Zahra dengan lembut.
Zahra mengerjapkan matanya kali ini kepalanya memang terasa pusing. Ia melirik Katerina yang terlihat menundukkan kepalanya, dia benar-benar merasa bersalah.
"Kate, kemarilah aku ingin berbicara denganmu." lirih Zahra dengan suara serak.
Katerina melangkahkan kakinya mendekati Zahra yang sedang terbaring lemah. Ia kemudian mendudukkan pantatnya di kursi menghadap Zahra.
Zahra bangun dengan perlahan, lalu menyandarkan punggungnya di headboard agar ia bisa leluasa berbicara dengan Katerina, calon menantunya itu.
"Kate, aku ingin memberitahu mu sesuatu."
"Apa nyonya?" tanyanya dengan kening mengerut.
Zahra menatap suaminya "Sayang, bisakah kau mengambilkan foto yang ada di lemari ku." pinta Zahra.
"Tentu saja bisa sayang, sebentar."
Zeano berjalan lalu membuka sebuah lemari. Disana terdapat satu foto berbingkai. Zeano dapat melihat jelas siapa orang yang ada didalam Foto itu yang tidak lain adalah istrinya sendiri bersama seorang wanita cantik. Setelah itu ia memberikan nya kepada Zahra.
"Kate, apa kau kenal dengan wanita cantik ini?" tanya Zahra memperlihatkan foto itu kepada Katerina.
Katerina memperhatikan foto itu dengan seksama. Dalam foto itu ada dua orang wanita cantik memakai baju wisuda sedang tertawa bahagia. Mereka saling berpelukan dengan bahagianya. Katerina tentu saja kenal siapa wanita itu, dia adalah Ghina ibunya sendiri.
"Bukankah ini ibuku?" tanya Katerina menatap Zahra.
Zahra tersenyum "Ya, kau benar wanita cantik ini memang ibumu Kate. Dia Ghina, sahabat ku." jawab Zahra tersenyum melihat fotonya bersama Ghina saat hari wisuda nya.
"Jadi, nyonya mengenal ibuku?" tanya Katerina memastikan.
"Tentu saja, Ghina itu sahabat baikku dan dia sudah seperti saudara perempuan untukku. Apa kau tau? ibumu itu wanita yang sangat pemberani. Saat aku dirundung oleh banyak orang dia langsung berdiri didepan ku untuk melindungi ku dari orang-orang jahat itu, seolah-olah dia tidak ingin ada orang yang menyakitiku." Seru Zahra tersenyum tipis mengingat kenangan masa lalunya.
"Benarkah? tapi kenapa nyonya sampai dirundung?" tanya Katerina mulai penasaran.
"Kate, aku bukanlah anak dari keluarga kaya. Aku hanyalah mahasiswi yang mendapatkan beasiswa untuk bersekolah, tapi sayangnya disana memandang seseorang dari status keluarga nya."
"Jika kau bukan dari keluarga kaya maka kau akan dihina dan diusik. Itu sistem yang menjengkelkan, tapi apalah dayaku yang hanya anak dari keluarga tidak mampu yang ingin bersekolah dengan mengandalkan kepintaran tetapi aku malah dirundung."
Zahra menghela nafas panjang. "Tapi aku senang karena kejadian itu aku jadi bisa mengenal ibumu. Ghina, berasal dari keluarga bangsawan dan tentu saja semua orang sangat menghormatinya. Itulah sebabnya setelah aku berteman dengan ibumu tidak ada orang yang berani mengusikku lagi."
"Meskipun ibumu dari keluarga bangsawan dia tidak pernah membedakan orang lain dari segi kasta, kekayaan ataupun jabatan karna baginya semua orang itu sama dan sederajat. Kita manusia ini mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Aku sangat beruntung bisa mengenal ibumu, Kate." ungkap Zahra tersenyum bahagia.
Katerina tersenyum bahagia bisa mengenal ibunya dari cerita Zahra. Selama ini Katerina tidak tahu tentang bagaimana kehidupan ibunya di masa lalu karena Ghina meninggal saat usianya masih 5 tahun.
Zahra meraih tangan Katerina, lalu menggenggamnya erat sambil menatap kedua manik mata Katerina.
