Setelah mendesak sang Ibu, akhirnya Ratna meredahkan amarahnya dengan tidak melabrak Wati dengan gegabah.
"Bu, harusnya Ibu tenang dulu. Pikirkan baik-baik semuanya. Dengarkan Hayu dulu," jelas Devan, ia mencoba membantu Hayu yang terlihat sangat keras menolak kepergian Ratna, walau dalam hatinya ia juga sangat ingin memberi pelajaran orang-orang gila itu.
"Lalu... apa rencanamu? Ibu enggak mau kita cuma diam saja," kekeh Ratna, ia sudah kehabisan kesabarannya. Jika dulu, ia hanya diam sekarang ia tidak akan diam.
Hayu menghela nafasnya. "Baiklah. Aku hanya menebak saja. Tapi sepertinya Luna dan Tante Wati sudah menyiapkan sesuatu. Tidak mungkin mereka dengan terang-terangan menjebakku ditempat mereka sendiri," jelas Hayu, membuat pikiran ketiganya tercerahkan.
"Benar juga, pintar ternyata kamu, Yu,"puji Pian, merasa bodoh karena tidak menyadari hal yang begitu jelas.
"Lalu, apa rencanamu?" tanya Devan serius, ia sedikit kagum dengan ketelitian Hayu.
"Kita lihat dulu apa yang akan mereka lakukan nanti... Dan, kali ini kita harus menyiapkan semuanya. Aku yakin, mereka tidak akan berhenti disini saja," jelas Hayu, dengan teliti. Ia bukannya berbaik hati dengan menahan Ibunya, tetapi ia ingin mereka mendapatkan balasan yang setimpal dari apa yang mereka perbuat.
Hayu dalam masa pemulihan, sedangkan Devan kembali bekerja karena keuangan mereka sudah menipis untuk mengobati luka Hayu.
"Maaf, ya... Aku jadi merepotkan kamu," cicit Hayu, merasa bersalah Devan yang masih sakit harus kerja terlalu keras.
Devan menghela nafas. "Ini memang udah tanggung jawab saya sebagai Suami, jangan dipikirkan." Hayu mencium tangan Suaminya sebelum Devan pergi.
Hayu menatap punggung Devan yang kian menjauh darinya. Hayu terdiam, termenung merenungi sikap Devan yang menurutnya sangat membingung. Disiatu saat dia begitu perhatian, dan disaat lainnya dia begitu dingin tak tersentuh.
Apa perasaan ini, hanya perasaan kagum saja. Aku merasa tidak sanggup untuk memperjuangkan Devan dengan sikapnya yang selalu berusaha menutup dirinya,' batin Hayu merenungi kembali perasaannya terhadap Devan.
...----------------...
Tok! Tok! Tok!
Hayu mengernyit heran. Siapa gerangan yang mengetuk pintu dijam segini yang masih terbilang pagi untuk mengunjungi rumah seseorang apa lagi para warga semakin menjauh dari keluarga Hayu.
Ceklek!
"Assalamu'alaikum?"
"Waalaikumsal---. Jo-johan!" pekik Hayu kaget. Hayu dengan cepat menutup kembali pintu rumahnya, dengan tangan gemetar.
Duk!
Kaki lelaki itu menahan pintu, membuat Hayu sangat takut.
"Apa yang kamu lakukan, Han! Lepaskan kakimu! Pergilah dari sini, aku sudah menikah!" teriak Hayu takut. Ia ingat betul bagaimana Johan saat dulu.
Hayu menghargai perasaan Johan yang menyukainya, namun ia tak bisa berpacaran karena lebih pokus belajar. Tapi, lelaki itu terus mengikuti Hayu bahkan membuat lelaki manapun di Desa yang mendekati Hayu dibuat babak belur, sampai ada yang patah Kaki.
Kenapa ia masih berani berbuat seperti itu? Karena Johan Ardiansyah adalah anak orang terkaya di Desa ini, yang otomatis semua warga takut untuk berurusan dengan mereka.
"Hei... hei, apa kau tidak merindukanku. Main tutup pintu aja, suruh masuk dulu dong," goda Johan, mendorong pintu rumah Hayu.
Hayu tak ingin kalah, ia dengan sekuat tenaga menahan pintu dan mendorongnya balik.
Ya Allah, bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan dengan lelaki nekat ini,' batin Hayu merasa putus asa. Namun, disela-sela itu ia mendapatkan ide.
Melihat kaki Johan yang menahan pintu, dengan cepat Hayu menginjaknya dengan sekuat tenaga.
"Arghh! Brengsek!" makinya diluar sana, sedangkan Hayu dengan lega menutup pintu menguncinya rapat-rapat, lalu mendorong meja juga kursi untuk menahannya.
Hayu dengan panik berlarian mengelilingi rumah dan menutup semua akses keluar masuk, pintu dapur, jendela kamar, dan lainnya. Hayu terduduk lemas di pinggiran kasur kamarnya, ia hanya bisa meringkuk dengan menutup telinganya dari suara-suara Johan yang berteriak diluar sana.
"Hei! Keluar Rahayu! Jangan kamu pikir kamu bisa lari dariku! Aku pasti akan datang lagi dan menangkapmu!"
"Aku bahkan tidak peduli kau sudah menikah atau belum!" teriak Johan dengan penuh semangat, dan itu adalah ucapan terakhirnya.
"Hiks... hiks. Ke-kenapa di-dia harus ... kembali," ujar Hayu menangis segukan.
Kenapa dia harus kembali, aku sangat takut. Aku tidak mau berurusan dengan dia lagi. Pria gila yang nekat, tolong hamba Ya Allah,' batin Hayu sangat takut.
...****************...
Seorang pria berjalan pulang dengan bersiul riah dengan wajah berseri-seri walau baru saja ia mendapatkan penolakan dan pernyataan yang begitu membuatnya terkejut. Namun, tidak membuatnya menyerah untuk mendapatkan apa yang ia inginkan sejak dulu.
"Hei." Pria itu menoleh saat mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Siapa kau?" tanyanya dengan nada sombong.
Wanita itu tersenyum smirk. "Tidak perlu tau siapa aku. Jika kau ingin mendapatkan dia kembali, kau harus bekerja sama denganku. Dan, kita mendapatkan apa yang kita mau." Penawaran yang diberikan wanita itu menggiurkan menurutnya, kapan lagi ia akan mendapatkan sekutu untuk melakukan hal seperti ini memperoleh keuntungan masing-masing.
"Baiklah. Aku setuju, lalu jelaskan apa rencanamu itu, dan.... jika gagal kau akan tau akibatnya," ancam Pria itu dengan sombongnya.
"Baiklah kau tidak akan menyesalinya." Mereka tertawa terbahak-bahak, bak kerasukan arwah goib nenek lampir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
🌻🌟Bunga✨🥀
Johan ini gila, yakkkk! orang gk mau dpksaaa!👊
2022-09-02
1
Grey Mahendra
Benar, harus ada rencana biar mehonh tuh si pelakorr!
2022-09-02
1