Katerina pergi dengan berlinang air mata. Ia tidak bisa menahan sesak di dadanya. Perkataan yang dilontarkan oleh Zyano sangat melukai perasaan nya.
Sepanjang jalan, Katerina menangis terisak. Dadanya terasa sakit bagai tersayat pisau. Apakah begitu rendahnya dirinya dimata Zyano sampai pria itu mengatakan jika dirinya punya maksud terselubung? Padahal Katerina sama sekali tidak ada maksud dengan keluarga itu. Ah sudahlah, dunia itu memang kejam.
Katerina lelah terus berjalan tak tentu arah. Hari sudah semakin larut malam. Entah kemana dia pergi Katerina juga tidak tahu.
Diusir dari rumah bagikan sampah tak berguna bahkan dikhianati oleh kekasihnya. Sungguh, hidup yang menyedihkan. Katerina membuang nafas kasar menatap jalanan yang sudah semakin sepi.
"Oh tuhan, mengapa ujian yang kau berikan sangat berat? Aku tidak sanggup lagi menahannya. Ini terlalu menyakitkan untukku." lirih Katerina terisak menatap langit.
"Apa lagi yang harus ku lakukan? Aku tidak punya rumah bahkan uang pun juga tidak ada. Bagaimana bisa aku melanjutkan hidup jika begini." gumamnya lirih.
Jdarrrrr
Suara guntur serta kilatan petir saling bersahutan di langit yang menandakan sebentar lagi akan turun hujan.
Katerina duduk terdiam di salah satu kursi yang ada ditepi jalanan. kepalanya menunduk meratapi nasib yang memilukan hidupnya, terlalu berat cobaan yang datang seolah tak berhenti.
Katerina menangis dalam diam. Ia tidak tahu harus kemana lagi. Keluarga tidak punya sahabat tentu ada tetapi Katerina tidak ingin merepotkan Maya sahabat nya itu.
Nampak dari kejauhan seorang wanita berpakaian kerja baru saja keluar dari sebuah restoran dan tanpa sengaja melihat ada wanita sedang duduk di kursi dengan postur tubuh yang dia kenali. Ia melangkahkan kakinya mendekat dan semakin yakin jika dia memang kenal. Ia memegang pundak wanita itu sontak saja wanita itu mendongakkan wajahnya.
"Astaga, Kate?" Matanya melotot mendapati sahabat nya dengan wajah penuh air mata.
"Maya." lirih Kate terkejut mendapati sahabatnya yang sedang menatapnya.
"Ya ampun Kate, kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?" tanya Maya khawatir melihat keadaan Katerina yang sangat memperihatinkan. Mata yang menghitam akibat riasan yang luntur tekena air matanya.
Katerina tidak menjawab tetapi ia langsung memeluk tubuh Maya dan terisak dalam pelukannya. Hatinya hancur dan sakit di waktu yang bersamaan. Sedangkan Maya hanya membiarkan Katerina menangis sampai ia puas sambil mengelus punggung belakanganya yang bergetar hebat akibat tangisannya yang pecah.
"Kate, tenanglah." ucap Maya menenangkan katerina yang terus saja menangis sedang menyalurkan perasaanya yang sedang remuk redam.
Setelah puas menangis Katerina menghapus air matanya. Perlahan hatinya mulai tenang. Ia menatap Maya sahabatnya lalu menghembuskan nafas berat.
"Sudah puas menangis nya?" tanya Maya seraya menghapuskan sisa-sisa air mata Katerina.
Katerina hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Setelah puas menangis, menyalurkan segala emosi yang ada dalam dirinya Katerina merasa lega walaupun masalahnya belum kelar.
"Kate, kau kenapa? Mengapa kau menangis ditepi jalanan seperti ini? Apa yang terjadi padamu?" Cecar Maya melayangkan banyak pertanyaan yang ada dalam kepalanya.
Jdarrrrr
Lagi-lagi suara guntur dan kilatan petir menggema membuat keduanya terkejut. Awan semakin menghitam gelap pertanda hujan akan turun.
Maya berdiri "Kate, sebaiknya kita ke apartemen ku saja. Sebentar lagi hujan turun. Kau bisa menceritakan semuanya di apartemen ku nanti." ajak Maya mengulurkan tangannya.
Katerina hanya mengangguk tanpa bersuara lalu menerima uluran tangan dari Maya. Mereka bergegas pergi sebelum hujan membasahi jalanan. Apartemen Maya tidak jauh dari sana sehingga mereka akan cepat sampai.
Begitu tiba di depan kamar Apartemen Maya segera mengetikkan password sehingga pintu terbuka dengan lebarnya. Maya menggiring Katerina untuk duduk di sofa lalu mengambilkan air putih untuknya minum. Katerina minum air putih itu sampai habis karena tenggorokannya memang kering.
Maya duduk di samping Katerina dan menatapnya lembut. " Sekarang ceritakan semuanya padaku Kate. Aku ingin mendengarnya." ucap Maya serius.
Kate menarik nafas dalam menatap Maya "Aku tidak tahu harus mulai dari mana dulu Maya, tapi aku akan menceritakan intinya saja. Kau tau kan aku ingin memberikan kejutan untuk Rei, saat itu juga hubungan ku dengannya berakhir."
"Whattt? Kenapa Kate?" pekik maya terkejut.
"Rei, berselingkuh dibelakang ku dengan Olivia, adik tiri ku sendiri." jawab Katerina mengepalkan tangan saat mengingat itu.
"Oh my good."
"Tidak hanya itu saja Maya, bahkan aku juga diusir dari rumah ku sendiri hanya karena Olivia. Setengah harta keluarga Cristopher diberikan ayahku padanya secara gratis."
"Kau tau aku sangat marah tetapi aku tidak berdaya karena itu keputusan ayahku. Bahkan aku tidak bisa tinggal lagi di rumah mending ibuku sendiri. Kedua wanita licik itu berhasil menghasut ayahku sampai dia tega membuang anaknya sendiri bagai sampah tak berguna." Geram Katerina tangannya terkepal kuat.
"Astaga, segitunya ayahmu mencintai mak lampir itu? Apa dia tidak waras mengusir anaknya sendiri? ckckck." Maya tersulut emosi mendengar cerita Katerina.
"Itulah, aku juga tidak habis pikir Maya. Entah pemikat apa yang digunakan oleh mak lampir itu sehingga ayahku sangat tergila-gila padanya."
"Mungkin saja dia pakai dukun atau guna-guna, Kate." sahut Maya.
Katerina tertawa lepas "Apa kau gila? mana ada guna-guna di zaman modern sekarang Maya. Aku tidak percaya takhayul itu."
"Heii Kate, jangan salah. Meskipun kita hidup di zaman modern bukan berarti guna-guna dan dukun lenyap begitu saja. Mereka masih ada, hanya saja tidak banyak yang tahu."
"Benarkah?" tanya Katerina terlihat tidak percaya.
"Ya tentu saja, aku sangat yakin pasti ibu tirimu itu melakukan guna-guna pemikat hati agar ayahmu takluk dihadapan nya. Kau lihat sendiri bukan, dulu ayahmu sangat menyayangi mu bahkan rela melakukan apapun untuk mu tetapi setelah menikah dengan mak lampir itu kasih sayangnya berpindah ke anak tirinya saja bahkan sekarang kau dibuang."
Katerina diam nampak berpikir "Memangnya ada hal seperti itu?" tanyanya.
Maya terkekeh melihat kepolosan sahabatnya itu. "Tentu saja ada Kate, bisa jadi ibu tirimu memberikan air yang sudah dikasih matra cinta buta hingga ayahmu tidak berdaya didepannya, bahkan sampai tergila-gila hingga melupakan anak kandungnya sendiri."
Tawa Katerina menggelar mendengar perkataan Maya. Apalagi melihat wajah Maya saat menceritakan itu terlihat sangat serius. Katerina tetap saja tidak percaya dengan hal begituan.
"Kenapa kau malah tertawa hah? Aku mengatakan yang sebenarnya!" tukas Maya kesal melihat sahabatnya menertawakan dirinya.
