SEBELUM BACA JANGAN LUPA LIKE DULU YAA
TERIMA KASIH 😊😊
______________________________________________
Zyano tersentak kaget hingga pegangan tangannya terlepas dari pinggang Katerina. Seketika pantat wanita itu langsung mencium lantai yang dingin.
"Aduh." rintih Katerina sambil mengelus-elus pantatnya yang sakit.
Zyano dengan wajah tanpa rasa bersalahnya sama sekali tidak berniat untuk membantu. Sedangkan Zahra bergegas membantu Katerina untuk berdiri.
"Kate, are you okay?" tanya Zahra.
"Yes, i'm fine nyonya." jawab Katerina tersenyum.
Para maid keluar dari kamar tamu dengan wajah khawatir. "Astaga nona, kenapa anda malah lari?" tanya Lyla dengan tangan penuh busa sabun.
Alis Zahra terangkat sebelah "Ada apa ini Lyla?"
"Begini nyonya, tadi kami semua ingin membantu nona Katerina untuk mandi tetapi saat air sudah siap nona katerina malah lari keluar nyonya." jawab Lyla apa adanya.
"Kenapa lari Kate?" tanya Zahra menatap heran.
Katerina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung ingin menjelaskan bagaimana apalagi di sini ada Zyano yang juga sedang menatapnya tajam.
"Emm..itu...maaf nyonya sebelumnya bukan saya menolak, tetapi saya bisa mandi sendiri tidak perlu dibantu oleh maid." jawab Katerina menggigit bibirnya malu.
"Memangnya kenapa Kate? Bukankah kepala mu sedang sakit? Jika kau mandi sendiri takutnya kau pingsan di kamar mandi lalu siapa yang akan menolong mu jika begitu?" tukas Zahra.
"Tidak apa-apa nyonya, saya tidak ingin merepotkan orang lain, lagipula kepala saya sudah mendingan. Nyonya tidak perlu khawatir." seru Katerina tersenyum simpul.
"Benarkah?" tanya Zahra tidak percaya.
"Iya nyonya."
Katerina tidak ingin semua orang tahu jika dipunggung nya terdapat luka cambuk akibat penyiksaan yang dilakukan oleh ibu serta adik tirinya. Luka itu berbekas itulah sebabnya dia menolak dimandikan oleh para maid.
"Baiklah, jika begitu keinginan mu aku tidak akan memaksa. Lyla, kau siapkan makanan untuk makan malam nanti." perintah Zahra.
"Baik nyonya."
"Dan kau, Katerina segeralah mandi setelah itu kita makan malam bersama." ungkap Zahra melancarkan rencananya.
"Tapi nyonya..."
"Jangan menolak ini perintah!" tegas Zahra tak terbantahkan.
"Baik nyonya." Katerina hanya tersenyum paksa. keluarga ini memang tidak bisa dibantah.
Setelah itu Katerina masuk kedalam kamar tamu bersiap-siap untuk makan malam nanti. Sedangkan Zyano nampak mematung dalam diam.
"Zyano." panggil Zahra.
"Eh, iya mom?" Zyano tersadar.
"Kenapa melamun? Apa kau terpesona dengan wanita tadi?" Goda Zahra.
Wajah Zyano berubah datar "Tidak sama sekali." jawab Zyano berlalu pergi meninggalkan Zahra sendirian di sana.
"Lihat saja nanti son, kau akan kesemsem dengan Katerina sampai bucin akut hahahaha." Gumam Zahra mempunyai rencana didalamnya otaknya.
Para maid nampak sangat sibuk menyiapkan makanan untuk acara nanti malam sesuai dengan perintah Zahra.
Malam ini para koki menyajikan hidangan pembuka (Appitizer) Smoked salmon canapes, Steak tartare, Foie gras, Galette de bretagne and Salade lyonnaise. Makanan khas Perancis yang memanjakan lidah bagi siapapun yang memakannya. Hidangan itu telah tersaji dengan cantik di meja makan super mewah.
