FOLLOW SEBELUM BACA!
Terima kasih 💐💐💐
______________________________________________
2. PINGSAN
Katerina berakhir di Bar dengan minum-minum alkohol. Menurutnya itu dapat melupakan sejenak segala permasalahan dalam hidupnya.
Hidupnya yang awalnya bahagia. Kini, berubah menjadi kacau balau. Kekasihnya berkhianat, lalu diusir dari rumahnya sendiri dan itu semua hanya karena Adik tirinya. Sungguh, Katerina kesal dan marah tetapi ia tidak berdaya.
"Hari ini adalah hari terburuk dalam hidupku." rancau nya sendiri.
Katerina tertawa getir dan terus meminum alkohol yang ada didepannya. Mulutnya terus saja merancau tidak jelas. Wanita itu sudah mabuk berat. Sebenarnya, Katerina tidak tahan dengan alkohol. Namun, karena terlalu stress dia tidak begitu peduli lagi.
"Olivia, kau tunggu saja. Aku pasti akan membalas semua perbuatan mu hahahaha."
"Akhhh kepalaku sakit sekali" Katerina meremas rambutnya dengan kasar. Kepalanya berdenyut pusing. Namun, ia berusaha untuk tetap sadar dan membuka kedua matanya.
Katerina berjalan gontai keluar dari Bar. Entah kemana kakinya akan melangkah dia pun tidak tahu ingin pergi kemana malam ini. Ia sudah diusir dari rumahnya sendiri. Katerina tidak punya tujuan untuk pulang.
Dari kejauhan mobil Mercedes C63 AMG Black Edition semakin mendekat kearahnya. Katerina menoleh ke samping kiri, matanya menangkap cahaya lampu yang sangat menyilaukan. Mobil itu semakin mendekat dan akhirnya.
"Aaaaaaa." Teriaknya.
Brukk
"Astaga apa kita menabrak seseorang?"
"Coba kau cek Dave."
"Baik tuan." Dave segera keluar dari mobil dan betapa terkejutnya ia saat melihat seorang wanita cantik tergeletak di tanah dengan kepala bersimbah darah.
"Astaga mati aku." Dave menepuk jidatnya.
"Bagaimana Dave?" tanya seorang pria yang masih dalam mobil. Ditangannya masih ada iPad.
"Maaf tuan, sepertinya kita menabrak seorang wanita dan kepalanya berdarah tuan." kata Dave menjelaskan.
Pria itu terdiam sesaat, lalu meletakkan iPad nya. Ia membuka mobil dan melihat seorang wanita cantik tergeletak di depan mobilnya dengan kepala yang penuh darah.
"Bagaimana tuan? Apa kita bawa ke rumah sakit saja?" tanya Dave hati-hati.
Pria itu melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 23:30. Hari sudah sangat larut malam dan ditambah jalanan juga nampak sepi. Jika mengantarkan wanita itu ke rumah sakit tentu akan memakan waktu lama sementara dirinya ingin segera pulang untuk beristirahat.
"Tidak perlu! kita bawa dia ke mansion ku saja." jawabnya dengan wajah datar.
Dave mengangguk "Baik tuan."
Dave segera mengangkat tubuh Katerina, lalu meletakkannya di kursi depan dengan sangat pelan dan hati-hati. Setelah selesai mobil itu melaju pergi menyapu jalanan yang sangat sepi. Pria itu kembali membuka Ipad-nya lalu membaca semua pesannya.
Sesampainya, disebuah mansion besar bernuansa modern yang di setiap jalannya terdapat taman-taman yang sedap dipandang mata. Tidak hanya itu saja, ditengah mansion terdapat air mancur yang sangat indah. Diatasnya juga terdapat patung Angsa yang begitu cantik dan estetik.
Begitu masuk gerbang terlihatlah pria berjas hitam berjaga-jaga di depan mansion. Setiap sudut mansion itu terdapat banyak penjaga yang menjaga mansion itu dengan amat ketat. Tidak sembarang orang bisa masuk kedalam sana tanpa seizin tuan rumah.
Dave keluar dari mobil dan bergegas membukakan pintu untuk tuannya tersebut. Semua maid menyambutnya dengan ramah tamah.
"Selamat malam tuan, Zyano." Sapa para maid menundukkan sedikit kepalanya tanda hormat.
"Dave, Bawa wanita itu masuk dan jangan lupa telpon Sean untuk datang mengobatinya." perintah Zyano dengan wajah datar.
"Baik tuan."
Zyano Genta Brawitama, lelaki berwajah tampan dengan sikapnya yang begitu dingin dan tak tersentuh. Orang luar mengetahui Zyano hanyalah pengusaha biasa .CEO pemilik Brawitama Company. Namun, tidak ada yang tahu jika Zyano adalah ketua King Draxler. Organisasi mafia dengan kekuasaan tertinggi.
Sebagai ketua Mafia, Zyano menutup rapat dirinya sebab ia tidak ingin musuhnya tahu tentang kehidupan pribadinya. Dunia hitam dengan dunia bisnis harus dipisahkan nya.
Dave mengangkat tubuh Katerina dan membawanya masuk ke dalam mansion. Semua maid menatap heran, siapa wanita yang dibawa oleh Dave? Biasanya, tidak ada wanita yang datang ke mansion ini. Jelas itu semua mengundang banyak pertanyaan para maid.
Dave membuka pintu kamar tamu dan meletakkan Katerina di kasur king size. Tak lupa juga Dave menelepon Sean yang merupakan dokter pribadi keluarga Brawitama.
Zyano masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Seharian ini dia bekerja di kantor tak kenal waktu. Tubuhnya terasa remuk dan lelah.
Setelah berendam dan membersihkan diri Zyano keluar dengan tubuh yang segar kembali. Ia mencek email nya kembali tetapi tiba-tiba saja dirinya teringat dengan wanita yang dibawanya ke mansion.
Zyano pun memutuskan keluar untuk mencek keadaan wanita itu. Entah terkena angin apa dia ingin melihat wanita yang ditabraknya tadi. Bersamaan dengan itu Sean keluar didampingi oleh Dave.
"Hallo broo." sapa Sean tersenyum menatap sahabatnya itu.
"Bagaimana keadaan wanita itu?" tanya Zyano datar tanpa membalas sapaan Sean padanya.
"Kau tidak perlu khawatir, lukanya tidak parah. Hanya tiga jahitan saja, tapi aku sudah mengobati dan memberikan obat pereda nyeri padanya. Untuk sementara waktu dia masih tidak sadarkan diri karena pengaruh obat" jawab Sean menjelaskan keadaan Katerina.
"Baguslah jika lukanya tidak parah." balas Zyano membuat kening Sean berkerut.
"Tunggu dulu! siapa wanita itu? apa dia kekasihmu? Tidak biasanya kau membawa seorang wanita kedalam mansion mu Zyan. Atau jangan-jangan kau telah menyakiti wanita itu hingga kau menabraknya?! Apa benar begitu?" Cecar Sean dengan berbagai pertanyaan. Ia menatap Zyano dengan curiga.
"Mulutmu masih saja lemes seperti tante-tante. Tidak bisakah dirimu diam dan jangan berpikir aneh tentang ku."
"Tidak bisa! Diriku tercipta untuk menganggu ketenangan seorang, Zyano Genta Brawitama. Dan aku tidak berpikir buruk tentang mu. Aku hanya mengatakan apa yang ada dalam kepalaku saja. Lagipula, kau membawa seorang wanita yang tidak ku kenal. Jadi wajar saja jika aku berpikir kau sudah berbuat jahat padanya apalagi wanita itu terluka."
"Diam lah, Sean. Mulut mu terus mengoceh sampai airnya kemana-mana. Aku lelah, ingin istirahat." Zyano hendak pergi namun tangannya ditahan oleh Sean.
"Jawab dulu pertanyaan ku. Jika tidak akan ku laporan kepada bibi kalau kau menyakiti seorang wanita biar kau diomeli oleh bibi seharian hahaha." seru Sean terkikik membayangkan bagaimana Zyano dimarahi oleh mommy nya.
"Kau sudah semakin berani ya Sean. Apa kau mau tubuhmu aku cincang-cincang jadi daging-daging kecil lalu ku panggang jadi sate."
"Aku tidak pernah takut padamu. Jangan kira hanya karna kau ketua King Draxler aku jadi takut padamu. Jika kau berani mencincang tubuhku maka kau harus bersiap kedua keluarga berpengaruh akan berperang." jawabnya santai.
Zyano menahan kekesalan diwajahnya. Ingin sekali ia menojok wajah pria tidak malu ini tapi sayang dia tidak bisa melakukannya.
"Dave, seret pria ini keluar! Aku sudah muak mendengar celotehan nya dari tadi. Kepalaku terasa ingin pecah." Perintah Zyano pergi menuju kamarnya.
Dave mengangguk "Ayo tuan Sean." Dave menyeret Sean keluar dari mansion.
Sean memberontak "Lepaskan! aku bisa jalan sendiri tidak perlu diseret." sentak Sean kesal diseret dia yang disuruh datang malah diusir seperti ini. Benar-benar tidak punya hati.
Sean mematap punggung Zyano yang hampir tidak terlihat lagi.