"Kau sangat lucu Maya, sampai perutku sakit dibuatnya." Katerina tertawa sambil memegangi perutnya.
"Apanya yang lucu? Aku sedang serius Katerina." sarkas Maya.
"Kau tidak tahu sih aku dulu tinggal di kampung dan di sana banyak orang menggunakan ritual untuk membuat sebuah permohonan." lanjut Maya membuat tawa Katerina terhenti.
"Oh ya, permohonan apa saja?" tanya Katerina.
"Ya mana aku tahu, aku kan tidak pernah melakukan itu tapi setahu ku yang kudengar dari orang-orang katanya ritual itu bisa membuat pacar tergila-gila bahkan sampai terpincut hingga tidak akan terpesona dengan orang lain." jawab Maya dengan wajah serius.
Lagi-lagi Katerina tertawa lepas ekspresi Maya saat menceritakan itu sangat lucu baginya, hingga Katerina tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
"Maya... sepertinya, saat kau kecil orang tuamu banyak menceritakan dongeng ya hingga kau percaya hal yang begituan." ejek Katerina terkekeh.
"Tidak... bukan begitu Kate, ini bukan dongeng tapi kenyataan!!" bantah Maya.
"Ah sudahlah, aku lelah ingin istirahat tubuhku masih lemah akibat tabrakan itu. Jika aku masih mendengar cerita mu sampai pagi kau tidak akan selesai." Katerina beranjak tapi tangannya ditahan oleh Maya.
"Kau ditabrak? Siapa yang menabrakmu?" tanya Maya.
"Ah iya, aku sampai lupa menceritakan itu padamu." Katerina kembali duduk di sofa menatap Maya yang tengah serius menatapnya.
"Jadi begini saat aku diusir dari rumah aku pergi ke Bar minum-minum di sana sampai mabuk." Belum sempat Katerina melanjutkan perkataannya lebih dulu di potong oleh Maya.
"Kau...ke Bar? Astaga, Kate apa sudah kau gila?" cecar Maya tidak habis pikir.
"Memangnya kenapa? Aku ke Bar untuk melupakan permasalahan hidupku yang rumit, dengan minum alkohol aku bisa melupakan masalah ku, ya walaupun tidak sepenuhnya."
"Jadi kau minum alkohol sampai mabuk? Oh my good Kate. Kau pasti sudah tidak waras. Bagaimana jika ada orang yang memanfaatkan keadaan mu disaat mabuk, lalu mengambil keperawanan mu? Apa yang akan kau lakukan hah!" tukas Maya marah.
"Ya..aku kan ingin melupakan masalah itu Maya. aku tidak berpikir sampai ke sana." lirih Kate.
"Ya itulah kesalahan mu, harusnya kau ceritakan padaku. Aku kan sahabat mu. Jangan melakukan hal gila lagi Kate, sebelum kau menyesalinya nanti. Aku tidak ingin kau kenapa-napa." balas Maya menghela nafas.
"Maafkan aku Maya, saat itu aku kalut hingga tidak bisa berpikir jernih. Hatiku hancur dikhianati dan diusir dari rumah, aku tidak tahu arah tujuanku dan aku juga tidak ingin terus merepotkan mu." ungkap Katerina terisak kembali.
Maya menarik Katerina dalam pelukannya. Ia dapat merasakan penderitaan yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Maya sudah mengenal Kate sangat lama dan tentunya semua kehidupan Kate ia tahu. Maya tidak marah hanya saja dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Katerina.
"Tenanglah Kate, aku tidak marah, aku hanya tidak ingin kau kenapa-napa. Jangan pernah berpikir kau merepotkan ku. Aku saja tidak pernah merasa begitu. Bagiku, kau sudah seperti saudara untukku. Bukankah dulu kau juga menolongku. Kau sahabatku Kate, aku sangat peduli padamu." kata Maya mengusap kepala sahabatnya dengan lembut.
Katerina melepaskan pelukannya menatap Maya yang tersenyum padanya "Terima kasih Maya, aku tidak tahu jika tidak ada dirimu bagaimana hidupku, Kau sangat baik padaku."
"Itulah gunanya sahabat Kate." balasnya tersenyum.
"Ya sudah, sebaiknya kau istirahat bukankah kau habis ditabrak? Kau tidak perlu menceritakan sekarang. Aku tahu kau pasti lelah. Lihatlah wajahmu sangat jelek karena terlalu sering menangis." ejek Maya membuat Katerina tersenyum.
"Hish, kau ini selalu saja mengejekku. Baiklah aku ingin bersih-bersih dulu tubuhku sangat lengket." Katerina beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Maya yang masih duduk di sofa.
Setelah kepergian Katerina tangan Maya terkepal kuat "Keterlaluan sekali kalian. Aku tidak akan tinggal diam. Andi Cristopher tunggu saja tanggal kehancuran mu." geram Maya menyeringai.
******
Sedangkan ditempat lain Zyano memerintah semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Katerina yang menghilang tanpa jejak. Zyano mondar-mandir tidak tenang. Mengapa hatinya begitu resah memikirkan Katerina padahal dulu tidak pernah merasa bersalah seperti ini.
"Zyan, bisakah kau duduk? Aku pusing melihat mu yang terus mondar-mandir." tegur Sean kesal.
"Menurutmu kemana wanita itu pergi?" tanya Zyano.
Sean menaikkan bahunya "Entahlah, aku juga tidak tahu."
Ceklek
Terdengar bunyi pintu dibuka Zyano dan Sean menoleh mendapati Zahra yang keluar dari kamarnya setelah sekian lama mengurung diri dalam kamar.
"Mom, belum tidur?" tanya Zyan tetapi tidak dihiraukan oleh Zahra. Ia berjalan seolah tidak melihat keberadaan anaknya itu.
Zyano menghembuskan nafasnya kasar melihat mommy nya sampai tidak menghiraukannya karena hal ini. Sungguh, Zyano pusing dibuatnya.
"Wow, aku tidak pernah melihat bibi semarah ini padamu sampai dia tidak menghiraukan mu Zyan. Kesalahan mu kali ini sangat fatal." seru Sean.
Zyano hanya diam kali ini ia setuju dengan ucapan Sean. Semarah apapun Zahra padanya tidak pernah sampai tidak menghiraukannya seperti ini. Mungkin kesalahannya memang sudah sangat fatal.
Tiba-tiba Dave datang bersama anak buahnya menghadap Zyano.
"Bagaimana Dave? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Zyano.
"Maaf tuan, kami belum bisa menemukan nona Katerina. Semua tempat telah kami datangi tapi tidak terlihat nona Katerina tuan dan ditambah hujan yang semakin lebat membuat pencaharian kami sedikit sulit tuan." jawab Dave menunduk.
Zyano memejamkan matanya sebentar sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut pusing. Entah kemana lagi dia harus mencari Katerina.
"Ya sudah, pencarian kita lanjutkan besok. Dan untukmu Dave berikan aku laporan tentang Katerina. Besok pagi laporan itu harus sudah siap dimeja kerja ku." perintah Zyano tegas.
"Baik tuan, kalau begitu saya pamit pergi tuan."
"Ya."
Dave keluar diikuti oleh anak buahnya. Sedangkan Sean menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Seorang Zyano, Mafia Arrogant yang tidak peduli dengan orang lain kini malah mencari tahu identitas seorang wanita. Ini kejadian langka bagi Sean.
"Zyan...apa aku tidak salah dengar? Kau ingin menyelidiki Katerina? Apa aku sedang bermimpi?" tanya Sean.
"Diam lah, kau tidak usah banyak berpikir. Aku menyelidiki nya karena ingin tahu dia berasal dari keluarga mana. Mungkin dengan begitu aku bisa menemukan keberadaan nya dan membawanya kehadapan ibuku."
"Ya aku tahu Zyan, awalnya penasaran lama-lama tertarik hahaha." ejeknya tertawa.
Zyano tidak menghiraukan perkataan Sean. Ia berlalu pergi menuju kamarnya. Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka orang itu tidak lain adalah Zahra.
"Yes rencana ku berhasil, tunggu lah Zyano kau akan menarik semua ucapamu. Tunggu saja aku akan membuat mu bucin akut dengan Katerina." Gumam Zahra terkikik sendiri membayangkan hal itu.
"Sayang, kau sedang apa?" tanya Zeano yang sudah dibelakang sang istri.
Zahra tersentak kaget dengan cepat ia pura-pura memasang wajah datar lalu menatap suaminya yang bersindekap dada.
"Aku? ya aku tadi ingin minum tenggorokan ku terasa kering." kilah nya.
"Kau sedang merencanakan apa sayang?" tanya Zeano intimidasi.
"Aku tidak merencanakan apa-apa. Kau berpikir berlebihan sayang." jawab nya tersenyum.
Zeano tersenyum kecut "Kau tidak pandai berbohong sayang, aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu." seru Zeano sangat mengenal seperti apa istrinya itu.
"Baiklah, akan ku beritahu." Zahra pasrah dia selalu kalah dengan sang suami.
Zahra menyuruh suaminya untuk mendekat supaya tidak ada yang mendengar nya.
"Aku ingin menikahkan, Zyano dengan Katerina." kata Zahra antusias.
"Sayang, apa kau sedang sakit?" Tanya Zeano menempelkan tangannya di kening sang istri. Ia sangat terkejut mendengar perkataan Istrinya.
"Tentu saja tidak." bantah Zahra.
"Lalu kenapa kau bicara aneh?" tanya Zeano bingung.
"Aneh bagaimana sih. Apa salahnya jika aku ingin menikahkan Zyano dengan Katerina? Lagipula wanita itu baik, cantik dan pintar memasak. Aku sangat suka dengan menantu yang seperti itu tidak manja seperti kebanyakan orang. Dan pastinya hidup mandiri." jawab Zahra memuji Katerina.
"Tapi kita belum tahu pasti siapa keluarganya sayang, bagaimana jika dia mempunyai niat jahat dengan keluarga kita? kau tahu sendiri kan musuh kita ada dimana-mana." tukas Zeano.
Zahra menginjak kaki sang suami hingga Zeano menjerit kesakitan.
"Kau ini sama saja seperti Zyano. Selalu buruk sangka dengan orang lain. Jangan-jangan kau menularkan sikap mu ini hingga Zyano menjadi manusia Arrogant seperti itu. Iya kan!"
"Tapi sayang.."
"Diam! kalau kau terus bicara jangan harap kau mendapatkan jatahmu sampai bulan depan!" sentak Zahra tegas.
Zeano langsung bungkam. Bagaimana pun ia tidak ingin kehilangan jatahnya. Membayangkan saja Zeano tidak sanggup apalagi menjalaninya.
"Dengar, aku melakukan ini semua demi putra kita juga. Agar anak itu bisa segera menikah lalu memberikan cucu yang imut untuk kita. Apa kau tidak ingin punya cucu hah!"
"Tentu saja aku ingin."
"Kalau begitu kau harus mendukung semua rencana ku."
"Ya baiklah, apapun untuk istriku."
"Good." Zahra pergi menuju kamarnya.
"Zyan maafkan Dad, kali ini kamu harus masuk dalam perangkap mommy mu yang sangat pintar itu." batin Zeano kasihan dengan nasib putranya.
Bersambung 😎
______________________________________________
Hayuuuu apa yang direncanakan Zahra??
Menurut kalian cerita ini bagaimana
•Seru
•Biasa aja
•Menarik
•Tidak menarik
Jawab yaaa
Jangan lupa VOTE, KOMEN DAN SHARE CERITA INI YA GUYS!!
THANK YOUU💐💐
^^^Coretan Senja✍️^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
febby fadila
Menarik
2024-12-30
1
Indri Sukawati
🤭🤭😁🤣menunggu bucinnya zyano🤪🤪
2023-06-24
2
™•~•zira Kanaya°•°
seru...... sangat suka pokok nya....😄😄😄😘
2023-04-16
2