"Kate, aku tahu permintaanku untuk menikahkan mu dengan putraku pasti akan sangat mengejutkan untukmu. Tapi aku sangat yakin kau cocok bersanding dengan putraku Zyano."
"Kau tidak usah khawatir tentang masalahmu, bukankah setiap permasalahan akan selalu ada penyelesaian? jadi kau harus percaya keluarga itu ada untuk saling melengkapi.
Jika ada masalah kau bisa mengatakan nya dengan keluargamu sehingga kau tidak akan merasa sendirian dan jangan menanggung beban sendiri kau tidak akan sanggup Kate." seru Zahra.
"Tapi nyonya...."
"Tunggu Kate, aku belum selesai berbicara. Dengarkan aku dulu. Ada satu hal yang harus kau ketahui." sanggah Zahra.
Zahra membuka bingkai foto tadi dan keluarlah secarik kertas yang dilipat-lipat dengan sangat kecil. Ia membuka kertas itu lalu memberikannya kepada Katerina.
"Apa ini nyonya?" tanya Katerina.
"Bacalah Kate, setelah itu kau boleh berkomentar."
Katerina terlihat bingung tapi kemudian ia membaca kertas kusut itu. Disana ada tulisan tangan yang sedikit acak-acakan namun Katerina masih dapat membacanya.
Mata Katerina melebar saat membaca surat pernyataan yang berisikan tentang perjodohannya dengan Zyano. Antara percaya dengan tidak apakah ia sudah ditakdirkan untuk bersama manusia dingin seperti Zyano? Katerina sampai tidak bisa berkata-kata lagi saking kagetnya dirinya. Sebelum dilahirkan saja ternyata dia sudah dijodohkan dengan putra sahabat ibunya.
"Bagaimana, Kate? apa kau sudah membacanya?" tanya Zahra.
Katerina mengangguk pelan. "Sudah nyonya."
"Lalu, apa pendapatmu? Apa kau akan setuju atau ingin membantahnya?" tanyanya.
Katerina diam. Ia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Hatinya sedang dilanda kebimbangan antara yakin atau tidak tapi surat itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya menyetujui pernikahan ini hanya saja Katerina masih ragu dan takut.
Apa yang akan terjadi setelah ia menikah dengan Zyano nanti itu yang dia pikirkan, apalagi mereka berdua tidak saling mencintai. Akankah pernikahan itu bertahan lama?
Zyano penasaran dengan surat yang diberikan mommy nya kepada Katerina, apalagi setelah melihat ekspresi Katerina yang bimbang, tanpa pikir panjang Zyano langsung mengambil nya dari tangan Katerina hingga membuat wanita itu tersentak kaget.
Zyano melotot setelah membaca surat itu. Pantas saja Katerina terdiam ternyata surat itu berisikan pertanyaan perjodohannya. Sebelum lahir pun mereka berdua sudah dijodohkan. Tapi entah mengapa Zyano merasa senang artinya Katerina tidak akan menolak pernikahan ini lagi.
"Kate." panggil Zahra yang melihat Katerina termenung.
Katerina tersentak kaget menatap Zahra yang sedang meminta jawaban darinya. Katerina menguatkan dirinya sambil menghembuskan nafas panjang.
Katerina meraih tangan Zahra lalu menggenggamnya erat.
"Nyonya, bisakah kalian memberikan ku waktu untuk berpikir? Saat ini aku sedang menata hatiku yang terluka akibat pengkhianatan mantan kekasihku dan ini semua terlalu mengejutkan untukku nyonya."
"Aku hanya perlu waktu sejenak untuk menenangkan diri dan berpikir mengenai hubungan baru, apalagi ini tentang pernikahan yang hanya terjadi satu kali seumur hidupku, tapi nyonya tenang saja aku tidak akan lama. Setelah itu aku pasti akan memberikan jawabannya." pinta Katerina mengatakan isi hatinya.
Katerina baru saja dikhianati oleh Rei. Wajar jika hatinya masih terluka. Bagi seseorang yang hatinya terluka akan sangat sulit untuk menyembuhkannya. Bahkan mungkin perlu waktu yang lama untuk sembuh apalagi jika ingin memulai sebuah hubungan baru.