Zahra keluar dari kamar bergandengan tangan bersama sang suami tercinta dengan pakaian yang sopan untuk acara makan malam begitupun dengan Sean yang sedari tadi sudah siap dimeja makan.
Tak selang waktu lama Zyano keluar dari kamarnya dengan kemeja berwarna navy menambah kadar ketampanannya. Para maid bahkan terpana melihat penampilan Zyano malam ini yang tidak seperti biasanya.
"Hallo bro." sapa Sean dengan wajah tengil nya.
Zyano tampak kaget saat melihat Sean yang sudah duduk di meja makan. Sejak kapan pria itu datang pikirnya.
"Kau.. sejak kapan kau datang? dan untuk apa kau kemari?" tanya Zyano nampak tidak suka melihat kehadiran Sean.
"Haish, banyak sekali pertanyaan mu Zyan, apa kau tidak merindukan sepupu mu ini?"
"Tidak sama sekali." jawabnya datar.
"Lihatlah bibi, paman, putra kalian begitu membenciku. Apa salahku padahal selama ini aku tidak pernah menggangunya." adu Sean pura-pura sedih.
"Tutup mulut mu Sean, Aku lelah terus mendengar ocehan mu." sarkas Zyano.
"Sudahlah, kalian berdua selalu saja ribut, kapan kalian akan akur hah!" sungut Zahra lelah.
"Dia yang mulai bibi." kata Sean.
"Diam! jika kau bicara lagi aku sumpal mulutmu pakai cabe rawit!" bentak Zahra.
Sean langsung menutup mulutnya rapat-rapat takut jika Zahra benar-benar akan menyumpal mulutnya dengan cabai bisa dower bibir seksi nya nanti.
Zahra mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang dia tunggu dari tadi.
"Bi Asri" panggil Zahra.
"Iya nyonya."
"Mana Katerina? mengapa dia belum muncul juga?" tanya Zahra.
Semuanya terkejut mendengar nama Katerina untuk apa Zahra mencarinya. Bi Asri ingin menjawab tetapi tiba-tiba suara seseorang menjawab.
"Maaf nyonya, saya terlambat." sahut Katerina tersenyum manis.
Semuanya menatap ke arah suara. Seketika mereka langsung terpana melihat Katerina yang memakai dress Sabrina selutut berwarna putih dengan polesan make up natural diwajahnya yang membuat wanita itu semakin cantik dan mempesona, bahkan membuat Zyano sampai tidak berkedip menatapnya.
Zahra beranjak dari duduknya menghampiri Katerina lalu menggiringnya untuk duduk di meja makan itu. Zeano, Sean dan Zyano bingung apa yang dilakukan oleh Zahra tetapi mereka tidak berani berkomentar takut kena omelan.
"Duduklah Kate, kau sangat cantik." puji Zahra tersenyum hangat.
"Terima kasih, nyonya." ujar Kate membalas senyuman Zahra.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" tanya Zeano akhirnya buka suara.
"Apa yang kulakukan? memangnya apa yang kulakukan? Aku hanya ingin makan malam bersama, apakah itu salah?" jawab Zahra dengan niat terselubung.
"Tentu saja tidak sayang tetapi...." Zeano tidak melanjutkan perkataannya takut Katerina tersinggung.
"Tetapi apa? Kau tidak suka jika aku mengajak Katerina untuk makan malam? Bukankah dia tamu di rumah ini. Apa pantas kita tidak mengajaknya makan malam?" tukas Zahra mengerti maksud suaminya.
"Dia bukan tamu mom!" sahut Zyano menampilkan wajah datar.
"What?"
"Aku membawanya ke mansion ini karena aku menabraknya bukan berarti dia menjadi tamu di sini. Aku hanya bertanggungjawab untuk kesembuhannya."
Katerina meremas dress nya di bawah meja. Tangannya berkeringat dingin. Ia sangat tidak suka dengan situasi saat ini. Katerina juga tidak berharap jadi tamu di rumah ini apalagi sampai diperlakukan istimewa hingga dirinya harus memakai dress yang dipilihkan oleh Zahra langsung. Jika bukan karena Zahra memaksanya Katerina juga tidak ingin memakainya, biar bagaimanapun ia tahu diri.
