Hari sudah larut malam, namun baik Devan maupun Hayu tidak seorang pun yang mengantuk. Atau lebih tepatnya, menahan rasa kantuknya dengan pikiran-pikiran aneh.
'Astaga bagaimana ini? Ap-apa kami akan melakukan itu malam ini?' batin Hayu bertanya-tanya. Ia dulu sering mendengar tentangnya yang sering bercerita hal seperti itu, juga dari pengalaman anak tetangganya yang baru menikah dua bulan lalu.
"Malam pertama itu sakit banget, tapi nikmat juga."
Deg!
Wajah Hayu seketika memerah bak tomat, hingga membuatnya mengumpati pikirannya yang kotor.
'Bodoh. Ngapain mikirin itu... Gak mungkin lagipula kami menikah bukan karena cinta,' batin Hayu, seketika ia terdiam.
'Kenapa dia sangat diam? Apa masih memikirkan kejadian hari ini?' tanya Devan mulai penasaran. Menurutnya sosok Hayu adalah gadis yang tidak mau diam.
"Kau kenapa? Wajahmu memerah?" tanya Devan, membuat Hayu terkejut juga malu karena tertangkap basah sedang memikirkan sesuatu.
"Bu-bukan, kok. Siapa juga yang merah," kilah Hayu, Devan tentu tidak mempercayai Hayu.
Devan mendekat, ia semakin dekat hingga jarak mereka terkikis. Hayu melebarkan matanya kala tangan Devan menyelusup ke keningnya.
'Ap-apa yang dia lakukan? Di-Dia kira aku sakit?' batin Hayu bertanya, ia merasa senang juga tubuhnya menegang dan memanas menerima sentuhan Devan.
"Sepertinya kau kelelahan, sebaiknya kau tidur saja. Kau sedikit panas," pinta Devan, yang diangguki Hayu. Bagaimanapun ia tak ada wajah lagi menghadapi Devan, Suaminya.
"Hmm. Kamu juga tidur, Van," ujar Hayu, namun tiba-tiba mendapatkan sentilan dikeningnya.
Hayu memegang jidatnya dengan mengerutkan bibirnya. "Kamu kenapa sih, Van. Kok tiba-tiba ngajakin ribut?" celoteh Hayu sebal.
"Manggilnya gimana?" Devan memberi kode, ia merasa senang Hayu memanggilnya dengan panggilan lain, bukan namanya.
Hayu terdiam, sembari berpikir. Lalu tersenyum menggoda.
"Iya, iya. Mas ... ku, sayang," goda Hayu sambil cekikikan, secepat kilat ia menghilang dari hadapan sang suami. Bagaimanapun menggoda Devan membuatnya berdebar-debar.
Devan terdiam membeku. Ia tak menyangka gadis yang sudah menjadi Istrinya itu sudah berani menggodanya.
"Dia semakin menggemaskan," gumam Devan. Lalu menyusul Hayu.
Di Kamar.
Hayu menutupi tubuhnya diselimut, ia sangat malu. Entah keberanian dari mana ia menggoda Devan seperti tadi. Akh, lupakan! Ia taruh dimana wajahnya nanti saat berhadapan dengan Suaminya itu?
"Bego... Bego," gumam Hayu.
Ceklek!
Mendengar bunyi pintu terbuka. Membuat Hayu semakin jantungan. Demi apapun ini lebih menyeramkan daripada dikejar anjing Pak Septo.
'Langsung tidur aja, tolong. Tidur aja,' batin Hayu berdoa.
Sepuluh menit berlalu, namun tidak ada pergerakan apapun di kasurnya. Kemana Suaminya itu pergi? Dengan ragu-ragu Hayu mengeluarkan sedikit kepalanya untuk melihat sekitar. Hayu memandang Devan yang tidur di sofa kecil yang Hayu buat dari bahan-bahan bekas.
'Kenapa dia tidur disana?' batin Hayu bingung. Hayu pikir Devan akan tidur di kasur bersamanya. Mereka sudah halal, tidak ada masalahnya.
Semalam Hayu tidak bisa tidur, memikirkan apa lelaki itu kedinginan? Sakit dipunggung? Itu hanya kursi yang ia buat dengan iseng, penghias kamarnya jadi Hayu tidak terlalu yakin apakah itu nyaman atau tidak.
"Akhh... Aku bisa gila memikirkannya. Masa hari pertama jadi Istri udah dapet dosa aja," gumam Hayu, dengan perlahan turun dari kasurnya.
Hayu berjalan mengendap-endap sambil membawa selimut ditangannya. Lalu, menyelimuti tubuh Suaminya itu. Hayu terdiam menatap wajah teduh Devan saat tertidur, ia tidak melihat wajah datar tanpa ekspresi itu lagi saat ini, ia melihat kedamaian.
'Dia benar-benar sangat tampan? Apa benar aku sudah menikah dengannya ... Ini terasa seperti mimpi,' gumam Hayu dalam hatinya.
Hayu tanpa sadar memajukan tangannya, menyentuh alis Devan yang tetap berkerut meski pria itu sedang tidur. Lalu turun ke hidung pria itu dan terakhir jarinya berhenti di bibir Devan. Hayu dengan nekat memajukan wajah dan memberikan kecupan singkat disana.
Cup!
Deg!
Tersadar dengan kelakuannya, Hayu langsung berlari menuju kasurnya dan menetralkan degup jantungnya.
"Astaghfirullah, ini kau ini benar-benar tidak waras Rahayu!" seru Hayu pada dirinya sendiri. Ia memegangi bibirnya, ia masih merasakan kehangatan di sana.