"Awas saja kau Zyan, besok kau akan kena karma. Tunggu saja pembalasanku. Heh." Sean keluar dengan raut muka penuh kekesalan. Bagaimana tidak? ia ditelpon tengah malam untuk mengobati luka seseorang wanita yang sama sekali tidak dikenalinya akan tetapi balasan yang didapatnya malah diusir secara tidak hormat seperti ini. Sungguh, Sean sangat kesal.
Dave ingin membukakan pintu mobil untuk Sean namun Sean menolaknya.
"Tidak perlu! Aku bisa membuka mobil ini sendiri!" kata Sean menolak.
Dave hanya diam tidak membalas perkataan Sean dan membiarkannya masuk ke dalam.
"Hati-hati di jalan tuan Sean." Dave membungkukkan badannya bersamaan dengan mobil itu pergi dari mansion.
*****
Keesokan harinya matahari mulai menampakkan dirinya ke permukaan bumi. Berbagai aktivitas manusia akan segera dimulai. Matahari pagi itu menembus jendela kaca kamar seorang wanita cantik yang tengah tertidur dengan pulasnya. Perlahan, ia membuka kedua matanya berusaha menyesuaikan cahaya sekitarnya.
Ssstttt
Ia meringis memegangi kepalanya yang terasa berat dan pusing. Pandangannya masih sedikit buram. Namun, sedikit demi sedikit mulai membaik. Katerina menyibak selimut yang ada ditubuhnya. Matanya membulat melihat keindahan kamar itu.
"Astaga apa aku ada disurga?" gumamnya tertegun kala matanya terbuka dengan sempurna menatap kamar yang bernuansa modern itu. Kamar itu bercat White dengan wallpaper yang indah. Dindingnya juga terdapat beberapa lukisan mahal oleh seniman terkenal.
Katerina mengerjap-ngerjap kan matanya tapi masih sama. Ia juga mencubit pipinya dan terasa sakit. Ini artinya dia tidak bermimpi.
"Aduh sakit." rintih nya.
"Astaga jika aku benar-benar ada di surga apa secepat itu aku mati? Tapi seingatku terakhir kali ada mobil yang menabrak ku hingga aku pingsan. Apa mungkin aku sudah ada di surga?" gumamnya bingung.
Katerina mencoba menggigit tangannya hingga berbekas. "Tapi kalau aku sudah mati kenapa masih terasa sakit? Aneh."
Tiba-tiba pintu terbuka dengan lebarnya. Beberapa maid masuk ke dalam kamar itu dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman yang disajikan untuk Katerina.
"Selamat pagi nona." sapa salah satu Maid yang terlihat lebih tua dari kedua maid yang berdiri disampingnya.
Kening Katerina mengerut "Apa disurga ada pelayanan seperti ini? Tapi mungkin saja karena didunia hidupku sudah menderita. Jadi ini balasan untukku di surga bisa menikmati segala kenikmatannya." gumamnya sumringah.
"Nona maaf ini bukan di surga. Anda masih hidup di dunia nona." bantah Maid itu tidak sengaja mendengar gumaman Katerina.
Katerina tercengang "Hah?!"
"Jika aku masih hidup lalu aku ada dimana? rumah siapa ini?" tanya Katerina semakin kebingungan.
Maid itu tersenyum "Nona ada di mansion tuan Zyano, kemarin malam tuan Dave membawa nona dan meletakkan nona di kamar ini." jawabnya.
"Dan pagi tadi tuan Zyano memerintahkan kepada kami semua untuk merawat nona sampai sembuh."
Katerina terdiam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung ingin bereaksi seperti apa.
Maid itu mengangkat mangkuk yang berisi bubur untuk sarapan Katerina "Saya sudah membuatkan bubur untuk nona. Ayo dimakan nona, apa perlu saya suapi?" tanya Maid itu ramah.
Katerina menggeleng cepat "Tidak perlu. Saya bisa makan sendiri. Terima kasih."
Perlahan Katerina memasukkan bubur itu kedalamnya mulutnya. Seketika matanya langsung berbinar saat menelan bubur itu rasanya sangat lezat. Tak perlu waktu lama bubur itu habis tanpa bersisa bukan hanya karena rasanya enak tetapi juga karena Katerina sedang lapar.
Maid itu memberikan obat kepada Katerina "Minumlah obat ini nona, supaya nona cepat sembuh."
Katerina mengerutkan keningnya bingung. Obat apa itu? memangnya dia sakit apa sehingga perlu minum obat? Maid itu mengerti Katerina bingung.
"Tidak perlu khawatir nona, obat itu langsung diresepkan oleh dokter keluarga ini jadi sudah pasti aman." sambung nya peka.
Katerina tidak enak hati "Iya, terima kasih." Katerina mengambil obatnya lalu meminumnya.
"Bawa ini ke dapur." perintahnya menyodorkan nampan tadi kepada salah satu maid.
Maid itu menatapnya sambil tersenyum. "Nona beristirahatlah. Jika ada perlu apa-apa panggil saja kami semua nona."
Maid itu ingin pergi namun Katerina menahan tangannya.
"Maaf, kalau boleh tau saya ada di mana ya?" tanya Katerina penasaran.
"Maaf nona, kami tidak bisa menjawab pertanyaan nona karena itu bukan kewajiban kami. Jika nona ingin tahu maka tunggulah tuan, Zyano pulang." jawabnya membuat Katerinaw sedih.
"Baiklah, terima kasih sudah merawat saya." balas Katerina tersenyum ramah.
"Sama-sama nona, panggil saja Bibi Asri itu nama saya."
"Iya, bi Asri."
"Baik kalau begitu, bibi keluar dulu ya nona. Jika perlu apapun panggil saja." pamit Bi Asri undur diri.
Katerina teringat bahwa ia harus bekerja dan menelpon Maya. Ia mencari ponselnya tapi tidak ada.
"Astaga, dimana ponselku? Apa mungkin jatuh saat tabrakan itu? Aduh, kalau begini ceritanya gimana mau kasih tau Maya. Dia pasti khawatir." Katerina berdecak kesal karena kelalaiannya. Ia hanya bisa menghela nafas panjang.
Katerina mengedarkan pandangannya menatap sekeliling. Kamar ini memang sangat luar biasa. Dari desain dan Vas bunga itu pasti sangat mahal harganya. Kasur yang sedang ia duduki ini bahkan sangat empuk dan nyaman sekali. Pantas saja ia sangat nyenyak tidur kemarin.
"Pemilik rumah ini pasti orang kaya. Mungkin kekayaannya melebihi keluarga Cristopher. Bahkan luas kamar ini lebih luas daripada kamarku dulu." gumam Katerina berdecak kagum.
"Kira-kira siapa ya? namanya Zyano. Aku tidak pernah mendengar nama itu. Apa dia pengusaha tekstil dan batu bara hingga rumahnya sebesar istana?"
"Ah sudahlah, lebih baik aku tidur. Tubuhku masih sangat lelah, sepertinya obat tadi mengandung obat tidur mataku jadi mengantuk lagi." Katerina merebahkan dirinya kembali lalu menutup kedua matanya menuju alam mimpi.
Sedangkan ditempat lain Sean sedang mengadukan kepada ibunya Zyano perihal wanita yang dia obati kemarin malam. Ia ingin membuat Zyano dimarahi oleh ibunya sendiri sebagai balas dendam karena sudah mengusirnya tadi malam.
"Apaaa? Zyano membawa seorang wanita ke mansion nya bahkan melukai wanita itu?" pekik Zahra ibunya Zyano.
"Iya bibi, Sean nggak bohong. Sean sendiri yang udah periksa wanita itu. Lukanya cukup parah bibi, bahkan kepalanya harus dijahit" Ujar Sean.
Zahra berdecak "Astaga, anak itu harus dihukum, bisa-bisanya dia menyakiti wanita sampai kepalanya harus dijahit."
"Tenanglah sayang, Zyano tidak mungkin menyakiti wanita." sanggah Zeano tidak percaya jika putranya melakukan hal yang diceritakan oleh Sean.
"Mana bisa aku tenang. Jika Zyano benar melakukan itu habis dia tanganku. Sean, ayo antar bibi ke mansion Zyano. Bibi ingin melihat dengan mata kepala bibi sendiri bagaimana kondisi wanita itu."
Sean beranjak dari duduknya "Ayo bibi, Sean temenin."
"Sebentar bibi ambil tas dulu." Zahra masuk kedalam kamarnya untuk mengambil tas serta dompetnya.
Zeano menatap Sean dengan tajam "Sean, kau tidak berbohong kan?" tanya Zeano menelisik.
"Tidak. Untuk apa aku berbohong paman. Jika paman tidak percaya ayo ikut ke mansion Zyano untuk memastikannya langsung." jawab Sean.
"Baik paman akan ikut."
Sean mengulum senyum hatinya sangat bahagia "Tunggu saja kau Zyan, bersiaplah kena Omelan bibi Zahra. Itu hukuman untukmu karena sudah mengusir ku tadi malam. Rasakan itu hahaha." batin Sean kegirangan.
Bersambung 😎
______________________________________________
Jika kalian menyukai cerita ini jangan lupa memberikan dukungannya dengan cara VOTE, KOMEN SERTA SHARE YA GUYS!!
DAHH SEE YOU
MUUACHHH
^^^Coretan Senja ✍️^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Ana
dasar sean ga ada akhlak 🤣
2025-01-22
0
Ana
🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-22
0
Nina Wahyudi
lucu banget ya, klo seorang mafia arogant dimarahi sama mama nya🤣 pasti ngakak😂🤭
2023-06-06
2