Disebuah ruang kerja mewah bernuansa klasik, ada seorang pria tengah duduk di kursi kerjanya sambil membaca laporan berisikan riwayat hidup Katerina. Dia adalah Zeano Brawitama pengusaha sukses yang sangat terkenal hingga keluar negeri.
Dan kini ada seorang pria yang tengah menghadap Zeano untuk memberikan laporan penyelidikan tentang identitas Katerina. Ya Zeano memerintahkan salah satu orang kepercayaannya untuk menyelidiki tentang Katerina. Tentunya itu semua dilakukan oleh Zeano sebagai antisipasi takutnya jika Katerina orang yang berbahaya apalagi ini menyangkut masa depan Zyano putranya.
Zeano membaca dengan seksama setiap laporan yang diberikan oleh orang kepercayaannya itu. Tetapi tiba-tiba saja keningnya berkerut saat melihat nama ibunya Katerina yang bernama Ghina Agrawihana. Zeano tentu sangat mengenal siapa orang itu dia adalah sahabat istrinya Zahra.
"Bima, apa kau yakin laporan mu ini benar?" tanya Zeano menatap Bima orang kepercayaannya.
Bima mengangguk "Tentu tuan, laporan yang saya berikan tidak mungkin keliru sebab saya turun langsung untuk menyelidikinya tuan." Jawab Bima yakin.
Zeano menyandarkan punggungnya di kursi, tangannya memijit pelipisnya antara percaya dan tidak ternyata ibunya Katerina adalah Ghina.
"Jadi ibunya, Katerina adalah Ghina Agrawihana?" tanyanya sekali lagi.
"Benar tuan."
Prangg
Gelas kaca yang berisi kopi terjatuh begitu saja di lantai hingga mengeluarkan bunyi nyaring. Kedua pria itu refleks melihat kearah pintu. Terlihatlah Zahra berdiri mematung dengan wajah penuh keterkejutan.
Zahra ingin membawakan minuman untuk suaminya. Namun, tanpa sengaja ia malah mendengar pembicaraan mereka. Zahra sangat terkejut ketika mendengar jika ibunya Katerina adalah sahabatnya sendiri. Sementara Zeano langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri sang istri.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" Tanya Zeano khawatir melihat Zahra terdiam mematung.
Zahra hanya diam, masih terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Zeano mulai khawatir melihat sang istri yang tidak merespon pertanyaannya.
"Heii sayang, tatap aku. Are you okay?" tanyanya memegang dagu sang istri agar menatapnya.
Zahra tersadar "Zean, apa aku tidak salah dengar? Ibunya Katerina itu Ghina?" tanyanya menatap dalam manik mata suaminya.
"Iya sayang, ibunya Katerina memang Ghina sahabatmu." jawab Zeano jujur.
Senyum mengembang di wajah Zahra. Ia sangat bahagia mengetahui jika calon menantunya adalah putri dari sahabatnya Ghina.
Bagi Zahra, Ghina bukan hanya sahabat melainkan seperti saudara untuknya. Saat Zahra di rundung Ghina selalu membelanya bahkan melindunginya. Mereka berdua bahkan membuat sebuah janji yang sudah dituliskan dalam surat wasiat mengenai perjodohan putra putri mereka. Dan tidak disangka ternyata calon menantunya malah jodoh anaknya sendiri tentu saja Zahra sangat bahagia.
"Kelihatannya kau sangat bahagia sayang?" tanya Zeano melihat senyum istrinya yang merekah.
"Tentu saja kau tau bukan Ghina itu sahabat terbaikku dan saat mengetahui jika Katerina adalah putrinya aku sangat bahagia. Artinya janjiku padanya akan terpenuhi." jawab Zahra tersenyum.
"Ternyata kau masih ingat dengan janji itu?" seru Zeano juga mengetahui perjanjian istrinya dan Ghina.
"Ya jelas, mana mungkin aku melupakannya. Aku bahkan selalu mencari dimana putrinya tapi entah mengapa pencaharian ku selalu gagal. Tapi aku senang tanpa ku cari gadis itu datang sendiri. Aku semakin yakin jika dia memang berjodoh dengan putra kita Zyano." ungkap Zahra.
"Tapi sayang, apa kau tahu jika Ghina menikah lagi dengan Andi Cristopher?" tanya Zeano hati-hati.
Deg!
Zahra nampak sangat terkejut mendengar itu. Ia tidak tahu jika Ghina menikah lagi setelah kematian Gavin suami pertamanya. Pantas saja Ghina menghilang ditelan bumi ternyata karena dia menikah lagi.
"Apa kau bilang, Ghina menikah lagi? dengan siapa?" tanya Zahra.
"Dengan Andi Cristopher, musuh besar Gavin." jawab Zeano membuat Zahra semakin terkejut.
