Lyla mengantarkan Katerina ke kamar tamu yang kemarin ditempatinya. Kamar itu kini sudah sangat bersih setelah terakhir kali Katerina menginap di sana, itu karena para maid setiap hari selalu membersihkan nya bahkan seprai kasur pun juga sudah berganti motif dan warna.
"Nona, saya sudah menyiapkan air untuk nona mandi. Apakah nona juga ingin saya membantu nona untuk mandi?" tanya Lyla menawarkan.
Katerina menggeleng. "Tidak perlu Lyla. Aku bisa mandi sendiri. Terima kasih, ya." tolaknya.
"Sama-sama nona, kalau begitu saya keluar dulu. Jika perlu apa-apa panggil saja saya nona."
"Iya, Lyla."
Katerina mendudukkan pantatnya di kasur king size. Ia menghela nafas berat ketika memikirkan tentang perjodohan dirinya dengan Zyano. Jujur saja ini terlalu mengejutkan untuknya apalagi hatinya masih terluka akibat pengkhianatan Rei.
Bagi Katerina, untuk memulai sebuah hubungan baru dia perlu memantapkan hati untuk menerima Zyano sebagai suaminya kelak. Itulah sebabnya Katerina perlu waktu untuk memikirkannya. Tapi ia tidak mungkin terus berlarut dengan luka masa lalu hidupnya harus terus berjalan, Rei adalah masa lalu yang harus ia lupakan.
"Oh tuhan, apapun keputusan ku nanti. Aku hanya berharap semoga aku tidak menyesalinya." batin Katerina memejamkan mata berdoa penuh harap.
Setelah itu Katerina memutuskan untuk mandi, badannya sudah bau dan lengket.
*****
Sedangkan ditempat lain. Saat ini Rei sedang ada di kantor nya. Ia sibuk dengan pekerjaannya tetapi tiba-tiba saja Olivia datang membawa kabar mengejutkan untuknya.
"Apaaa? Kau hamil Olivia?" Teriak Rei terkejut bukan main.
"Iya Rei, setelah aku periksa hasilnya positif. Kau bisa lihat sendiri Testpack ini." jawab Olivia sambil memberikan testpack yang menunjukkan dua garis merah menandakan jika Olivia benar-benar hamil.
Rei langsung mengambil Testpack itu dan matanya membulat sempurna saat melihat dua garis merah yang menunjukkan jika Olivia memang hamil.
"Tidak mungkin. Kau pasti berbohong kan Olivia?!"" sarkas Rei tidak percaya.
"Rei, bagaimana bisa aku berbohong jika Testpack itu menunjukkan kalau aku hamil? Apa menurutmu aku bisa membuat garis itu menjadi dua jika aku tidak hamil hah?!" tukas Olivia kesal.
"Tapi bukankah saat kita melakukan itu kau dan aku selalu memakai pengaman? Lalu, bagaimana bisa kau hamil hah! Aku tidak percaya, kau pasti menipuku Olivia!"
"Aku tidak menipumu Reino Alberto! Anak yang ada dalam perutku ini memang anakmu. Pengaman itu tidak menjamin jika aku tidak akan hamil, kau harus bertanggung jawab untuk ini semua!" teriak Olivia.
Rei tersenyum kecut lalu mencekam dagu Olivia dengan kasar.
"Dengar Olivia, aku tidak percaya jika itu anakku dan aku tidak akan bertanggung jawab. Kau sendiri yang mengantarkan tubuhmu padaku, lantas kenapa aku harus bertanggung jawab untuk kehamilan mu hah!"
Olivia terkekeh sinis. "Jika kau tidak ingin bertanggung jawab maka bersiaplah untuk kehancuran keluarga Alberto!"
"Apa maksudmu?"
"Aku akan mengatakan kepada publik jika kau menghamili ku dan tidak ingin bertanggung jawab atas kehamilan ini. Kau tau bukan apa yang akan terjadi selanjutnya?" Tukas Olivia mengancam.
Rei semakin mencekam dagu Olivia. "Beraninya kau mengancam ku Olivia. Kau tahu bukan aku bukanlah pria yang lemah lembut? Jika kau berani melakukan itu maka aku tidak akan segan untuk menghancurkan hidupmu, Olivia Natasha Cristopher!"
Olivia tertawa remeh "Rei, Bukankah kau sudah menghancurkan hidupku? Kau menghamili ku lalu tidak ingin bertanggung jawab? Apa kau pikir aku akan diam saja? Hidupku hancur dan kau juga harus hancur sama seperti ku!" ucap Olivia tersenyum licik.
Olivia melepaskan cengkraman tangan Rei dari dagunya.
"Dengar Reino Alberto, Jika kau tidak bertanggung jawab aku tidak akan segan untuk mengatakannya kepada publik, dan seluruh dunia akan tahu betapa bejatnya dirimu. Tidak hanya itu saja, keluarga dan citra mu akan rusak dimata masyarakat."
"Baiklah, apa yang kau inginkan?" tanya Rei tidak berkutik jika berkaitan tentang keluarganya.
Senyum licik menghiasi wajah Olivia "Aku ingin kau menikahi ku sebelum perutku semakin membesar. Kita harus sudah menikah, jika tidak publik akan tahu semuanya." jawab Olivia.
"Tidak! Aku tidak mau menikah dengan wanita licik sepertimu Olivia. Aku akan bertanggung jawab untuk kehamilan mu tapi tidak dengan menikahi mu!" sarkas Rei menolak keras.
Olivia tersenyum kecut. Ia sudah menduga Rei pasti tidak akan setuju untuk menikah dengannya, tapi Olivia tidak kehabisan akal, dia punya cara untuk membuat Rei tidak berkutik hingga bersedia menikah dengannya.
"Kau tidak punya pilihan Rei. Apa kau pikir anak ini tidak memerlukan seorang ayah? Dia juga perlu status dan kau harus menikahi ku untuk itu. Aku memberimu waktu sampai besok. Jika tidak maka bersiaplah keluarga mu akan hancur!" Ancam Olivia langsung keluar dari ruang kerja Rei.
Pranggg
"Arghhhhh sial. Dasar wanita ular." Rei membanting barang-barang yang ada di meja kerjanya. Ia sangat marah beraninya Olivia mengancamnya seperti itu. Seumur hidup Rei tidak pernah diancam seperti itu dan baru kali ini ada wanita yang berani mengancamnya.
"Awas saja kau Olivia. Aku tidak percaya jika itu anakku. Aku akan menyelidiki semua ini jika memang anak itu adalah anakku maka aku pasti akan bertanggung jawab tapi jika tidak aku akan menghancurkan hidupmu Olivia." geram Rei mengepalkan tangannya kuat.
Rei memencat telpon yang ada di meja nya "Angga, ke ruangan ku sekarang!" perintahnya.
******
Setelah makan malam bersama keluarga Brawitama. Katerina memutuskan untuk duduk di taman. Ia ingin menikmati angin sambil melihat pemandangan. Di taman itu terdapat banyak bunga ada bunga Kamboja, Lavender, Mawar, Lily, Asoka dan Bougenville.
"Bagaimana Dave? Apakah semuanya lancar?" tanya Zyano yang sedang berjalan-jalan disekitar mansion sambil memegang telpon ditelinga nya. Pria itu saat ini sedang berbicara dengan Dave di telpon.
"Iya tuan, pengiriman senjata legal kita telah berhasil, pelanggan kita sangat senang dengan barang yang kita kirimkan kali ini tuan dan mereka juga mengatakan sangat puas."
"Baguslah jika begitu, kau sangat bisa diandalkan Dave." ungkap Zyano memuji kerja asistennya itu.
"Terima kasih atas pujiannya, tuan."
"Ya sudah, kau berisitirahat karena besok pagi tugas kantor menantimu, Dave."
"Baik tuan."
Zyano mematikan sambungan telponnya dengan Dave. Ia ingin kembali ke kamarnya tapi matanya tidak sengaja menangkap ada seorang wanita cantik sedang duduk di kursi taman.
Zyano melangkahkan kakinya mendekati wanita itu. Di lihat dari samping Katerina sangat cantik bahkan sesaat Zyano terkesima dengan kecantikannya. Bulu mata yang lentik, bibir yang tipis serta kulit yang putih bersih. Siapa yang tidak terpana melihat kecantikannya itu?
Dering ponsel Katerina membuyarkan lamunannya. Ia melihat ponselnya ternyata Maya meneleponnya. Astaga Katerina sampai lupa mengabari sahabatnya itu.
"Hallo, Maya."
"Kate, maaf aku tidak bisa pulang hari ini karena aku harus pulang kampung sebab orang tuaku sedang sakit."
"Astaga, lalu sekarang bagaimana keadaannya, Maya?" tanya Katerina khawatir.
"Kau tenang saja Kate, mereka sudah baik-baik saja sekarang. Oh iya, kau tidak apa kan tidur sendiri di apartemen ku?" jawabnya.
"Aku sampai lupa mengabari mu Maya. Aku tidak menginap di apartemen mu. Malam ini aku menginap di tempat kenalanku, jadi kau tidak usah khawatir."
"Kenalan? kau punya kenalan siapa selain diriku? setahuku kau tidak punya sahabat selain aku." tanya Maya bingung.
"Emmm, itu nanti ku ceritakan padamu."
"Baiklah, Oh iya Kate. Aku ingin bertanya padamu. Apa kau benar-benar akan membalaskan dendam mu dengan keluarga Cristopher??" tanya Maya tiba-tiba.
"Emm.. maksudku apa kau akan melakukan itu semua dengan ayahmu sendiri? dia kan ayahmu. Apa kau tega menghancurkannya? Maaf Kate, jika aku bertanya seperti ini tapi aku hanya ingin memastikan apa kau tidak akan terluka jika menyakiti ayahmu. Balas dendam akan berhasil jika kau tidak mempunyai perasaan."
Katerina tersenyum kecut "Ayah? sejak dia mengusirku dari rumah aku sudah tidak menganggapnya sebagai ayahku lagi. Apakah ada seorang ayah yang membuang anak kandungnya sendiri bagai sampah tak berguna hanya karena anak tiri? Ku rasa sejahat apapun orang tua dia tidak akan mengusir anaknya sendiri dari rumah."
"Kau tenang saja Maya, hatiku sudah membatu. Aku tidak akan terluka jika melihat nya hancur, karena itu adalah sumpah ku. Menghancurkan keluarga Cristopher dan membuatnya kehilangan segala yang dia miliki terutama kedua wanita jahat itu. Dia sudah membuatku dibuang oleh ayahku sendiri." ungkap Katerina mengepalkan tangannya kuat.
"Apa kau perlu bantuan ku Kate? aku akan sangat bersedia untuk membantumu." tawar Maya dengan senang hati.
"Tidak! Aku tidak ingin melibatkan mu dalam dendam ku. Aku tidak ingin kau terkena masalah karna ku Maya. Biar aku saja yang memikirkan bagaimana caranya menghancurkan keluarga itu." tolak Katerina tegas tidak ingin melibatkan Maya.
"Tapi kau tidak akan sanggup jika melawan mereka sendirian Kate, apalagi saat ini kau tidak punya kuasa apapun. Bagaimana bisa kau menghancurkan keluarga itu hah?!"
"Sudahlah, Maya. Biar aku saja yang memikirkan itu kau tidak usah. Aku punya caraku sendiri untuk menghancurkan mereka."
"Tapi Kate..."
"Maya sudah cukup! Ini urusan ku dengan keluarga Cristopher. Kau tidak usah ikut campur, sebaiknya kau segera istirahat aku tutup dulu telponnya." Kate langsung mematikan telpon sepihak.
Katerina menghembuskan nafas kasar lalu meremas kepalanya yang terasa pusing. Ia pun sebenarnya tidak tahu rencana apa yang bisa membuat keluarga Cristopher hancur karena saat ini dia tidak punya kuasa apapun bahkan sahamnya hanya 15%. Bagaimana caranya dia bisa melawan keluarga itu? Katerina pusing sendiri dibuatnya.
"Jadi, ini alasanmu menolak ku waktu itu?" tanya seseorang membuat Katerina terkejut dan langsung berbalik. Seketika matanya langsung melotot mendapati Zyano tengah berdiri di belakangnya dengan tangan dalam saku celananya.
Katerina melonjak berdiri "Tuan, Zyano." lirihnya.
Zyano berjalan lalu duduk di kursi taman itu dengan kaki menyilang. Katerina mengigit bibirnya melihat tatapan tajam dari manusia dingin ini.
"Sejak kapan tuan ada di sana?" tanya Katerina hati-hati.
"Hm. Sejak kau menerima telepon dari temanmu itu." jawabnya santai.
"Duh, apa dia mendengar semua pembicaraan ku dengan Maya tadi?" tanya Katerina dalam hatinya.
"Apa kau tidak ingin menjelaskan apapun padaku?" tanyanya sambil menyadarkan punggung belakang nya ke kursi taman itu.
"Apa maksud anda tuan?" tanya Katerina bingung.
"Bukankah sudah jelas apa maksudku? Aku bertanya padamu apa kau tidak ingin menjelaskan semua yang baru saja ku dengar? Kau pikir aku tidak mendengar pembicaraan mu dengan temanmu tadi? Kupingku masih normal, tentu saja aku mendengar semuanya."
"Kurasa tidak ada yang perlu ku jelaskan padamu tuan, Zyano. Aku tidak punya kewajiban untuk menceritakan apa permasalahan ku padamu, lagipula ini masalahku, kau tidak perlu ikut campur." seru Katerina tegas.
Zyano tersenyum kecut "Apa begitu sulit untuk mu percaya dengan ku? Kenapa kau begitu menutup rapat masalahmu? Apa yang kau takutkan Kate? Apa kau takut membawa masalah untuk keluarga ini? kau tidak usah khawatir soal itu, masalahmu tidak akan membawa dampak untuk keluarga ku."
"Bukan seperti itu tuan, aku tidak ingin kalian mengasihani ku jika tau kalau aku dibuang oleh ayahku sendiri, semua orang pasti akan berpikir betapa mirisnya hidupku dan aku tidak ingin semua orang jadi kasihan padaku."
"Duduklah, Kate."" pinta Zyano menepuk kursi yang disampingnya menyuruh wanita itu untuk duduk.
"Hah?"
"Duduk! apa kakimu tidak lelah terus berdiri sejak tadi?" tanyanya.
"I-iya tuan." Katerina menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu duduk di samping Zyano. Bersamaan dengan itu rambut Katerina yang tergerai langsung diterpa angin yang berhembus sehingga aroma Jasmine dapat tercium di hidung Zyano.
Zyano menatap Katerina dalam "Dengar, aku tidak mengasihani mu, kau salah berpikir jika aku kasihan padamu. Tidak semua orang bisa kau anggap sama Kate. Aku hanya ingin kau bercerita, mungkin dengan begitu beban mu akan sedikit berkurang, setidaknya kau tidak merasa sendirian."
"Kau bisa percaya padaku." kata Zyano.
Katerina menarik nafas panjang lalu menatap Zyano.
"Sebenarnya, aku punya dendam dengan keluarga ku sendiri. Ayahku mengusir dan membuang ku begitu saja. Aku kecewa dan marah, tapi aku tidak berdaya, hak yang seharusnya kudapatkan malah diberikan kepada adik tiri ku. Dia menguasai rumah itu bersama ibu tiri ku, mereka berhasil membuat ayahku membenci putri nya sendiri."
"Aku ingin membalaskan rasa sakit yang selama ini mereka berikan padaku. Mereka menyiksaku dan memperlakukan ku seperti pembantu di rumah ku sendiri. Kedua wanita jahat itu sangat lihai memainkan trik liciknya sampai-sampai ayahku bersedia memberikan setengah harta kekayaan keluarga Cristopher pada mereka secara gratis, sedangkan aku malah dibuang."