"Apa maksud ucapan mu Zyan?" tanya Zahra tidak suka mendengar perkataan putranya itu.
"Mom, aku tahu maksud mommy apa. Jangan melebihi batas kesabaran aku mom!"
Kening Zahra semakin berkerut "Kamu ini bicara apa Zyan?"
Zyano berdiri membuat semua orang menatapnya "Aku tahu isi kepala mommy apa, jangan berpikir aku tidak mengerti maksud mommy mengadakan acara makan malam hari ini. Apa mommy pikir aku bodoh? Mommy ingin mendekatkan aku dengan wanita ini kan? Stop, mom I don't like it!" bentak Zyano marah.
Zahra terkejut mendengar perkataan Zyano yang mengetahui rencananya. Gagal sudah rencana yang Zahra susun dengan sangat rapi.
Zahra ingin mendekatkan Zyano dekat dengan Katerina tetapi sayangnya rencananya malah diketahui lebih dulu oleh putranya yang sangat pintar itu.
"Kau sangat percaya diri sekali, Zyan. Siapa yang ingin mendekatkan mu dengan Katerina? Mom, tidak pernah berpikir seperti itu." sangah Zahra pura-pura.
Zyano tersenyum kecut "Lalu apa tujuan mommy mengadakan acara makan malam ini selain ingin mendekatkan aku dengan wanita itu?" tanya Zyano intimidasi.
Zahra nampak berpikir sebentar "Tentu saja mom ingin mendekatkan Sean dengan Katerina siapa tahu mereka cocok." jawab Zahra tidak kehabisan akal.
Semuanya melongo mendengar perkataan Zahra bahkan Sean menunjuk dirinya sendiri seakan tidak percaya. Katerina juga kaget mendengarnya. Apa dia tidak salah dengar.
"Bibi mau jadi mak comblang untuk aku sama Kate?" tanya Sean seakan tidak percaya.
"Iya memangnya kenapa? Bukankah kau juga tidak punya kekasih. Aku kasian melihat mu yang terus sendiri Sean, jadi aku ingin kau punya kekasih. Lagipula, Katerina wanita baik, pintar memasak bahkan sangat cantik apa lagi coba kurangnya?" kata Zahra menguji Katerina untuk melihat reaksi Zyano.
"Tapi bibi.." Belum sempat Sean melanjutkan perkataannya kakinya sudah diinjak dengan heels tinggi yang sangat menyakitkan. Sean ingin berteriak tetapi dapat tatapan tajam dari Zahra sehingga Sean hanya bisa menggigit bibir menahan sakit kakinya yang diinjak oleh Zahra.
"A..ah ya bibi, Katerina memang sangat cantik." sambung Sean menahan sakit.
"Astaga, kenapa aku harus terlibat dalam masalah keluarga ini? Oh Tuhan selamatkan diri ku dari keluarga gila ini." Jerit Sean dalam hatinya mengandu.
Zahra beralih menatap Katerina dengan lembut "Kate, menurutmu Sean sangat tampan bukan?" tanya Zahra ingin memanas-manasi Zyano namun sang empu malah terlihat tidak peduli.
Katerina mengangguk berat "Iya, nyonya." jawabnya tersenyum canggung.
"Ayo, nikmat makanannya." ucap Zahra mempersilahkan.
Mereka semua pun menikmati makanan yang tersaji di meja mewah itu. Tidak ada pembicaraan suasana menjadi canggung.
"Kate, dimana orang tuamu?" tanya Zeano tiba-tiba buka suara.
"Ah iya Kate, dimana orang tua mu? Apakah mereka tahu jika kau menginap disini? atau mungkin kau bisa mempertemukan kami dengan orang tuamu." cecar Zahra terlihat bersemangat.
Katerina yang sedang menikmati makanan saat mendengar pertanyaan itu sontak saja garpu yang dipegangnya terlepas membuat semua orang menatapnya. Wajah Katerina bahkan berubah menjadi datar dan dingin tanpa ekspresi.
