Hayu memanfaatkan waktu ini dengan baik, disaat semua orang sedang bekerja. Hayu menyibukkan dirinya untuk belajar cara menggunakan benda-benda yang ia beli ini. Belajar? Darimana? Hayu meminjam handphone Pian dan sebelum itu ia meminta Pian untuk mendownload beberapa tutorial make up.
Tentu saja, Hayu sangat antusias. Apa lagi memikirkan bagaimana terkejutnya Luna dan terutama Suaminya saat melihat penampilannya yang berbeda.
"Akhh... Memikirkannya saja, membuatku malu," gumam Hayu, malu-malu kucing.
"Oke, aku pasti bisa," gumam Hayu, saat dirinya sudah menghadap cermin.
Hayu mulai mengerakkan tangannya untuk memakai Foundation, seperti yang diajarkan di video itu. Lalu, dengan kaku Hayu menirukan hal yang sama menyeluruh dibagian wajahnya. Setelah dirasa cukup, Hayu mengambil alas bedak yang ia beli lalu memakainya dengan rata. Dilanjutkan dengan pensil alis. Hayu mendesah pasrah, menurutnya membuat alis adalah yang paling susah.
"Huh... bagaimana sih. Kenapa miring-miring gini, udah kek emak-emak lampir," gumam Hayu sebal, ia kembali menghapus alisnya. Berkali-kali ia coba dan akhirnya itu jadi walau sedikit mencong, ya setidaknya lebih rapi daripada yang pertama kali.
Langkah selanjutnya, ia mengambil maskara dan menurut Hayu ini adalah tahap paling mudah. Kali ini, Hayu dihadapkan lagi dengan ujian tersulit yaitu memasang Eyeliner, sama halnya dengan alis, ini membutuhkan bentuk yang sama dan posisi yang sama tidak miring-miring.
Semua ia lakukan dengan sungguh-sungguh hingga ditahap akhir, ia membeli sebuah perona bibir, yang terlihat sedikit terlalu merah. Namun, ia mendapatkan cara agar tidak terlalu jreng.
Hayu menatap dirinya di cermin. Ia terdiam kaku tak bergerak sangking ia kaget dan terkejutnya melihat dirinya di dalam cermin.
"Arghhhh! Astaga... apa-apaan ini, kaca penipu! Jelas-jelas saat memakai semuanya tadi rapi, cantik dan halus. Kenapa sekarang tiba-tiba jadi buruk rupa begini!" teriak Hayu sangat kesal. Tentu saja ia kesal, jelas-jelas saat dirinya memakai bedak itu terlihat benar-benar rata, menggunakan alis berulang kali dan itu cukup lumayan, dan yang lainnya ia lakukan dengan bagus. Namun, hasil akhirnya sangat berbeda.
"Hayu?" tanya Ratna kaget, saat baru mau memasuki rumah ia mendengar suara teriakan Putrinya.
"Bu-Bu..."
Hayu terkejut, begitu juga dengan Ratna yang tampaknya lebih terkejut daripada Hayu. Bagaimana tidak? ia melihat wajah putrinya saat ini bak topeng monyet.
"Hmmm... pfttttt. Hayu, haha kamu ngapain sih, nak?" tanya Ratna menahan tawanya, membuat Hayu semakin malu.
Ratna menarik Putrinya lalu mengelus puncuk kepala Hayu dengan lembut.
"Kamu kenapa? Mau belajar make up? kenapa enggak bilang-bilang sama Ibu?" tanya Ratna, membuat Hayu terdiam. Sebenarnya itu karena dia malu, tidak mungkin mengatakan ingin belajar make up tiba-tiba karena ingin membuat Suaminya menyesal dan memanas-manasi pelakor seperti Luna.
"Iya, Bu... Aku malu mau bilang sama Ibu, jadi coba-coba sendiri," jawab Hayu, tersenyum canggung.
"Ya, Ibu mengerti kok. Gadis yang tidak suka dandan, tiba-tiba pingin dandan pasti karena seseorang. Jangan malu... Ibu juga pernah mengalaminya kok," jelas Ratna, membuat Hayu lega dan juga bersyukur memiliki Ibu seperti Ratna, pengertian dan baik hatinya. Walau selama ini mereka selalu dijahati tidak pernah sedikitpun tercuil rasa ingin balas dendam dari hati Ibunya.
Namun, Hayu heran kenapa Ayahnya meninggalkan mereka begitu saja. Jelas-jelas lelaki mana yang akan tega meninggalkan Istri sebaik, setulus dan se-pengertian Ratna? Apa ada alasan di balik ini semua. Ingin sekali Hayu bertanya, namun ia takut melukai hati sang Ibu yang sudah berangsur membaik dari kejadian ini.
"Ayo... Ibu ajarin," ajak Ratna, berdiri didepan kaca.
Hayu cengo. "Hah? I-Ibu bisa make up?" tanya Hayu tak percaya. Pasalnya sangat Ibu juga sama halnya dengan dirinya yang tak pernah mempercantik diri.
"Tentu saja, bisa. Kemarilah," pinta Ratna, Hayu segera duduk didepan kaca.
Satu jam lebih mereka berkutat dengan make up dan banyak candaan juga tawa mengiringi ini. Keluarga mereka memang selalu harmonis, walau mereka hanya hidup berdua.
"Pilihlah, pakaian yang kau sukai," suruh Ratna, memperlihatkan koleksi pakaian-pakaian yang benar-benar cantik menurut Hayu. Yang Hayu sendiri tidak pernah lihat selama ini.
"Loh, Bu? Baju siapa ini semua? Bagus-bagus semua kaya anak kota punya?" tanya Hayu dengan kagum, menatap pakaian-pakaian itu dengan berbinar-binar.
Ratna tersenyum. "Hadiah dari Ayahmu dulu, saat Ibu masih muda," jawab Ratna dengan ekspresi sendu, ia kembali teringat dengan Suaminya. Padahal ia sudah bertekad untuk menyimpan dan tidak akan pernah mengeluarkan barang-barang ini. Namun, ia ingin membuat Hayu bahagia dan dapat tampil dengan cantik untuk membalas perbuatan Luna.
Kenapa Ratna tau? Karena Ratna selalu memperhatikan Hayu sejak kecil, ia tahu bagaimana watak Putrinya.
"Maaf, Bu... Harusnya Ibu enggak perlu keluarin ini, kalo ini hanya membuat Ibu sedih..." Hayu memeluk Ibunya dengan haru.
Ratna lagi-lagi tersenyum sembari mengusap rambut Hayu. "Tidak penting dengan kesedihan Ibu. Ibu merasa sangat bahagia jika kamu bahagia. Jadi berbahagialah untuk membalas rasa sedih Ibumu ini, nak," jelas Ratna. Mereka berpelukan hangat.
Saat ini, Hayu benar-benar berubah penampilannya sangat cantik dan menawan. Jika kemarin ia cantik, maka sekarang ia super cantik bak bidadari dengan gaun langit malam ditubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments