Di pintu utama ada keributan besar karena kedatangan dua pasangan sejoli yang saat ini sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di media. Siapa lagi kalau bukan Olivia dan Rei.
Kedua pasangan itu tiba-tiba datang berkunjung ke perusahaan Cristopher hingga membuat banyak pasang mata menatap ke arah mereka yang terlihat mesra dan nampak sangat serasi. Bahkan pakaian mereka pun senada berwarna biru tua menandakan jika mereka pasangan yang sedang bahagia.
Semua karyawan yang melihat kedatangan pasangan itu langsung saja berkerumun menghampiri keduanya. Wajah Olivia tampak berseri-seri tetapi tidak dengan Rei yang hanya menampilkan wajah yang teramat datar.
"Akhirnya, kalian datang juga." sambut Andi tersenyum lebar melihat kedatangan putrinya dan calon menantunya.
"Ayah." Olivia mencium punggung tangan Andi tanda hormat begitupun dengan Rei.
"Ayo, kita masuk kedalam." ajak Andi mempersilahkan.
"Tunggu, ayah." tahan Olivia sontak saja membuat langkah Andi dan Rei terhenti.
"Kenapa nak?" tanya Andi mengerutkan kening.
"Apa kita tidak mengajak kaka untuk ikut? Aku ingin kaka juga merasa bahagia untuk pertunangan ku dan Rei." ungkap Olivia melirik ke arah Katerina yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Apa kau gila hah?!"" sarkas Rei tidak habis pikir.
"Kenapa kau berkata begitu Rei? Apa aku salah mengajak kakakku sendiri untuk ikut membicarakan tentang pertunangan kita? Mungkin saja, dia punya ide bagus nantinya." timpal Olivia menampilkan wajah sendu, pura-pura berperan sebagai adik yang baik.
"Tidak apa sayang, ajaklah kaka mu itu." sambung Andi menyetujui perkataan Olivia.
"Terima kasih, ayah." seru Olivia langsung berseri-seri.
Sementara Rei tersenyum kecut. Ia sekarang tahu betapa liciknya Olivia. Rei tentu saja tahu tujuan Olivia untuk mengajak Katerina agar wanita itu cemburu. Sedikit demi sedikit Rei mengetahui Olivia adalah wanita sok polos yang bermuka dua.
"Ayo sayang." ajak Olivia menarik tangan Rei untuk menghampiri Katerina. Rei hanya bisa pasrah tidak bisa berbuat apa-apa untuk sekarang.
"Hai, ka." sapa Olivia yang kini sudah ada di depan meja kerja Katerina.
Katerina tidak mempedulikan dia masih saja sibuk mengetik.
"Ka, aku sedang berbicara denganmu." sungut Olivia mulai kesal karena tidak dihiraukan.
Lagi-lagi Katerina tidak perduli. Ia tetap mengerjakan pekerjaan nya. Sedangkan Olivia mulai tersulut emosi dan langsung saja dirinya menutup paksa laptop Katerina.
"Apa kau tidak punya sopan santun Olivia?!" tukas Katerina langsung berdiri menatap adiknya tajam.
"Kak, aku sedang bicara denganmu tapi kau tidak menghiraukan perkataan ku. Jadi aku terpaksa melakukan itu padamu." serunya tanpa rasa bersalah.
"Aku sedang tidak ingin bicara denganmu. Apa kau tidak bisa melihat jika aku sedang sibuk bekerja? Kau tahu sendiri kan jika aku sedang bekerja aku tidak suka ada yang menggangu nya terlebih lagi dirimu!" bentak Katerina kesal.
"Ka, kenapa kau jadi marah-marah padaku? apa salahku? aku hanya ingin berbicara dengan kakakku sendiri. Kenapa kau malah membentaku seperti itu?" seru Olivia menitikkan air mata pura-pura.
"Katerina! kenapa kau malah bersikap seperti itu pada adikmu sendiri hah! Apa kau tidak punya perasaan?!" tukas Andi marah melihat sikap Katerina yang menurutnya sangat keterlaluan.
Katerina tersenyum kecut "Dasar ratu drama." ejeknya melihat akting adiknya yang luar biasa.
Andi ingin melayangkan tamparan ke wajah Katerina tetapi lebih dulu ditahan olehnya.
"Saya sudah bilang, kemarin adalah tamparan terakhir anda diwajah saya. Jangan harap anda bisa menampar saya lagi, Andi Cristopher!" ungkap Katerina dengan wajah datar lalu menghempaskan kasar tangan Andi.
"Beraninya kau melawan ayah Katerina. Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan dengan ayahmu sendiri hah?!" teriak Andi naik pitam.
Katerina tertawa sarkas "Anda bilang apa? Ayah? Heh, Ayah mana yang ingin menampar wajah anak kandungnya sendiri? Ayah mana yang mengusir anak kandungnya dari rumah hanya karena anak tiri? Dan ayah mana yang memperlakukan anaknya dengan tidak adil? Apakah pantas anda dikatakan sebagai seorang ayah? Saya rasa tidak sama sekali." Sarkas Katerina tersenyum hambar.
Semua orang terkejut mendengar penuturan dari Katerina bahkan Rei juga tidak menyangka jika Katerina diusir dari rumahnya sendiri hanya karena Olivia. Para karyawan mulai berbisik-bisik mengenai ketidakadilan yang dilakukan oleh Andi pada putrinya.
"Tutup mulutmu Kate! Aku mengusir mu dari rumah karena kau tidak menghormati keputusan ku bukan karena Olivia." sanggah Andi tidak ingin semua orang salah paham menilai Olivia.
"Heh, masih saja berkilah."
"Kau sudah semakin berani ya Kate. Jika kau tidak bisa menghormati ku sebaiknya kau angkat kaki dari perusahaan ku. Aku tidak suka memperkerjakan orang yang tidak bisa menghormati atasannya sendiri."
Katerina tersenyum miring "Anda memecat saya? sayangnya anda tidak bisa Andi Cristopher. Apa anda sudah lupa, saya mempunyai 15% saham di perusahaan ini itu artinya saya mempunyai hak di sini!"
"Saham yang kuberikan padamu itu masih atas nama ku dan belum sepenuhnya berpindah nama menjadi milikmu. Aku masih memegang hak penuh atas itu dan jika aku menariknya maka kau tidak bisa apa-apa Katerina." ungkap Andi.
Katerina terperangah tidak percaya "Lalu, apa maksud surat yang diberikan Olivia waktu itu? bukankah itu sudah resmi?" tanya Katerina terbata-bata.
Tawa andi menggema "Kau salah, surat itu hanya pernyataan yang bersifat sementara dan bisa dirubah kapanpun sesuai keinginan ku. Aku berniat memberikan mu saham untuk melihat potensi mu tapi apa? justru aku malah kecewa dengan sikapmu saat ini, Kate." jawab Andi.
Kaki Katerina melemas mendengar hal itu, wajahnya memucat takut jika Andi benar-benar akan mengusirnya dari perusahaan ini.
Katerina tidak tahu jika Andi bermain licik seperti ini. Ia pikir surat kemarin itu sudah resmi pantas saja ia merasa janggal. Tidak mungkin Andi memberikan saham begitu saja kepadanya dan Olivia ternyata itu hanya pernyataan palsu.
"J-jadi, maksud ayah aku dan Katerina belum resmi mendapatkan saham itu?" tanya Olivia tergagap.
"Ya, aku tidak sebodoh itu memberikan kalian berdua saham sebanyak itu. Aku hanya ingin mengetes bagaimana reaksi kalian dan aku juga ingin melihat potensi kalian dalam memimpin perusahaan ini. Apakah pantas ataukah tidak." ungkap Andi tersenyum miring.
"Sial, artinya aku belum punya kendali penuh dalam perusahaan ini. Ternyata ayah tidak sebodoh itu." batin Olivia geram.
Andi menatap Katerina " Kate, karena kau tidak menghormati ku, maka angkat kaki dari perusahaan ini sekarang juga! Kau dipecat!" Ucap Andi dengan tegasnya.
Katerina tercengang, ayahnya benar-benar memecatnya. Ia tidak menyangka ternyata itu surat palsu. Katerina meruntuki kebodohannya. Sekarang ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan kuasa Andi Cristopher.
"Cepat bereskan semua barang-barang mu lalu pergi dari sini." tukas Andi tegas.
Katerina memejamkan mata lalu menghembuskan nafas kasar. Kali ini ia benar-benar tidak berdaya dan hanya bisa pasrah menerima dirinya dipecat. Hancur sudah harapannya untuk menghancurkan perusahaan ini dari dalam. Sedangkan Olivia tersenyum tipis, meski ia tidak punya kuasa setidaknya ayahnya mengusir Katerina dari perusahaan.
Katerina memasukkan barang-barangnya kedalam tas, hatinya kesal bercampur marah tapi sayang dia tidak bisa berbuat apa-apa. Saat ingin melangkah pergi Olivia justru menahan tangannya.
"Tunggu ka, jangan pergi." seru Olivia berpura-pura sedih.
Olivia menatap ayahnya sendu "Ayah, ku mohon jangan usir kaka. Kalau ayah mengusirnya bagaimana kaka bisa menafkahi dirinya? Ayah, tolong beri kaka kesempatan sekali lagi, ku mohon ayah." pintanya memasang wajah sedih.
"Lepas." Katerina melepaskan tangan Olivia kasar.
"Tidak perlu berpura-pura sedih Olivia. Aku tahu kau sangat bahagia melihatku dipecat kan?" tanya Katerina tersenyum masam.
Olivia menggeleng "Tidak kaka, kau salah. Aku justru sedih melihat mu dipecat ayah, itulah sebabnya aku meminta ayah untuk memberikan mu kesempatan." jawabnya.
"Heh, akting mu sangat hebat Olivia, jika ada ajang penghargaan pencarian bakat akting kau pasti akan menang." sindirnya.
"Kaka.. mengapa kau selalu berburuk sangka padaku? apa salahku? apa kau marah melihat aku bertunangan dengan Rei, mantan kekasih mu? jika begitu aku akan membatalkan acara pertunangan ku dan Rei untukmu." seru Olivia memasang wajah penuh kesedihan.
Olivia memegang tangan Andi "Ayah.. sebaiknya pertunangan ku dan Rei dibatalkan saja. Aku tidak ingin kaka bersedih apalagi membenciku hanya karena aku merebut Rei darinya." lirihnya terisak-isak.
Andi menarik Olivia kedalam dekapannya "Jangan menangis sayang, kau dan Rei akan tetap bertunangan. Ayah pastikan itu, siapapun tidak akan ada yang bisa mengacaukan termasuk kakakmu!"
Katerina tertawa remeh "Memang ratu drama, hanya orang bodoh yang tertipu dengan air mata palsu mu itu, Olivia."
"Katerina!" Teriak Andi marah.
"Dengar adikku tersayang, aku justru sangat bahagia melihatmu bertunangan dengan mantan kekasih ku itu. Kau tenang saja, aku tidak akan merebut Rei darimu bahkan aku sudah tidak berminat lagi dengannya. Kalian itu benar-benar pasangan yang cocok, satunya brengsek dan satunya murahan." ungkap Katerina menohok.
"Katerina, jaga bicaramu! Mulutmu itu sama sekali tidak terdidik!" bentak Andi naik pitam tidak suka mendengar Katerina menghina Olivia.
"Satpam..." panggil Andi berteriak.
Mendengar teriakkan Andi seketika dua satpam yang sedang berjaga di pintu utama langsung berlari menghampiri Andi.
"Ada apa tuan?" tanya keduanya bersamaan.
"Seret wanita ini keluar dari perusahaan ku!" perintahnya menujuk Katerina.
"Baik, tuan." Satpam sedikit ragu karena Katerina putri Andi tapi ini perintah dari bos mereka, mau tidak mau mereka harus menjalankannya.
Satpam menyeret kasar Katerina untuk keluar dari perusahaan. Semua orang menatapnya kasihan tidak tega. Sedangkan Olivia menarik senyum di bibirnya, tidak perlu repot-repot dirinya untuk mengeluarkan Katerina dari perusahaan hanya dengan sedikit akting sedih ayahnya sendiri yang mengusir Katerina secara tidak hormat.
"Lepaskan saya." Katerina memberontak tapi tenaganya tidak sekuat itu untuk melawan kedua satpam yang tubuhnya besar-besar. Setelah sampai di pintu utama Katerina didorong oleh kedua satpam itu sampai lututnya tergores aspal jalanan yang kasar.
"Akhhh." ringis Katerina merasa lututnya perih, saat dilihat ternyata darah segar mengalir di kedua lututnya yang putih itu.
"Aku harus ke mini market untuk membeli obat dan hansaplast." gumam Katerina berusaha berdiri meski lututnya terasa sakit.
Sebelum melangkah pergi Katerina menatap gedung didepannya yang menjulang tinggi. Disana terdapat tulisan besar Cristopher Company.
"Aku bersumpah akan menghancurkan perusahaan ini sampai rata dengan tanah. Itu janjiku!" gumam nya pelan dengan tangan terkepal kuat.
"Tunggu saja semua pembalasanku." Senyum licik terbit di wajah cantiknya.
Setelah itu Katerina melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan perusahaan itu. Ia berjalan dengan kaki terpincang-pincang menahan nyeri di lutut nya yang semakin sakit ketika terkena angin.
Matahari semakin membakar kulit bagi yang terkena teriknya. Wajah Katerina kini penuh keringat. Namun, ia tetap berjalan untuk mencari mini market agar bisa membeli obat merah.
"Tuan, bukankah itu nona Katerina?" tanya Dave tidak sengaja melihat wanita cantik berpakaian kantor berjalan ditepi jalan dengan kaki terpincang-pincang.
Zyano yang tadinya membaca email langsung mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Seketika matanya melebar saat melihat Katerina yang berjalan dengan kaki terpincang-pincang.
"Dave, kau tunggu disini!." Zyano bergegas keluar dari mobilnya lalu menyebrangi jalan untuk menghampiri Katerina.
"Kate." panggil Zyano.
Mendengar namanya dipanggil Katerina langsung berbalik badan dan betapa terkejutnya ia mendapati Zyano sedang menatapnya.
"Tuan, Zyano." lirihnya pelan namun masih terdengar.
"Astaga, lutut mu berdarah Kate." seru Zyano tidak sengaja melihat lutut Katerina yang mengeluarkan darah.
"Iya tuan, tadi saya terjatuh." sambung Katerina berbohong.
Tanpa pikir panjang Zyano langsung menggendong Katerina ala bridal style membuat wanita itu terlonjak kaget. Zyano menyebrangi jalan sampai di depan mobilnya. Dave keluar lalu membukakan pintu. Zyano memasukkan Katerina kedalam mobil dengan pelan dan hati-hati. Dan setelah itu ia juga masuk ke dalam mobil.
Didalam mobil Zyano langsung mengobati luka Katerina dengan mengolesi obat merah. Sesekali Katerina meringis karena merasa perih di lutut nya. Setelah selesai Zyano menempelkan hansaplast untuk menutupi luka itu.
"Terima kasih, tuan." kata Katerina tersenyum.
"Hm, apa yang terjadi padamu Kate? mengapa kau bisa terluka?" tanya Zyano.
"Tadi saya terjatuh tuan." jawabnya.
"Lain kali hati-hati." balas Zyano.
"Iya tuan."
"Oh iya kau ingin kemana? apa kau ingin ke kantormu lagi?" tanyanya.
Katerina menggeleng cepat "Tidak, saya ingin pulang saja."
"Mengapa? bukankah ini belum jam pulang kantor?" tanya Zyano bingung.
Katerina mengigit bibir bawahnya. Ia bingung bagaimana menjelaskannya jika dirinya dipecat. Katerina mencoba mencari alasan tapi entah kenapa otaknya tiba-tiba buntu.
Zyano menyentuh bibir Katerina "Jangan digigit, nanti luka." katanya lembut.
Katerina terdiam, jantungnya berdebar-debar hanya karena perkataan Zyano tadi. Apalagi Zyano mengatakannya dengan lembut dan penuh perhatian.
"Jawab, Kate." desak Zyano.
Katerina tergagap "Em...itu..saya..saya dipecat tuan." ungkapnya.
"Hah." Zyano tercengang.
Bersambung 😎
______________________________________________
Hadudu kaget ga tuh?🤣🤣
Jangan lupa Like, Vote, Komen, dan Share ya guys:)
Thanks
^^^Coretan Senja ✍️^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Shepty Ani
ah babang zyano sweet bgt sih kamiu
2023-09-11
0
Putri Minwa
Waah emang pintar dia ya
2023-04-12
1
Dede
kenapa momy tdk mengatakan pd Kate kl Andi itu bkn ayah kandung nya. cerita kan sj semua nya Kate apa yg trjdi sm km pd zyano.
2023-03-28
2