Katerina juga tidak ingin menyakiti orang lain atas perasaanya, itulah sebabnya Katerina perlu waktu untuk menyakinkan dirinya bahwa pilihannya untuk menikah dengan Zyano tidak salah. Biar bagaimanapun ia hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidup agar tidak ada penyesalan nantinya.
Zahra tersenyum. "Tidak apa Kate, aku tahu kau pasti perlu waktu untuk menyakinkan dirimu dan pernikahan bukanlah senda gurau yang bisa dilakukan sesuka hati. Perlu hati yang mantap untuk menikah."
"Kami semua akan memberikan mu waktu dan ruang untuk berpikir. Jangan tergesa-gesa, aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Tapi aku senang karena kau mau mempertimbangkan nya, itu artinya ada kesempatan jika kau akan bersedia menikah dengan putraku."
Katerina tersenyum lebar. "Terima kasih nyonya anda sangat pengertian. Jika hatiku sudah siap aku pasti akan mengatakan nya kepada nyonya."
"Jangan memanggilku nyonya. Mulai sekarang panggil aku tante." pinta Zahra serius.
"Iya, tante." panggil Katerina tersenyum malu.
"Wah-wah ada yang mau nikah nih." sahut Sean menggoda sepupunya.
"Aku jadi tidak sabar melihat manusia Arrogant sepertimu menikah, Zyan." sindir Sean terkikik sendiri membayangkan Zyano menikah dengan Katerina.
"Diam kau Sean atau mulutmu aku sobek." sarkas Zyano dengan tatapan tajam.
"Uwuwu takut." kata Sean mengejek.
Sean menatap Katerina "Kate, jika nanti kau benar-benar menikah dengan Zyano. Aku harap kau bisa sabar dengan sikap dingin dan arrogant nya itu, tapi dibalik itu semua sebenarnya dia pria yang hangat hanya saja dia tidak menunjukkan nya kepada orang lain."
"Benar kan bro?" Tanya Sean mengalungkan tangannya di leher Zyan.
"Lepas!" sentak Zyano melepaskan tangan Sean dari lehernya. Dia benar-benar tidak suka.
"Sean, kau tenang saja nanti setelah menikah Zyano tidak mungkin bersikap arrogant dengan Katerina" seru Zahra sok tau.
"Benarkah? dari mana bibi tahu?" tanya Sean tidak percaya.
Zahra terkekeh "Ada lah, kau lihat saja nanti."
Katerina hanya tersenyum lalu melirik jam yang melingkar manis ditangan kirinya ternyata sudah menunjukkan pukul 17:55. Astaga, sudah sore Katerina sampai lupa kembali ke kantor, pasti sudah banyak orang yang pulang.
"Tante maaf, sepertinya aku harus segera pulang. Sebentar lagi akan malam sahabatku pasti sedang mencari ku." kata Katerina tidak ingin Maya khawatir padanya.
"Kate, apa sebaiknya kau menginap saja disini?" tawar Zahra.
"Tidak tante, aku tidak ingin merepotkan kalian semua." tolaknya.
"Kau tidak merepotkan Kate. Aku malah senang jika kau menginap di sini. Jadi aku punya teman untuk ngobrol." tukas Zahra.
"Tapi tante.."
"Kate, ayolah, mau ya?" Pinta Zahra dengan wajah memelas.
"Baiklah, aku akan menginap di sini tante." Jawab Katerina pasrah.
Senyum merekah terbit di wajah Zahra. Ia langsung memeluk Katerina saking bahagianya. Zahra berjanji pada dirinya sendiri dia akan menjaga dan memperlakukan Katerina seperti anak kandungnya sendiri. Apalagi dirinya kini sangat menyayangi Katerina calon menantunya itu.
Katerina membalas pelukan Zahra. Entah mengapa hatinya sangat bahagia. Ia merasakan seperti ibunya sendiri yang memeluknya. Katerina sangat merindukan pelukan seorang ibu yang selama ini tidak ia dapatkan. Tanpa sadar air matanya menetes membasahi punggung belakang Zahra.
Zahra merasa punggung belakanganya basah. Ia pun melepaskan pelukannya dari Katerina, dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat Katerina sedang menangis.
"Astaga Kate, kenapa kau menangis?" tanya Zahra bingung.
Katerina menyeka air matanya "Tidak apa tante. Aku hanya senang saja, ternyata pelukan seorang ibu itu sangat hangat dan nyaman." jawabnya tersenyum getir.
Zahra terperangah "Astaga, apa ibu tirimu tidak pernah memelukmu?" tanya Zahra.
Katerina menggeleng "Tidak pernah, dia hanya peduli dengan anaknya Olivia."
Zahra kembali memeluk Katerina sambil memejamkan matanya. Hatinya bagai teriris setelah mendengar jika Katerina tidak pernah mendapatkan pelukan hangat dari seorang ibu. Zahra dapat merasakan betapa rapuhnya Katerina bahkan tubuhnya bergetar terisak.
"Jika kau mau, kau bisa memelukku setiap hari Kate." seru Zahra menitikkan air matanya.
Katerina melepaskan pelukannya "Terima kasih tante, kau sangat baik."
"Ya sudah kau pasti lelah, sebaiknya kau istirahat."
"Bukan aku tapi tante. Bukankah tante sedang sakit? Jadi yang harusnya istirahat itu tante."
"Baiklah, aku akan istirahat." Kata Zahra sambil membelai wajah Katerina.
Zahra beralih menatap para maid yang sedang berdiri.
"Lyla, kau siapkan kamar untuk Katerina dan layani dirinya dengan baik." perintah Zahra.
Lyla mengangguk paham "Baik, Nyonya."
"Bi Asri, tolong siapkan makanan yang enak untuk makan malam nanti." perintah Zahra.
"Baik nyonya."
"Kate, istirahatlah."
"Iya tante." Katerina beranjak dari duduknya lalu keluar bersama dengan Lyla.
"Zyan, Sean, kalian berdua istirahat juga." kata Zahra.
"Mom, apa kau sudah baikkan?" tanya Zyano.
Zahra tersenyum "Iya Zyan, sudah lebih mendingan daripada yang tadi. Cepatlah kau istirahat." pinta Zahra pada Zyano.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya." seru Zyan bernafas lega.
"Bibi, jangan sampai sakit lagi." sindir Sean.
"Hm, kan ada kau Sean. Bibi tidak mungkin sakit." balas Zahra.
"Baiklah, aku akan keluar sekarang, mom istirahat." Zyano dan Sean keluar dari kamar Zahra.
Setelah Zyano dan Sean keluar Zeano langsung menatap istrinya.
"Sudah puas beraktingnya sayang?" tanya Zeano memicingkan matanya tajam menatap sang istri.
Zahra menghela nafas "Zean, aku tidak berakting tadi aku memang pingsan." jawab Zahra apa adanya.
"Benarkah? Aku sampai tidak bisa membedakan mana akting dan mana yang asli."
"Artinya kau mengakui jika aku memang hebat."
"Ya, kau memang hebat sayang sampai aku tidak tahu ingin berkata apa padamu."
"Tapi rencana ku berhasil bukan? intinya sebentar lagi kita akan punya cucu." ungkap Zahra tersenyum lebar.
"Hm, terserah kau saja."
"Ghina, aku pasti akan menepati janjiku untuk menikahkan kedua anak kita. Kau tidak perlu khawatir lagi karena aku akan menjaga putrimu Ghina." batin Zahra.
Bersambung 😎
______________________________________________
Hohoho Rencana Zahra berjalan lancar tanpa hambatan 🤣🤣
Jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN, AND SHARE YA :)
Terima kasih sudah mampir 😚
^^^Coretan Senja ✍️^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
febby fadila
mom emang the best
2024-12-30
1
Dede
lanjuut lg thor
2023-03-28
2
chaaa
eh Zyan..bisa ya mau nikahi nya maksa gtu? hak setiap org donk mau nolak atau nerima.jgn mentang2 kaya jadi ngerasa semua dlm kendali nya..emak nya yg sakit, Kate yg d suruh tanggungjawab..gak menghargai perempuan bgt.
2023-02-16
2