"Untunglah dia tidak bangun, kalau dia bangun... Matilah aku, semoga dia tidak tahu... Lagipula ini halal, jadi enggak apa-apa dong," gumam Hayu, mencari pembelaan diri.
Hingga pagi, Hayu sama sekali tak bisa memejamkan matanya ia terus kepikiran kejadian memalukan itu.
"Sudah pagi." Mendengar suara Azan Hayu segera bangkit dari tempat tidur dan mengambil air wudhu untuk sholat subuh.
'Aku banguni dia tidak ya?' batin Hayu bertanya-tanya. Tapi mau bagaimana Devan adalah Suaminya yang seharusnya adalah imamnya.
Hayu dengan ragu, menggoyangkan tubuh Devan.
"De---." Hayu teringat Devan yang tidak suka ia memanggil namanya.
"Ma-Mas... Mas Dev, bangun mas. Sholat subuh," ujar Hayu, terus menggoyangkan tubuh pria itu.
'Sepertinya dia sangat kecapekan deh. Seharian kemarin habis pulang kerja sudah harus mengurus banyak hal gara-gara aku... Maafkan aku, melibatkan kamu dalam hal ini gara-gara kebodohan aku,' batin Hayu lagi-lagi merasa bersalah atas semuanya.
"Enghhh." Devan merenggangkan otot-ototnya yang mulai terasa kaku. Tak lama kemudian, menatap Hayu yang sudah lengkap menggunakan mukenahnya. Terlihat sangat cantik, polos dan memiliki aura yang menyegarkan.
"Ada apa, Yu?" tanya Devan setengah sadar.
"Sh-sholat, Mas," ajak Hayu, menundukkan kepalanya. Ia takut Devan menolak ajakannya.
Devan sedikit bingung harus menjawab apa, ia lupa bagaimana cara melakukan sholat? Ia merasa sangat malu saat ini, sebagai seorang iman ia tidak bisa melaksanakan sholat.
"Maaf, Yu. Aku tidak mengingat apapun tentang Sholat," lirih Devan sedikit malu. Hayu yang mendengar itu merasa dongkol, benar juga Devan lupa ingatan harusnya Hayu mengajari lelaki itu, tapi apa Devan mau diajarkan olehnya.
"Ah, ya sudah. Kamu tidur lagi aja, kapan-kapan kita sholat berjamaah," jelas Hayu, menusuk tepat di jantung Devan.
Saat hendak berbalik pergi, Devan menahan tangan Hayu.
"Ajari aku, oke?" Devan menatap Hayu. Membuat gadis itu tersenyum lebar, ia pikir Devan akan malu diajarkan olehnya.
"Baiklah, ayo kita ambil wudhu dulu," ajak Hayu.
Hayu menjelaskan semuanya dengan detail, niat wudhu, tata cara wudhu, dan doa sesudah wudhu. Devan mengingat semuanya dengan mudah, itu memang seperti bakat tersendiri bagi Devan.
Hingga sekarang mereka sudah menghabiskan waktu cukup lama hingga hampir habis waktu sholat subuh. Devan mengatakan dirinya mengerti dan akan mencoba yang terbaik untuk jadi imam dari Hayu.
Devan mengerti ia bisa membaca alfatihah dan ayat-ayat pendek dengan baik, karena saat pernikahan Hayu meminta mahar untuk Devan menghapal surat pendek seperti Al-Ikhlas, Al Fil, Al Humazah dan Al Kafirun. Karena Hayu tahu, lelaki itu masih tak mengingat apapun.
Sholat pertama mereka berjalan dengan lancar walau Devan masih terkesan kaku dan masih sedikit mengalami kesalahan. Hayu memaklumi hal itu, karena Devan mau berusaha saja sudah suatu hal yang bagus. Allah menerima siapapun yang mau belajar dan menyukai orang yang bersungguh-sungguh.
"Terima kasih, Imanku," ujar Hayu, mencium tangan sang Suami.
Devan dan Hayu terdiam, mereka saling berhadapan rasanya sangat sejuk dan nyaman. Hati mereka terasa terhubung, apa ini memang jalan yang dinginkan Allah.
'Terima kasih, Ya Allah.'
*******
Paginya, Hayu membantu Pian dan Devan bekerja di ladang untuk memilih berbagai sayuran dan lainnya. Karena ini adalah musim panen Pak Rito membutuhkan banyak pegawai, untungnya Pak Rito tidak seperti warga lainnya yang mencaci maki Hayu.
Beliau sosok yang hangat dan baik.
"Pengantin baru udah kerja aja," goda Pak Rito, membuat Hayu malu.
"Kalo enggak kerja mau makan apa, Pak," jawab Hayu seadanya.
"Haha, kamu benar. Bapak tinggal, kesana."
"Ya, pak."
"Cie pengantin baru... Enggak malam pertamaan nih?" goda Pian, yang sejak tadi tak henti-hentinya menggoda Hayu dan juga Devan.
Lelaki ini, merasa tidak puas hanya melihat reaksi wajah memerah Hayu.
"Pian! Kamu ngomong apa, hah! Dasar mes*m!" teriak Hayu, mendorong Pian hingga pria itu terjatuh.
"Buset, Yu. Enggak dorong-dorongan juga sakit nih bokong aku," celoteh Pian kesal.
"Salah sendiri, rese," cibir Hayu.
Para warga masih memandanginya dengan tatapan tak mengenakan. Entahlah sampai kapan ini akan berlangsung ia merasa lelah, tapi ia percaya masih banyak orang-orang yang percaya dan sayang dengannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Lalisa Manobaaa
Cie, Devan mulai kesemsem 🤣😌
2022-08-28
2
🌻🌟Bunga✨🥀
Adem liat mereka, so sweet😍
2022-08-28
1