"Apa?" Zahra menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ghina menikah dengan musuh suaminya sendiri. Untuk apa? pikir Zahra.
"Kau tidak berbohong kan sayang?" tanya Zahra tampak tidak percaya dengan perkataan suaminya.
Zeano menggeleng "Untuk apa aku berbohong sayang. Apa yang kukatakan itulah faktanya. Baiklah, aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi kau harus duduk dulu." Zeano menggiring sang istri untuk duduk di sofa yang ada diruang kerjanya.
"Ini semua berawal dari kecelakaan maut yang dialami oleh Gavin hingga menyebabkan nyawanya melayang begitu saja."
"Kau masih ingat bukan, Gavin meninggal akibat kecelakaan maut saat dirinya sedang menuju perusahaan untuk rapat dadakan? Keluarga Gavin merasa janggal atas kematian putra mereka yang tidak biasa dan tanpa sepengetahuan mereka ternyata Ghina menyelidiki nya. Saat itu Ghina sedang mengandung Katerina, mendengar Gavin meninggal dalam kecelakaan tentu saja Ghina sangat terpukul."
"Iya, aku masih ingat dengan itu bahkan aku juga membantu untuk menenangkan Ghina yang terlihat sangat frustasi setelah kematian Gavin."
"Kau benar sayang, saat Ghina menyelidiki nya semua bukti mengarah pada Andi Cristopher tetapi sayangnya Ghina tidak mempunyai bukti akurat untuk menjebloskan Andi kedalam penjara. Tapi Ghina tidak putus asa begitu saja. Dia merencanakan sesuatu untuk mendekati Andi agar pria itu jatuh cinta padanya dan mengakui jika dirinya lah yang membunuh Gavin."
"Tapi kau tahu bukan, cinta tidak bisa dipermainkan. Cinta itu suci jika masuk kedalam permainan nya maka kau akan terjebak untuk selamanya. Dan benar, ternyata Ghina justru mencintai Andi, orang yang sudah membunuh suaminya sendiri. Andi juga mencintai Ghina dan dia mau menerima Katerina sebagai anaknya meskipun dia tahu jika Katerina bukan anak kandungnya. Tetapi karena perbuatan Ghina, dia diusir oleh keluarganya dan karena itu juga Ghina tidak lagi dianggap sebagai putri keluarga Agrawihana."
"Apa Andi juga tahu jika Ghina istri dari Gavin musuh besarnya?" tanya Zahra.
Zeano mengangguk "Ya tentu dan saat tahu hal itu perlakuan Andi pada Ghina mulai berubah. Dia mulai kasar bahkan menyiksa Ghina sampai meninggal." ungkap Zeano.
"Kasian sekali hidup Ghina, apa Andi juga memperlakukan Katerina dengan kasar?" tanyanya menitikan air mata.
"Tidak. Andi mau menerima Katerina bahkan ia memanjakan Katerina layaknya anak kandungnya sendiri tapi.."
Kening Zahra berkerut "Tapi apa?"
"Tapi setelah Andi menikah lagi perlakuannya berubah, Katerina disiksa di rumahnya sendiri dan bahkan diusir."
"Itu semua ulah istri dan anak tirinya, mereka berhasil menghasut Andi hingga membenci Katerina."
Zahra mengepalkan tangannya kuat "Kurang ajar, beraninya mereka memperlakukan Katerina sampai seperti itu." Geram Zahra tersulut emosi.
Zeano menggenggam tangan istrinya yang terkepal kuat itu "Sayang, tenanglah."
"Mana bisa aku tenang, mereka menyiksa Katerina bahkan sampai mengusirnya seperti itu. Aku tidak terima. Andi harus diberi pelajaran." tukas Zahra naik pitam.
"Zahra tenanglah, aku akan membuat peringatan untuk Andi. Kau tenang saja, dia akan takluk dihadapan kita semua." Kata Zeano menyeringai.
"Baiklah, aku tunggu kabar baiknya, tapi jika tidak aku yang akan turun tangan langsung untuk memberinya pelajaran!!."
Zeano tersenyum menatap istrinya "Kau percayakan saja pada suamimu sayang."
Zahra tersipu malu ia bergegas keluar dari ruangan suaminya takut khilaf.
Zeano hanya tersenyum melihat istrinya yang malu-malu tapi sesaat berikutnya ia menatap Bima dengan datar.
"Bima, kau tahu bukan apa yang harus dilakukan selanjutnya?" tanya Zeano.
"Saya mengerti tuan, kalau begitu saya permisi." Bima membungkukkan badannya lalu keluar dari ruang kerja Zeano.
******
Saat ini Katerina melancarkan aksinya. Ia memang sengaja masih bekerja di perusahaan Cristopher untuk menghancurkan perusahaan itu dari dalam. Tentu saja dia memanfaatkan sahamnya yang 15% untuk mengambil alih semua yang menjadi haknya.
