Hayu menunggu Suaminya selesai mandi, jujur ia sangat penasaran dengan apa yang hendak di akui Suaminya itu. Namun, siapa sangka Ibunya datang dan menyela pembicaraan mereka.
"Ish, Ibu mah. Nyebelin banget," gumam Hayu, mengerucutkan bibirnya.
Apa yang dilakukan... Itu membuatku merasa aneh,' batin Devan, setelah ia selesai mandi dan tak sengaja melihat wajah imut Istrinya. Entah kenapa ada gairah aneh dalam dirinya, untuk mencium sang Istri.
Hayu yang merasa dilihatin, menoleh dan menatap Devan dengan malu-malu.
Aduh, aku malah asik sama pikiran sendiri. Dia jadi lihat, kan,' batin Hayu. Karena malu, ia menutup dirinya didalam selimut. Semua pertanyaan yang tadinya hendak ia lontarkan, menjadi musnah seketika karena malu.
Devan hanya tersenyum.
Gagal lagi buat jujur,' batin Devan, mendesah kecewa.
Devan hanya takut, hubungan mereka setiap harinya akan semakin buruk jika ia tidak juga jujur dengan Hayu.
...****************...
Tok! Tok!
"Hayu!"
Hayu tercengang, ia menjadi sangat takut namun juga terpikir satu ide. Lalu, ia membuka pintu dan melihat orang yang sejak kemarin ia benci, Johan. Lelaki itu, datang dengan tidak tahu malunya.
"Halo, gimana kamu kangen sama aku?" tanya tidak tahu malu. Membuat Hayu merinding, kangen dia bilang? Lebih baik kangen sama kerbau daripada sama curut kaya dia!
Hayu hanya tersenyum terpaksa. Devan belum berangkat kerja dan masih sarapan. Dan, Hayu ingin memanfaatkan Johan untuk memanasi Suaminya itu. Huh, emangnya kamu aja yang bisa. Aku juga bisa,' batin Hayu, bangga.
"Ya udah. Kamu masuk aja dulu, sekalian ikut sarapan bareng," ajak Hayu dengan terpaksa. Yang jadi pikirannya adalah dari sekian banyak lelaki kenapa harus Johan! Pria menyebalkan yang posesif itu!
"Baiklah, jika kamu memaksa," jawab Johan, masuk dengan bangga.
Maksa? Yang benar saja, dasar gila. Tahan... tahan Hayu, demi kelancaran misi,' batin Hayu menetralisir emosinya, dan berusaha untuk akting yang bagus.
"Hah?" Ratna nampak kaget dengan kedatangan Johan, yang ia tahu Hayu sangat tidak menyukai lelaki itu sejak dulu.
Dan, Devan dia diam dengan wajah datarnya. Tapi, tangannya dibawah meja sudah terkepal erat menahan seluruh amarahnya, agar tetap dengan ekspresinya.
Hayu yang melihat Suaminya hanya diam berwajah datar seperti biasanya. Menjadi sangat kesal dan geram. Oke! Jika main halus tidak bisa maka ia akan main licik.
"Haha, kalian lanjut makan aja. Ibu mau dagang dulu," ujar Ratna, lalu mereka menyalami Ratna satu persatu.
Jujur, Ibu satu anak itu mereka atmosfer yang tidak menyenangkan berada di antara mereka.
Ck, Hayu ada-ada aja. Mau ngapain coba. Tapi, sebaiknya aku tidak ikut campur urusan rumah tangga mereka. Jika sesuatu menjadi lebih serius aku hanya bisa menasehati saja,' batin Ratna sendu.
Hayu hanya diam, melihat suasana yang tidak menyenangkan. Johan dengan liciknya, memainkan triknya didepan Devan, sesuai dengan perjanjiannya dengan Luna.
"Yu, ambilin nasi dong," pinta Johan tidak tahu malu. Jelas-jelas tahu itu istri orang.
"Apa ambil sen---." Hayu menutup mulut hampir saja ia keceplosan. Apaan sih, dasar dikasih hati minta jantung. Tapi, lumayan aku juga bingung gimana caranya,' batin Hayu, lalu dengan akting buruknya mengikuti kemauan Johan.
"Ahaha, baiklah. Mau apa?" tanya Hayu, dengan senetral mungkin.
"Sayur kangkung aja, aku paling suka sayur kangkung buatan kamu," jelas Johan, jujur. Kenapa bisa? Karena sejak dulu, Johan selalu memaksa ikut bergabung dengan Hayu dan Ratna makan bersama dan memaksa memakan masakan buatan Hayu saat itu.
Kenapa Hayu menurut? Karena Johan selalu mengancam untuk membuat hidup keluarganya sulit.
Devan menatap interaksi Hayu dan Johan, membuat dadanya panas.
Sial! Kenapa dia sekarang sedekat itu dengan curut itu? Bukannya kemarin dia sangan membencinya,' batin Devan. Ia masih tetap memakan makanan dengan santai, tapi tidak dengan hatinya yang menggebu ingin untuk segera menonjok wajah Johan yang tidak tahu malu mendekati Istrinya.
Namun, Devan sadar. Ini hanya perasaan sesaat dan yang paling penting, Hayu dan Dirinya tidak terlibat perasaan jika ia marah sekarang. Hayu akan semakin marah dengannya, bahkan mereka belum juga berbaikan. Tentunya Devan tidak ingin menambah masalah.
"Aku berangkat, assalamu'alaikum." Devan meninggalkan Hayu dan Johan, dengan ekspresi datar awalnya namun, saat sudah diluar, Devan mengertakan giginya kesal.
"Sialan."
Aku enggak mungkin cemburu? tapi... kalau bukan, ini perasaan apa!'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments