Pikirannya masih kosong, Hayu merasa apa pantas dirinya marah-marah seperti ini kepada Suaminya, namun ia juga berpikir jika tidak seperti ini kapan Devan akan mengerti dirinya. Hayu cape terus disalahkan, sedangkan Devan yang berbuat salah didepan mata ia masih harap maklumi. Kali ini ia merasa lelah, tak sanggup untuk terus diam.
Hayu esoknya masih tetap meminta bantuan sang Ibu untuk mendandani dirinya secantik mungkin, agar ia bisa merasa percaya diri untuk melawan Luna.
Devan sudah pergi bekerja. Keduanya masih bertengkar hebat, setelah dipikir-pikir Hayu merasa bersalah telah melawan Suaminya, yang merupakan surganya.Tetapi Hayu tak dapat menahan amarah, kecewa juga kekesalannya terhadap Devan.
Aku tidak yakin, jika dia cemburu! Dia tidak mencintaiku,' batin Hayu sendu. Pandangannya kosong ke depan, namun sang Ibu segera menyadarkan Putrinya.
"Hayu... Ibu tau kamu masih terlalu muda untuk menjalani yang namanya pernikahan. Langgengnya suatu hubungan itu tidak hanya bertuju pada Cinta. Tapi juga kepercayaan dan diskusi. Apapun masalahnya, apapun keluh kesah dan kesalahpahaman itu ceritakan kepada Suamimu. Itu dapat meminimkan kekacauan rumah tangga," jelas Ratna, ia benar-benar sudah harus ikut campur. Melihat keduanya belum juga berbaikan sejak lama.
Hayu terdiam dengan pikirannya, ia berpikir ucapan Ibunya benar. Semua masalah harusnya ia cari tahu dulu kebenaran dan baru ia bertindak. Egonya selama ini membuatnya melakukan sesuatu tanpa mencari tahu kebenarannya.
"Aku melupakan hal sepenting itu jika Ibu tidak memberitahu Hayu. Makasih, Bu. Hayu hanya merasa heran. Biasanya Hayu selalu memikirkan semuanya sebelum bertindak..." Hayu menunduk menyesal, namun sang Ibu tersenyum memaklumi sifat anaknya sekarang.
Karena Ratna tahu betul rasa apa yang dirasakan Hayu, karena ia juga pernah merasakan hal itu saat muda.
"Kamu sangat lucu. Itu adalah perasaan cinta, dimana kita lebih sensitif dan terburu-buru dalam bertindak karena kecemburuan yang menguasai kita. Itu adalah hal biasa, namun jangan juga dijadikan kebiasaan yang pastinya akan berakhir buruk untuk suatu hubungan. Ya... Intinya itu tadi saling terbuka dan berdiskusi," jelas Ratna lagi, dengan mengelus rambut Hayu dengan tulus.
"Iya, Bu. Makasih buat semuanya. Aku bahagia dan merasa paling beruntung di dunia ini. Ibu tau kenapa?" Tanya Hayu dengan senyuman manisnya. Ratna hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Karena aku memiliki Ibu seperti dirimu, Bu. Ibu yang baik, pengertian dan penasehat paling hebat di dunia. Ibu adalah yang terbaik untuk Hayu, Ibu selalu ada untuk Hayu. Terima kasih, Bu," ungkap Hayu memeluk Ratna. Tangis Ratna tak terbendung lagi, ia memeluk balik Hayu.
Keduanya sama-sama mengalami masa cinta yang sulit. Tapi, mereka sama-sama berjuang demi kehidupan yang lebih baik dan demi orang yang mereka cintai. Hayu sudah siap untuk segala konsekuensi yang akan ia dapati jika ia mencoba jujur dengan perasaannya kepada Suami. Tidak ada salahnya, ini adalah pernikahan seumur hidup yang pastinya tidak mungkin jika mereka akan tetap saling diam, dingin, canggung dan tidak saling mencintai selama itu. Jika Devan tak ingin berjuang maka Hayu saja yang akan berjuang demi pernikahan mereka, demi mendapatkan keharmonisan keluarga juga mendapat cinta Suaminya.
"Baiklah. Aku Rahayu tidak akan pernah menyerah mendapatkan kamu Suamiku! Bahkan jika memang benar kamu bersama Luna! Aku akan merebutmu kembali! karena kamu Suamiku, sah dalam agama," tegas Hayu menatap dirinya di cermin. Ia tak akan menyerah.
Hayu bersiap membawa makan siang untuk Devan. Sekaligus ia ingin meminta maaf telah membentak Suaminya kemarin. Setibanya disana, Devan tanpa tak percaya melihat Hayu yang datang membawa makanan untuknya. Bukankah gadis itu sedang marah padanya?
"Udah sono, malah bengong di Bambang," geram Pian mendorong Devan yang terlihat bingung.
Devan hampir terjatuh, namun Hayu menangkap lebih cepat. Ia menahan tubuh Suaminya agar tidak terjatuh ketanah. Keduanya nampak saling bertatapan membuat siapapun yang melihat akan merasa sangat iri dan terpesona.
"Ehem... Ehem. Haduh, pengantin baru gak ingat tempat kalo mau romantis," ledek Pian, terkikik. Ia bingung dengan situasi keduanya yang masih suram, tidak henti-hentinya bertengkar. Pian ingin sekali membantu, namun takut Hayu marah karena dirinya ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.
Hayu menatap Pian penuh permusuhan. "Kamu ngapain dorong-dorongan Suami aku! Kalo dia jatuh gimana," ujar Hayu melayangkan tinjunya diudara. Membuat Pian tertawa geli, sedangkan Devan terdiam bingung. Namun ada rasa bangga didalam hatinya, bahwa Hayu khawatir padanya bahkan terang-terangan mengatakan dirinya Suaminya.
'Kenapa dengan dia? Barusan dia sangat romantis. Apa dia kerasukan setelah marah-marah kemarin?' batin Devan heran. Devan bingung kenapa dirinya bahagia hanya karena hal-hal kecil yang dilakukan Hayu untuknya. Apa itu perasaan cinta yang orang-orang katakan?
Hayu menarik tangannya. "Ayo makan dulu," ajak Hayu, ia lalu menyiapkan makanan untuk Devan. Lalu Devan mulai untuk memakan nasinya.
Dan sialnya, saat nasi sudah hampir mendarat di mulutnya, panggilan dari seseorang yang ia kenali membuat Devan mendengus sebal. Suara yang benar-benar menjengkelkan.
"Devan!"
'Arghh, sialan. Gadis gila ini selalu tidak tahu tempat! Dia selalu mengacau walau aku tau dia hanya bertujuan untuk mengacau. Baiklah, sabar, Dev. Hanya sebentar lagi,' batin Devan mencoba menenangkan dirinya. Ia memasukan nasi kedalam mulutnya dan dengan datar menatap Luna.
'Dia lagi... Apa dia tidak punya malu mendekati Suami orang. Ingat Luna aku enggak akan membiarkan kamu kali ini,' batin Hayu tersenyum licik menatap gadis yang sebentar lagi akan duduk dengan tidak malunya disebelah Suaminya.
"Devan, kamu ngapain makan masakan dia sih? Aku udah bawain bekal Lo buat makan siang kamu, nih," uajr Luna menyodorkan rantang makanan dengan tidak tahu malu.
Hayu terkekeh. "Hei, kau buta ya! Dia sudah memakan makan siang dariku, Istrinya. Dan, sekarang kau menyuruhnya untuk memakan lagi bekalmu itu! Dia bisa mati kekenyangan," sindir Hayu dengan berani. Keberaniannya mendadak berkumpul.
"Ups! Maksud gue makanan Lo itu dibuang aja. Biar Devan makanan masakan gue yang jelas lebih enak, mahal dan higienis daripada masakan Lo yang kampungan," selorohnya tidak membuat Hayu takut malah dengan berani menjawab.
"Mahal tidak menjamin seseorang nyaman dengan makanan itu. Lagipula dia Suamiku, sudah sewajarnya dan sepantasnya dia memakan masakan Istrinya bukan wanita lain yang tidak tahu malu seperti kamu," celetuk Hayu pedas. Sedangkan Devan, dia tersenyum senang melihat Hayu menjawab.
Luna terdiam kehabisan kata-kata, tetapi ia baru menyadari sesuatu dari penampilan Hayu.
"Wah, bilang aja kamu takut, bukan? Jika Suamimu ini lebih memilih aku yang cantik dan seksi ini, dibandingkan kamu yang kumuh dan dekil, perawatan saja tidak. Yah... Wajar dong, Suami cari yang lebih cantik," ujar Luna membanggakan dirinya.
Hayu tertawa."Haha... Kamu lucu sekali. Wajar dong jika aku berdandan dan berubah demi Suamiku, apa masalahnya. Mau dia Deket dengan wanita manapun kalau melihat Istri halalnya cantik. Dia juga bakalan pulang dan tunduk. Iya, kan sayang?" tanya Hayu tanpa malu-malu, membuat Devan terbelalak kaget. Namun, ia dengan senyum tipis mengangguk.
'Sialan! gadis ini selalu berani menjawabku... Ternyata dia memang sudah berubah. Aku harus meminta Johan untuk membuat mereka semakin bertengkar,' batin Luna kesal. Akhirnya ia memilih pergi dengan malu yang ia tahan. Ia menaruh dendam yang semakin mendalam pada Hayu yang sudah berani melawannya. Terbesit rasa tantangan mengetahui gadis yang selalu ia permalukan dengan mudah dan hanya diam itu sekarang sudah berani melawan dirinya. Kau tunggu saja, tidak akan lama lagi hubungan kalian akan retak,' batin Luna tersenyum licik.
Setelah langkah Luna menjauh, Hayu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Luna yang tak dapat lagi berkata-kata karenanya.
"Rasain kamu pelakor tidak tahu diri," gumam Luna bahagia, tanpa sadar Devan menatapnya penuh maksud.
"Apa maksudnya tadi? Lihat Istri yang sudah halal dirumah Suamimu bakalan pulang dan tunduk, begitulah?" tanya Devan yang memang sudah mengerti tetapi niat hatinya untuk menggoda sang Istri.
Pipi Hayu langsung memerah padam. "Emangnya kenapa? Memang benar kok kata Ibu-ibu begitu! Lagian itu cuma siasat aku biar dia diam," elak Hayu. Hayu tak bisa menahan kegugupannya saat Devan menanyakan hal itu. bisa-bisanya ia terpikir ide itu hingga sekarang ia tidak tahu harus apa. Harus ia taruh dimana wajahnya padahal jelas-jelas ia marah-marah semalam sekarang saja sudah membahas hal-hal vulgar Suami-istri. Akhh, mulut emang suka ceplas-ceplos banget sih,' batin Hayu menutup matanya.
"Oh, benarkah. Tetapi aku tidak percaya," jawab Devan ragu.
"Sudah, aku akan menunggu sampai kamu pulang sekalian bantu-bantu," jelas Hayu, membuat Devan mengeleng-geleng.
"Jangan. Udah cantik gitu masa mau pegang tanah, biar Suamimu aja," jawab Devan melarang. Masa ia sih, ia menyuruh Istrinya yang cantik memegang rumput dan tanah.
"Aku enggak apa-apa aku juga bosan. Sekalian mumpung udara disini segar dan banyak pepohonan. Aku mau bicara yang tenang-tenang sama kamu," ujar Hayu asal-asal karena sangat gugup. Pokoknya! Ia harus menyelesaikan semuanya hari ini juga agar semuanya kelar dan Hayu tidak perlu lagi bertengkar dengan Devan, setidaknya.
Devan mengernyit heran, namun ia akhirnya memperbolehkan hal itu ia juga ingin jujur secepatnya dengan Istrinya agar permasalahannya selesai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments