Hayu hanya diam, ia masih trauma akibat kejadian tapi pagi. Ia terus memikirkan masalah Johan yang pastinya akan nekat. Padahal, Hayu sudah bersyukur saat pria itu pergi melanjutkan sekolahnya di luar kota dan dia pun jarang pulang. Malah, Hayu berharap jika Johan tidak perlu pulang-pulang ke Desa lagi.
Hidup Hayu bagaikan neraka saat itu, dimana Johan selalu menghantui dirinya tidak membiarkan dirinya lepas sedikitpun. Itulah kenapa Hayu sangat tidak disukai banyak orang disini, khususnya Ibu-ibu dari anak lelaki yang dibuat babak belur oleh Johan, karena berusaha mendekati Hayu.
"Dasar pembawa sial!"
Deg!
Hayu terbangun dari lamunannya. Ia mengingatkan kembali apa yang terjadi di masa lalu. Hal yang bahkan lebih menyedihkan dan lebih menakutkan dari pada saat ini.
"Huh... Aku jadi tidak pokus melakukan apapun," gumam Hayu, termenung di kasur.
Devan yang melihat tingkah aneh Hayu sejak kemarin, akhirnya berusaha mendekati dan bertanya.
"Apa yang kau pikirkan, sehingga menghela nafas panjang itu?" tanya Devan, membuat Hayu kaget.
"Mas... mengagetkan saja. Ti-tidak ada sih, hanya saja..." Hayu kembali diam, ia berpikir haruskah ia jujur tentang masa lalunya?
Tapi, sebaiknya aku jujur. Bagaimanapun dia sekarang suamiku apa lagi dengan sikap nekat Johan... Aku yakin dia akan berbuat sesuatu pada Devan juga,' batin Hayu setelah memikirkan semuanya dengan matang-matang.
"Sebenarnya..." Hayu menjelaskan semuanya secara detail tanpa ada yang ia sembunyikan. Membuat Devan hanya diam tanpa merespon apapun, menurut Devan ini juga sudah sangat keterlaluan.
"Kau tidak bisa hanya diam! Lagipula, selama ada aku dia tidak akan bisa menyentuhmu. Kau tetap dirumah jangan keluar jika tidak penting," jelas Devan, mendapati anggukan dari Hayu.
"Aku bosan dirumah. Tengah hari, aku menyusul sekalian nganterin kamu bekal ya?" tanya Hayu dengan ekspresi membujuk.
Devan mengangguk. "Tapi, hati-hati."
...****************...
Hayu berjalan dengan cepat, langkah kakinya seolah-olah berjalan biasa.
Bruk!
Hayu memegang jidatnya yang sakit, lalu mendongak.
Deg!
Hayu dengan cepat berbalik dan hendak melangkah pergi, namun pria itu dengan cepat mencengkeram tangan Hayu membuat gadis itu tak bisa apa-apa.
"Lepasin, Jo! Lepasin!" teriak Hayu, ketakutan tubuhnya sangat lemas saat ini.
"Mau kemana kamu... Baru ketemu udah mau kabur aja. Peluk dulu dong," ujar Johan, dengan paksa menarik Hayu dalam pelukannya. Hayu berusaha memberontak namun ia tidak memiliki kekuatan yang cukup.
Bugh!
Devan yang datang tiba-tiba langsung menbogem wajah Johan.
"Brengsek! Jangan sentuh istriku!" bentak Devan kesal. Entahlah, kenapa ia sangat kesal saat melihat Johan memeluk Istrinya.
"Udah... udah, cukup Mas! Aku enggak apa-apa kok, ayo pergi aku gak mau disini, hiks ..." Hayu memeluk tangan Devan dengan gemetar.
Tapi saat hendak pergi, Johan dengan cepat menarik tangan Devan dan memberikan bogeman ke Devan.
"Cih, Lo kira cuma Lo yang bisa," ucap Johan bangga membalas kembali pria yang merebut kekasihnya, ups... calon.
"Akh... Devan!" teriak Hayu kaget, ia menatap Devan yang terjatuh dilantai. Devan mengisyaratkan tangannya bahwa ia tidak apa-apa.
"Mending kamu sama aku aja. Cowok miskin dan gila ini enggak pantes buat kamu... Bahkan, ingatannya saja dia tidak tau. Rumah, keluarga, bahkan pekerjaan gimana bisa dia menafkahi kamu," ujar Johan dengan sombong membanggakan diri.
Devan yang baru saja berdiri terdiam, benar. Semua ucapan Johan itu benar adanya, untuk apa mempertahankan pernikahan dengan seseorang yang bahkan tidak mengingat siapa nama panjangnya dan nama orang tuanya, tempat tinggal dan lainnya.
"Devan!" Tiba-tiba teriakan seorang perempuan menggelegar di kerumunan orang-orang.
"Luna?" gumam Hayu kaget.
"hah? Kamu kenapa, Dev! Luka ya, sini aku obati," ajak Luna, menarik tangan Devan. Devan yang masih beradu pendapat dengan hatinya, hanya mengikuti saja kemana wanita itu membawanya.
Apa yang direncakan dia? Kau kira aku sebodoh itu..." Devan tersenyum devil, hanya saja ia tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang pada istrinya.
Hayu tertegun dengan sakit di hatinya. Bagaimana bisa Devan pergi bersama dengan orang yang jelas-jelas hampir melecehkan dirinya. Istri Devan sendiri? Hayu tak habis pikir! Ia berlari sambil menangis menyesali tentang hatinya yang terlalu cepat merasakan yang namanya cinta.
Cinta? Ia semakin sulit untuk percaya hal itu. Ia kira ia bisa berubah sejak bertemu Devan untuk pertama kalinya. Apa lagi dengan perginya Ayahnya tanpa kabar membaut Hayu terus berpikir apa mungkin Ayahnya tak mencintai Ibunya sehingga memilih meninggalkan dirinya dan Ibunya.
"Dunia enggak adil!"
"Aku benci!"
"Hiks... aku benci, hiks..." Hayu menangis tersedu-sedu di kamarnya tanpa diketahui siapapun. Sedangkan ditempat lain...
Devan mencemaskan Hayu, tapi tidak ingin rencananya gagal untuk menjebak wanita gila disampingnya ini. Yang saat ini mengobati lukanya.
"Sakit yah?" tanyanya dengan suara dibuat-buat.
Membuat Devan serasa ingin muntah.
"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau tiba-tiba baik? Padahal jelas-jelas kemarin kau lah yang menjebak kami?" tanya Devan to the point. Membuat Luna gelagapan menjawab apa.
"Itu karena..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Grey Mahendra
Gila si Johan enggak tahu malu bngt dia!!
2022-09-02
1