"Orang tua saya sudah meninggal nyonya." jawabnya datar bahkan tangannya terkepal kuat dibawah meja dan tanpa sengaja Zyano melihatnya.
"Ah maaf Kate, aku tidak bermaksud untuk membuat mu sedih, kau pasti sangat kesepian ya?" balas Zahra menjadi tidak enak hati.
"Tidak apa nyonya."
"Kate, jika kau mau kau bisa menganggap kami sebagai orang tua mu. Mungkin dengan begitu kau tidak akan merasa sendiri lagi." seru Zahra tersenyum.
"Tidak perlu nyonya, aku tidak ingin dikasihani." jawabnya masih dengan wajah dingin.
"Tapi kami tidak mengasihani kamu Kate, ini namanya peduli bukan kasihan." bantah Zahra.
"Sudahlah mom, jika dia tidak ingin maka kau tidak perlu memaksa nya. Lagipula, untuk apa juga kita mengasihaninya." sarkas Zyano menusuk hati Katerina.
"Zyan, jaga bicaramu!" Tukas Zahra tidak suka ucapan Putranya pasti itu sangat menyakiti perasaan Katerina.
"Apa yang kukatakan benar bukan? Semua wanita hanya berpura-pura tidak ingin dikasihani padahal dalam hati mereka semua menginginkan itu. Toh mereka punya maksud tersembunyi dibalik itu semua." ungkap Zyano tersenyum remeh.
"Zyan!" Zahra memperingati putranya untuk berhenti bicara omong kosong.
Katering beranjak dari duduknya "Anda salah menilai saya tuan Zyano, saya tidak suka dikasihani orang lain dan saya juga tidak berharap dikasihani oleh keluarga ini."
"Sebelumnya, saya ucapkan terimakasih untuk anda dan nyonya Zahra karena telah bersedia merawat saya dan membiarkan saya tinggal di mansion ini. Maaf, jika kehadiran saya merepotkan kalian semua di mansion ini. Terutama untuk Bi Asri, terimakasih untuk semuanya. Saya tidak akan lupa dengan jasa kalian. Jika bisa suatu hari nanti saya akan membalasnya."
"Saya pamit dulu, permisi." Katerina membungkukkan badan, lalu pergi meninggalkan mansion itu.
"Kate.... tunggu, Kate jangan pergi." Zahra ingin mengejar Katerina namun tangannya ditahan oleh suaminya.
Zahra menatap putranya marah "Zyan! Apa-apaan kau, kenapa kau malah berkata seperti itu kepada Katerina hah?! Apa kau tidak punya hati. Teganya kau berkata seperti itu padanya!"
"Mom, jangan terlalu baik dengan orang lain nanti malah dimanfaatkan."
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah tampan Zyano semua orang terbelalak kaget. Baru pertama kali mereka melihat Zahra menampar putranya sendiri bahkan Zeano tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Semarah-marahnya Zahra dengan sikap Zyano selama ini tidak pernah Zahra menampar putranya itu tetapi kali ini tamparan itu mendarat begitu saja.
"Kau tidak perlu mengajari ku untuk bersikap baik atau tidak dengan orang lain Zyano. Aku tahu mana orang tulus dan mana orang yang bermuka dua. Aku lebih dulu hidup dari mu. Lika liku kehidupan sudah ku lalui jauh sebelum dirimu lahir!" bentak Zahra sangat marah.
"Tenanglah, sayang." Zeano mengelus punggung belakang istrinya berusaha menenangkan kemarahan Zahra.
"Tidak bisa, anak ini harus diberi pelajaran. Dia harus tahu mana kata-kata yang pantas diucapkan kepada orang lain agar tidak menyakiti hati orang. Apa kau sadar jika ucapamu tadi sudah menyakiti perasaan Katerina Zyano!" bentak Zahra kalut.
Zyano diam mematung akibat tamparan keras yang Zahra berikan. Selama ini mommy nya tidak pernah menamparnya bahkan sampai semarah ini hanya karena perkataan nya.
"Dengar Zyano, kalau kamu pria gentleman cari Katerina bawa dia ke hadapan mom! Minta maaf sama dia! Ucapan kamu tadi sudah sangat keterlaluan. Apa kamu sadar perkataan kamu tadi sama dengan merendahkan harga dirinya."
"Kalau kamu punya rasa bersalah, cari dia sampai ketemu itupun kalau kamu mau dapat maaf dari mom." Ungkap Zahra tegas setelah itu pergi ke kamarnya meninggalkan Zyano, Sean dan Zeano yang berdiri mematung.
Zeano menghembuskan nafas kasar melihat istrinya yang pergi begitu saja. Zahra memang wanita tegas tidak peduli siapa yang melakukan kesalahan meskipun itu putranya sendiri tetap saja harus minta maaf.
"Zyan, kali ini Dad tidak bisa membelamu karna apa yang dikatakan oleh mommy mu itu benar kau sudah keterlaluan dan menyakiti perasaan Katerina. Lelaki sejati pasti mengakui kesalahannya bukan? Aku tahu putraku tidak akan mengecewakan ku." kata Zeano sembari menepuk pundak putranya itu lalu setelah itu pergi berlalu menyusul Zahra.
"Sean, apa ucapanku tadi keterlaluan? Aku hanya mengungkapkan apa yang kurasakan sebab semua wanita memang seperti itu bukan? Mereka sangat pandai berakting." lirih Zyano menatap Sean.
"Kau benar Zyan, tapi tidak semua wanita seperti itu. Kau jangan hanya melihat keburukan mereka tapi lihatlah juga kebaikannya. Cobalah untuk belajar memahami orang lain. Apa yang kau pikirkan tentang orang lain belum tentu benar dan bisa saja salah."
"Dan untuk ucapamu tadi menurutku juga sudah keterlaluan. Kau sama saja merendahkan harga diri Katerina. Kau menganggap dirinya punya maksud terselubung dari keluarga ini. Padahal kau tidak tahu apapun bahkan mengenalnya saja kau tidak, bagaimana bisa kau menilainya seperti itu?"
Zyano terdiam memikirkan setiap perkataan Sean padanya. Sebenarnya dirinya pun juga merasa keterlaluan tapi egonya lebih tinggi sehingga ia tidak mau mengakui kesalahannya.
Sean mengalungkan tangannya ke pundak sepupunya itu "Zyan, sebagai sepupumu aku ingin memberikan saran padamu. Minta maaflah pada Katerina, turunkan sedikit ego mu, kau tidak akan mati hanya karena menurunkan sedikit ego mu bukan? Anggap saja itu pembuktian jika kau masih punya hati hahaha." Sean tertawa mengejek.
Zyano memukul perut Sean dengan sikunya hingga sang empu kesakitan. "Aduh."
"Kau menasehati atau mengejekku hah!" tukas Zyano kesal.
"Dua-duanya hahaha." Sean bergegas pergi sebelum kena pukulan kedua dari Zyano.
Zyano nampak berpikir mungkin apa yang dikatakan Sean ada benarnya. Zyan mengambil ponselnya yang ada di saku celananya untuk menelpon Dave asistennya.
"Dave, ke mansion sekarang! Ada tugas untukmu." perintah Zyano langsung menutup telponnya tanpa mendengar balasan dari Dave.
Dave yang ingin memejamkan mata langsung terlonjak kaget. "Haish, tidak bisakah aku beristirahat dengan tenang sehari saja." gumamnya.
"Ah sudahlah lebih baik aku segera pergi sebelum singa itu marah."
Bersambung 😎
______________________________________________
Sabar aja Dave 🤣🤣
Jangan lupa Like, Vote, komen dan Share cerita ini yaa guys
Bantu ramaikan yaaa :)
Terima kasih sudah mampir
^^^Coretan Senja ✍️^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
febby fadila
sangat miris sekali hidupmu kate
2024-12-30
1
Dede
kasihan Kate. mau pergi ke mn dia. smg tdk ada orang jht yg brtemu sm Kate ya thor
2023-03-28
2
epifania rendo
Kate aku padamu😍😍
2023-02-26
1