Katerina berpura-pura bekerja dengan baik untuk mengambil hati para pemegang saham yang lain supaya mendukungnya menjadi direktur perusahaan Cristopher. Tentunya dengan cara liciknya.
Seperti saat ini Katerina sedang mempresentasikan idenya untuk proyek besar yang akan dijalankan oleh Perusahaan. Para pemegang saham nampak sangat puas dengan ide brilian dari Katerina bahkan mereka bertepuk tangan memuji kehebatan Katerina.
Andi yang turut hadir dalam rapat itu hanya diam tidak berkomentar apapun, sebab ide putrinya itu memang luar biasa. Rencana proyek pembangunan Mall City jika berhasil akan sangat menguntungkan bagi perusahaan tetapi jika gagal maka akan berdampak buruk untuk perusahaan.
"Nona Kate, ide mu sangat brilian. Aku suka dengan proposal yang kau buat, sepertinya akan sangat menguntungkan untuk perusahaan." ungkap salah satu pemegang saham yang hadir dalam rapat itu.
"Iya benar nona Kate, kami semua setuju dengan ide mu itu." sahut lainnya.
"Ku rasa jika nona Kate yang menangani proyek ini pasti akan berhasil dan hasilnya pun pasti memuaskan." seru salah satu diantara mereka.
"Ya benar sekali, aku setuju, sebaiknya kita pilih saja nona Kate sebagai penanggung jawabnya." sahut lainnya setuju.
"Aku juga setuju, jika nona Katerina yang menangani proyek ini. Dilihat dari idenya tadi pasti perusahaan akan untung besar."
"Terima kasih karena sudah mendukung saya dan mau mempercayai saya tetapi semua keputusan tergantung tuan Andi Cristopher." ucap Katerina tersenyum.
Semua para pemegang saham menatap ke arah Andi untuk meminta jawaban pasti siapa yang akan menangani proyek besar ini. Sejujurnya Andi takut dan ragu mempercayakan proyek besarnya ini kepada Katerina tetapi semua pemegang saham nampak setuju jika Katerina yang menangani proyek ini. Mau tidak mau Andi juga harus setuju meski hatinya berat.
Andi tersenyum "Ya, ku rasa ide Katerina memang brilian. Aku harap nona Katerina dapat memegang amanah ini dan melakukan semuanya dengan baik. Aku setuju jika Katerina yang akan menangani proyek besar ini." ungkap Andi membuat semua orang tersenyum senang.
"Terima kasih atas kepercayaan yang anda berikan tuan. Saya berjanji akan melakukannya dengan baik dan saya harap kalian semua dapat mempercayai saya sepenuhnya." kata Katerina tersenyum manis.
"Tentu saja nona Katerina, kami akan sangat mempercayai anda." sahut lainnya.
"Baik rapat hari ini selesai. Kalian boleh keluar." kata Andi menutup rapat.
Semua orang keluar dari ruangan. Kini, hanya tertinggal Katerina bersama Andi. Wanita itu tampak sibuk merapikan berkas-berkasnya sedangkan Andi berjalan menghampiri putrinya itu.
"Kate, apa yang sedang kau rencanakan?" tanya Andi to the poin.
Katerina mengangkat wajahnya menatap Andi yang tengah menatapnya tajam dengan intimidasi.
"Apa maksud perkataan anda tuan Andi Cristopher?" tanya Katerina seakan tidak mengerti.
"Kau tidak usah berpura-pura Katerina. Aku tahu kau pasti sedang merencanakan sesuatu kan? Jawab ayah dengan jujur Kate!" bentak Andi.
Katerina terkekeh pelan "Maaf anda bicara apa ya tuan Andi? Saya sama sekali tidak mengerti maksud perkataan anda. Saya tidak mempunyai rencana apapun, mengapa anda berpikir seperti itu?"
"Tidak usah berkilah Kate, ayah tahu kau punya rencana untuk perusahaan ini kan? Jangan kau pikir ayah tidak tahu apapun yang ada dalam otakmu itu!"
Katerina tersenyum masam "Ayah??
bukankah kita tidak punya hubungan ayah dan anak lagi tuan Andi Christopher. Saya tidak ingin mempunyai orang tua yang mengusir anaknya sendiri dari rumah hanya karena membela anak tiri.
"Dan anda jangan menuduh saya sembarangan tanpa bukti yang jelas. Atas dasar apa anda menuduh saya merencanakan sesuatu? Saya bisa melaporkan anda terkait pencemaran nama baik!" sarkas Katerina mengancam balik.
Andi ingin menampar Katerina tetapi tidak jadi.
"Apaa? bahkan anda ingin menampar saya?Adakah orang tua yang menampar anaknya sendiri? Saya rasa tidak ada orang tua yang menyakiti anaknya sendiri atau mungkin saya bukan anak kandung anda tuan Andi?" tanya Katerina asal.
Andi langsung terdiam seribu bahasa membuat Katerina merasa curiga seperti ada sesuatu yang ayahnya sembunyikan.
"Kau jangan bicara aneh Katerina. Aku tentu ayahmu dan kau putri kandung ku." jawab Andi berkeringat dingin.
"Tapi mengapa aku merasa seperti bukan putri kandungmu tuan Andi? Atau jangan-jangan ada hal yang kau sembunyikan dariku?" tanya Katerina mengintimidasi.
"Diam! Kau tidak usah berpikir aneh Katerina. Yang pasti kau putriku!" tukas Andi langsung pergi.
Katerina merasa janggal apalagi saat melihat ekspresi ayahnya yang begitu ketakutan.
"Sepertinya, ada yang dia sembunyikan, aku harus mencari tahu." batin Katerina.
Katerina keluar dari ruangan lalu mencari Maya untuk makan siang bersama, tetapi Maya tidak ada di ruangannya bahkan Katerina juga bertanya dengan karyawan lain tetapi tidak ada yang tahu dimana Maya berada.
Katerina mengambil ponselnya lalu menelpon Maya. Namun, nomernya malah tidak aktif.
"Aneh, kemana maya pergi?" gumam Katerina bingung.
"Ah sudahlah, lebih baik aku makan siang duluan nanti keburu habis waktunya."
Katerina mengambil tasnya lalu keluar dari perusahaan. Ia berniat ingin makan di restoran langganan nya tapi begitu keluar ia malah dicegat oleh Reino Alberto.
"Hai sayang."
"Lepaskan Rei! Kenapa kau selalu menggangguku hah?!" Bentak Katerina berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Rei.
"Tidak, kau harus ikut denganku Kate." Rei menarik paksa tangan Katerina.
"Tidak mau, aku tidak sudi ikut denganmu, Reino Alberto." Katerina memberontak.
"Aku tidak peduli kau harus ikut denganku sayang." Ucap Rei tersenyum goda.
Katerina menggeleng kuat. Ia tidak ingin ikut dengan lelaki bejat seperti Rei. Katerina terus memberontak melepaskan tangannya dari cengkraman Rei yang sangat erat.
"Lepaskan dia!" Suara bariton membuat langkah Rei terhenti.
Mereka berdua menoleh ke belakang dan mendapati Pria bertubuh tinggi dengan wajah yang sangat tampan dan memukau. Rahangnya mengeras berjalan menghampiri mereka dengan wajah dingin dan datar. Seketika Katerina terkesima melihat ketampanan pria itu bahkan hawa penguasa nya terasa jelas.
"Siapa kau?" tanya Rei tidak mengenal.
"Tuan, Zyano." lirih Katerina.
Zyano tersenyum tipis "Apa kau seorang pria? Mengapa kau menyakiti wanita seperti itu?" tanya Zyano menusuk.
"Ini bukan urusanmu. Kau tidak perlu ikut campur. ini urusanku dengan kekasihku!" jawab Rei ketus.
Katerina memukul perut Rei dengan sikunya lalu menginjak kakinya dengan heels membuat sang empu menjerit kesakitan.
"Aku bukan kekasihmu, Reino Alberto. Hubungan kita sudah berakhir! Jangan menganggu hidupku lagi." Ungkap Katerina dengan tegas.
Rei berusaha meraih tangan Katerina. Namun, sebelum itu perutnya langsung ditendang oleh Zyano sampai ia terjungkal ke belakang.
"Masuklah ke dalam mobil." perintah Zyano.
Katerina mengangguk paham dan bergegas masuk ke dalam mobil sesuai perintah Zyano. Entah mengapa ia menjadi penurut.
Zyano berjalan menghampiri Rei lalu berjongkok dihadapan Rei yang sedang memegangi perutnya yang sakit akibat tendangan dari Zyano.
"Si-siapa kau?" tanya Rei terbata-bata.
Zyano tersenyum simpul "Kau tidak perlu tahu siapa diriku, yang pasti kau harus ingat satu hal. Jangan menganggu Katerina lagi, jika kau melanggarnya maka kau akan berurusan dengan ku!" tegas Zyano dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Ayo pergi."
"Baik tuan."
Bersambung 😎
_____________________________________________
Mampus kau Rei 🤪🤣🤣
Jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN DAN SHARE GUYS :)
^^^Coretan Senja ✍️^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
febby fadila
pantas aja di usir dan tidak adil ternyata bukan anak kandung
2024-12-30
1
Rara Kusumadewi
oh ternyata bukan ank kandung Andi Kate ank Ghani dan gavin
2023-08-12
1
Putri Minwa
😊😊😊
2023-04-10
2