"Hatiku sakit dan hacur bukan karena harta tapi karena ayahku, orang yang paling aku sayangi malah tega membuang ku tanpa belas kasihan. Aku seperti bukan anak kandungnya saja, diperlakukan dengan tidak adil dalam rumah itu. Dia tahu, tapi dia hanya diam seolah-olah tidak melihat penyiksaan yang diberikan oleh ibu dan adik tiri ku."
"Selama ini aku diam dan aku berusaha bersabar tapi mereka semakin keterlaluan hingga hari dimana pengkhianatan itu terjadi. Kekasihku berkhianat dengan adik tiri ku sendiri dan ayahku mengusirku. Aku memutuskan hubungan darah dengannya setelah hari itu aku menganggap nya bukan lagi ayahku."
"Hidupku terlalu pahit bukan?" tanya Katerina tersenyum getir.
"Tapi aku tidak ingin setelah kau mendengar ceritaku kau jadi kasihan padaku." ungkap nya menahan air mata agar tidak terjauh. Ia tidak ingin Zyano melihatnya menangis.
Tanpa diduga-duga Zyano malah menarik tubuh Katerina kedalam pelukannya. Ia dapat merasakan betapa rapuhnya wanita itu. Zyano kagum dengan sikap Katerina yang terlihat kuat disaat banyak masalah menimpanya.
Katerina tersentak kaget saat Zyano menarik tubuhnya tapi Katerina tidak menolak. Ia merasa nyaman dalam dekapan pria itu. Apalagi Zyano mengelus kepalanya dengan lembut memberikan kenyamanan untuknya.
Sejenak mereka berdua menikmati pelukan itu. Zyano meletakkan dagunya dipunuk kepala Katerina sambil memejamkan matanya menghirup aroma Jasmine yang begitu memabukkan untuknya.
Sedangkan Katerina menyandarkan kepalanya dengan nyaman ke dada bidang Zyano sambil memejamkan matanya. Ia merasa tenang dan damai dalam pelukan Zyano.
Beberapa menit berlalu namun pelukan itu masih belum terlepas, suasana nya hening hanya ada suara angin yang berhembus.
"Kate?" panggil Zyano namun tidak ada sahutan.
"Katerina." panggilnya sekali lagi namun tidak ada jawaban.
Zyano pun melepaskan pelukan itu dan betapa terkejutnya ia mendapati Katerina yang tertidur. Senyum terbit di wajah tampan Zyano melihat Katerina yang tertidur pulas.
"Astaga, dia malah ketiduran." gumam Zyano tersenyum.
Zyano menatap intens wajah Katerina yang menurutnya sangat cantik. Apalagi saat melihat bibir Katerina, ingin sekali ia mencium nya seperti waktu itu tapi Zyano tidak mungkin melakukannya saat wanita itu tidur. Ia bukan pria yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Zyano menggendong tubuh Katerina, lalu membawanya masuk ke dalam. Ia membuka pintu kamar tamu lalu membaringkan Katerina dengan sangat hati-hati agar wanita itu tidak terbangun.
Zyano memandangi wajah Katerina sesaat lalu mendekatkan wajahnya dan mencium kening Katerina dengan lembut.
"Tidur yang nyenyak, Kate." bisiknya ditelinga Katerina.
Setelah itu ia keluar dan segera menuju kamarnya untuk beristirahat.
Bersambung 😎
______________________________________________
Haduh meleleh hatiku 😭🤧
Zyano sweet sekalih
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMEN DAN SHARE CERITA INI YA GUYS!!
TERIMA KASIH :)
^^^Coretan Senja ✍️^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
febby fadila
dari luar garang eee ternyata bisa romontis juga...gimana mom/Drool/
2024-12-30
1
Riska Munaya
mulai bucin akut nih
2023-07-09
2
Astri
aku berharap mama zahra melihat mereka😍
2023-04-01
3